Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.
Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!
"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Di dalam kabin helikopter mewah milik Abimanyu Grup yang sedang membelah langit Jakarta dengan kecepatan penuh, atmosfer terasa begitu mencekam. Deru mesin helikopter yang sedari tadi berdengung bising diredam sempurna oleh dinding kabin yang kedap suara, namun tidak mampu meredam detak jantung Bara yang kini berpacu liar, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya.
Pria tua itu duduk kaku di kursi kulit asli yang empuk, namun ia sama sekali tidak merasakan kenyamanan duduknya. Kedua tangannya terkepal erat di atas lutut, urat-urat di punggung tangannya menonjol jelas, sementara matanya terus menatap lurus ke arah indikator waktu di pergelangan tangannya—seolah-olah dengan menatapnya cukup lama, jarum jam itu akan berputar lebih cepat dari biasanya.
Yudha, yang duduk di seberangnya sambil memangku laptop operasional yang terbuka lebar, tampak beberapa kali melirik sang atasan dengan cemas yang tak bisa disembunyikan. Ia sudah bekerja bertahun-tahun di samping Bara Abimanyu Maheswara, namun belum pernah sekalipun melihat pria yang biasanya sedingin es dan tak tergoyahkan meski di tengah krisis ekonomi global sehebat apa pun, bisa terlihat serapuh dan sepanik ini.
"Pak Bara, tim medis tingkat satu sudah memastikan semua peralatan siap. Cairan penstabil suhu tubuh dan ruang isolasi darurat di dalam helikopter ini sudah aktif," lapor Yudha dengan suara baritonnya yang tenang, berusaha menyusupkan sedikit ketenangan ke dalam ruangan yang terasa sesak itu.
Bara tidak langsung menjawab. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menembus gumpalan awan mendung yang kelabu dan gelap, persis seperti suasana hatinya saat ini.
"Berapa menit lagi kita sampai, Yudha?"
Suaranya terdengar serak, berat, menahan beban emosional yang teramat sangat—beban yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata biasa.
"Tujuh menit lagi kita akan memasuki titik koordinat yang diberikan, Pak. Pilot sedang mengambil rute tercepat dan mengabaikan batas aman kecepatan normal demi sampai di sana sesegera mungkin," jawab Yudha sigap, matanya kembali menatap layar di hadapannya.
"Lebih cepat, Yudha... Suruh pilot bajingan itu melaju lebih cepat!" desis Bara, giginya mengatup rapat, kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Pikirannya melayang jauh, kembali pada kalimat-kalimat terakhir yang tertulis rapi di surat Arien. Aura yang tidak stabil... wadah tubuh yang belum siap. Sebagai anak angkat yang pernah hidup berdampingan dengan Arien di kehidupan sebelumnya, Bara tahu betul betapa mengerikannya jika kekuatan murni milik ibunya itu menolak menyatu dengan tubuh manusia biasa. Terlebih sekarang... kekuatan itu sedang mengamuk di dalam tubuh seorang anak kecil seperti Arumie.
"Jika terjadi sesuatu pada adikku... jika aku terlambat lagi seperti yang terjadi pada bunda dulu..."
Bara menggantung kalimatnya, tenggorokannya terasa tercekat seakan ada bongkahan es yang menyangkut di sana.
Setitik air mata kembali lolos dari matanya yang mulai senja, mengalir perlahan di antara kerutan pipinya yang sudah tak lagi muda. Kenangan pahit—saat ia terpaksa berdiri tak berdaya melepas kepergian Arien di masa lalu—kini berputar kembali di kepalanya, hidup dan nyata, persis seperti mimpi buruk yang datang untuk menghukumnya sekali lagi.
Yudha menundukkan kepala, tidak berani menyela pergulatan batin sang Presiden Direktur yang sedang berdarah-darah di dalam diamnya. Ia hanya bisa mengetikkan instruksi tambahan kepada pasukan darat Abimanyu Grup yang sudah bergerak menyisir setiap jengkal area titik kordinat yang diberikan Arien lewat surat nya, memastikan tidak ada satu pun halangan yang akan menghambat jalur evakuasi agar benar-benar steril.
Bara memejamkan matanya rapat-rapat, menggenggam erat surat Arien yang dibubuhi stempel emas murni di dalam saku jasnya—seakan dengan memeluk surat itu, ia bisa merasakan kehangatan putrinya yang sudah lama hilang.
"Bunda... bertahanlah. Anakmu tidak akan membiarkanmu kehilangan apa pun lagi di kehidupan kali ini," bisiknya dalam hati, doa yang terbungkus tekad sekuat baja, tepat saat helikopter mulai menukik tajam turun menembus rimbunnya pepohonan di lokasi ibunya Arien.
...****************...
Di sudut kota yang lain, di taman kota terlihat Alan yang duduk di kursi pinggir jalan yang sepi, Alan akhirnya menyalakan ponselnya. Layar benda digital itu langsung berkedip-kedip intens, seolah memprotes lamanya waktu mati perangkat itu, menampilkan puluhan notifikasi panggilan tak terjawab dan pesan beruntun yang semuanya berasal dari satu nama di daftar kontaknya: Arien.
Amarah yang tadinya membakar habis dada Alan perlahan surut, digantikan oleh rasa dingin yang mulai menjalar dari ulu hatinya. Jemarinya terpaku di atas layar yang bercahaya itu, napasnya tertahan saat sebaris kalimat di salah satu pesan yang dikirimkan istrinya tertangkap oleh matanya.
Ba, uih... Dede teu raoseun panas tarik. Neng bararingung kudu kamana.
“Mas, pulang... Arumie sakit demam tinggi. Aku bingung harus ke mana.”
Alan tertegun. Matanya menatap tulisan itu berulang-ulang, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia baca. Rasa bimbang dan penyesalan mendadak merayap pelan, meruntuhkan benteng keangkuhan yang ia bangun setinggi langit sejak pagi tadi. Di tengah kesunyian malam kota yang hanya dipecah oleh suara kendaraan yang sesekali lewat, ia bermonolog dengan batinnya sendiri—suara hati yang kini terdengar begitu menyayat.
"Arumie sakit...?" bisik Alan, suaranya tercekat di tenggorokan, terasa perih dan asing di telinganya sendiri.
Ia memandangi deretan panggilan tak terjawab itu dengan tatapan kosong, seolah melihat jejak kepanikan istrinya yang satu per satu berlalu tanpa pernah ia tanggapi. Egonya yang terluka akibat pertengkaran hebat tadi pagi masih terasa perih, namun rasa cemas yang kini meluap-luap di dadanya jauh lebih besar, jauh lebih menakutkan.
"Kenapa harus sekarang saat kita lagi seperti ini, Rien?" gumamnya seraya mengusap wajah dengan kasar, berusaha menepis segala keraguan yang ada namun justru semakin tercekik oleh rasa bersalah.
Namun, bayangan wajah kecil Arumie yang biasanya ceria dan riang, kini terbaring lemah dengan pipi yang panas dan merah karena demam, tiba-tiba melintas begitu jelas di pikirannya. Begitu pula bayangan Arien—sendirian di rumah, menahan panik, mungkin sedang menangis sambil memangku putri mereka, tidak tahu harus ke mana mencari pertolongan.
Rasa cemas akhirnya menang. Benteng ego Alan runtuh sepenuhnya menjadi debu. Dengan tangan yang sedikit gemetar akibat kepanikan yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, ia menekan tombol panggil pada kontak istrinya.
"Persetan dengan ego," rutuk Alan pelan, mendekatkan ponsel ke telinganya dengan jantung yang berdebar kencang, berharap—berdoa—agar panggilan itu segera diangkat.
Tutt... Tutt... Tutt...
"Tolong angkat, Rien... tolong angkat," batinnya, rasa frustasi mulai mencekik lehernya setiap kali nada sambung itu berbunyi tanpa jawaban.
Hingga suara rekaman otomatis terdengar dingin di telinganya:
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."
"Sial, ke mana kamu, Rien?" rutuk Alan, suaranya bergetar.
Layar ponselnya kembali meredup, menyisakan pantulan wajahnya yang pias dan ketakutan. Di pinggir jalan yang sepi itu, ia berjalan mondar-mandir dengan napas memburu, sementara jarinya bergerak cepat di atas layar untuk membuka aplikasi transportasi online, berharap ada kendaraan yang segera datang.
Keberuntungan tampaknya masih berpihak padanya malam ini; seorang pengendara ojek online menerima pesanannya dalam hitungan detik.
Begitu motor bebek hitam itu berhenti perlahan di depannya, Alan langsung menyambar helm yang disodorkan sang pengemudi tanpa memedulikan sapaan ramah pria itu. Waktunya terlalu sedikit untuk sopan santun.
Pak, hoyong rada enggal nya, di bumi nuju darurat. Murangkalih nuju teu damang.
"Pak, tolong agak cepat ya, rumah saya darurat. Anak saya sedang sakit," ujar Alan setengah memohon, suaranya serak dan terengah-engah saat melompat naik ke jok belakang.
Oh, siap, Jang. Muntangan sing pageuh nya.
"Oh, baik, Mas. Pegangan yang erat ya," balas driver ojek online itu dengan nada mengerti, lalu langsung menarik tuas gasnya dalam-dalam.
Motor pun melesat cepat, membelah angin malam kota yang mulai menusuk kulit. Di sepanjang perjalanan, di balik kaca helmnya yang memantulkan cahaya lampu jalan, Alan terus berkomat-kamit merapalkan doa yang selama ini jarang sekali ia ucapkan. Setiap detik yang berlalu terasa seperti selamanya.
^^^Bersambung...^^^
semoga next bab ada adegan baku hantam sampai meninggal
Tapi .. ya gitulah🤣🤣