Indonesia
NovelToon NovelToon
Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: masadepan_

Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.

Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.

Awalnya hanya kontrak.

Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sambutan dari keluarga Alister

Waktu sudah menjelang malam. Bulan sudah muncul dengan sempurna. Aurelia sudah datang dari kantor beberapa jam yang lalu. Kini, ia sudah mengenakan pakaian yang baru ia beli tadi siang.

"Apa terlihat cocok, Tyana?" Aurelia menatap dirinya pada pantulan cermin yang menampakkan tubuh sepenuhnya.

Tyana berdiri disampingnya, mengamati penampilan Aurelia dari ujung kaki hingga sampai di rambutnya.

"Anda terlihat cantik, nona. Saya tidak sedang berbohong." Timpal Tyana jujur. Baginya... Aurelia selalu berpenampilan cantik dan menarik, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda, Aurelia jauh lebih cantik dari hari-hari biasanya. Bagaimana ia melihat Aurelia mengenakan gaun panjang berwarna hitam dengan potongan sederhana yang jatuh mengikuti tubuhnya dengan anggun. Tidak terlalu banyak detail, tetapi justru kesederhanaan itu membuat penampilannya terlihat berkelas.

Rambutnya ditata rapi, menyisakan beberapa helai lembut yang membingkai wajahnya. Riasannya pun tidak berlebihan—cukup untuk mempertegas sorot matanya dan memberikan kesan segar pada wajahnya. Dipadukan dengan heels berwarna hitam yang tidak terlalu tinggi.

Aurelia tersenyum tipis. Lalu satu kalimat memenuhi pikirannya.

Calon istri

Ia mendesah pelan ketika mengingat kalimat yang diucapkan Nathaniel di telepon tadi pagi.

"Apa kita akan berangkat bersama Papa?" Aurelia melirik Tyana sekilas lalu berjalan dan mendudukkan dirinya di meja rias.

"Sepertinya begitu, nona. Tuan sudah menyiapkan mobilnya." Ucap Tyana datar, Giovani belum memberikan perintah apapun. Tapi Giovani sudah memerintahkan Leon mengawasi mobil mereka dari belakang. Itu artinya, Aurelia dan Giovani akan satu mobil dengan supir pribadi pria itu.

Aurelia tidak menjawab, wanita itu melihat beberapa kotak perhiasan, lalu tatapannya jatuh pada sebuah anting kecil yang terlihat sederhana. Tangannya kemudian bergerak mengambil lalu memasangkannya di kedua telinga Aurelia.

Lengkungan di bibir Aurelia terlihat lebar, ia melihat pantulan wajahnya yang sangat cocok mengenakan anting itu. Kemudian tangannya memilih aksesoris tangan yang ada di beberapa kotak.

Ia terpana pada satu jam tangan silver yang terlihat elegant. Kemudian mengambilnya dan memasangkannya di tangan sebelah kiri.

"Saya harap anda tidak merasa gugup, nona."

Aurelia langsung menoleh pada Tyana.

"Aku bukan gugup karena Nathaniel. Aku lebih gygup ketika akan berhadapan secara langsung dengan tuan Pradana dan nyonya Valerian. Apalagi akan menghadapi situasi bersama Papa." Aurelia bergerak merapihkan beberapa helai rambutnya. Wajahnya ia condongkan ke arah cermin.

"Tapi saya rasa tuan Pradana dan juga nyonya Valerian tidak begitu kaku seperti tuan Nathaniel. Saya sudah beberapa kali melihat mereka, dan respon mereka sangat hangat." Tyana kembali mengingat beberapa moment ketika bertemu dengan Pradana dan Valerian di salah satu acara ataupun rapat. Ia pernah mewakili Aurelia dalam satu acara karena berhalangan hadir, lalu tidak sengaja berpapasan dengan mereka. Respon mereka hangat, senyumnya terus merekah dan bertanya lebih dulu. Padahal posisi Tyana adalah sebagai asisten dan sama sekali tidak mengenalnya. Tapi sapaan itu seolah hadir bak teman lama yang kembali bertemu.

"Permisi, nona."

Baik Aurelia maupun Tyana menoleh pada sumber suara. Disana... Leon berdiri di ambang pintu yang sengaja terbuka.

"Tuan Giovani sudah menunggu anda di bawah." Leon berucap dengan hormat.

Aurelia mengangguk pelan dan beranjak berdiri.

"Aku akan segera datang." Ucap Aurelia lalu berjalan menuju tas yang sudah disiapkan Tyana di atas kasur.

"Baik, nona." Leon membungkuk kemudian meninggalkan kamar.

"Saya mengikuti anda di belakang. Kalau ada apa-apa hubungi saya, nona." Tyana menjelaskan terlebih dahulu. Karena mungkin setelah berada di mobil, mereka tidak akan berinteraksi sampai makan malam selesai.

Aurelia terkekeh kecil.

"Aku akan malam, Tyana. Bukan pergi berperang." Tangan kanan Aurelia mendorong kecil pundak Tyana.

"Iya saya tahu. Tapi antisipasi itu penting, nona."

"Iya baiklah, aku mengerti." Ucap Aurelia lalu melangkahkan kakinya keluar kamar. Pikirannya mulai tidak tenang, ia memikirkan bagaimana suasana di rumah Alister nanti. Apakah ia akan merasa nyaman, atau sebaliknya?

Tapi Aurelie berusaha tenang, karena ada Sarah dan Lili di rumah itu. Mereka akan mencairkan suasana.

Kakinya menuruni setiap anak tangga dengan hati-hati. Matanya tertuju pada Giovani yang sudah berdiri menunggunya. Tak lama kemudian, Giovani menoleh padanya.

"Maaf, aku membuat Papa menunggu." Ucap Aurelia di anak tangga terakhir, kakinya melangkah mendekati Giovani.

"Tidak masalah." Giovani menunjukkan raut datar seperti biasa. Kemudian membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan.

Aurelia melirik Tyana sekilas, lalu mengikuti Giovani dibelakang. Setelah sampai di mobil yang sudah disiapkan, beberapa pengawal membukakan pintu untuk Giovani dan Aurelia. Mereka berdua duduk berdampingan di kursi belakang.

Detak jantung Aurelia bergemuruh begitu memasuki mobil dan duduk disamping Giovani. Matanya melirik sekilas pada Giovani yang hanya menatap lurus kedepan.

Mereka ada dalam satu mobil yang sama hanya beberapa kali, bahkan bisa dihitung jari. Ini yang menjadikan suasana terasa canggung. Apalagi untuk Aurelia, wanita itu terlihat tegang dan begitu gugup.

"Persiapkan dirimu ketika bertemu mereka. Jangan membuat calon mertuamu mengurungkan niat untuk menjadikanmu calon menantu." Ucap Giovani setelah mobil mulai berjalan dengan kecepatan sedang.

Aurelia menatap Giovani. Ia meremas tasnya begitu erat.

"Iya, Pa. Aku akan bersikap sewajarnya tanpa harus membuat mereka menyukaiku." Ucapnya pelan, Aurelia tidak ingin mencari perhatian siapapun. Ia tidak akan bersembunyi di balik topeng manapun. Biarkan malam ini mengalir tanpa rekayasa.

Tapi respon Giovani malah berdecih, seolah meremehkan ucapan Aurelia.

"Jangan mengecewakan saya lagi." Ucapnya tanpa melirik Aurelia.

Wanita itu melihat Giovani sekilas lalu kembali menatap jalanan. Ia berucap dalam hati, memangnya bagian mana yang pernah membuat Giovani bangga? Semua usaha Aurelia selalu terlihat kecil dimatanya.

Beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai dihalaman mansion keluarga Alister. Tak lama pintu mobil terbuka, Aurelia melirik pada Giovani yang mulai turun dari mobil.

Wanita itu pun turun dengan hati-hati. Ia melihat pemandangan mansion yang cukup membuatnya takjub. Ukurannya terlihat jauh lebih besar dari miliknya.

Salah satu penjaga keluarga Alister menyambut mereka.

"Selamat datang, tuan Giovani dan nona Aurelia." ucapnya setelah membungkuk hormat.

Giovani hanya mengangguk kecil, begitu juga dengan Aurelia yang disertai senyuman tipis.

Tak lama kemudian, Attar datang dan membungkuk hormat.

"Tuan Nathaniel dan seluruh keluarga sudah menunggu kedatangan tuan dan nona." Ucap Attar disertai senyuman hangat.

"Terimakasih atas sambutannya, Attar." Aurelia menjawab dengan senyum merekah. Lalu Giovani mulai berjalan tanpa melihatnya. Aurelia hanya menatap datar, ia menghembuskan napas terlebih dahulu sebelum akhirnya mulai melangkahkan kaki mengikuti Giovani.

Tyana, Leon dan beberapa pengawal berdiri tak jauh dibelakang mereka dan akan tetap tinggal di luar mansion.

Aurelia berusaha tenang, ia menyunggingkan senyum tipis. Kaki jenjangnya kemudian berhenti, pintu utama terbuka lebar. Hal yang pertama kali ia lihat adalah Nathaniel yang berdiri paling depan. Lalu disusul Pradana dan Valerian yang saling menggandeng. Di urutan paling belakang, ada Sarah dan Lilia yang langsung melambaikan tangan antusias.

"Selamat datang, Aurelia." Nathaniel mengulurkan tangannya. Aurelia menatap telapak tangan Nathaniel di udara.

Drama perjodohan akan dimulai. Aurelia akan mengikuti alur yang akan diambil Nathaniel, ia tersenyum dan menerima uluran tangan Nathaniel.

"Terimakasih, Nathaniel." Mereka berjalan, kemudian berhenti dihadapan Valerian dan Pradana.

Nathaniel melepaskan genggaman di tangan Aurelia. Tak lama Giovani maju dan memberikan pelukan singkat pada Pradana dan Nathaniel.

"Sambutan yang begitu hangat." Ucap Giovani disertai senyuman lebar.

Lalu Valerian mendekat ke arah Aurelia. Telapak tangannya mengelus pipi Aurelia lembut.

"Aku senang bertemu denganmu, Aurelia." Ucapnya dengan tatapan lekat.

Aurel tersenyum lebar.

"Saya juga senang bertemu dengan, nyonya."

Lalu Valerian melepas usapan di pipi Aurelia dan memeluk tubuh Aurelia.

"Selamat datang, sayang."

Hati Aurelia seakan tersentuh. Ia mengangguk dengan tatapan hangat.

"Terimakasih, nyonya. Rumah ini begitu terasa hangat." Ucap Aurelia jujur. Kemudian mereka mengurai pelukan. Mata Aurelia beralih pada Pradana dan mengangguk pelan sebagai sapaan.

"Selamat datang, nak. Bagaimana perjalananmu?" Tanya Pradana mengusap bahu Aurelia singkat.

"Aku hanya diam dalam mobil, memikirkan bagaimana kira-kira tanggapan keluarga ini tentang keputusan kami yang tiba-tiba." Ucap Aurelia disertai kekehan kecil lalu melirik sekilas ke arah Nathaniel.

"Awalnya aku terkejut. Tapi begitu tahu yang dipilih putraku adalah kau. Aku langsung setuju tanpa berpikir panjang." Valerian menyentuh lengan Aurelia, ia berkata dengan sangat antusias.

"Baiklah. Jadi aku dan Lilia hanya pemeran figuran. Kami berdiri seperti patung tanpa ada sapaan." Sarah berucap dengan lantang, membuat semua orang menoleh ke arahnya.

Aurelia tersenyum ke arah Sarah. Tak lama kemudian mereka saling mendekat. Tapi yang pertama kali berhambur dalam pelukan Aurelia bukanlah Sarah, melainkan Lilia.

"Aku kangen sama tante." Kedua tangan Lilia memeluk kaki Aurelia erat.

Semua anggota keluarga tertawa. Lalu Aurelia berjongkok dan menatap lekat pada Lilia.

"Tante juga kangen kamu." Ucap Aurelia lalu menyentuh ujung hidung Lilia. Sedangkan Giovani dan anggota keluarga lain lebih dulu berjalan ke arah meja makan.

"Ayo sayang kita nikmati hidangannya." Ucap Valerian.

"Sebental oma. Dali tadi aku menunggu di peluk tante Aulel." Lilia lebih dulu menyela. Ia tersenyum lebar pada Aurelia.

Sedangkan Sarah hanya menggelengkan kepalanya kecil, kemudian menarik lengan Nathaniel agar lebih dulu duduk di meja makan.

"Jangan lama Lili. Nanti kaki tante Aurelia pegal setelah perjalanan jauh."

Lilia menoleh pada Sarah. "Iya Mama bawel." ucapnya lalu menjulurkan lidah.

Semua anggota keluarga tertawa di meja makan.

"Tante sebelumnya sudah pelnah datang kesini?"

Aurelia langsung menggeleng cepat.

"Ini pertama kali tante datang kesini."

Lilia terdiam, anak kecil itu seolah sedang berpikir keras.

"Tapi kenapa..." Ia menggantung kalimatnya. Matanya menoleh pada Nathaniel yang sedang memperhatikan mereka. Pria itu sempat menggelengkan kepalanya kecil.

Aurelia mengerutkan keningnya.

"Kenapa sayang?" ia bertanya dengan lembut.

Tapi Lilia malah menggelengkan kepalanya dan menarik lengan Aurelia.

"Tidak apa-apa tante. Ayo makan!" Ucap Lilia antusias seraya menarik lengan Aurelia.

1
Yayaa
seruu
Yayaa
lanjut ka
Lalapouu
dmi apaa makin seru
Lalapouu
siapa?
Lalapouu
betull ituuu
Yayaa
semangat
Yayaa
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!