Indonesia
NovelToon NovelToon
Diary Zia

Diary Zia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengkhianatan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Emma Alhabsyi

Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.

Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.

Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DZ~32

Sementara itu, Zia yang tadinya berniat langsung ke dapur, terpaksa putar balik. Ia baru ingat kalau buku catatan harian miliknya sudah penuh, padahal ia harus segera mencatat poin-poin penting dari surat Abah tadi.

Tanpa membuang waktu, Zia menyusul ke koperasi. Karena sudah hafal letak tata ruang, Zia langsung masuk melalui pintu samping yang terhubung langsung ke ruang alat tulis dan kitab, tanpa perlu melewati area kasir depan tempat Rani berjaga.

Zizan yang merasa sudah cukup lama melihat-lihat, berniat untuk segera kembali ke kasir. Ia berjongkok sejenak untuk mengambil bolpoin yang sempat terjatuh dekat kakinya. Begitu ia bangun dan membalikkan badan untuk melangkah keluar, pintu ruangan terbuka.

Deg!

Zia sudah melangkah masuk dan posisi mereka tepat berhadapan dalam jarak yang cukup dekat.

Langkah Zia mendadak terkunci. Kedua matanya membelalak kecil, menatap langsung ke arah Zizan yang juga tampak terkejut. Ruangan yang sempit itu mendadak terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jantung mereka yang tiba-tiba berpacu tidak karuan.

Dalam hati, Zizan merutuki dirinya sendiri yang mendadak salah tingkah. "Aduh, kenapa harus berpapasan di sini?" batinnya bingung.

Perasaannya langsung campur aduk. Ada rasa canggung yang luar biasa, namun di sisi lain, dadanya bergemuruh aneh setiap kali tatapan mereka bertemu seperti ini. Zizan buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lantai, berusaha keras menetralkan ekspresi wajahnya agar tidak kelihatan gugup di depan Zia.

Zia pun tidak jauh berbeda. Jantungnya serasa mau copot karena tidak mengira akan mendapati Zizan di ruangan ini. Masalah pribadi yang sedang membebani pikirannya ditambah dengan kejutan instan ini membuat pertahanan mentalnya agak goyah. "Ya Allah, kenapa jantungku berisik sekali? Tolong tenang," bisik Zia dalam hati, sambil meremas ujung jilbabnya pelan untuk menyembunyikan tangannya yang agak gemetar.

Untuk beberapa detik yang terasa sangat lama, tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Keduanya membeku di posisi masing-masing, terjebak dalam riuhnya suara hati yang saling bersahutan tanpa berani diungkapkan.

Zizan yang pertama kali tersadar dari rasa terkejutnya. Menyadari posisi mereka yang terlalu dekat dan suasana yang terlampau hening, ia berdeham pelan untuk mencairkan ketegangan. Ia memundurkan langkahnya satu pijakan agar jarak mereka lebih aman.

"Eh... nyari apa, Zia?" tanya Zizan dengan nada suara yang diusahakan seadanya, meski di dalam dada jantungnya sudah berdegup kencang.

Zia mengerjapkan mata, mencoba menguasai diri yang sempat linglung. "Ini... mau beli buku baru, Kang. Buku yang lama sudah penuh," jawab Zia agak terbata sambil menunjuk rak buku di sebelah kanan Zizan.

"Oh, iya. Itu di sebelah sana bukunya," sahut Zizan pendek sambil mengangguk.

Tanpa menunggu lebih lama karena merasa suasana makin canggung, Zizan segera berbalik dan berjalan cepat menuju area kasir depan untuk menemui Rani. Langkah kakinya agak terburu-buru, membawa serta perasaan yang sudah dag-dig-dug tidak karuan.

Di dalam ruangan alat tulis, Zia masih berdiri terpaku di tempatnya. Ia memegangi dadanya yang terasa berdesir aneh. Ada rasa heran yang menyergap pikirannya. Mengapa setiap kali berdekatan atau tidak sengaja bertatapan dengan Zizan, perasaannya menjadi sedikit berbeda dan sekacau in, Zia menggelengkan kepala pelan, mencoba mengusir pikiran-pikiran itu, lalu mulai fokus mencari buku catatan yang ia butuhkan.

Sementara itu di meja kasir, Zizan meletakkan bolpoin dan botol air mineralnya di depan Rani.

"Jadi semuanya dua puluh tiga ribu rupiah, Kang Zizan," ucap Rani setelah menghitung total belanjaan tersebut.

Zizan merogoh saku bajunya dan mengeluarkan selembar uang pecahan lima puluh ribu rupiah, lalu menyerahkannya kepada Rani.

Rani menerima uang tersebut dan mulai membuka laci kasir untuk mengambil uang kembalian.

Saat menunggu kembaliannya dihitung, pandangan Zizan tiba-tiba tidak sengaja menoleh ke arah deretan minuman dan jajan di etalase yang berada tepat di belakangnya. Matanya tertuju pada minuman sari kacang hijau yang berjejer rapi. Otaknya langsung teringat pada Zia yang tadi mengeluh harus langsung ke dapur setelah ini, padahal baru saja menyelesaikan pertemuan yang cukup menguras energi dengan Abah. "Pasti dia capek," pikir Zizan.

Alih-alih berniat meminumnya sendiri, Zizan tiba-tiba mengambil satu kotak minuman kacang hijau tersebut dari etalase. Perasaannya mendadak bimbang dan ragu, tetapi ia mencoba memberanikan diri. "Mbak Rani, sekalian tambah ini satu ya. Jadi berapa total kembaliannya potong ini saja," kata Zizan. Rani mengangguk, menghitung ulang, lalu menyerahkan sisa uang kembalian beserta minuman tersebut kepada Zizan.

Setelah menerima plastik belanjaannya, Zizan menarik napas dalam-dalam. Dengan sisa keberanian yang ada dan mengabaikan rasa malunya, ia melangkah kembali menuju pintu ruang sebelah.

Di dalam ruangan, Zia sedang membolak-balik sebuah buku tulis bersampul cokelat, menimbang apakah kertasnya cukup tebal untuk ditulis. Tiba-tiba, sebuah tangan terulur ke arahnya, menyodorkan satu kotak minuman kacang hijau yang masih utuh.

Zia tersentak dan langsung mendongak. Ia mendapati Zizan sudah berdiri di dekatnya lagi.

"Ini... buat kamu," ujar Zizan singkat. Wajahnya lurus menatap kotak minuman di tangannya, sengaja menghindari kontak mata langsung dengan Zia karena merasa salah tingkah yang luar biasa.

"Biar nggak lemas nanti di dapur."

Zia benar-benar tertegun. Matanya membulat sempurna, menatap minuman kacang hijau yang ternyata memang kesukaan Zia. "Kebetulan atau memang Zizan tahu kesukaanku." batin Zia lirih.

dan wajah Zizan bergantian dengan ekspresi yang sama sekali tidak menyangka. Ia tidak pernah menduga santri yang biasanya sangat menjaga jarak dan pendiam itu akan memberikan perhatian sekecil ini secara langsung. Mulut Zia sempat terbuka sedikit, hendak bersuara, tetapi tidak ada kata yang keluar karena saking terkejutnya.

Sebelum Zia sempat menerima minuman itu dengan benar atau mengucapkan terima kasih, Zizan langsung meletakkan botol tersebut di atas rak kosong tepat di samping tangan Zia.

"Aku duluan," ucap Zizan cepat. Suaranya terdengar gugup.

Tanpa nunggu jawaban, Zizan langsung berbalik badan. Dia jalan setengah berlari keluar dari koperasi menuju asrama putra. Tinggal Zia yang masih berdiri di tempat. Dadanya berdegup kencang. Lebih kencang dari biasanya.

Zia menarik napas. Tangannya meraih minuman di atas rak. Dia menatap botol itu beberapa detik. Entah kenapa dia jadi senyum-senyum sendiri.

"Zizan, kamu itu unik. Makasih ya," gumamnya pelan di dalam hati.

Zia nggak sadar kalau dia masih senyum. Sampai akhirnya ada suara dari belakang.

"Nggak capek senyum-senyum sendiri, Mbak?"

Zia kaget. Dia langsung menoleh. Ternyata Rani, mbak penjaga koperasi. Rani yang menyadari seperti ada orang di etalase belakang ia segera menoleh. Tapi langkahnya berhenti pas lihat Zia.

"Dari tadi tak perhatiin. Dari Zizan pergi kamu senyum terus," lanjut Rani sambil nyengir. Dia menyelinap di balik pintu.

Wajah Zia langsung panas.

"Eh... nggak kok, Dan Biasa aja," jawab Zia buru-buru. Tangannya masih memegang minuman tadi.

"Masa sih biasa aja? Pipinya udah merah gitu," goda Rani. "Habis diapain Zizan emangnya?"

"Ya Allah, nggak diapa-apain," kata Zia pelan. Dia nunduk, pura-pura mau bayar minuman.

Rani menyeritkan dahi.

Hah? Bayar? Udah dibayar sama Zizan kan tadi.

"Oh iya, aku lupa." Zia menyengir.

Rani ketawa kecil. "Udah, udah. Nggak usah malu. Aku ngerti kok."

Zia cuma bisa tersipu malu. lalu buru-buru keluar dari koperasi. Di luar, angin sore berembus. Tapi pipinya masih terasa panas.

1
ken darsihk
Aq mampir
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca
Emma Alhabsyi
ih boleh banget kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!