Indonesia
NovelToon NovelToon
Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Percintaan Konglomerat / Dark Romance / Mantan / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.

Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.

Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.

Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Diam-diam perhatian

Perang dingin antara CEO dan karyawan magang sekaligus istrinya itu memasuki hari ketiga. Di kantor, tidak ada bentakan, tidak ada pertengkaran hebat. Yang ada hanyalah kecanggung berkadar tinggi yang berhasil bikin satu divisi Pemasaran jantungan setiap kali Areksa melangkah masuk.

Jumat pagi, hujan deras menyiram ibu kota. Zevanna tiba di kantor dengan bagian bawah celana bahan dan ujung kemejanya agak basah kuyup karena terkena cipratan air saat turun dari taksi. Lagi-lagi Zevanna keras kepala tak ingin berangkat dengan sopir, membuat Areksa membiarkannya saja. Lagian mereka sama-sama keras kepala.

Saat Zevanna baru saja duduk di kubikelnya dan menyalakan komputer, Gabriel, sekretaris eksekutif Areksa, turun ke lantai empat sambil membawa kardus besar dan sebuah paperbag mahal dari brand pakaian ternama.

"Selamat pagi, teman-teman divisi Pemasaran," sapa Gabriel dengan senyum formal yang dipaksakan. "Pak Areksa baru saja menyetujui pengadaan fasilitas baru untuk kenyamanan kerja."

Gabriel meletakkan heater portabel canggih berdesain minimalis tepat di sebelah meja Zevanna, lalu mencolokkan kabelnya ke stopkontak. Hawa hangat langsung berhembus, menyelimuti area kubikel Zevanna yang kedinginan.

"Pak Gabriel, kok pemanasnya ditaruh di meja saya aja?" tanya Zevanna curiga sambil memicingkan mata.

"Oh, itu... arahan Pak Areksa. Katanya sudut kubikel kamu adalah titik paling lembab di lantai empat, jadi riset internal menunjukkan butuh pemanas duluan," jawab Gabriel belepotan, jelas-jelas mengarang alibi. Ia lalu menyodorkan paperbag mahal ke atas meja Zevanna. "Dan ini, ada merchandise kemeja bahan breathable dari HRD. Wajib dipakai sekarang karena ada aturan kerapihan pakaian hujan."

Zevanna mengernyit. Merchandise HRD pakai label busana desainer seharga sepuluh juta? Ukurannya pun pas sekali dengan badannya.

Zevanna mendongak ke lantai atas, melirik ke arah dinding kaca ruang CEO di lantai mezzanine. Di balik kaca gelap itu, ia tahu ada Areksa yang sedang berdiri mengawasi. Zevanna tidak menolak. Dia mengambil baju itu, tapi menyunggingkan senyum sindiran yang sangat tipis ke arah atas.

Dasar gengsi setinggi langit, batin Zevanna.

....

Zevanna yang memang punya riwayat maag kronis jika terlalu stres, mulai merasakan lambungnya melilit hebat. Sejak pagi ia hanya minum teh tawar karena malas ke pantry. Wajahnya mulai pucat pasrah, tangannya memegang perut sambil tetap memaksa mengetik laporan.

Areksa yang memantau pergerakan Zevanna lewat kamera CCTV khusus di ruangannya yang dipasang diam-diam sejak tiga hari lalu langsung menyadari perubahan gestur istrinya. Pria itu berdiri dari kursinya, gelisah setengah mati. Ia ingin turun dan membawakan obat, tapi egonya langsung berteriak: Nggak! Kalau aku turun, berarti aku kalah!

Sepuluh menit kemudian, pesanan makanan dari restoran bintang lima tiba di divisi Pemasaran. Nasi tim ayam obat, sup hangat, dan obat maag dosis tinggi dalam kemasan khusus diletakkan di meja Zevanna oleh pantry boy.

"Ini dari siapa?" tanya Zevanna sambil menahan nyeri di perutnya.

"Dari manajemen. Katanya progam wellness makan siang gratis buat karyawan yang lembur kemarin," jawab si anak pantry polos.

Zevanna menatap makanan itu. Ia tahu betul tidak ada program wellness sejenis ini di perusahaan. Tapi karena perutnya benar-benar melilit, Zevanna memakannya sampai habis. Namun, bukannya luluh, Zevanna justru memanfaatkan hal itu untuk mempermainkan gengsi suaminya.

Selesai makan, Zevanna mengambil ponselnya. Untuk pertama kalinya setelah lima hari, ia mengirim pesan ke nomor Areksa.

Zevanna: Terima kasih makanan gratis dari 'manajemen'-nya, Pak CEO. Supnya enak, tapi obat maagnya terlalu keras. Lain kali kalau mau perhatian, riset dosis dulu ya.

Di ruangannya, Areksa membaca pesan itu. Matanya membelalak, dadanya kembang-kempis menahan campur aduk antara malu karena ketahuan dan kesal karena disindir. Pria itu mengetik balasan dengan jemari yang menekan layar secara kasar.

Areksa: Jangan percaya diri. Itu sisa catering rapat direksi yang tidak dimakan. Daripada dibuang.

Zevanna yang membaca balasan itu hanya terkekeh pelan di kubikelnya. Gengsian, pikirnya.

Pukul lima sore, hujan belum juga reda. Bahkan angin kencang mulai berhembus, membuat suasana Jakarta makin mencekam oleh kemacetan.

Karyawan divisi Pemasaran sudah mulai berangsur pulang. Zevanna sengaja membereskan barangnya agak lambat. Ketika ia hendak berjalan menuju lift, Pak Rendy menghampirinya.

"Zevanna, hujan awet banget nih. Mau saya barengin sampai depan stasiun? Mobil saya menganggur tuh," tawar Rendy ramah, murni sekadar menawarkan bantuan antar teman kerja.

Belum sempat Zevanna menjawab, suara deheman berat dan dingin terdengar dari ujung koridor.

"Pak Rendy."

Rendy dan Zevanna menoleh. Areksa berdiri di sana, mengenakan kemeja hitam dengan lengan tergulung rapi, memegang sebuah payung hitam besar di tangan kirinya. Aura dominannya membuat udara di lorong itu mendadak drop beberapa derajat.

"I-iya, Pak Areksa?" Rendy mendadak kaku, trauma kejadian lima hari lalu masih membayangi.

"Laporan evaluasi promosi kuartal tiga di meja saya belum lengkap," kata Areksa datar, matanya tak berkedip menatap Rendy. "Saya minta diketik ulang dan dikirim malam ini sebelum jam delapan. Kamu bisa lembur sekarang."

Wajah Rendy langsung melas. "B-baik, Pak. Saya kerjakan sekarang." Rendy memandang Zevanna prihatin. "Maaf ya Zev, nggak jadi bareng."

"Nggak apa-apa, Pak Rendy. Mari," jawab Zevanna santai.

Setelah Rendy pergi ngacir ke kubikelnya, tersisa Areksa dan Zevanna di lorong sunyi itu. Areksa melangkah mendekat, mengikis jarak hingga tersisa persis satu meter mengikuti batasan yang dibuat Zevanna.

"Ikut aku. Pulang bareng," perintah Areksa singkat, memakai nada komando khas CEO.

Zevanna menyilangkan dada, menatap Areksa dengan tatapan menantang. "Nggak usah, Pak Areksa. Saya bisa naik taksi online. Lagi pula, nanti kalau ada karyawan lain lihat saya naik mobil Bapak, dikira saya dapet perlakuan khusus."

"Banjir di depan. Taksi nggak bakal ada yang mau masuk ke area sini," sahut Areksa, suaranya tetap berusaha dingin padahal matanya menyiratkan kecemasan. "Jangan keras kepala. Ini bukan penawaran, ini instruksi."

"Dan saya menolak instruksi di luar jam kerja," potong Zevanna cepat. Dia berbalik, berniat melangkah menuju lift.

Tanpa diduga, Areksa tidak lagi menahan pergelangan tangan Zevanna seperti hari itu. Pria itu menyadari kesalahannya yang dulu. Kali ini, Areksa justru berjalan makin cepat, lalu secara tiba-tiba menghadang langkah Zevanna dan merentangkan payung hitam besar itu tepat di atas kepala mereka, meski mereka masih berada di dalam koridor gedung!

Zevanna tertegun, menghentikan langkahnya. "Kamu ngapain sih buka payung di dalam gedung?"

"Biar kamu nggak kehujanan waktu jalan dari pintu lobby ke mobil," jawab Areksa tanpa berkedip, mukanya tetap lempeng tanpa dosa.

"Mobil kamu kan di basement, Areksa! Nggak bakal kena hujan!" cetus Zevanna, mulai habis pikir dengan kelakuan absurd suaminya.

Areksa diam sejenak, baru menyadari kebodohan alibinya. Namun bukannya malu, pria itu malah makin mengeraskan rahangnya, menutupi rasa canggung dengan wajah jutek.

"Terserah. Pokoknya payung ini udah dibuka. Dan aku nggak bakal tutup sebelum kamu masuk ke mobil aku," tegas Areksa.

Zevanna menatap payung hitam besar yang mekar di dalam lorong kantor yang terang benderang itu, lalu beralih menatap wajah Areksa yang sok tegar padahal telinganya sudah memerah.

Sebuah rasa menggelitik mendadak muncul di dada Zevanna. Pria posesif dan arogan di depannya ini sedang berusaha keras menekan gengsinya setengah mati, hanya demi memastikan istrinya pulang dengan aman tanpa harus menurunkan standar "pria dingin"-nya.

"Gila," gumam Zevanna pelan. Tapi kali ini, ada ukiran senyum tipis yang benar-benar tulus di sudut bibirnya bukan lagi senyuman sinis.

"Aku nggak gila. Aku cuma menjalankan tugas sebagai suami," sahut Areksa cepat, matanya melirik ke arah lain, menghindari kontak mata langsung. "Ayo jalan. Payung ini berat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!