Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Karena Pinjol

Cinta Karena Pinjol

Status: tamat
Genre:Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Menikah dengan Musuhku / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Byiaaps

Aluna, seorang perempuan yang terpaksa menikah dengan Dama, teman semasa sekolah yang ia benci. Dama yang terjebak pinjol puluhan juta rupiah atas pinjaman yang tak dilakukannya, bertujuan menikahi Aluna agar ia dapat mencairkan dana untuk membayarkan hutang tersebut.

Apakah Dama berhasil melunasi hutangnya? Lalu, siapakah sebenarnya orang yang telah menggunakan identitasnya untuk melakukan pinjaman tersebut? Dan bagaimanakah rasanya menikah dengan teman sekolah yang tak disukai?

Ikuti kisah pernikahan mereka hanya di sini ya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gagal Bercinta

Selama ibunya masih di rumah, Dama benar-benar tak bisa bebas. Ibu Dama yang dulunya seorang bidan itu berkali-kali mengingatkan Dama agar tak berlebihan dalam bermesraan, karena takut akan memicu rangsangan Aluna hingga menyebabkan kontraksi. Mau tidak mau, Dama patuh apa kata ibunya.

Begitu juga dengan Aluna, yang seakan sedang menjalani wajib militer. Ibu mertuanya meminta Aluna agar berolahraga ringan setiap harinya. Tak lain adalah untuk memudahkan proses persalinannya nanti. Meskipun di satu sisi, Aluna merasa semakin dimanja dan diurus karena kedatangan ibunya, juga ibu mertuanya.

Ibu kandung Dama itu bahkan tak menyarankan Aluna bermalas-malasan. Mengingat kondisi kandungannya baik, jadi tak apa jika rutin minimal berjalan kaki setiap hari, asal tak sampai kelelahan saja. Justru baik untuk melemaskan otot-otot rahimnya.

Kini mereka berdua merasa dalam penjara. Namun, Dama maupun Aluna berusaha menikmati masa-masa ini. Sembari saling menertawakan nasib satu sama lain.

“Dama, kamu juga harus temani Aluna jalan kaki. Lihat itu perut kamu sudah ikutan membuncit!” seru ibunya.

Aluna pun berganti menertawakan Dama.  “Iya, Bu. Aluna tidak pernah olahraga karena Dama selalu mengajak bermalas-masalan di kasur saja kalau libur.”

Mumpung hari ini adalah hari Sabtu, Aluna dan Dama kemudian menuruti perintah ibunya untuk berjalan kaki mengelilingi komplek. Sembari berjalan santai, mereka membicarakan soal rencana perjodohan Anggun dan Yogi. Mereka juga akan meminta bantuan Rendra. Dama akan meminta Yogi mengerjakan tugas yang akan dikerjakan bersama Anggun, atas perintah Rendra. Dengan begitu, mereka akan memiliki kesempatan untuk berdiskusi.

“Anggun yang sederhana, rasanya pas untuk Yogi yang tak suka bermewah-mewahan. Ia begitu karena si Indri aja,” ujar Dama.

Aluna mengangguk. “Siapa tahu Anggun bisa menemaniku resign nantinya.”

Membahas tentang resign, Aluna kembali teringat bahwa kurang dari 2 bulan lagi ia harus mengajukan surat pengunduran dirinya. Semakin diingat semakin merasa sedih. Ia benar-benar akan merindukan rutinitasnya selama ini.

###

Sepulang olahraga, Bu Lia dan Bu Sarah selesai menyiapkan sarapan untuk mereka semua. Tentunya, makanan sehat yang sesuai dengan kebutuhan ibu hamil. Aluna dan Dama saling bertatapan saat melihat menu makanan di meja.

“Bu, makanannya cuma sayur?” tanya Dama sembari melirik kanan kiri berharap ada makanan lain yang lebih menggoda.

Sementara Aluna hanya menelan ludah. Ia pikir hidupnya akan indah karena makan masakan ibunya juga ibu mertuanya. Ternyata, makanan sehat yang disajikan oleh mereka.

“Ini ada ikan, bukan cuma sayur. Ini semua untuk perkembangan otak bayimu nanti! Harus makan makanan yang bergizi biar anakmu nanti pintar. Jadi, hindari makanan cepat saji, pizza, burger, atau apa lah itu yang ada di kafe-kafe. Biar kamu juga sehat. Ibu lihat di tong sampah isinya kardus makanan kotor semua,” titah ibu Dama.

Mau tak mau, mereka segera sarapan karena sudah lapar setelah berolahraga. Meskipun yang dibayangkan adalah makanan super berat dengan banyak lauk pauk. Kini mereka benar-benar seperti sedang menjalani karantina.

“Setelah lahiran nanti, ambil saja asisten rumah tangga yang pulang pergi, sekedar untuk membersihkan rumah, menyapu, mengepel, mencuci dan menyetrika baju. Kamu ‘kan pasti tidak akan sempat, Lun. Ibu juga tidak tega kalau kamu yang melakukannya, pasti akan kelelahan nanti,” saran Bu Lia, ibu Aluna.

“Eh tapi, yang melakukan pekerjaan rumah selama ini siapa?” lanjut ibu Aluna lagi.

“Kita berdua, Bu,” sahut Dama menjawab pertanyaan mertuanya.

Aluna melirik ke arah Dama. Padahal, lebih banyak Dama yang melakukannya, apalagi saat Aluna hamil, Dama benar-benar tak membolehkan istrinya melakukan pekerjaan rumah. Tetapi bisa-bisanya, Dama mengaku bahwa mereka berdua yang melakukannya.

###

Saat sudah masuk kerja, Rendra dan Dama melakukan aksinya untuk membuat Anggun bekerja sama dengan Yogi.

Seharian mereka banyak berdiskusi tentang tanggung jawab pekerjaan mereka yang baru, terkait dengan peluncuran produk baru. Sesekali Dama dan Aluna juga Rendra melirik kebersamaan mereka berdua. Bahkan ketiga eksekutor itu seakan bisa memastikan bahwa komunikasi Anggun dan Yogi berlanjut hingga pulang kantor.

“Motornya dititipkan di kantor aja, Nggun. Biar nanti kamu diantar pulang oleh Yogi. Bahaya kalau lembur kamu pulang sendirian. Nanti aku bilang Yogi, dia pasti tak akan keberatan kok,” saran Dama.

Aluna menyenggol lengan kanan Anggun menggodanya.

“Jangan-jangan kalian sedang merencanakan sesuatu ya,” bisik Anggun pada Aluna.

Aluna menggeleng. “Mungkin semesta yang mendukung.”

Saat jam makan siang pun Dama dan Aluna kembali mengajak Anggun dan Yogi makan bersama.

"Aduh duh, aduh,” tiba-tiba Aluna merasa keram di perutnya.

Dama dengan segera membawa Aluna ke ruang kesehatan kantor dan berpamitan pada Anggun juga Yogi.

Padahal, ini hanya rencana mereka saja agar Anggun dan Yogi makan siang berdua.

###

Beberapa hari kemudian, tiba lah jadwal kepulangan Bu Lia dan Bu Sarah.

“Nanti beberapa hari sebelum jadwal lahiran kamu, Ibu ke sini lagi. Doakan kami sehat ya,” ujar Bu Lia memeluk Aluna dengan penuh kehangatan

Bu Lia tampak memandangi anak perempuannya itu dengan tatapan penuh haru, anak bungsunya itu akan menjadi seorang ibu sebentar lagi.

Sementara Bu Sarah kembali mengingatkan Dama agar tak berbuat macam-macam dan mampu menahan dirinya, demi si jabang bayi.

“Ibu yakin tidak mau Dama antar ke stasiun?” tawar Dama sekali lagi.

“Berangkatnya saja kita sendiri kok, pulang juga bisa sendiri. Lagian Ibu ‘kan dulu juga sering jenguk kamu ke Jakarta, Dam,” jawab Bu Sarah dengan mantap.

Setelah berpamitan, mereka bergegas menghampiri taksi yang sudah menunggu di depan rumah. Dama segera memasukkan barang-barang ke dalam bagasi mobil. Mereka pun saling melambaikan tangan tanda perpisahan sementara.

Hingga mobil taksi itu pun kian terlihat menjauh. Dama melirik Aluna dengan lirikan nakalnya. Karena takut, Aluna setengah berlari menjauhi suaminya.

“Sayang, aku sudah rinduuu,” teriak Dama mengejar Aluna yang berlari ke kamar.

Dama segera melepas pakaiannya dan siap untuk bercinta dengan Aluna.

Tiba-tiba, terdengar suara seseorang mengetuk pintu rumah mereka.

Tok..tok..tok..

“Daaammm.”

...****************...

1
Tutuk Isnawati
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!