Warning! Reverse Harem!!
Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:
Jangan mencolok.
Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.
Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.
Menahan analisis yang terlalu dalam.
Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.
Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.
Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.
Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengejaran sengit
PRIIIIIIIT!
Peluit panjang menggema di seluruh stadion.
Angga langsung mengangkat tangan.
"Maju!"
Tiga tubuh melesat hampir bersamaan.
Andito bergerak di sisi kanan.
Rendy di sisi kiri.
Sementara Angga mengambil jalur tengah.
Derap langkah ketiganya menghantam rumput terdengar tidak beraturan. Jarak diantara ketiganya justru cukup lebar. Bagaikan tiga ujung tombak yang sengaja dilempar dari arah berbeda.
"AYO IPS SATU!"
"MAJU!"
"JANGAN KASIH MASUK!"
Andito mencondongkan tubuh.
Rendy menjaga kecepatannya.
Angga tetap berada di tengah, matanya tidak pernah lepas dari base lawan.
Namun dari seberang, tim 10 Bahasa 2 belum bergerak. Seorang siswa yang tampaknya bertindak sebagai kapten tiba-tiba mengangkat tangannya.
"Mereka nyoba mancing."
Tatapannya tajam.
"Nggak usah diladeni."
Setelah ucapan itu tersampaikan, formasi berubah begitu cepat.
Satu demi satu, mereka bergerak untuk membentuk sebuah lingkaran dengan tangan yang saling bergandengan. Hingga terciptalah formasi pagar hidup yang mengelilingi menara tongkat.
Angga yang melihat perubahan itu, pikirannya langsung berputar.
Taktik bertahan?
Ia masih tetap berlari tanpa menurunkan kecepatan.
Berarti mereka sengaja menutup semua celah ya?
Angga mempersempit mata.
Kalau begitu...
Pandangannya sekilas bergerak ke belakang. Tepat ke arah Melody yang sudah tertinggal cukup jauh. Meski tetap berusaha mengejar meskipun dengan langkah berat.
"Hah... hah..."
Napasnya terengah. Tangannya mengayun berlebihan seperti seperti sedang berenang di udara.
"Kenapa... mereka... larinya kayak dikejar utang..."
Angga hampir tertawa. Namun kemudian ia kembali fokus.
"Dit!"
Andito menoleh.
Mata keduanya bertemu.
Angga hanya memberi isyarat kecil dengan tangannya.
Andito langsung mengangguk.
Ia pun mempercepat langkah dan menyalip Angga lebih dulu.
Di seberang, dua siswa terlihat menyentuh base mereka hampir bersamaan. Lalu dua orang itu langsung keluar dari lingkaran untuk mengejar Andito.
Andito membelalak.
Karena posisinya kini nampak akan diincar oleh dua pengejar dengan gerakan yang sama cepatnya.
Setelahnya, pemain lain segera bergeser untuk menutup celah yang tercipta akibat keluarnya dua orang tadi.
Andito memperlambat langkahnya. Matanya bersiaga ketika dua pengejar itu mulai mendekat menuju dirinya.
Satu di kiri.
Satu di kanan.
Keduanya mulai mengepung.
Jarak diantara mereka bertiga semakin menyempit.
Alis Andito menajam. Tubuhnya sedikit merendah. Seolah bersiap untuk berbelok dengan gerakan tajam, atau zig-zag sekalipun.
Hingga dalam jarak beberapa meter—
"Kena lu!"
Salah seorang siswa berteriak sembari menjulurkan tangannya jauh-jauh.
Andito refleks mengerem mendadak. Rumput dibawahnya yang terinjak langsung membekas jejak sol sepatu hingga meninggalkan bekas terkelupas.
Srettt...
Andito mundur setengah langkah. Bahkan sampai melompat kecil untuk menjauh dari jarak sentuhan.
Kedua lawannya yang mencoba menangkapnya terus mendekat untuk memojokkan. Mencoba mengepung dari kedua sisi seperti kucing yang sedang mencoba menangkap sesuatu yang jauh lebih licin dari perkiraan.
Dalam tempo yang berlangsung hanya sepersekian detik itu, pandangan Andito bergerak ke seluruh penjuru.
Kiri.
Kanan.
Depan.
Belakang.
Tidak ada celah yang jelas.
"Brengsek..."
Namun...
Matanya tanpa sengaja menangkap suatu pergerakan lain melalui sebalik bahu salah satu pengejarnya.
Di sisi lain arena, sang sayap kanan—Rendy— tidak lagi bergerak menuju base. Langkahnya nampak lebih serong menjauh ke sisi luar dari pusat pantauan tim penjaga kelas bahasa dua. Seolah mencoba memotong, atau mengecoh perhatian.
Andito yang menyadarinya langsung menyeringai.
Ia mengerti.
Namun pandangan itu langsung terputus akibat teriakan salah seorang pengejar yang mencoba menyentuhnya dari arah depan.
"Gue tangkep lu ya!"
Andito kembali mencoba menghindar. Tubuhnya merendah dan bergerak dengan refleks secepat pemain sepakbola.
Andito ke kanan.
Pengejar ikut bergerak.
Andito ke kiri.
Pengejar kembali mengikutinya.
Suara napas ketiganya memburu. Pandangan dua pengejar itu tampak sudah mengunci seluruh pergerakan Andito.
Mereka terlalu fokus.
Terlalu yakin bahwa Andito adalah satu-satunya ancaman.
Padahal...
Rendy sudah menyelinap melewati sisi luar lingkaran.
Langkahnya ringan.
Cepat.
Tidak menarik perhatian.
Sampai akhirnya—
Rendy berhasil mencapai bagian belakang menara.
Ujung bajunya hampir tersentuh. Beruntung sang penjaga base kelas bahasa tak melanjutkan pengejarannya.
Rendy berhenti pada titik jarak yang ia perkirakan akan aman antara radius kejar penjaga base dan dirinya. Lalu memandang ke posisi Andito yang masih dikejar-kejar oleh dua pemain disana.
Senyum tipis muncul di wajah Rendy. Karena ia berhasil menciptakan dua posisi yang benar-benar bisa mengancam sisi pertahanan base kelas bahasa.
Andito berada di utara.
Rendy di selatan.
Angga di timur.
Tiga titik.
Tiga arah.
Dan untuk pertama kalinya, lingkaran pertahanan 10 Bahasa 2 tidak lagi menghadapi satu garis serangan.
Mereka menghadapi segitiga.
....
Aksi kejar-kejaran antara Andito dan dua pengejar kelas bahasa sudah berhenti. Masing-masing mengatur napas, sembari tatapannya mengunci satu sama lain.
Di sisi selatan base kelas bahasa, Rendy merendahkan tubuhnya, kedua lutut sedikit ditekuk dengan tangan bertumpu di atasnya.
Pandangannya menyapu lapangan dengan cepat. Dari penjaga benteng, posisi teman yang siap menerobos, hingga celah di antara lawan yang bisa menjadi jalur pulang. Bahkan sebelum bergerak, ia sudah mencari ke mana harus berlari jika rencana pertama gagal.
Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun pemain 10 Bahasa 2 yang berani bergerak akan tiga ancaman itu.
Karena Angga yang berdiri di sisi timur pun sudah cukup untuk membayang-bayangi pertahanan dari sisi depan.
Setiap penjaga base Bahasa 2 memandang ke satu arah. Kemudian berpindah ke arah lainnya. Seolah mereka belum tahu harus menghadapi siapa lebih dulu.
Angga melihat keraguan itu.
Lalu...
DUGH!
Kakinya menghentak tanah. Meninggalkan bekas sepatu pada rumput lapangan.
Tindakan itu berhasil memancing perhatian beberapa penjaga sekaligus.
Melihat itu,
"Hayo lo!" ejek Angga sambil menyeringai. Kedua tangannya terbuka lebar, menghilangkan gestur siaga dan membuka seluruh celah di tubuhnya.
"Kok nggak pada maju?"
Beberapa siswa Bahasa 2 menggeram.
"Songong banget!"
"Jangan terpancing, jir!"
Namun ancaman dari belakang base membuat mereka kembali mengurungkan niat. Karena sang sayap kanan dari penyerang kelas IPS memilki sorot mata yang terlalu mengancam untuk diabaikan.
"Hati-hati!"
"Jangan terkecoh!"
"Jangan keluar!"
Formasi mereka semakin rapat.
Andito masih dikepung dua pemain.
Angga mencoba mencari celah di antara pagar manusia itu.
Sedangkan Rendy...
Mustahil kembali.
Ia sudah berhasil menyelinap ke belakang menara. Kalau ia bergerak sekarang, ia justru akan membuat jalan kabur dirinya semakin sempit.
Maka mereka berhenti.
Saling menunggu.
Beberapa detik berlalu masih tidak ada yang bergerak. Ketegangan terasa begitu jelas di udara.
Sampai—
"Hah..."
Suara terengah terdengar dari belakang bahu Angga. Disertai dengan langkah kaki gontai yang menapak rumput lapangan.
Ia pun melirik tanpa menggerakkan kepala.
Di belakangnya, sampailah sang perusak fokus dari tim kelas IPS 1. Seorang gadis yang kini sedang membungkuk sambil memegang kedua lututnya.
"Hah... hah..."
Ia mencoba menarik napas. Telunjuknya bergetar pelan ketika ia mencoba mengangkatnya.
"Gila..."
Napasnya kembali terputus.
"Kalian semua..."
Ia mengangkat wajah.
"...larinya cepet banget..."
Angga menahan senyum.
"Nggak apa-apa. Kamu udah bagus kok bisa sampai tepat waktu."
Melody mencoba tersenyum disela napasnya. Kemudian ikut mendongak untuk ikut mencari celah pertahanan yang begitu solid itu.
Namun sebelum Angga sempat bergerak lagi—
Drap!
Drap!
Drap!
Suara gesekan sepatu dengan tanah terdengar dari depan.
Langkah kaki yang bergerak cepat.
Dan semakin cepat.
Angga langsung membelalak.
"Hah?"
Ia menoleh. Lalu mendapati seorang siswa 10 Bahasa 2 menerjang lurus ke arahnya begitu cepat.
"Gawat?!"
Rahang Angga mengeras. Tubuhnya langsung berputar—membiarkan siswa itu melesat melewati sisinya.
"Hampir..."
Namun—dalam tempo yang hanya berlangsung sepersekian detik itu—siswa itu justru menyeringai. Langkahnya belum sepenuhnya melambat.
Tatapannya berpindah ke belakang Angga. Ke arah Melody masih berdiri sambil mengatur napas.
Mata Angga membesar. Pupilnya menyempit.
"Melody!"
"Eh?"
Siswa itu mengulurkan tangannya.
"Kena!"
PLAK!
"AWHH!"
Peluit kecil terdengar dari sisi lapangan.
PRIIIT!
Melody langsung mengusap lengannya sendiri. Kemudian menatap siswa yang berhasil menyentuhnya.
"Apalah, jir!"
Ia menunjuk dirinya sendiri.
"Aku loh baru nyampe?!"
Siswa itu langsung tersenyum bangga.
"Makanya jangan lengah!"
Beberapa pemain Bahasa 2 yang melihat kejadian itu ikut menoleh. Bahkan dua orang yang sejak tadi mengepung Andito sempat mengalihkan pandangan.
Dan itulah kesalahannya.
Melody yang masih bersungut-sungut ikut berkacak pinggang.
"Baru juga datang, langsung ditangkep."
Ia menggerutu.
"Minimal kasih aku waktu pemanasan kek. Atau apa kek?"
Beberapa siswa di tribun tertawa. Bahkan guru-guru yang mengawasi pertandingan ikut menggeleng maklum akan sikap anak didik mereka itu.
Tawa itu menjalar ke lapangan. Dua pemain yang mengepung Andito pun ikut kehilangan fokus.
Mereka menoleh.
Meski hanya sepersekian detik.
"Bisa nih..."
"Oke. Ayok."
Dua orang dari kelas IPS 1 berlari begitu cepat setelah tangannya menyentuh base. Suara kakinya bahkan mereka atur hingga tak menimbulkan suara sekecil apapun.
Jevan dengan kaki jenjang dan langkah lebarnya telah tiba sebelum sempat disadari kehadirannya.
"HAH?!"
Hamim tersentak karena merasakan tepukan yang terasa seperti disetrum di bagian lengannya.
Tap!
Harun yang tersadar bahwa ada pergerakan di samping tubuhnya, dengan cepat ia menghindar.
Namun langkahnya lebih dulu dicegat oleh Michel yang menyelinap dari belakangnya.
"Kena lu!"
Plak!
"Aduh!"
Pergerakan Michel begitu senyap bagaikan hantu yang tiba-tiba muncul. Entah karena suara tawa yang meredam langkahnya. Atau karena Harun yang memang terlalu lengah.
Setelah berhasil, Michel dan Jevan berlari mundur.
Sorakan langsung meledak.
"AAAAAAHHHH!"
"IPS SATU!"
"DUA ORANG!"
Penyerangan belum selesai.
Siswa yang tadi berhasil menyentuh Melody akhirnya terhenyak. Pandangannya mulai siaga ke sekelilingnya.
Namun yang tak diduga-duga, siluet tubuh kecil bergerak begitu cepat menyelinap dibalik punggung Melody. Lalu menyibak punggung gadis itu, dan menyergap bagaikan seekor harimau diantara semak belukar.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian—
Plak!
Ega menyentuh punggungnya tanpa sempat disadari oleh pengejar kelas bahasa dua.
"... Anjir?"
Setelah itu, Ega langsung berbalik dan berlari kembali menuju base.
PRIIIT!
"Tiga orang tawanan! Hamim, Harun, dan Vino!"
Suara wasit menggema.
Tribun 10 IPS 1 langsung meledak.
"WOAAAAAAAHHHH!"
"SATU TUKAR TIGA!"
"KEREN!"
"IPS SATU!"
Andito yang baru saja terbebas dari kepungan menatap Jevan dan Michel.
Kemudian melihat Ega.
Lalu tertawa lebar.
"Buset!"
Ia mengepalkan tangan.
"Satu tumbal, tiga korban!"
Melody yang kini berdiri sebagai tawanan langsung melotot.
"Siapa tumbal?!"
Andito menunjuknya.
"Lu."
"DITO!" seru Melody dengan tatapan menajam.
Tiga pemain Bahasa 2 memang berhasil dijadikan tawanan.
Namun bukan itu yang membuat Angga tersenyum.
Yang lebih penting adalah sesuatu yang jauh lebih besar.
Lingkaran itu telah terbuka. Dengan strategi yang sepenuhnya berhasil mereka eksekusi bersama.
Bukan dengan kekuatan.
Bukan dengan kecepatan semata.
Tetapi dengan membuat lawan...
melihat apa yang ingin mereka lihat.