Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Pelaksana
#
Tidak ada yang menembak.
Rico berdiri tiga langkah dari Alessia, pistol lurus, dan tangannya yang tidak gemetar itu justru yang paling menakutkan. Bunyi azan masih menggantung di atas atap seng. Hujan tipis menetes lewat lubang di bubungan, jatuh tepat di antara sepatu mereka.
"Minggir, Mbak."
"Tidak."
"Saya nggak mau nembak Mbak."
"Kalau begitu turunkan."
"Nggak bisa." Rico menelan ludah. Pipinya basah, entah hujan atau bukan. "Ada orang yang nunggu kabar dari saya sebelum matahari naik. Kalau nggak ada kabar, dia habisin orang yang saya jaga."
Alessia tidak bergerak. Bima merasakan punggungnya sendiri menempel ke bahu perempuan itu, dan dari situ ia bisa merasakan napasnya. Pendek, teratur, terlalu teratur.
"Siapa yang kamu jaga?"
Rico tidak menjawab. Matanya bergeser sekilas, hanya sepersekian detik, ke arah Dimas.
Bukan ke Dimas. Ke ponsel hitam di tangan remaja itu. Ponsel tua yang tadi Bima serahkan ke adiknya waktu di terowongan, supaya Dimas punya senter.
Bima menoleh. Layarnya menyala. Satu pesan masuk, dan Dimas sedang membacanya dengan wajah kosong.
"Dimas, taruh itu."
"Mas..."
"Taruh!"
"Ini dari Ilaria." Suara Dimas kecil sekali. "Katanya Rico punya anak perempuan. Umur empat tahun. Namanya Sari."
Rico mengerang pendek, seperti orang yang baru dipukul di ulu hati. Pistolnya turun dua jari, lalu naik lagi.
"Sari diambil tadi malam," kata Dimas, membaca terbata. "Di... di rumah putih. Waktu Nenek Carla dijemput. Ilaria lihat sendiri dari jendela. Dia nggak berani teriak."
Alessia menoleh sedikit. "Kamu tidak pernah bilang kamu punya anak."
"Mbak nggak pernah tanya."
"Aku tinggal serumah denganmu empat tahun."
"Saya sembunyiin." Suaranya pecah. "Biar nggak ada yang bisa pakai dia buat nekan saya. Tapi Om Gio tahu dari awal. Dari hari pertama saya kerja."
Hening. Bima melihat bahu Alessia naik pelan, lalu turun.
"Berapa lama dia pegang Sari?"
"Dua tahun lebih. Sari tinggal di rumah pengasuh yang dia pilihin. Saya tiap bulan boleh lihat sejam." Rico tertawa getir. "Tiap bulan saya bawa laporan kecil. Jadwal Mbak. Siapa yang datang. Bukan yang penting, katanya. Cuma biar saya tetap jadi miliknya."
"Itu jadwal ayahku juga?"
"Bukan! Saya baru ikut Mbak waktu..."
"Itu bukan jawaban."
"Saya nggak tahu soal jadwal ayah Mbak!" Rico hampir berteriak. Pistolnya bergetar sekali, dan baru sekarang Bima melihatnya: tangan itu tidak tenang, hanya terlalu lelah untuk gemetar. "Tapi tadi malam, dia nelepon. Dia bilang kalau Bima nggak mati sebelum subuh, Sari yang bayar."
---
Bima melangkah ke samping Alessia. Satu langkah, pelan. Rico langsung mengarahkan laras ke dadanya lagi.
"Jangan gerak, Bim."
"Saya cuma mau lihat mukamu."
"Jangan."
"Rico." Bima menatapnya lurus. "Kamu yang ngajarin saya megang pistol. Kamu bilang kalau mau nembak orang, jangan lihat matanya. Karena kalau lihat, kamu nggak bakal bisa."
"Itu bohong. Itu Hendra yang bilang."
"Hendra udah mati."
"Saya tahu!" Rico memejamkan mata sejenak. Air matanya menetes ke dagu. "Saya tahu, saya tahu. Dia mati gara-gara saya. Gara-gara saya kasih tahu rute serangan mansion supaya Sari aman."
Alessia mengeluarkan bunyi kecil dari tenggorokannya.
"Hendra punya anak kecil juga," katanya pelan. "Dia hanya ingin pulang tepat waktu."
"Saya tahu."
"Kamu membunuhnya."
"Saya tahu, Mbak. Saya tahu."
Di belakang, Wartini mendekap Dimas, matanya terpaku pada senjata. Dimas masih memegang ponsel, tapi jempolnya bergerak di layar, cepat, diam-diam. Bima melihat itu dari sudut mata dan tidak berkata apa-apa. Remaja itu sedang mengetik.
"Rico," kata Bima lagi, lebih lembut. "Kalau saya mati, apa Sari pulang?"
"Dia janji."
"Kamu percaya?"
Rico tidak menjawab. Pertanyaan itu menggantung di antara mereka seperti benang yang terlalu tipis.
"Dia nggak pernah nepatin janji sama siapa pun," lanjut Bima. "Hendar bilang formulir itu cuma buat dibaca, lalu minta tanda tangan. Om Gio bilang nggak datang buat nyakitin, lalu kirim penembak ke atap. Kamu pikir dia bakal nepatin yang satu ini?"
"Saya nggak punya pilihan."
"Selalu ada."
"Gampang buat tukang sate ngomong begitu."
Kalimat itu menusuk, dan Bima mengakuinya dalam hati. Ia tidak membantah. Ia hanya berdiri di sana, tangannya terbuka, dan membiarkan pistol itu menempel di dadanya.
Alessia akhirnya melangkah. Bukan ke Rico. Ke samping Bima, lalu ia menggenggam tangan kirinya yang terbuka, dan menyatukannya dengan jemarinya sendiri di depan semua orang.
"Kamu tidak sendirian," katanya, rendah, hampir hanya untuk Bima.
"Lepas."
"Tidak."
"Kamu bilang tanganmu harus bebas."
"Sekarang tidak."
"Itu tadi di terowongan."
"Sekarang juga." Matanya tetap lurus ke Rico. "Diam."
Wajah Bima terasa panas sampai ke telinga. Ia berharap Dimas tidak menoleh. Dimas menoleh. Anak itu menatap tangan mereka, lalu langit-langit, lalu ponsel, dengan ekspresi orang yang memilih berpura-pura tidak melihat apa pun.
---
Ponsel di saku Rico bergetar. Sekali, dua kali, berulang. Ia tidak mengangkatnya.
"Waktu habis," katanya. "Matahari naik sepuluh menit lagi."
"Beri aku sepuluh menit itu," kata Alessia.
"Buat apa?"
"Menemukan Sari."
Rico tertawa pendek, tanpa suara. "Mbak, saya sudah dua tahun cari alamatnya sendiri. Saya nggak pernah tahu dia ditaruh di mana."
"Aku tahu."
Semua orang menoleh.
Alessia tidak menatap siapa pun. Ia memejamkan mata, dan bibirnya bergerak pelan, seperti menghitung. Jemarinya mengencang di tangan Bima, dan Bima merasakan denyut nadinya cepat sekali.
"Bau melati," katanya. "Rumah pengasuh. Ada pohon melati di pagar depan, cat hijau muda, dan jendela kamar menghadap ke tiang listrik yang miring." Matanya terbuka. "Aku pernah ke sana."
"Mbak nggak pernah..."
"Aku tidak ingat kapan. Tapi aku pernah." Napasnya tersendat. "Ayahku menaruhku di sana. Tiga tahun yang hilang, Rico. Sebagian bukan di ruang bawah tanah. Sebagian di rumah itu. Seorang perempuan tua menyuapiku bubur setiap pagi dan memanggilku Lia."
Rico membeku. Pistolnya turun tiga jari.
"Jalan Kenanga," lanjut Alessia, makin cepat. "Gang buntu di belakang pasar loak. Nomor tujuh. Angka itu."
"Nomor tujuh," ulang Rico, nyaris tak terdengar.
"Dengan garis di tengah."
Rico menatapnya seakan melihat orang asing. Lalu Dimas, dengan suara yang terlalu kecil untuk ruangan besar itu, berkata, "Ilaria baru balas."
"Apa?"
"Dia bilang alamat itu benar. Dia ada di sana sekarang. Sari aman." Dimas mengangkat layar ponsel ke arah Rico, tangannya gemetar. "Tapi dia bilang... jangan percaya siapa pun yang ada di gudang ini."
Layar menampilkan foto. Seorang anak kecil tertidur di sofa, memeluk boneka kelinci. Di sampingnya duduk Ilaria, mengangkat dua jari ke kamera, wajahnya pucat tapi menatap tajam.
Rico menurunkan pistol.
Suaranya keluar seperti orang yang baru dilepas dari air. "Sari."
Alessia bergerak cepat. Ia menyentak pistol dari tangan Rico dan menahan bahunya sebelum laki-laki itu jatuh berlutut. Rico menangis tanpa suara di tangannya, seperti anak kecil yang menahan malu.
"Ilaria bohong?" tanya Bima, kaku.
"Atau dia benar." Alessia melirik tajam ke arah Dimas. "Kamu kirim apa ke dia, Dimas?"
"Aku cuma tanya Sari di mana."
"Kamu tidak mengirim lokasi gudang ini?"
"Nggak!" Dimas mundur. "Aku nggak sebodoh itu!"
Alessia menatap ponsel di tangan adiknya, lalu perlahan merebutnya. Ia membuka riwayat pesan, menggulir cepat. Tidak ada lokasi. Tidak ada nama gudang.
Tapi di bagian paling atas, di antara pesan-pesan baru, ada satu notifikasi yang belum dibuka. Dikirim lima menit lalu, dari nomor yang tidak tersimpan.
*Rico sudah selesai bicara. Sekarang giliran Ilaria.*
Alessia mengangkat kepala.
Dari balik papan kayu penutup terowongan, bunyi ketukan terdengar. Tiga kali, lambat, teratur. Lalu papan itu terangkat dari bawah.
Ilaria naik dengan piyama kotor dan cardigan basah, rambut berantakan, wajahnya cerah oleh kelegaan yang terlalu rapi. Ia tersenyum ke arah mereka seperti orang yang baru sampai di pesta.
"Mbak! Bima! Aku nemuin kalian!" Ia berhenti di anak tangga terakhir. "Aku bawa seseorang yang pengin ketemu."
Seorang laki-laki naik di belakangnya, berjaket kulit tua dan berkacamata bening, wajahnya penuh bekas kerut yang tidak pernah Bima lihat. Tangannya memegang bungkusan daun pisang.
Wartini berdiri. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada bunyi.
Hadi Ardhana tersenyum pada Bima, senyum yang persis sama dengan yang ada di foto lama. Lalu tangannya bergerak ke balik jaket, dan keluar membawa pistol dengan peredam yang ukirannya ia kenal. Ukiran bengkel Vieri.
"Anakku," katanya hangat. "Selamat pagi."
Dan dengan gerakan yang tenang dan terlatih, ia mengarahkan laras itu bukan ke Bima, bukan ke Alessia.
Ke Wartini.