Indonesia
NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Salah Tarik

"Dasar menyebalkan."

Belvina menatap sengit ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Lalu ia meraih ponselnya dan menjatuhkan diri di tepi ranjang. Menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.

“Capek banget hari ini,” gumamnya.

Layar ponselnya menyala, game favoritnya terbuka. Dalam hitungan detik, fokusnya pindah total. Jemarinya bergerak cepat, sesekali mengetuk layar dengan serius.

Beberapa menit berlalu tanpa terasa. Belvina melirik meja nakas, gelas di atasnya kosong.

“Hais.”

Ia menelan ludah untuk membasahi tenggorokan yang mulai kering.

“Debat sama dia bikin haus.”

Pandangannya masih tertuju pada layar saat bangkit dari ranjang. Kakinya melangkah ke arah meja kecil dekat jendela tempat botol air biasanya disimpan.

Saat itulah pintu kamar mandi terbuka.

Alden keluar sambil mengusap rambutnya yang basah. Tubuh bagian atasnya terbuka, hanya handuk yang melilit rendah di pinggang. Ia berhenti.

Belvina bahkan tidak menoleh. Matanya masih menatap ponsel.

Alden menyipitkan mata. Entah kenapa, ia tidak suka diabaikan seperti itu.

“Apa permainan itu semenyenangkan itu?”

Belvina tak menjawab, masih sibuk menekan layar.

Alden mendecak pelan.

Detik berikutnya—

Dug!

“Akh!”

Kaki Belvina tersandung kaki ranjang. Tubuhnya terhuyung ke depan.

PLAK!

Ponselnya terlempar ke lantai.

Refleks, tangannya mencari pegangan. Dan yang berhasil ia raih adalah... handuk Alden.

Alden membeku.

Belvina jatuh terduduk di lantai. Handuk ikut terlepas.

Ruangan mendadak senyap.

“Aduh... sakit...” keluh Belvina sambil mengusap lutut.

Belvina mendongak, lalu membeku. Matanya membesar.

“AAKH!”

Kedua tangannya langsung menutup wajahnya sendiri.

Alden tersadar. Ia bergerak cepat memungut handuk dan mengenakannya kembali.

“Belvina!” geramnya dengan wajah memerah.

“Mesum!” seru Belvina dari balik telapak tangan.

Alden menatap tak percaya.

“Mesum? Aku?” Ia menunjuk dirinya sendiri. “Kau yang menarik handukku.”

Belvina masih menutup mata rapat.

“Bukannya tadi kau bawa baju ke kamar mandi?! Kenapa keluar cuma pakai handuk?!”

Alden menjawab datar.

“Aku lupa membawa pakaian dalam.”

Belvina menurunkan tangan perlahan, lalu menatapnya sinis.

“Kau pikun?” ia berdecak. "Harusnya kau berhenti jadi CEO."

Alden maju selangkah.

"Kau yang mengacaukan pikiranku."

“Kenapa jadi aku? Jangan playing victim.” Belvina beranjak dari lantai sambil menahan nyeri di lututnya.

“Jelas karenamu,” tandas Alden. “Kau merampas motor orang, lalu membajak mobilku, dan sekarang...”

Alden tak melanjutkan kalimatnya.

“Barusan itu kecelakaan,” balas Belvina.

“Dan kecelakaan itu akibat ulahmu. Kecerobohanmu. Kau jalan tapi tak pakai mata.”

“Mana ada orang jalan pakai mata? Pakai kaki.”

“Kau—”

“Cukup.” Belvina memotong. “Aku malah tambah haus karenamu.”

Ia mengerucutkan bibir, lalu tiba-tiba menyadari sesuatu. “Ponselku. Game-ku.”

Matanya menyapu lantai. Saat menemukannya, ia buru-buru memungut ponsel itu.

“Mati,” gumamnya kesal. “Ishh, ini semua karenamu.”

“Berhenti menyalahkanku atas kecerobohanmu,” ujar Alden sambil berjalan menuju lemari.

Ia makin kesal karena Belvina justru hanya peduli pada ponselnya. Lalu pandangannya turun melihat tubuhnya sendiri. Biasanya para wanita akan melirik tubuh proporsional seperti miliknya.

Belvina berbeda. Ia sama sekali tak tertarik, malah sibuk meneguk air dari botol di tangannya.

Namun pikirannya tidak. Apa yang baru saja ia lihat beberapa detik lalu terus berputar di benaknya. Sesuatu yang menggantung. Tak seharusnya ia melihatnya, apalagi karena kecerobohannya.

Lalu bayangan tadi pagi muncul begitu saja saat ia terbangun. Ada sesuatu yang terasa menusuk pahanya, hangat, keras, dan bergerak. Sesuatu yang pagi tadi hanya ia rasakan samar, namun beberapa saat lalu akhirnya ia lihat wujudnya.

“Uhuk—uhuk!”

Belvina tersedak karena kehilangan fokus saat minum.

Alden, yang baru selesai mengambil pakaian dalam, menoleh ke arahnya. Wajah Belvina merah padam seperti kepiting rebus. Sudut bibirnya terangkat samar, lalu ia melangkah ke arahnya.

“Kenapa? Masih terbayang?”

Wajah Belvina makin panas. “Apaan sih?! Dasar mesum!”

“Aku suamimu.”

“Di atas kertas.”

“Kalau begitu...” Alden bergerak mendekat. “Gimana kalau kita jadikan bukan cuma di atas kertas?”

Belvina refleks mundur. “Apa maksudmu?” Wajahnya tetap galak, suaranya meninggi, tetapi jantungnya berdegup kacau.

“Tadi pagi sudah menempel, barusan sudah lihat. Sekarang—”

“Jangan macam-macam!”

Belvina mendorong dada Alden, tetapi pria itu bergeming di tempatnya.

Dan entah kenapa, Alden justru menikmati reaksi Belvina yang berpura-pura berani padahal jelas gugup.

“Aku cuma mau satu macam,” sahut Alden.

Ia menunduk, lalu berbisik di telinga Belvina. Belvina seketika menahan napas.

“Hakku.”

Mata Belvina seketika membulat. “Jangan mimpi!”

DUG!

“Akhk!” Alden memekik tertahan.

Belvina menginjak kakinya keras-keras, lalu buru-buru kabur.

“Belvina!”

Namun wanita itu sudah lebih dulu membuka pintu. Sebelum keluar, ia sempat menoleh sebentar.

“Weeek!” ejeknya sambil menjulurkan lidah ke arah Alden.

Belum sempat Alden membalas, pintu sudah tertutup keras.

BRAK!

Alden berdiri kesal sekaligus gemas. Jemarinya menggenggam boxer-nya erat, tetapi sudut bibirnya justru tertarik tipis.

“Akan kubuat kau tak bisa tidur malam ini,” ancamnya, meski Belvina sudah lebih dulu menghilang.

 

Di luar kamar, Belvina berhenti berlari. Ia menyandarkan punggung ke dinding sambil mengatur napas yang masih memburu.

“Sial... sepertinya dia tahu kelemahanku.”

Ia mengusap wajahnya kasar. Namun bayangan benda panjang itu muncul lagi di kepalanya.

“Astaga... otakku tercemar karenanya.”

Belvina segera melangkah pergi, seolah bisa kabur dari pikirannya sendiri.

Di dalam kamar, Alden berdiri menatap kasur. Sorotnya perlahan berubah penuh arti. Sebuah rencana sudah tersusun di kepalanya.

“Belvina...”

 

...✨"Satu handuk terlepas, satu hati mulai terusik, dan tak ada satu pun dari mereka yang mau mengakuinya."✨...

.

To be continued

1
aliifa afida
luar biasa/Heart//Heart//Heart//Heart/
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
evana gusani
baru mampir 👍
anonim
Akhirnya tuntas sudah membaca cerita yang sangat bagus. Bisa diambil hikmahnya.
Author memang The Best. Terima kasih Author dengan karya yang bagus-bagus. Semoga sehat selalu, BerkatNya melimpah 🙏🏻🥰💖
anonim
Belvina telah melahirkan bayi laki-laki.

Alden berjanji akan menjaga istri dan anaknya selama sisa hidupnya.

Kini bayi laki-laki itu berusia sekitar tiga tahun.

Bocah kecil itu tertawa riang sedang main kejar-kejaran bersama Om-nya. Arsen.

Bocah kecil itu berlari cepat minta tolong sama tante Alena dari kejaran Omnya.

Andreas dan Fransisca tak kalah bahagianya memiliki cucu yang ganteng dan gembul.
anonim
Alden sudah mendapat lampu hijau dari Belvina.
anonim
Kalau dekat jual mahal tidak mau memberi jatah Alden.

Giliran Alden lama di luar kota untuk menyelesaikan masalah yang harus diselesaikan, Belvina mulai merindukan kehadiran Alden.
anonim
Sidang terakhir Seraphina sebagai terdakwa telah dibuka.

Hakim membacakan pertimbangan hukum secara jelas, sah, dan meyakinkan bahwa Seraphina melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan penuntut umum.

Seraphina terbukti melakukan perbuatan secara terencana demi keuntungan pribadi yang menyebabkan kerugian bagi pihak lain, serta merencanakan penculikan terhadap korban Belvina yang disertai ancaman mengunakan senjata tajam hingga mengakibatkan korban mengalami luka.

Wow...vonis Hakim menjatuhkan pidana penjara selama delapan belas tahun untuk Seraphina.

Seluruh aset yang terbukti berkaitan dengan hasil tindak pidana dirampas sesuai ketentuan hukum.
anonim
Yang penting Alden sudah menyadari kebodohannya. Harapannya untuk membahagiakan istri dan anaknya semoga terwujud.
anonim
Belvina menggeser tubuhnya ke arah Alden yang masih memunggunginya.

Alden yang belum tidur merasakan Belvina mendekat. Ia sengaja tidak bergerak, takut Belvina salah paham lagi.

Sampai segitunya Alden menjaga perasaan Belvina.

Belvina bisa tidur nyenyak dalam pelukan Alden.

Alden berusaha menahan gejolak yang sebenarnya sulit dia kendalikan. Alden tidak memaksakan keinginannya itu.
anonim
Berbeda dengan Belvina yang tidak kunjung bisa tidur.

Alden tertidur di sofa yang ada di ruang kerjanya. Belvina membangunkan Alden. Menyuruh Alden kembali ke kamar.

Memang bumil bikin repot sendiri. Suaminya tidur membelakanginya, dadanya jadi terasa sesak. Menginginkan usapan tangan suami di perutnya sebelum tidur.
anonim
Buka hatimu Belvina, kasihan suamimu yang sudah berusaha mengerti dengan penolakanmu.

Belvina tidak bisa tidur merindukan elusan tangan Alden di perutnya.
imoe nawar
👍
anonim
Belvina periksa di dokter kandungan diantar rombongan keluarga Astera.

Dokter memeriksa kandungan Belvina, layar monitor memperlihatkan kondisi janinnya.

Arsen senang, dokter menunjuk layar monitor memperlihatkan jenis kelamin bayi. Laki-laki.
anonim
Wow...permintaan Alden di tolak. Belum layak mendapatkan hadiah karena Alden masih dalam masa percobaan. Belum lulus sudah minta bonus wkwkwk.

Jalani ujiannya dulu biar lulus Al.

Iya Bel, kamu sangat keterlaluan membiarkan suamimu tersiksa.
anonim
Alden ngga pernah mendapatkan jatahnya dari Belvina.

Setelah kejadian membuka kamar mandi, Alden jadi menginginkan jatahnya wkwkwk
anonim
Seraphina ini tetap tidak sadar-sadar juga. Masih mengharapkan Alden.
anonim
Semua anggota keluarga Alden sangat mengkhawatirkan Belvina.

Belvina menceritakan kronologi kejadian yang menimpa dirinya.

Arsen ini kalau bicara bikin Alden mengeras rahangnya.
Ryan Dynaz
👍💜💜💜
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Erens Esrom Merani
motifasi yang mendambakan
VaNiLaLuLaBo
itu sebaiknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!