Indonesia
NovelToon NovelToon
PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Transmigrasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: subspace_illusion

Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LEMBARAN BARU

Beberapa hari telah berlalu sejak guncangan politik di alun-alun Singhasari. Secara tertulis di atas prasasti dan lembar lontar kerajaan, Ranggawuni adalah Raja resmi yang memegang tahta. Namun, roda pemerintahan sehari-hari secara de facto masih dipegang penuh oleh Anusapati dari balik layar, memandu sang putra yang masih belia.

Malam itu, di dalam ruang rapat tertutup Keraton Singhasari, cahaya obor menerangi perbincangan penting mengenai masa depan imperium. Anusapati duduk di kepala meja, sementara pangeran lain yang tersisa termasuk Mahisa Wonga Teleng serta Sena berkumpul mengelilingi meja kayu jati yang membentang.

Aku memecah keheningan, memaparkan rancangan penataan wilayah demi stabilitas jangka panjang.

"Kediri tidak boleh dibiarkan kosong tanpa kepemimpinan," ujarku tegas. "Saran saya, kembalikan Kediri kepada ahli waris mereka untuk dipimpin secara mandiri, tetapi dengan syarat mutlak: mereka tetap tunduk dan beraliansi di bawah panji Singhasari. Dengan begitu, potensi pemberontakan rakyat Kediri bisa diredam."

Anusapati mengangguk-angguk setuju, menangkap kerapian siasat itu.

"Lalu bagaimana dengan Panji dan Mahisa Wonga Teleng?" tanya Anusapati.

"Panji bisa kembali ke wilayah kekuasaannya untuk menjaga keamanan daerah," jawabku, lalu beralih menatap Mahisa Wonga Teleng. "Sedangkan untuk Mahisa Wonga Teleng, aku ingin kau tetap tinggal di istana ini. Kau akan menjadi guru sekaligus penasihat utama bagi Ranggawuni, serta mendampingi Anusapati dalam menjalankan roda pemerintahan sehari-hari."

Mahisa Wonga Teleng mengusap dagunya, menyetujui tanggung jawab besar itu demi masa depan keponakannya.

Anusapati kemudian menatapku tajam. Tatapannya sarat akan pertanyaan yang sudah ia simpan sejak lama. "Semua pembagian ini sangat rapi, Sena. Lalu... kau sendiri akan melakukan apa? Apa peranmu di Singhasari setelah ini?"

Aku menyunggingkan senyum tipis. "Aku akan pergi ke Ujung Medini dan mendirikan serta menjalankan pemerintahan di sana."

Anusapati dan Mahisa Wonga Teleng seketika saling pandang. Raut wajah mereka menyirat kekagetunan mendalam, sama sekali asing dengan nama wilayah yang baru saja terucap.

"Ujung Medini?" Anusapati mengerutkan dahi, bingung. "Di mana itu, Sena? Apakah itu wilayah di pedalaman Jawa yang belum terjamah?"

Tanpa menjawab secara lisan, aku meraih gulungan peta kain berukuran besar yang terhampar di atas meja. Jemariku bergeser melewati daratan Jawa, menyeberangi lautan luas di sebelah barat utara, lalu berhenti tepat menunjuk ke sebuah semenanjung panjang dan pulau di ujung jalurnya.

"Di sini," ujarku sambil menekan titik peta tersebut.

Anusapati mendongak dari peta, dahinya berkerut dalam penuh kebingungan.

"Tapi Sena... Ujung Medini itu bukan wilayah kekuasaan kita," ujar Anusapati heran, menunjuk titik seberang lautan itu dengan ragu.

Mahisa Wonga Teleng ikut menimpali sambil mengamati garis pantai di peta dengan lekat. "Benar yang dikatakan Raja. Kalau tidak salah, wilayah Semenanjung di utara itu dulu berada di bawah naungan Kerajaan Sriwijaya. Dan setelah Sriwijaya runtuh, kekuasaan di sana kalau tidak salah sudah diambil alih oleh Kerajaan Dharmasraya dari Sumatra. Bagaimana bisa kau mendirikan pemerintahan di tanah milik kerajaan lain?"

Aku menyunggingkan senyum tipis, menyilangkan dada dengan sikap tenang.

"Wilayah itu... sekarang sudah sepenuhnya berada di bawah kendaliku," ujarku mantap, membuat Anusapati dan Mahisa Wonga Teleng terbelalak tak percaya.

Aku menatap Anusapati lurus ke matanya, menyalurkan ketegasan tanpa keraguan.

"Aku tidak akan mengambil sejengkal pun tanah warisan Singhasari di Jawa ini untuk diriku sendiri," lanjutku dengan nada dingin namun penuh wibawa. "Seluruh tanah Singhasari adalah milikmu dan Ranggawuni. Aku memiliki jalanku sendiri di Ujung Medini."

Mendengar hal itu, Anusapati terperangah. Ia sadar betapa besarnya jiwa saudaranya yang sama sekali tidak tergiur oleh takhta, harta, maupun pembagian tanah Jawa, melainkan justru telah menancapkan pengaruhnya sendiri jauh melampaui lautan.

Aku lalu beralih menatap Mahisa Wonga Teleng dan para pencatat keraton yang berdiri di sudut ruangan.

"Dan satu hal lagi," tegasku menatap mereka satu per satu. "Hapus namaku dari seluruh catatan sejarah Singhasari. Jangan tinggalkan satu prasasti atau lontar pun yang menuliskan keberadaanku, tindakanku, maupun keterlibatanku dalam urusan takhta ini."

Anusapati terkejut. "Sena, kenapa harus dihapus? Kau adalah pahlawan dan saudara kandungku!"

"Jika namaku tetap ada dalam sejarah Singhasari, keberadaanku di Ujung Medini kelak hanya akan memicu kecurigaan musuh dan membawa ancaman politik bagi Ranggawuni," balasku tenang. "Biarlah sejarah mencatat apa yang perlu dicatat oleh rakyat. Sedangkan aku, biarlah bergerak sebagai bayangan dari seberang lautan."

Anusapati dan Mahisa Wonga Teleng terdiam dalam rasa hormat yang mendalam. Mereka akhirnya mengangguk paham, menyetujui keputusan besar sang ksatria bayangan yang siap berlayar membangun kekuatan baru di Ujung Medini.

 

Hari keberangkatan pun tiba. Setelah seluruh persiapan matang, kapal-kapal legendaris yang membawa rombongan telah bersiap di pelabuhan. Aku dan Rimbu berdiri di balairung Keraton Singhasari untuk berpamitan secara resmi.

Anusapati, Ibunda Ken Dedes, dan Mahisa Wonga Teleng menatap kami dengan mata berkaca-kaca. Perpisahan ini terasa amat berat, melepas sosok ksatria bayangan yang selama ini menjadi tiang penyangga dalam badai politik kerajaan.

Ranggawuni, sang Raja muda, berdiri kaku di samping Anusapati. Sorot matanya yang belum genap sepuluh tahun itu memancarkan rasa tidak rela yang begitu mendalam. Ia mengepalkan tangan kecilnya, menahan air mata yang hendak menetes saat menatapku.

Aku mendekatinya, memangkas jarak lalu berlutut tepat di hadapan Ranggawuni.

"Ranggawuni," panggilku lembut. "Sebagai hadiah kecil untuk pelepasan ini, aku akan memberikanmu sebuah bekal."

Tanpa menunggu balasan, secara spontan aku menyalurkan ajaran serta ilmu tentang cara menjadi penguasa yang bijak pengetahuan berharga yang pernah kudapatkan dari ajaran spiritual Mpu Ranajaya. Aku mengulurkan telunjukku, lalu menyentuhkan ujung jariku tepat di tengah jidat Ranggawuni.

*SHIN...*

Kelebat pengetahuan, kearifan politik, keijaksanaan mengayomi rakyat, serta kejelatan naluri memimpin langsung ditransfer dan terpatri sempurna ke dalam benak Ranggawuni. Tubuh kecilnya bergetar sedikit saat menyerap aliran kesadaran agung tersebut. Matanya yang tadi diliputi kesedihan kini memancarkan pencerahan dan kedewasaan spiritual yang jauh melampaui usianya.

"Terima kasih, Paman..." bisik Ranggawuni membungkuk penuh hormat, kini jauh lebih siap memikul takhta Singhasari.

Aku berdiri, menatap Anusapati, Ken Dedes, dan Mahisa Wonga Teleng untuk terakhir kalinya. Kami saling memberi hormat pelukan perpisahan tanpa banyak kata.

Diluar istana puluhan orang prajurit veteran sudah menungguku, mereka mengatakan kalau mereka adalah sisa-sisa orang yang dulu mengabdi kepada mantan akuwu Tumapel, saat ini akan ikut bersama ku.

Bersama dengan mereka, kami membalikkan badan dan melangkah keluar dari Singhasari. Tanpa meninggalkan jejak di atas lontar maupun prasasti, kami resmi melanjutkan perjalanan menyeberangi lautan menuju tempat baru yang menanti di Ujung Medini.

1
subspace_illusion
Anu.... hehehe....

Terima kasih banyak atas dukungannya!

Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
Dddra
sukak sma ceritanya. alurnya bagus dan mudah dipahami bgt. tpi kesal deh sma tunggul yg se enaknya itu….
blue.rose
Suka banget sama Sena, kelihatannya aja polos dan suka merendah, tapi aslinya diam-diam mematikan. liciknya itu elegan, nggak cuma modal otot tapi pake otak juga. dalang dari segala kejadian deh pokoknya, seru abis.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
Victoria
alur cerita punya pacing yang pas banget. elemen fiksi sejarahnya kuat, tapi dikemas modern dengan konflik emosional dan kejutan plot yang bikin penasaran di tiap bab. karakter utamanya tegas dan punya pendirian.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!