Melodi Nada Asmara, seorang gadis dua puluh tahun yang sangat mencintai musik. Musik adalah napas bagi Melodi. Dunianya tak pernah sepi karena selalu ada melodi yang mengalun di dalam telinganya.
Berbeda dengan Abas Baskara, seorang pria misterius dan dingin, yang menganggap musik hanyalah suara berisik yang mengganggu ketenangan hidupnya.
Pertemuan Melodi dan Abas di tepi pantai di suatu senja, mengubah hidup mereka. Abas yang selalu menganggap musik itu berisik, ternyata menemukan ketenangan dalam setiap petikan gitar yang dimainkan Melodi. Melodi yang biasanya memainkan gitar dengan jiwa yang bebas, kini memahami bahwa setiap nada memiliki makna jika dimainkan untuk seseorang.
Bersama Melodi, Abas menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Bersama Abas, Melodi belajar, bahwa musik bukan sekadar kumpulan nada, melainkan bahasa yang mampu menyembuhkan luka hati.
Bagaimana kisah Melodi dan Abas? Simak dalam Senandung Cinta Melodi! 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Negosiasi
Abas sudah duduk di kursi kemudinya. Sudah lima menit berlalu, namun dia belum juga menyalakan mesin mobilnya. Dia masih mencerna apa yang baru saja Melodi katakan sebelum benar-benar masuk ke KAC.
"Kalau sempet, mampir ke Ruang Kopi lagi ya! Ati-ati,"
Abas menyentuh dadanya. Jantungnya masih berdegup kencang. Dia lalu menarik napas dalam-dalam.
"Dia... pengen aku dateng?" tanyanya.
Bola mata Abas bergerak perlahan. Dia lalu terbayang saat Melodi tersenyum padanya ketika dia akan memasuki ruang dua KAC. Entah mengapa wajahnya terasa begitu panas, saat Abas mengingatnya.
"Apa yang aku pikirkan?" gumamnya sambil menyalakan mesin mobil.
Meski begitu, Abas tidak langsung pergi meninggalkan KAC. Dari kaca spion, Abas melihat sosok yang tengah berdiri menatap ke arah mobilnya. Abas menyipitkan pandangannya. Dia mengenalinya. Panji.
"Pria itu..."
Abas menoleh ke arah KAC. Dia tak dapat melihat Melodi dari dalam mobil. Abas kembali melihat ke arah kaca spion. Panji masih berdiri menatap ke arah mobilnya. Tanpa disadarinya, tangan Abas mencengkeram kemudi erat-erat.
Abas lalu memutar perseneling dan menginjak pedal gas. Perlahan, Abas meninggalkan KAC dengan hati yang masih tak nyaman.
Sementara itu, di area parkir KAC, Panji melihat mobil Abas akhirnya pergi. Dia benar-benar memastikan mobil Abas tak lagi terlihat oleh pandangan matanya sebelum akhirnya dia memasuki KAC.
"Dateng juga," sambut Raya saat melihat Panji duduk di sebelah Melodi. Panji tersenyum pada Raya.
"Kalian nggak jalan gitu?" tanya Raya. Melodi dan Panji saling tatap. Sedetik kemudian, keduanya lalu memalingkan pandangan. Canggung. Raya tersenyum melihat tingkah Melodi dan Panji.
"Jalan kemana lagi, sih, Ray?" tanya Melodi sambil kembali memetik gitarnya.
"Yaaa... kemana gitu. Weekend kok cuma di sini," kata Raya sambil menyapukan kuasnya.
"Di sini aja yang hemat. Laper tinggal makan tempat Mbak Sri sebelah," kata Panji.
"Naaah. Bener," sahut Melodi.
"Yaelaaah... sesekali jalan kemana gitu kan nggak masalah," kata Raya.
"Lagian, Ray, nggak ada tempat yang cocok buat Melodi selain ke festival musik," kata Panji. Melodi tersenyum.
"Tahu aja," sahut Melodi.
"Kelihatan,"
"Banget?"
"Banget,"
"Eh, tapi aku juga suka kok jalan-jalan ke mall," kata Melodi.
"Cepet bosen,"
"Bener,"
"Udah ku duga,"
"Sok tahu banget,"
"Emang tahu sih,"
"Iya juga,"
Raya menatap Melodi dan Panji bergantian. Dia mengerjapkan kedua matanya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.
'Mereka ini... suka bikin sekelilingnya salah paham,'
***
"Darimana, Kak?" tanya Bara saat Abas sudah tiba di rumah.
"Kerjaan," jawab Abas sambil terus berjalan menuju kamarnya. Bara mengernyit.
"Kerjaan? Bukannya kalau weekend kantor libur?" tanya Bara heran. Langkah Abas terhenti seketika. Dia tidak menoleh.
"Kerja nggak harus di kantor," kata Abas lalu kembali berjalan.
"Eh? Emang selain di kantor, Kakak kerja dimana lagi?" tanya Bara. Abas tidak menjawab dan terus berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Bara menyipitkan matanya.
"Mencurigakan," gumam Bara.
"Suka banget, sih, gangguin kakakmu," kata Nyonya Baskara.
"Gemesin soalnya, Ma," kata Bara. Nyonya Baskara tertawa kecil.
"Ada-ada aja," komentar Nyonya Baskara.
"Mama udah tahu tanggapan Kak Abas tentang pertemuannya dengan cewek yang dijodohin?" tanya Bara.
Nyonya Baskara menggelengkan kepalanya sambil berjalan menuju ruang tamu lalu duduk di sana. Bara mengikuti mamanya.
"Kak Abas nggak cerita sama Mama?" tanya Bara lagi.
"Kamu kayak nggak tahu gimana kakakmu aja, Bar," kata Nyonya Baskara. Bara menghela napas panjang.
"Yang Mama tahu, sepertinya mereka berdua tidak menyetujui perjodohan itu. Makanya, Papa kelihatan nggak puas dan berusaha membujuk Tuan Erlangga untuk sedikit memaksa putrinya menyetujui perjodohan itu," cerita Nyonya Baskara.
"Hah?! Serius? Maksa banget, ih, Papa," kata Bara. Nyonya Baskara tersenyum.
"Kita lihat aja nanti. Katanya, putri Tuan Erlangga mau dateng kesini buat ngomong sama Papa," kata Nyonya Baskara.
"Emang bisa gitu, Papa dibujuk?" tanya Bara. Nyonya Baskara menaikkan kedua bahunya.
"Kita lihat aja sehebat apa putri Tuan Erlangga menghadapi Papa," kata Nyonya Baskara.
Bara menarik napas dalam-dalam. Dia menatap keluar jendela, memimirkan alasan wanita yang dipilih papanya menolak dijodohkan dengan Abas.
'Cewek kayak apa, sih, dia? Kenapa nggak mau sama Kak Abas? Jangan-jangan... dia udah punya cowok,'
***
Sore harinya, Nayla sudah duduk di ruang tamu kediaman Tuan Baskara. Sendirian. Tanpa papanya. Dia duduk, menyapukan matanya ke seluruh ruang tamu yang cukup luas sambil menunggu Tuan Baskara. Satu foto keluarga ukuran 50cmx80cm mencuri perhatian Nayla. Nayla tersenyum menatap foto itu. Abas terlihat kaku seperti papanya dan satu lagi putra Tuan Baskara terlihat begitu mirip mamanya.
"Pasti rame," gumamnya.
"Maaf sudah membuat Nona Muda Erlangga menunggu," kata Tuan Baskara saat memasuki ruang tamu.
Nayla berdiri sambil tersenyum dan menjabat tangan Tuan Baskara. Bara sudah berdiri di balik dinding ruang tamu, siap mendengarkan percakapan Nayla dengan papanya.
"Anda pasti sibuk, Tuan," kata Nayla.
"Jangan panggil 'Tuan', Nayla. 'Om'," kata Tuan Baskara. Nayla tersenyum.
"Bagaimana tempo hari sama Abas?" tanya Tuan Baskara.
"Seru, Om," kata Nayla. Tuan Baskara menaikkan kedua alisnya. Mata Bara membulat.
"Oh ya? Berarti kalian cocok dong?" tanya Tuan baskara.
"Cocok, mungkin," jawab Nayla sambil tersenyum. Senyum puas terkembang di wajah Tuan Baskara.
"Tapi... Nayla mohon maaf sekali sama Om, Nayla nggak bisa terima perjodohan ini," lanjut Nayla. Senyum di wajah Tuan Baskara perlahan memudar. Bara menutup mulut di sebalik dinding.
"Kenapa?" tanya Tuan Baskara. Nayla mencondongkan badannya ke arah Tuan Baskara.
"Om, saya baru saja lulus seminggu yang lalu. Saya punya banyak hal yang pengen saya lakukan," kata Nayla. Tuan Baskara kembali tersenyum.
"Kamu masih bisa melakukan apa yang kamu ingin lakukan setelah menikah," kata Tuan Baskara. Nayla menggelengkan kepalanya.
"Status wanita setelah menikah berbeda dengan wanita lajang, Om," kata Nayla. Tuan Baskara terdiam. Dia menyandarkan punggung ke sandaran sofa sambil menatap tajam ke arah Nayla.
"Ada batasan-batasan tertentu antara yang boleh dilakukan dan tidak. Ada dua nama baik keluarga yang harus dijaga. Dan Nayla belum bisa memikul tanggung jawab sebesar itu," jelas Nayla.
Tuan Baskara masih diam. Dia mengetuk-ngetukkan jari di sandaran sofa.
"Anda tidak ingin pernikahan Abas batal dua kali kan?" tanya Nayla.
"Berani juga tuh cewek sama Papa," gumam Bara.
Tuan Baskara masih menatap lurus ke arah Nayla.
"Benar kata Abas," kata Tuan Baskara sambil tersenyum tipis. Nayla menaikkan kedua alisnya.
"Kamu memang cocok menggantikan posisi Sabrina," lanjutnya.
"Tapi... sepertinya, Om harus bersabar," kata Tuan Baskara. Nayla tersenyum.
"Bukan hanya bersabar, Om. Melainkan menerima kemungkinan lain yang akan terjadi," kata Nayla. Tuan Baskara mengernyit.
"Kemungkinan lain?" tanya Tuan Baskara. Nayla mengangguk sambil tersenyum.
"Kemungkinan Abas menemukan jodohnya. Dan itu bukan Nayla," kata Nayla.
Tuan Baskara menahan napasnya. Bara semakin tercengang mendengar kata-kata Nayla. Dia tak menyangka wanita itu benar-benar berani mengatakan apa yang dipikirkannya pada papanya.
'Keren parah nih cewek. Boleh juga dia,'
***
jangan bisanya nanya dalam hati mulu 🤭
dah tau kakamu itu lempeng aja orangnya...
sesekali bolehnya didorong, sampe nyungsep juga ngga pa2...🤣🤣
beneran yg kamu lihat itu, Aku. 🫣 🤭🤣
Hafal bagian reffnya🤭
eaaa....🤭
bener2 plot twist nya..
jangan sampe Alto yg disalahin ya atas berpalingnya Sabrina...
die aja ngga tau klo lagi disukai sama si Sab..
moga bisa naikin pembacanya ya...
semangat Ka...💪💪