Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
"Masuk, masuk. Duduk sini." Ratna menuntun Lusi ke sofa. "Awan, ambilin minum buat Lusi dong."
Irawan langsung bergerak ke dapur. Lusi duduk di sofa, berhadapan dengan kedua orang tua Irawan.
"Jadi, Lusi..." Hartono mulai, suaranya tenang tapi tegas. "Kamu kuliah di mana? Jurusan apa?"
"Akuntansi, Om. Di Universitas Adiloka."
"Wah, bagus. Akuntansi. Jurusan yang menjanjikan." Hartono mengangguk pelan. "Terus, kamu kenal Awan dari kapan?"
"Dari awal semester lalu, Om."
"Lumayan lama juga." Ratna menyela. "Tapi kok baru sekarang ketemu kami?"
Pertanyaan itu menusuk. Lusi menatap Ratna dengan tatapan yang tenang. "Mungkin karena dulu Awan belum siap, Tante."
"Siap apanya?"
"Siap buat serius."
Ratna terdiam. Hartono menatap istrinya, lalu ke Lusi.
"Lusi..." Suara Ratna berubah. Lebih pelan. Lebih hati-hati. "Kamu sayang sama Awan?"
"Sayang, Tante."
"Sayang yang gimana?"
"Maksud Tante?"
Ratna menatap Lusi langsung. "Sayang yang tulus? Atau sayang yang... ada maunya?"
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam. Tapi Lusi sudah siap. Ia sudah dilatih oleh penderitaan. Ia sudah ditempa oleh ritual. Tidak ada pertanyaan yang bisa meruntuhkannya.
"Aku nggak punya maksud apa-apa, Tante. Aku cuma sayang sama Irawan. Sama kayak Tante sayang sama anak Tante."
Ratna tersenyum tipis. Tapi matanya tetap waspada.
Irawan kembali dengan nampan berisi minuman. "Ini, Lus. Jus jeruk. Mama yang bikin sendiri."
Lusi mengambil gelas itu. Menyesapnya pelan.
Pindah ke ruang makan.
Makan malam lalu dilanjutkan dengan percakapan-percakapan ringan. Ratna bertanya tentang keluarga Lusi, tentang masa kecilnya, tentang hobinya. Lusi menjawab semua dengan tenang.
Dan sepanjang malam itu, Ratna memperhatikan setiap gerak-gerik Lusi. Setiap suapan. Setiap tegukan. Setiap tetes air yang jatuh dari gelasnya.
Ia seperti sedang mengumpulkan sesuatu.
"Makasih ya, Tante, Om. Makanannya enak banget." Lusi berdiri di ambang pintu, tersenyum sopan.
"Kapan-kapan main lagi ya, Lusi. Jangan sungkan." Ratna memeluk Lusi singkat. Terlalu singkat. Dan terlalu erat.
"Tante? Peluknya kencang banget," kata Lusi sambil tertawa kecil.
"Oh, maaf. Tante cuma seneng akhirnya bisa ketemu kamu." Ratna melepaskan pelukannya. Tapi jemarinya diam-diam sudah melakukan tugasnya: mengusap halus di bahu Lusi, mengambil beberapa helai rambut yang jatuh di kerah bajunya. Dibalik kerudungnya.
Lusi tidak menyadarinya.
"Pulang hati-hati ya, Lus! Besok gue jemput pagi-pagi!" seru Irawan dari dalam.
Lusi melambaikan tangan, lalu berjalan menuju gerbang. Di belakangnya, Ratna menutup pintu pelan. Dan di tangannya, terselip beberapa helai rambut panjang berwarna hitam kecokelatan.
Rambut Lusi.
Kamar tidur utama.
"Kamu yakin ini cukup, Ma?" Hartono menatap helaian rambut yang diletakkan Ratna di atas tissue putih.
"Cukup. Ki Banespati cuma minta sebenang rambut. Ini ada lima helai." Ratna melipat tissue itu dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam plastik kecil. "Besok kita ke Gunung Kawi."
"Secepat itu?"
"Semakin cepat, semakin baik. Aku nggak tahan liat Awan makin aneh tiap hari." Ratna menatap suaminya. "Dan satu hal lagi, Pa..."
"Apa?"
"Waktu aku tanya soal kakek buyutnya... dia bilang namanya Ki Sarowang Prawangsa." Ratna menggigit bibirnya. "Aku nggak tau itu siapa. Tapi dari nada suaranya... itu bukan orang sembarangan."
Hartono menghela napas. "Kita udah terlanjur jauh, Ma. Mau gimanapun, kita harus coba."
Keesokan harinya. Kediaman Ki Banespati, Gunung Kawi.
Perjalanan panjang dari Surabaya ke Gunung Kawi mereka tempuh dengan tegang. Kali ini mereka tidak membawa Tante Yuli, melainkan Ratna dan Hartono datang berdua. Semakin dekat dengan kediaman dukun itu, semakin berat udara yang mereka rasakan.
Rumah Ki Banespati masih sama. Dikelilingi pohon beringin, berbau kemenyan, dan dipenuhi patung-patung batu yang menyeramkan.
Mereka masuk. Ki Banespati sudah menunggu, duduk bersila di atas tikar pandan. Matanya terpejam. Asap dupa mengepul dari pedupaan di sampingnya.
"Dapat?" tanyanya tanpa membuka mata.
Ratna menelan ludah. "Dapat, Ki." Ia mengeluarkan plastik kecil berisi rambut Lusi, meletakkannya di hadapan Ki Banespati.
Dukun itu membuka matanya. Ia mengambil plastik itu, membukanya, dan menatap helaian-helaian rambut di tangannya. Lalu ia tersenyum.
"Bagus. Energinya kuat. Ini cukup."
"Jadi... Ki bisa langsung?"
"Tidak. Aku harus menyiapkan dulu. Ritual ini butuh hari yang tepat. Malam Jumat Kliwon. Dua hari lagi." Ki Banespati menatap keduanya. "Kalian balik ke Jogja. Tapi ingat... selama dua hari ini, jangan biarkan anak kalian deket-deket sama gadis itu. Kalau perlu, kunci dia di rumah."
Ratna mengangguk. "Siap, Ki."
"Dan siapkan uangnya. Ritual ini tidak murah."
"Berapa pun, Ki. Asal anak saya sembuh."
Ki Banespati tertawa pelan. "Kalian orang tua yang baik. Tapi sayang... anak kalian jahat. Dan karena kejahatannya, dia kena celaka." Ia menatap Ratna. "Tapi kalian tidak perlu khawatir. Mulai malam ini, aku akan mulai menarik energinya. Pelan-pelan. Sampai malam Jumat Kliwon tiba."
Malam Jumat Kliwon. Kediaman Ki Banespati.
Rumah itu berubah jadi gelap total. Semua lampu dimatikan. Hanya lilin-lilin hitam yang menyala di sekeliling ruangan, menciptakan cahaya redup yang menyeramkan.
Di tengah, Ki Banespati duduk bersila di atas kain hitam. Di hadapannya, sebuah bokor tembaga berisi air, kemenyan, dan helaian rambut Lusi. Di sampingnya, sebilah keris kecil dengan gagang yang diukir menyerupai kepala ular.
Hartono dan Ratna duduk di sudut ruangan, tidak diizinkan bicara. Mereka hanya menonton dengan jantung berdebar.
Ki Banespati mulai melafalkan mantra. Suaranya pelan, tapi lama-lama semakin keras. Semakin berat. Dan kemudian...
"Sun teka niat, sun tuju niat, sun kirim nyawa, sun kirim nyawa..."
Suaranya berubah. Bukan lagi suara manusia. Tapi seperti ada dua suara yang berbicara bersamaan. Satu suara Ki Banespati, satu suara... sesuatu yang lain.
"Banthaspati kang aneng ing ratri... Banthaspati kang aneng ing geni... sun utus siro, sun kongkon siro..."
Angin di luar tiba-tiba bertiup kencang. Pepohonan beringin bergesekan, menciptakan suara raungan yang mencekam. Pintu rumah bergetar. Jendela-jendela berderak.
"Tumeka ing awakke si Lusi Arimbi... kobangen atine, kobangen nyawane, kobangen ragane..."
Lilin-lilin hitam itu menyala lebih terang. Api mereka bukan merah, bukan biru tapi hijau tua, seperti api dari dunia lain.
"Banthaspati! Banthaspati! Sun pantheng siro, sun kirim siro, sun kongkon siro... mlebu ing ragane si Lusi Arimbi..."
Dan tiba-tiba, dari asap dupa itu, muncul sebuah bayangan.
Bayangan itu besar. Berbentuk seperti manusia, tapi dengan mata yang menyala merah dan tubuh yang tertutup api hitam. Ia melayang-layang di udara, menatap Ki Banespati dengan tatapan yang siap mengabdi.
"Pergilah," bisik Ki Banespati. "Bawa siksaan untuknya."
Bayangan itu menoleh ke arah Hartono dan Ratna. Keduanya langsung membeku, tidak bisa bernapas.
Lalu, bayangan itu lenyap. Menembus atap. Meluncur ke kegelapan malam.
Kost Lusi. Saat yang bersamaan.
Lusi sedang berbaring di kasurnya, membaca kitab Semar Mesem. Tiba-tiba, udara di kamarnya berubah dingin. Sangat dingin. Napasnya langsung membentuk kabut putih.
Ia duduk tegak. Matanya menyapu seluruh ruangan.
"Ada apa ini..." bisiknya.
Liontin di lehernya bergetar. Keras. Seperti peringatan.
Dan kemudian, ia merasakannya. Panas. Bukan di tubuhnya. Tapi di dalam dadanya, di dalam kepalanya, di dalam jiwanya. Seperti ada api yang tiba-tiba menyala di seluruh tubuhnya.
"Ah... AH... AAAAAH!"
Lusi menjerit. Ia jatuh dari kasur, tubuhnya menggulung di lantai. Kedua tangannya memegangi kepalanya yang terasa seperti akan pecah.
"Sakit?" bisik sebuah suara di kepalanya. Suara yang bukan miliknya. Suara yang dalam. Suara yang penuh kebencian. "Rasakan. Rasakan Banespati."
Lusi berteriak lagi. Sekuat-kuatnya. Suara jeritannya memecah keheningan malam.
Pintu kamarnya didobrak dari luar.
"LUS!" Dita masuk, panik. Begitu melihat Lusi terguling-guling di lantai dengan mata terbelalak, ia langsung berteriak ketakutan. "LUS! LUS KENAPA! LUS!"
Tapi Lusi tidak bisa menjawab. Yang bisa ia rasakan hanyalah api. Api hitam yang membakar seluruh tubuhnya dari dalam.
Bi Tun tiba di kost Lusi setelah mendapat telepon panik dari Dita. Ia langsung paham apa yang sedang terjadi begitu melihat kondisi Lusi.
"Nduk... Nduk... Ya Allah..." Bi Tun memeluk Lusi yang terus meronta-ronta. "Dita, tolong panggil taksi! Sekarang!"
"Taksi? Ke mana, Bi?!"
"Ke Gunung Lawu. Aku akan bawa dia ke rumah Ki Sarowang!"
Dita berlari keluar, mencari taksi yang masih beroperasi. Bi Tun memeluk Lusi erat-erat, membisikkan sesuatu ke telinganya bukan mantra, tapi doa yang dulu pernah diajarkan ibunya.
"Sabar, Nduk. Sabar. Kita bawa kamu pulang. Mbah Buyut bakal nolongin. Sabar ya..."
Tapi Lusi sudah setengah sadar. Yang ia rasakan hanyalah api. Api yang terus membakar. Api yang bernama Banespati.
Perjalanan menuju Gunung Lawu.
Taksi melaju kencang di jalanan yang kosong. Di kursi belakang, Lusi terbaring dengan kepala di pangkuan Bi Tun. Tubuhnya sesekali kejang-kejang. Dahinya panas seperti bara api, tapi sekujur tubuhnya menggigil kedinginan.
"Bertahan, Nduk..." bisik Bi Tun. "Sebentar lagi kita sampe..."
Lusi membuka matanya sedikit. Matanya berkaca-kaca, tapi ada sesuatu yang lain di sana api keemasan yang berusaha melawan.
"Mbah..." bisiknya. "Mbah Buyut... tolong..."
Liontin di lehernya bergetar hebat. Dan di rumah joglo di lereng Gunung Lawu, Ki Sarowang membuka matanya lebar-lebar.
Lusi.
Ia bangkit dari semedinya. Matanya keemasan menyala terang. "Banespati..." desisnya. "Anak ini... bocah kemarin sore... berani-beraninya mengirim Banespati ke darah dagingku."
Ia keluar ke halaman. Menatap langit malam. Bulan tertutup awan gelap. Di kejauhan, ia bisa merasakan energi jahat yang sedang mengejar cicitnya.
"Sampai sini permainanmu, bocah." Suara Ki Sarowang menggelegar. "Kau tidak tahu dengan siapa kau berurusan."
\[BERSAMBUNG…\]
oh ya si Lusi ngeri ya TDK memanusiakan orang
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️