Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?
Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.
Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Batuk Asti Tamat
Sekolah dimulai lagi, Lira diantar Rino untuk sekolah, Dani dan Rani sudah menunggu Lira di gerbang masuk.
“Aku sudah bilang, aku dan Lira tak mau berteman denganmu lagi ya, paham ga! Gausah dekat-dekat dengan kami lagi.” Rani mendorong Dani yang hendak menyambut Lira.
Lira tertawa saja, dia menggandeng Rani diikuti oleh Dani.
Saat masuk kelas, semua anak terlihat mengerubungi mereka, mereka bertanya gimana para tentara itu, apakah galak, gimana apakah mereka sangat sakit, lalu banyak pertanyaan lain, saat semua anak sibuk bertanya, ada seseorang yang tak sengaja menarik syal Lira, belum sepenuhnya lepas, hanya terbuka satu lilitannya, untuk berjaga-jaga Lira selalu memastikan kalau syalnya dililit dua kali di leher.
Dani yang berada di belakang kerumunan, merasa mencium samar bau yang familiar, seketika instingnya langsung menoleh ke arah bau yang samar itu, banyak anak di sana, Dani tidak bisa memastikan bau samar ini dari mana, karena baunya memang tidak tajam, sekilas saja.
Lira tersadar kalau lilitan syalnya terbuka satu, lalu dia buru-buru melilit lagi syalnya sekali, agar seluruh lehernya terlindungi sempurna, saat itu juga aroma tipis Lira tak tercium lagi, merasa bahwa mungkin aroma itu berasal dari orang yang lewat di luar kelas, Dani berlarian keluar kelas untuk mencari siapapun yang memiliki aroma sama.
Dani yakin aroma itu tercium tadi, Dani tersenyum, cepat atau lambat pasti ketahuan, siapa Dekekuoi itu! Untuk sekarang dia bisa lolos, tapi selanjutnya, Dani akan pastikan kalau ketemu, akan dia cabik habis Dekekuoi itu.
Karena merasa tidak lagi bisa mencurigai siapa pun, maka dia kembali ke kelas, semua anak sudah duduk di bangku masing-masing, Dani masuk dan menyenggol Rani untuk menggodanya.
“Diam kau, mau kuhajar?!” Rani masih dendam kesumat karena Dani tidak menjenguk mereka.
Lira tertawa melihat kelakuan Dani dan Rani.
Lalu tak lama kemudian, ibu guru datang, semua anak bersiap untuk belajar.
Setelah pelajaran selesai, Lira, Rani dan tentu saja Dani, ke perpustakaan.
“Dan, ngapain sih ikut terus, kita ini sakit loh, nanti ketularan kamu!” Rani tidak ingin Dani ikut ke perpustakaan.
“Apa sih, orang aku hanya mau baca saja, lagian aku tidak menjenguk ya karena itu hal yang paling masuk akal untuk dilakukan, kalau aku ikut sakit, nanti kalian merasa bersalah!”
“Itu namanya tidak solid, lihat aku dan Lira sakit loh, kami berdua merasakan batuk berat itu, merasakan ditawan tentara berbadan besar, hampir kelaparan, pokoknya kita berbagi nasib dan merasa susah senang bersama, itu baru namanya sahabat! Paham!”
“Ya sudahlah, aku tidak perlu jadi sahabat, kita temenan saja, berbagi pelajaran dan saling mendukung dari jauh, memang tidak bisa begitu saja?” Dani memaksa, tapi aneh juga, tidak ingin terlalu dekat, tapi juga tak ingin jauh, ada perasaan melekat yang cukup tinggi di sana.
“Tidak, pokoknya aku tidak ingin melihatmu, aku ....”
“Rani, sudahlah, kita berdua sahabat dan dia jadi teman saja, jadi, aku dan kamu takkan terpisahkan.” Lira mencoba untuk membujuk Rani.
“Yasudah, tapi awas ya, lain kali kamu buat sakit hati, aku takkan mau menjadi teman, kita bermusuhan saja.”
“Iya, aku janji, lagi pula permintaanku tidak terlalu berat kan, hanya menjadi teman, tidak lebih dari itu, aku suka berdekatan dengan perempuan-perempuan cerdas seperti kalian.”
Meski terasa membual, tapi itu membuat Rani dan Lira jadi tersenyum, dipuji oleh orang yang cerdas itu sangat menyenangkan.
“Tapi Lira, aku jujur merasa janggal ya, kenapa kami semua sembuh tiba-tiba, jujur malam itu juga terasa aneh.” Rani tiba-tiba membawa pada obrolan tersebut, Lira berdebar, takut mantranya tidak manjur dan membuat Rani ingat, meski Lira belum tahu kalau Dani adalah Jagabaya Kasipin, tetap saja, ketahuan sebagai penyihir oleh manusia, maka cepat atau lambat, Dekekuoi akan menemukan mereka.
“Aneh kenapa?” Dani bertanya.
“Aneh, aku dan kedua orang tuaku tidak ingat yang terjadi malam itu, mereka bahkan bilang kalau malam itu mereka tidur nyenyak sekali, padahal aku sedang sakit parah, terakhir yang aku ingat adalah, mamaku bilang mau menghangatkan air untuk minumku, papa sudah tertidur, lalu saat pagi terbangun, papa dan mama di ruang tamu, tidur dalam keadaan duduk, lalu saat itu aku terbangun sudah sembuh.
Aneh kan, kami semua tidak ada yang ingat kejadian semalam, kenapa mama dan papa di ruang tamu dan ....”
“Kau tahu, kalau ada mitos tentang wabah penyakit?” Dani tiba-tiba berkata. Lira dan Rani penasaran, wajah mereka menunjukkan itu dengan jelas.
“Mitosnya apa?” Lira bertanya.
“Mitosnya, kalau ada wabah penyakit itu, karena ada penyihir yang tinggal di suatu wilayah dan merekalah yang menyebar penyakit itu untuk mencelakai manusia.”
“Aneh! Sumpah mitos yang aneh, penyihir itu ngapain repot banget mau mencelakai manusia, mening dia cari uang dari kemampuannya nggak sih? Emang apa untungnya buat si penyihir mencelakai kita?” Rani mengoceh, seolah tak ada penyihir di sana.
Lira diam saja, dia tak mau menanggapi, bingung, karena omongan Dani bisa dibilang salah dan benar juga.
Salah kalau penyihir suka mencelakai manusia, benar karena bisa jadi memang wabah kemarin itu disebabkan oleh salah satu Dekekuoi yang pensiun dan tiba-tiba melepas musang sihir itu.
“Ada keuntungannya mencelakai kita, memang kau tak tahu kalau Penyihir itu suka memakan jiwa, dengan memakan jiwa, maka dia semakin kuat, kau harus hati-hati.” Dani mencoba untuk meyakinkan Rani.
“Duh, serius nih, di tengah anti PKI gini, terus wabah kemarin, kita harus banget takut juga sama penyihir, ayolah Dani, kau jangan menambah beban pikiran kita semua, sudahlah, kubur teorimu itu. Aneh!”
“Kalau begitu, menurutmu keanehan yang terjadi padamu dan keluargamu karena apa?” Dani bertanya.
“Yang lebih masuk akal sih ... janji kalian nggak akan anggap aku gila ya, tapi kalau ini benar, aku sih bakal jadiin dia idolaku.”
“Apaan sih?” Dani bertanya penasaran, Lira mengangguk saja.
“Aku pikir, kita yang sakit itu disembuhkan oleh makhluk piring terbang! Kau tahukan, tahun lalu itu di Surabaya terjadi fenomena, ada benda terbang berbentuk seperti piring melintas di udara, katanya sih, bahkan piring terbang itu bisa kita lihat dengan telanjang mata, katanya selain itu radar pangkalan udara militer juga menangkap piring terbang itu dengan jelas. Ingat nggak kalian?”
Yang Rani bicarakan adalah, pada tahun 1964 kehebohan terbesar tercatat terjadi sepanjang satu pekan, tepatnya dari tanggal 18 hingga 24 September 1964 di Surabaya, Jawa Timur. Objek-objek asing berbentuk piringan ini tidak hanya terlihat secara kasat mata oleh penduduk dan tentara, tetapi juga tertangkap dengan sangat jelas oleh radar pemantau pangkalan udara militer. Objek tersebut sering kali memperlihatkan tanda kedipan cahaya yang tidak biasa.
Menurut kesaksian dari para operator radar dan saksi mata, objek-objek tersebut melesat dengan kecepatan luar biasa dan melakukan manuver patah-patah yang mustahil dilakukan oleh teknologi pesawat jet tempur buatan manusia pada era 1960-an.
Karena menduga objek asing tersebut adalah pesawat pengintai atau drone ilegal milik musuh atau pimpinan Persemakmuran Inggris, komando militer di Surabaya mengambil tindakan tegas, pasukan Artileri Pertahanan Udara atau Arhanud, TNI, melepaskan tembakan rentetan menggunakan meriam penangkis serangan udara ke arah objek-objek terbang tersebut.
Meskipun ditembaki secara bertubi-tubi dengan amunisi berat, upaya tersebut sama sekali tidak membuahkan hasil. Tembakan meriam seolah tidak bisa menyentuh atau melukai objek tersebut. Objek asing itu justru tetap melesat menjauh dengan kecepatan tinggi tanpa mengalami kerusakan.
Ada pula laporan yang mengklaim bahwa setidaknya ada satu objek misterius yang sempat terlihat melakukan pendaratan darurat di daratan, sebelum akhirnya menghilang kembali.
Itulah yang hendak Rani sampaikan, dia percaya kalau ada makhluk dari piring terbang yang membantu mereka sembuh, belakangan kita semua menyebutnya Alien, karena waktu itu belum dikenal istilah itu.
Lira tertawa dalam hati, alien dan penyihir, rasanya dua hal yang sangat berbeda, serupa tapi tak sama, serupa karena mampu melakukan hal-hal ajaib, tidak sama karena bentuk penyihir adalah manusia yang diistimewakan, sedang alien, tidak ada yang benar-benar tahu bentuknya seperti apa dan apakah benar-benar ada.
Yang mana yang kalian lebih percaya? Alien atau Dekekuoi?
Kalau aku, aku percaya di dunia ini, semua orang istimewa dengan caranya masing-masing.