Indonesia
NovelToon NovelToon
Masih Ada Esok?

Masih Ada Esok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Duda / Penyelamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tabina Lutfi

Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.

Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.

Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.

Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Pinus Kita Pulang

"Wah! Jadi kita camping ke sini?!" seru Ell berbinar-binar, melompat kecil begitu menyadari pemandangan di depannya. "Ini kan tempat yang dulu suka kita datengin sama Mami! Seneng bangettt!"

Wafa memandang sekeliling dengan binar mata penuh kerinduan. "Iya, Ell... enggak ada yang berubah ya? Pohon pinusnya, sungainya... masih sama persis kayak waktu kita ke sini sama Mami."

"Inget enggak dulu Bang Wafa pernah nangis gara-gara sandal jepitnya hanyut di sungai ini?" celetuk Lily tertawa mengejek.

"Bohong! Sandal gue dimakan wewe gombel ya, bukan hanyut!" elak Wafa tak mau kalah, memancing tawa heboh dari Malik.

Setelah merapikan helm dan tas ransel masing-masing di atas rumput, Wafa, Malik, Sean, dan Ell langsung melangkah berhamburan menuju tepi sungai yang airnya tampak begitu bening dan menyegarkan.

Sementara keempatnya asyik di pinggir air, tim dewasa Papi Jaya, Owen, Rafa, Lily, dan Javin mulai membagi tugas untuk mendirikan tiga tenda besar.

Lily yang memegang kerangka pasak tampak mengernyitkan dahi, membolak-balikkan besi panjang itu dengan wajah bingung. "Ini sambungannya dimasukin ke sini dulu atau ditancap ke tanah sih?" gumam Lily pada dirinya sendiri.

Javin yang melihat itu tersenyum lalu melangkah mendekat. "Bukan ke situ, Ly. Kalau dimasukin duluan nanti tiangnya bengkok," ujar Javin ramah seraya mengambil alih salah satu U-frame.

"Sini, kakak pegangin ujungnya, kamu yang dorong pelan-pelan ya."

"Oh... gitu. Oke, makasih ya, Kak Javin," balas Lily tersenyum lega.

Rafa yang sedang memukul pasak di sebelah mereka melirik ke arah Lily dan Javin, lalu menyunggingkan cengiran jahilnya yang paling lebar.

"Ehem! Ekhem! Batuk nih gue!" goda Rafa heboh seraya menaik-turunkan alisnya.

"Aduh, ada yang lagi PDKT nih di tengah hutan! Hati-hati loh Vin, ntar disemprot sama pacarnya yang di rumah!"

"Apaan sih, Bang Rafa!" sungut Lily pipinya memerah mengomel.

"Bener kan? Modus banget bantu-bantu masang tenda," celetuk Rafa lagi sambil tertawa lepas.

Jaya yang sedang memegang kain parasut tenda langsung menoleh dan menepuk bahu Rafa agak keras.

PAU!

"Aduh! Sakit, Pih!" ringis Rafa mengusap bahunya.

"Rafa! Jangan asal ngomong kamu ya!" omel Jaya menggelengkan kepala.

"Bukannya fokus mukul pasak malah nggodain adiknya! Mending kamu bantuin Owen sana bikin perapian!"

"Iya, iya, Papi ampun! Orang bercanda doang," sungut Rafa pasrah, sementara Javin hanya terkekeh dan Lily menjulurkan lidahnya mengejek Rafa.

Tak berapa lama, dua tenda utama berhasil berdiri kokoh. Owen dan Rafa beralih tugas membuat tungku perapian sederhana dari tumpukan batu kali untuk memasak, Jaya sibuk merapikan matras di dalam tenda, sementara Lily dan Javin bekerja sama menyelesaikan instalasi tenda terakhir.

Di tepi sungai, aksi gila kelompok anak-anak justru makin menjadi. Air sungai yang dingin membeku seolah tak memadamkan ide-ide nyleneh mereka.

"Adem banget airnya, Waf," ujar Malik seraya berlutut di atas batu licin.

"Gue tantang lo, Lik. Berani rendam muka di sungai enggak?" tantang Wafa seraya menyunggingkan senyum miring. "Siapa yang paling lama tahan napas di dalam air, dia pemenangnya!"

"Siapa takut! Ayo!" sahut Malik bersemangat.

Tanpa pikir panjang, Wafa dan Malik langsung mengambil posisi tengkurap di atas bebatuan, lalu...

CBLASH!

Mereka berdua nekat mencelupkan seluruh wajah mereka ke dalam aliran air sungai yang dingin menembus tulang!

Sean yang baru saja balik dari mengambil kayu kering seketika membelalakkan matanya. "ASTAGA! WAF! MALIK! GILA YA KALIAN?!" jerit Sean panik luar biasa. Ia melempar kayu di tangannya dan melompat mendekat, langsung menarik-nari bagian belakang baju kaus Malik.

"BANGUN ENGGAK LO BERDUA! NANTI KEMASUKAN AIR HIDUNGNYA, BEGO!"

"Bang Wafa! Udah, Bang! Nanti kepalanya pusing! Nanti flu!" timpal Ell tak kalah panik. Anak bontot itu ikut menarik-narik bagian belakang jaket Wafa dengan sekuat tenaga sampai badannya sendiri terhuyung-huyung. "Lepas, Bang Wafa! Ayo bangun!"

"Glub... glub... glub..." Wafa dan Malik malah sengaja membuat gelembung air di dalam sungai, mengabaikan Sean dan Ell yang sudah panik setengah mati.

Sementara itu, dari arah perapian, aroma gurih dan asap tipis dari beberapa bungkus mie instan rebus bercampur telur menyeruak ke udara, mengalahkan bau embun pagi. Owen mematikan kompor portable-nya.

"Udah matang nih mie-nya," ujar Owen menengok piring-piring plastik. Ia menoleh ke arah Lily yang baru selesai mematok tali tenda terakhir bersama Javin.

"Ly, panggilin adik-adik di sungai gih. Suruh pada makan dulu mumpung masih hangat."

"Siap, kak Owen," sahut Lily.

Lily melangkah meninggalkan area tenda menuju tepi sungai. "Adik-adik! Makan dulu yuk—"

Kata-kata Lily terhenti seketika. Matanya membelalak lebar melihat pemandangan absurd di depan matanya: Wafa dan Malik yang tengkurap membenamkan kepala di sungai, sementara Sean dan Ell sibuk menarik-nari baju mereka seperti sedang menarik jangkar kapal.

"ASTAGA, WAFA! MALIK! KALIAN LAGI NGAPAIN, SIHH?!" teriak Lily histeris campur kaget bukan main. Ia langsung berlari cepat menghampiri mereka. "BISA TENGGELAM SAMA KEMASUKAN AIR ITU HIDUNG! BANGUN ENGGAK?!"

Wafa dan Malik sama sekali tidak bergeming. Keduanya justru makin menjadi-jadi, sengaja menggoyang-goyangkan kepala mereka di dalam air sungai seraya membuat gelembung-gelembung udara yang membumbung ke permukaan.

"Wafa! Malik! Kalian dengerin gue enggak sih?!" teriak Lily makin histeris. "Bangun enggak! Nanti hidung kalian kemasukan air, Wafa! Malik!"

Bukannya mendengarkan, Wafa malah mengangkat kepalanya sebentar, air sungai menetes deras dari rambut dan wajahnya yang pucat, lalu menoleh ke Lily sambil tertawa.

"Seru, Ly! Adem banget, suwer! Coba deh lo celupin muka lo juga!"

Setelah mengucapkan itu, Wafa kembali memasukkan wajahnya ke dalam sungai bersama Malik.

"Ih, dibilangin juga!" tangannya makin kencang menarik ujung jaket Wafa, sementara Sean dan Ell sudah kewalahan menahan tawa bercampur panik.

Teriakan melengking Lily rupanya memantul hingga ke area perapian. Rafa yang sedang mengelap sendok sayur mendadak menghentikan aktivitasnya.

Mendengar nada panik dari adiknya, Rafa langsung menjatuhkan lap kain itu dan berlari cepat menghampiri tepi sungai.

"Ada apaan sih, Ly—" Rafa terhenti, matanya mendelik lebar mendapati dua bocah tengil itu sedang telungkup mencelupkan kepala ke air.

Tanpa basa-basi dan tanpa ba-bi-bu lagi, Rafa melangkah maju. Langkah kakinya yang lebar membuat kerikil sungai berderak keras. Kedua tangan berototnya terulur cepat, masing-masing meraup kerah belakang jaket Wafa dan kerah kaus Malik secara bersamaan. Dengan satu hentakan kuat yang kasar, Rafa menjambret kedua anak itu hingga tubuh mereka terangkat tegak berdiri secara paksa.

Wafa dan Malik terbatuk-batuk hebat. Air sungai menyembur keluar dari mulut dan hidung mereka.

"Uhuk! Uhuk! Aduh, Bang Rafa! Kasar banget, astaga!" ringis Wafa memegangi dadanya, matanya merah terkena air.

"Gila, Bang! Leher gue kayak mau putus!" protes Malik seraya mengusap wajahnya yang basah kuyup.

Rafa berkacak pinggang, matanya melotot tajam menatap Wafa dan Malik bergantian dengan rahang mengeras. "Kalian berdua tuh otaknya geser apa gimana, sih?! Waf, lo sadar enggak kondisi lo kayak gimana?! Malah ngerendam muka di air es! Kalau lo mendadak sesak napas di sini, Lo mau gue mati ditangan Papi?!"

"Cuma bercanda, Bang..." gumam Wafa lirih, menunduk sambil menggosok-gosok hidungnya yang memerah.

"Bercanda matamu!" sembur Rafa makin mendelik, lalu menoleh tajam ke arah Malik. "Dan lo, Malik! Lo kan temannya, bukannya ngelarang malah makin ngajakin ngaco! Kalau Wafa kenapa-kenapa, lo mau gue cemplungin sekalian ke laut, hah?!"

Malik mengusap tengkuknya dengan wajah tanpa dosa, meski menyeringai canggung. "Ya maaf Bang, tadi refleks aja, tantangan cowok."

"Tantangan cowok pala lo!" amuk Rafa masih berapi-api.

"Udah! Bubar kalian semua! Ke perapian sekarang! Makan mie! Kalau ada yang berani basah-basahan lagi sebelum makan, tak coret dari silsilah keluarga!"

"Iya, iya, Komandan! Galak banget kayak nenek lampir," cibir Wafa pelan sambil berjalan tertatih mendekati Lily.

"Gue denger ya, Wafa!" teriak Rafa dari belakang, membuat Sean dan Ell tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan kekalahan dua jagoan sungai tersebut.

Aroma mie instan hangat berhasil meredakan omelan Rafa. Mereka berdelapan minus Jaya yang duduk bersandar di kursi lipat berkumpul melingkari perapian, menikmati mangkuk mie hangat yang mengepulkan asap gurih di udara pagi yang sejuk.

Setelah mangkuk-mangkuk plastik itu bersih tanpa sisa dan perlengkapan makan dirapikan, Jaya tampak menguap beberapa kali. Matanya terlihat sayu dan guratan lelah tercetak jelas di wajah paruh bayanya.

Perjalanan dua jam naik motor ditambah bangun sejak subuh benar-benar menguras tenaganya.

"Pih, Papi mending tidur aja dulu di dalam tenda," ujar Owen lembut seraya mengambil cangkir teh hangat dari tangan Papinya.

"Biar kita-kita aja yang beresin."

Jaya memegang pelipisnya, mengulas senyum lelah. "Iya deh... Papi kayaknya emang butuh meram sebentar. Badan Papi rasanya pegal semua naik motor tadi. Kalian jangan jalan jauh-jauh ya, jaga Wafa sama Ell baik-baik."

"Aman, Pih! Serahkan sama Rafa dan Bang Owen!" jawab Rafa mantap.

Setelah Papi Jaya masuk ke dalam tenda utama dan terdengar dengkuran yang halus, rombongan anak muda itu memutuskan untuk menyusuri hamparan rumput hijau yang membentang luas di tepi sungai.

Bagi Javin, Malik, dan Sean, melangkah di padang rumput ini adalah pengalaman yang benar-benar baru. Mereka bertiga memandangi sekeliling dengan decak kagum.

Tempat ini terasa begitu magis dengan perpaduan sungai jernih, pohon pinus, dan garis pantai di kejauhan.

"Gila sih, tempat rekomendasi lo emang enggak pernah gagal, Raf," ujar Javin seraya merentangkan tangannya, menikmati angin sepoi-sepoi. "Gue baru pertama kali ke sini tapi langsung betah banget."

"Sama, Bang. Pemandangannya gokil," timpal Malik memandangi pepohonan. "Gue enggak nyangka ada tempat se-asri ini dekat pantai."

Wafa berjalan di tengah, diapit oleh Sean, Malik, dan Javin. Matanya berbinar-binar menatap sekeliling area rumput tersebut, memori masa kecilnya mendadak berputar kembali dengan sangat jernih.

"Kalian bertiga kan baru pertama kali ke sini," buka Wafa memecah keheningan seraya menunjuk sebuah pohon pinus besar yang berdiri agak terpisah di padang rumput.

"Kalian harus tahu, di bawah pohon itu, dulu Bang Rafa pernah nangis kejer gara-gara dikejar angsa liar!"

"Serius lo, Waf?!" pekik Javin tertawa geli.

"Demi Bang!" sahut Wafa bersemangat, menatap Malik dan Sean yang langsung pasang telinga penasaran.

"Waktu itu Bang Rafa sok-sokan mau ngambil telur angsa. Eh, induknya marah. Bang Rafa lari muterin pohon itu sepuluh kali sambil teriak 'Mami tolongin Rafa, Rafa mau dimakan naga!'. Padahal cuma angsa!"

"Naga enggak tuh!" celetuk Sean meledak dalam tawa, membayangkan muka sangar Rafa saat menangis dikejar angsa.

"Terus, terus, ada lagi!" lanjut Wafa, wajahnya tampak begitu hidup membagikan cerita tempat favorit keluarganya itu.

"Di aliran sungai yang agak dangkal di sebelah sana, gue sama Bang Owen pernah nemu batu bentuknya mirip banget sama paha ayam goreng. Kita berdua simpan di kantong plastik sampai seminggu, disangkanya fosil ajaib. Pas dibuka... ya tetap aja batu biasa!"

Malik terkekeh pelan, matanya menatap lekat-lekat pada wajah Wafa yang ceria. "Lo dari kecil emang udah ajaib ya, Waf"

"Bukan ajaib, Lik, tapi legendaris!" kelakar Wafa percaya diri.

Sementara mereka tertawa, Owen melangkah mendekat seraya merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan sebuah foto tebal berukuran kecil yang ujungnya sudah agak menguning.

"Nih, coba kalian bertiga lihat ini," ujar Owen menunjukkan foto tersebut ke Malik, Sean, dan Javin. "Ini foto waktu kita kecil di tempat ini."

Di dalam foto itu, terlihat sosok Mami yang begitu cantik tersenyum anggun, merangkul Owen, Rafa, Wafa dan mengendong Ell yang masih kecil.

"Kak Lily mana, Kak?" tanya Sean polos seraya menyipitkan matanya.

Owen tertawa kecil, melirik ke arah Lily yang berjalan beberapa langkah di belakang mereka. "Dulu kita selalu foto di titik ini setiap kali camping sama Mami. Tapi pas foto yang ini diambil, Lily enggak mau ikut."

"Kenapa enggak ikut, Bang?" pancing Malik penasaran.

"Soalnya waktu itu Lily takut banget sama ulat bulu yang nempel di rumput!" potong Wafa cepat dengan nada mengejek sangat lantang.

Wafa menoleh ke belakang, menunjuk-nunjuk wajah Lily. "Hahaha! Lily nangis histeris memanjat ke punggung Papi gara-gara ngelihat ulat bulu warna hijau! Makanya di foto ini Lily enggak ada."

Javin dan Sean langsung terpingkal-pingkal. Malik yang mendengar itu pun tak sanggup menahan tawanya, melirik ke arah Lily. "Beneran, Kak? Cuma gara-gara ulat bulu?"

Wajah Lily seketika memerah padam karena malu. Ia memukul pelan lengan Wafa. "Wafa! Jangan diungkit-ungkit di depan yang lain kenapa sih! Itu kan dulu pas gue masih SD!"

"Tapi tetap aja kocak, Ly!"

Lily merengut berpura-pura kesal, namun sejujurnya hatinya hangat melihat Wafa bisa tertawa lepas seperti itu. Lily lalu memandangi hamparan rumput hijau di bawah kakinya, sorot matanya berubah lembut dan penuh kerinduan.

"Tapi... selain takut ulat bulu," gumam Lily pelan, suaranya berubah begitu tenang hingga membuat gelak tawa di sekitar mereka mereda.

"Tempat ini punya kenangan paling manis buat aku sama Mami."

Lily berlutut pelan, membelai daun-daun rumput segar dengan jemarinya.

"Dulu setiap sore, Mami selalu ngajak aku duduk berdua di rumput. Mami bakal metik bunga-bunga liar dari taman, terus ngajarin aku cara merangkai buket bunga cantik," cerita Lily dengan senyuman tulus mengembang di bibirnya.

"Mami selalu bilang, bunga liar itu kuat. Meskipun sering terinjak dan tumbuh di tempat seadanya, mereka tetap bisa mekar dengan indah. Makanya aku suka banget tempat ini..."

"Pantas aja tempat ini rasanya tenang banget, kak" bisik Sean mengangguk-angguk paham, meresapi cerita penuh kenangan tersebut.

Lily mendongak, matanya berbinar menatap sekeliling padang rumput. "Eh, di balik bukit kecil sebelah sana kan ada taman bunga! Karena kalian baru pertama kali ke sini, kalian wajib lihat! Gimana kalau kita ke sana sekarang? Kita metik bunga bareng-bareng!" ajak Lily antusias.

Namun, saat Lily berdiri hendak melangkah, Wafa perlahan menoleh ke arahnya.

Langkah Wafa tampak sedikit tertahan. Garis wajahnya yang tadinya begitu heboh kini memperlihatkan raut kelelahan yang samar. Napasnya terdengar agak lebih berat, dan bibirnya yang pucat kembali terlihat jelas di bawah terpaan sinar matahari pagi.

Wafa menatap Lily dengan sorot mata sayu, namun tetap berusaha menyunggingkan senyum tipis yang paling hangat.

"Ly..." panggil Wafa lirih, suaranya tak selantang tadi. "Ke taman bunganya... nanti sore aja, ya? Sekalian ngelihat sunset."

Wafa memegangi dadanya, mencoba menetralkan rasa pegal dan lelah yang mulai menjalar di tubuhnya setelah seharian beraktivitas dan tertawa heboh.

"Gue... kayaknya mau istirahat sebentar. Nanti sore kita pergi bareng-bareng ke sana, oke?"

Lily terpaku melihat perubahan pada adiknya. Rasa khawatir seketika menusuk dadanya, namun Lily dengan cepat menyumbat kekhawatiran itu di balik senyuman yang sangat lembut. Ia tahu, Wafa sudah mengeluarkan banyak tenaganya sejak subuh tadi.

Lily melangkah mendekat, mengusap pelan pundak Wafa yang terbalut jaket tebal.

"Iya, Waf... Setuju banget," balas Lily lembut tanpa ragu sedikit pun. "Nanti sore aja kita ke sana. Pas matahari mau tenggelam pasti tamannya kelihatan jauh lebih cantik. Sekarang kita balik ke tenda ya, istirahat."

Wafa mengangguk pelan, merasa lega karena kakaknya mengerti kondisinya.

"Sip... Makasih ya, Kanjeng Mami."

Malik dan Sean dengan sigap merangkul pelan kedua sisi bahu Wafa, membantunya berjalan kembali menuju area perkemahan untuk beristirahat. Sementara Lily menatap punggung adiknya dari belakang dengan senyuman penuh kehangatan dan doa yang tak terputus di dalam hatinya.

1
Wawan
Salam kenal untuk Lily 💪✍️
Putry Chan
sedikit saran ya deskripsi paragraf pertama pengenalan anak trlalu panjang
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat
Tabina Lutfi: terimakasih atas sarannya kk
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!