Orielle Celeste mati bersama bayi yang tak sempat ia lahirkan. Semua orang mengira wanita lemah yang selalu menangis itu akhirnya menyerah pada hidup. Mereka tidak tahu… Tubuhnya kini dihuni oleh Celeste Seraphina, mantan bodyguard profesional yang cerewet, dan ahli bela diri. Hal pertama yang ia lakukan setelah membuka mata bukanlah menangis. Ia menandatangani surat cerai, menghajar mantan suaminya hingga bersimbah darah, lalu meninggalkan rumah neraka itu tanpa sedikit pun penyesalan. Baginya, perceraian hanyalah awal. Namun, bahkan Celeste tidak menyangka seseorang telah menunggunya. Caspian Orion Devereux. Pria yang dijuluki sebagai villain paling berbahaya. Sosok yang bahkan dunia bawah pun enggan menyentuhnya. Tanpa banyak basa-basi, Caspian meletakkan sebuah kontrak pernikahan di hadapannya. “Menikahlah denganku.” “Sebagai gantinya, aku akan memastikan mantan suamimu… dan siapa pun yang pernah menyakitimu menerima balasan yang setimpal.” Kesepakatan yang terdengar menguntungkan. Sayangnya, bermain-main dengan seorang villain tidak pernah berakhir sederhana. Terlebih ketika pernikahan yang semula hanya sebuah kontrak perlahan berubah menjadi obsesi. Dan sang villain memutuskan bahwa wanita itu… adalah miliknya
Noh yg suka bini yg jijik liat suami pas Transmigrasi nohhhh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memukul Lucian dan Sesuatu yg mengejutkan
Dimas terduduk lemas di lantai, mulutnya terbuka lebar tanpa mampu mengeluarkan suara apa pun. Dia sangat takut, karena pasti Caspian Devereux tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang.
Viona yang juga ikut terduduk di lantai dengan riasan wajah luntur mendadak mendongak. Matanya yang merah bengkak bukan memancarkan penyesalan, melainkan kilatan kebencian yang teramat pekat.
Wanita itu mencengkeram tepian karpet dengan kuku-kukunya yang hampir patah, giginya bergemeretuk penuh amarah.
"Celeste... Sialan... Ini semua perbuatan perempuan jalang itu!" desis Viona penuh racun, menumpahkan seluruh sisa kewarasannya untuk menyalahkan Celeste atas kehancuran yang ia tuai sendiri. Viona beberapa malam ini dilecehkan beberapa orang. Walaupun Viona menyukai kegiatan itu yang membuatnya puas, tapi mereka membuat Viona susah berjalan karena mereka meletakan sesuatu di dalamnya.
Dimas, yang terkapar tak berdaya di lantai, ikut mengepalkan tangan dengan napas memburu. Meskipun ia sendiri yang merampas segalanya dari Caelan dan menyiksa Celeste dulu, rasa ego dan kesombongannya tidak terima dikalahkan oleh gadis yang dulu selalu ia anggap sebelah mata. Di mata keluarga parasit itu, alih-alih merenungi kebejatan mereka sendiri, kebencian mereka terhadap Celeste justru berlipat ganda menjadi ribuan kali lebih besar. Walaupun dia takut pada Caspian, tapi dia juga sangat ingin menghancurkan Celeste.
Mereka menganggap Celeste sebagai monster yang telah menghancurkan hidup mereka.
Namun, di saat kebencian itu memenuhi rongga dada mereka, suara langkah kaki berat yang tenang dan penuh tekanan tiba-tiba menggema dari arah pintu depan.
Semua mata yang ada di ruangan itu menoleh serentak.
Caspian melangkah masuk dengan tangan yang secara natural menggenggam jemari Celeste.
Manik kelam Caspian menyapu isi ruangan dengan tatapan jijik, seolah tengah melihat sekumpulan serangga menjijikkan yang siap diinjak.
"Menatapnya dengan tatapan seperti itu lagi..." suara rendah Caspian memecah keheningan, terdengar begitu dingin dan mematikan hingga membuat siapa pun yang mendengarnya merinding, "…Aku akan memastikan kalian tidak hanya kehilangan harta, tapi juga lidah yang berani menyebut nama istriku."
Celeste melangkah maju, melepaskan tautan tangannya dari Caspian sejenak. Ia menatap rendah ke arah Viona, Dimas, dan Lucian yang kini tak lebih dari pesakitan hina di hadapannya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin yang memuaskan.
"Kalian boleh membenciku sepuas hati kalian," ucap Celeste tenang namun tajam menghujam. "Tapi ingat satu hal... ini baru permulaan dari neraka yang kalian buat sendiri."
"Ingat Celeste, kamu jalang Lu--"
"Yang jalang itu siapa, sih?" suara Celeste melengking tajam, memotong isakan menyebalkan Viona. Ia melangkah maju, menatap wanita itu dengan jijik. "Kan lo sendiri yang lonte. Udah tau Lucian itu mantan suami gue, lo tetap aja gatel tidur bareng dia. Kasian ya, sekarang udah jadi gelandangan miskin."
Celeste melipat kedua tangannya di dada, seringainya semakin melebar melihat kehancuran di hadapan mereka.
"Udah miskin, belagu lagi. Sekarang lo pada semua keluar dari rumah gue," usir Celeste, merujuk pada rumah keluarga Harrington yang memang milik mereka, kini sepenuhnya jatuh ke tangan mereka juga.
(Catatan: Caelan dan Serena memilih menunggu di dalam mobil, tidak ikut masuk ke dalam rumah yang penuh bau keputusasaan itu)
Mendengar usiran tersebut, Dimas dan yang lainnya masih terdiam terpaku, syok berat menelan kenyataan pahit. Namun, Viona yang urat malu dan urat warasnya sudah putus mendadak bangkit berdiri. Wanita itu berkacak pinggang, menatap Celeste dengan mata melotot penuh amarah.
"Nggak mau!" teriak Viona histeris, menolak tunduk. "Rumah ini rumah gue! Ini harta keluarga gue! Gue nggak bakal keluar dari sini!"
Melihat Viona yang masih berani membangkang setelah semua kebejatan yang ia lakukan, emosi Celeste yang sejak tadi ditahan akhirnya meledak sempurna.
"Oh, masih berani membangkang, hah?!" desis Celeste geram. Ia langsung berbalik dan menengadah ke arah Xanderion yang berdiri siaga di dekat pintu. "Xander, mana barang yang tadi aku suruh bawa?"
Tanpa buang waktu, Xanderion dengan sigap menyerahkan sebuah tongkat bisbol alumunium kokoh yang memang sudah ia siapkan di dalam mobil atas permintaan Celeste sebelumnya.
Celeste menerima tongkat bisbol itu dengan tangan kanannya, menimbangnya sejenak sebelum mengayunkannya ke udara hingga mengeluarkan suara mendengus angin yang tajam.
Brak!
Celeste menghantamkan tongkat bisbol itu dengan penuh tenaga ke arah vas bunga kristal besar yang berdiri di sudut ruangan. Pecahan kaca langsung meledak ke segala penjuru, mengejutkan seluruh orang di sana.
Prang! KRRING!
Celeste terus mengayunkan tongkatnya secara brutal, menghancurkan meja hias, lampu gantung kecil, hingga bingkai foto keluarga Dimas yang terpajang di dinding hingga berkeping-keping. Napasnya memburu, namun kepuasannya teramat nyata melihat Dimas dan Martha tersentak ngeri di lantai.
Begitu vas terakhir hancur, Celeste menghentikan langkahnya. Ia menyeret ujung tongkat bisbol itu di atas lantai marmer, lalu mengarahkannya tepat ke depan wajah Viona dan Lucian yang terduduk gemetar.
Manik abu Celeste menatap mereka dengan sorot mata paling mematikan yang pernah ada.
"Kalau detik ini juga lo semua nggak keluar dari rumah gue..." ancam Celeste dengan suara rendah, dingin, dan penuh penekanan mutlak, "...jangan salahkan gue kalau kepala kalian semua yang gue pecahin pake tongkat ini!"
Lucian justru merangkak maju dengan ekspresi menyedihkan. Pria itu menatap Celeste dengan sorot mata penuh delusi, seolah ia adalah pahlawan yang tengah disalahpahami.
"Celeste... Sayang..." racau Lucian dengan suara parau, mencoba menggapai ujung sepatu Celeste. "Ini semua kamu lakuin buat perhatian aku, kan? Kamu mau bikin aku cemburu dan sadar kalau kamu masih cinta sama aku, kan?"
Lucian mendongak, memaksakan seulas senyum putus asa di wajahnya yang babak belur akibat amukan orang tuanya tadi.
"Aku tahu aku salah. Tapi tenang saja, sekarang aku mau perbaiki semuanya. Kita bisa mulai dari awal lagi, berdua..."
"Hahaha!"
Tawa mengejek langsung meledak dari bibir Celeste. Ia mendengus geli, menatap pria di hadapannya dengan tatapan paling jijik di muka bumi.
"Eh, banci! Sadar diri, deh!" cerca Celeste tajam, mengibaskan kakinya agar Lucian tidak menyentuhnya. "Gue aja jijik setengah mati sekadar liat muka lo yang modelannya kayak boti kegatelan begitu. Ngaca, woi! Minggir lo, atau beneran gue hantam kepala lo pake tongkat ini sekarang juga!"
Mendengar penolakan mentah-mentah dan hinaan telak itu, ekspresi Lucian seketika berubah. Delusinya mendadak terpatahkan, digantikan oleh rasa frustrasi dan harga diri yang terinjak-injak habis.
Lucian mendadak bangkit dengan napas memburu, lalu tertawa getir penuh kebencian. Ia menoleh sekilas ke arah Caspian yang berdiri tegap dengan aura dingin di belakang Celeste, sebelum kembali menatap sang mantan istri dengan seringai putus asa.
"Kamu pikir Tuan Devereux itu tulus sama kamu, hah?!" bentak Lucian histeris, menunjuk-nunjuk Celeste dengan jari gemetar. "Kamu cuma mainan buat dia! Asal kamu sadar, tidak akan ada pria normal di dunia ini—apalagi sekelas penguasa Devereux—yang bisa menerima wanita berstatus janda sepertimu! Apalagi fakta kalau kamu pernah hamil anak aku!"
Lucian tertawa nyaring, mencoba mencari pembenaran atas kehancurannya dengan merendahkan Celeste. "Dia pasti bakal jijik begitu tahu masa lalu kotor kamu! Tidak ada satu pun pria di dunia ini yang bisa terima perempuan bekas kayak kamu, Celeste!"
Udara di dalam ruangan mendadak membeku seketika. Kalimat provokasi Lucian bahkan belum sepenuhnya menguap di udara ketika sebuah bayangan gelap melesat cepat.
Bugh!
Satu pukulan mentah penuh amarah mendarat telak di rahang Lucian. Suara hantaman keras yang disusul dengan bunyi retakan tulang yang ngilu bergemeretak nyaring di dalam ruangan yang sunyi itu.
Lucian bahkan tidak sempat berteriak. Tubuhnya langsung terpental keras ke belakang, menabrak dinding sebelum akhirnya tersungkur tak berdaya di atas lantai marmer dengan darah segar yang langsung mengucur deras dari sudut bibir dan hidungnya.
Celeste sedikit pun tidak berniat untuk melerai. Ia hanya berdiri tegak dengan tongkat bisbol di tangannya, menatap dingin ke arah sang mantan suami yang kini mengerang kesakitan sambil memegangi rahangnya yang remuk.
Di ambang pintu, beberapa anak buah Devereux bergerak cepat dan efisien.
Tanpa suara, mereka langsung mencengkram lengan Dimas, Martha, dan Viona yang masih histeris, lalu menyeret paksa keluarga parasit itu keluar dari rumah menuju mobil tahanan, membersihkan pandangan Celeste dari sekumpulan sampah masyarakat tersebut.
Caspian melangkah maju dengan tenang namun memancarkan aura kematian yang begitu pekat. Langkah kakinya bagai ketukan algojo yang siap mencabut nyawa.
Tanpa ampun, Caspian merangsek mendekati Lucian yang merangkak ketakutan di lantai. Pria itu mencengkeram kuat kerah kemeja Lucian, lalu mengangkat tubuh pria brengsek itu dengan satu tangan hingga kaki Lucian hampir tidak menyentuh lantai.
Manik kelam Caspian menatap tajam lurus ke dalam mata Lucian yang ketakutan setengah mati. Suara bariton Caspian terdengar rendah, berbahaya, dan mutlak, mencengkeram setiap jiwa yang mendengarnya.
"Tentu saja saya akan tetap menerima Celeste," desis Caspian dingin, setiap suku kata yang keluar dari bibirnya terdengar bagai vonis mati. "Karena dari awal... Celeste adalah milik saya."
Lucian membelalakkan matanya ngeri, napasnya tersengal di antara cengkeraman maut sang penguasa Devereux.
Caspian menyeringai tipis, sebuah seringai penuh hinaan mutlak yang membuat darah Lucian mendadak membeku.
"Bahkan... anak yang dulu kau pikir adalah anakmu itu..." lanjut Caspian dengan suara berbisik yang begitu mematikan,
"...sebenarnya adalah benih milikku. Kau pikir kau bisa menghamili seseorang, padahal kenyataannya... kau sendiri mandul?"
Mendengar kalimat itu, mata Lucian melotot lebar hingga hampir keluar dari rongganya. Tubuhnya mendadak lemas seketika, dihantam oleh fakta telak yang meremukkan sisa-sisa harga diri dan kewarasannya.
Caspian melepaskan cengkeramannya begitu saja, melemparkan tubuh Lucian yang sudah terkulai lemas dan hancur berkeping-keping ke lantai marmer dengan kasar, seolah pria itu hanyalah sampah menjijikkan yang tidak ada harganya.
Xanderion, yang berdiri sigap di dekat pintu, langsung memberikan isyarat tegas dengan gerakan tangan. Dua anak buah Devereux langsung maju tanpa suara, mengangkat tubuh Lucian yang setengah sadar dan menyeretnya keluar dari rumah itu menyusul keluarganya yang sudah lebih dulu dibuang ke jalanan.
Dalam hitungan detik, suasana di dalam rumah besar itu mendadak sunyi senyap, menyisakan puing-puing kehancuran dan keheningan yang begitu pekat.
Namun, di tengah kesunyian itu, Celeste justru berdiri mematung. Otaknya mendadak berhenti bekerja.
Deg! Deg! Deg!
Jantungnya bergemuruh hebat, berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Manik abunya menatap Caspian dengan pandangan kosong bercampur syok luar biasa. Kalimat yang baru saja dilontarkan suaminya barusan terus berputar dan menggema tanpa henti di dalam kepalanya.
"Bahkan... anak yang dulu kau pikir adalah anakmu itu... sebenarnya adalah benih milikku."
Bagaimana mungkin? Apa maksudnya?!
Sebelum tubuhnya sempat merespons rasa terkejut yang melanda seluruh sarafnya, Caspian sudah berbalik. Pria berjas arang itu melangkah mendekatinya dengan tenang, tatapan matanya yang kelam dan sarat akan keposesifannya terkunci sepenuhnya pada wajah sang istri.
Caspian berhenti tepat di hadapan Celeste. Dengan sangat hati-hati, tangan kekar pria itu terulur untuk menangkup kedua pipi Celeste yang terasa dingin akibat syok.
"Orielle..." panggil Caspian lembut, suaranya kontras dengan aura berbahaya yang tadi ia tunjukkan pada Lucian. Ibu jarinya dengan sabar mengusap pelan pipi istrinya, menatap manik abu itu lekat-lekat dengan sepasang mata yang menyembunyikan rahasia besar.
"Istriku..." panggil Caspian lembut, suaranya terdengar begitu berat dan penuh dominasi yang diselipkan kelembutan.
Pria itu berniat membawa tangannya untuk semakin mendekap wajah Celeste, namun sebelum telapak tangan hangat itu sempat menyentuh kulitnya, Celeste langsung menepisnya kasar. Ia melangkah mundur beberapa langkah, menciptakan jarak di antara mereka dengan napas yang memburu naik-turun.
Manik abu Celeste menatap tajam ke arah Caspian, menyalang penuh tuntutan.
"Apa lagi maksudnya ini, Caspian?!" bentak Celeste, suaranya bergetar hebat karena amarah dan kebingungan yang bercampur aduk di dadanya. "Jangan bicara omong kosong! Apa maksud kamu bilang anak itu... anak kamu?!"
Caspian membuang wajahnya ke arah lain. Ia menghela napas berat sebelum akhirnya melangkah menjauh dari Celeste yang masih terdiam kaku bagai tersambar petir di tempatnya. Pria itu berjalan melewati serpihan kaca tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu keluar meninggalkan rumah tersebut.
aq bantu cari yx ,, trus bakal aq rawat baik2 seperti aq merawat ank2 ku,, 🤭🤭🤭🤭🤭
biar tau rasa tu si kucing garong ,,
kalang kabut ,, kalang kabut deh tuh,,