Indonesia
NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:78
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 — Batas yang Pernah Kupatuhi

Surel itu tidak berhenti pada satu kalimat.

Di bawah instruksi yang sudah dibaca Nadira—Jika dia menolak berbicara, jangan dekati lagi—ada rangkaian pesan selama enam bulan berikutnya. Tidak banyak. Hanya permintaan laporan seminar, penolakan terhadap tawaran panitia untuk mengirim nomor telepon Nadira, dan satu catatan yang kutulis untuk diriku sendiri.

Jangan mengubah pertemuan menjadi izin.

Aku menulisnya sehari setelah seminar.

Pagi ini, Elsa mencetak seluruh rangkaian surel dan meletakkannya di meja kerjaku. Ia tidak mengatakan apa pun sampai aku selesai membaca.

“Enam bulan,” katanya. “Dulu ternyata kamu bisa menunggu.”

“Aku tidak pernah lupa berapa lama.”

“Lalu apa yang kamu lupakan?”

Aku menutup map. “Bahwa aku menunggu bukan berarti aku berhak dapat jawaban setelahnya.”

Elsa duduk di seberang meja. Di luar ruangan, tim audit sedang menyalin server yayasan, dokumen media, dan catatan rujukan Ruang Tengah. Suara orang berjalan keluar-masuk terdengar lebih ramai daripada biasanya. Gedung yang bertahun-tahun bekerja seperti mesin tertutup mulai dipenuhi orang yang tidak berada di bawah kendali keluarga.

“Apa yang kamu lakukan selama enam bulan itu?” tanyanya.

“Tidak menghubungi Nadira.”

“Itu belum menjawab semuanya.”

Dia benar.

Aku tidak mengirim pesan, bunga, atau undangan. Aku menolak nomor telepon yang ditawarkan panitia. Aku tidak datang ke kantornya dengan alasan kerja sama. Aku tetap membaca laporan umum tentang Ruang Tengah karena aku masih punya akses ke jaringan Laksmi.

Aku tahu Nadira menerima empat klien baru.

Aku tahu ia pindah dari kantor lama ke ruangan yang lebih kecil karena biaya sewa.

Aku tahu dua kali ia pulang larut setelah mediasi sulit.

Aku juga tahu ia menolak undangan makan dari seorang pengacara yang menyukainya, meski informasi terakhir itu tidak pernah seharusnya sampai kepadaku.

Aku tidak mendekat.

Tetapi aku tetap melihat.

“Aku masih mengawasinya,” kataku.

Elsa mengangguk. “Jadi yang kamu patuhi cuma batas kontak.”

“Iya.”

“Privasi tidak.”

Pengakuan tersebut tidak terasa seperti penemuan. Lebih seperti membuka jahitan yang selama ini sengaja kututup.

Pada bulan kedua setelah seminar, aku sempat meminta Tara memastikan Nadira tidak sedang diteror oleh pihak yang terkait dengan Aditya. Tara melaporkan tidak ada ancaman langsung. Aku tidak meminta kabar lain selama tiga minggu.

Kemudian satu malam, nama Nadira muncul dalam notifikasi keamanan karena seorang mantan pegawai Kalyana mendatangi Ruang Tengah.

Aku membaca rekaman pintu.

Aku memeriksa latar belakang lelaki itu.

Aku menugaskan Gilang mengikuti kendaraan yang membawanya pulang.

Tidak ada bahaya. Lelaki itu hanya mencari mediator untuk adiknya.

Enam bulan itu justru menjadi masa ketika aku meyakinkan diri bahwa aku bisa menunggu sambil tetap tahu cukup banyak tentang Nadira untuk merasa aman.

“Kenapa tidak mendekatinya?” tanya Elsa.

“Karena aku tidak tahu apakah dia menikmati percakapan kami.”

“Dan kalau dia tidak menikmati?”

“Aku tidak akan menghubungi.”

Elsa menyandarkan tubuh. “Aku percaya bagian itu.”

Tatapanku beralih kepadanya.

“Jangan lega dulu. Kamu tetap ngatur kursi, jadwal, kesempatan. Waktu itu setidaknya kamu masih bisa menerima kalau dia enggak tertarik.”

Aku melihat kembali surel lama. Kalimat-kalimatnya lebih sederhana daripada semua sistem yang kubangun setelah kami menikah. Tidak ada daftar orang yang boleh mendekat. Tidak ada akses terapi. Tidak ada laporan suasana hati.

Aku ingin bertemu Nadira.

Aku menciptakan kesempatan yang seharusnya tidak kuciptakan.

Lalu aku berhenti ketika tidak mendapat undangan berikutnya.

Enam bulan kemudian, kami terdaftar pada acara bantuan hukum yang sama. Kami berada di sana bukan karena aku mengaturnya. Aku mengetahui namanya masuk daftar pembicara dua hari sebelum acara.

Saat itulah aku mengubah meja duduk.

Aku bilang pada diri sendiri bahwa kesempatan kedua tidak mungkin sekadar kebetulan. Kata takdir terasa lebih mudah diterima daripada mengakui aku kembali mengaturnya.

Setelah acara itu, Nadira yang mengirim pesan lebih dulu.

Ia mengucapkan terima kasih karena aku tidak menjelaskan pekerjaannya kepada tamu lain seperti aku lebih mengerti. Pesan itu membuatku tertawa di tengah rapat dan meninggalkan ruangan sebelum ayah selesai bicara.

Hubungan kami tumbuh setelahnya melalui percakapan yang tidak semua dapat kuprediksi. Nadira membatalkan makan malam pertama karena ada klien yang menangis di toilet kantor. Ia menolak restoran pilihanku dan mengajak makan mi ayam di tempat yang kursinya terlalu pendek. Ia pernah tidak membalas pesanku dua hari karena aku menyebut kantor kecilnya “proyek sosial.”

Aku meminta maaf.

Ia memilih bertemu lagi.

Lama-lama aku memahami bahwa setiap pertemuan berikutnya memerlukan persetujuan baru. Aku tidak pernah datang ke apartemennya tanpa diundang. Tidak membaca ponselnya. Tidak meminta Tara memberi tahu siapa yang sedang mendekat.

“Lalu kapan berubah?” tanya Elsa.

Pertanyaan itu membuatku diam lebih lama.

Tidak ada satu hari ketika aku tiba-tiba memutuskan bahwa batas Nadira tidak penting lagi. Perubahannya datang dalam keadaan kecil yang masing-masing mudah dibenarkan.

Seseorang mengirim foto kecelakaan Aditya.

Nadira ingin pergi sendiri menemui sumber.

Surya menanyakan dokumen yang mungkin ia pegang.

Helena mengingatkan bahwa orang dapat memakai rasa kehilangan untuk mendekatinya.

Aku menambah pengemudi.

Lalu pelacakan.

Lalu laporan.

Setelah kami menikah, ketakutan kehilangan Nadira tidak lagi terasa seperti perasaan yang harus kukelola sendiri. Aku menganggapnya risiko keluarga yang boleh kukelola melalui sistem.

“Cinta membuatmu takut?” tanya Elsa.

“Cinta tidak melakukan apa pun.” Aku menatap tanganku. “Aku yang memilih menjadikan ketakutan sebagai izin.”

Elsa tidak memuji jawaban itu. Ia hanya mendorong satu formulir audit ke hadapanku.

“Kalau begitu, coba tulis kapan batasnya mulai berubah.”

Aku mulai dari enam bulan setelah seminar.

Pertemuan kedua: aku mengatur kursi.

Bulan pertama hubungan: aku memeriksa latar belakang orang yang mengundang Nadira bekerja sama.

Bulan ketiga: aku meminta Tara memberi kabar bila ada ancaman.

Tahun pertama: aku menyimpan salinan jadwal perjalanan.

Setelah pernikahan: aku mengubah perlindungan darurat menjadi akses rutin.

Daftar itu memanjang tiga halaman.

Setiap baris menunjukkan sesuatu yang dulu bisa kuhormati. Lalu aku mengambilnya sedikit demi sedikit ketika rasa takutku lebih besar daripada kesediaanku menerima jawaban yang tidak kusukai.

Pukul dua siang, Damar mengirim permintaan konfirmasi. Nadira ingin seluruh kronologi perubahan batas tersebut masuk ke gugatan privasi. Tidak ada alasan untuk menolak.

Aku menandatangani pernyataan.

Lalu ponsel Elsa berbunyi.

Ia membaca layar dan ekspresinya berubah menjadi netral—cara seorang pengacara menyembunyikan kabar yang akan melukai orang yang duduk di depannya.

“Ada dokumen dari pengadilan,” katanya.

Aku ragu sejenak sebelum mengambilnya.

“Permohonan sementara?” tanyaku.

“Bukan.”

Ia meletakkan tablet di meja. Lambang pengadilan berada di bagian atas, diikuti nama Nadira dan namaku sebagai para pihak.

Selama beberapa minggu, gugatan cerai masih ditangani melalui pemberitahuan pengacara dan persiapan berkas. Masih ada celah bagiku untuk berpura-pura bahwa kata cerai itu hanya cara Nadira memaksaku berubah.

Sekarang ruang itu hilang.

Nadira telah mendaftarkan perkara secara resmi dan meminta jadwal sidang pertama.

Aku membaca nomor perkaranya sampai hafal.

Elsa bertanya pelan, “Mau tim hukum mengajukan penundaan?”

Enam tahun lalu aku pernah menunggu karena belum tahu apakah Nadira ingin berbicara lagi. Hari ini jawabannya jauh lebih jelas.

Aku membuka kalender sidang yang terlampir. Tanggalnya tiga minggu lagi. Waktu yang cukup untuk tim hukum keluargaku mengajukan keberatan, mempertanyakan yurisdiksi, atau memperpanjang proses melalui pemeriksaan aset. Semua cara itu langsung muncul di kepalaku.

Aku pernah memakai prosedur sebagai benteng. Tidak perlu langsung berkata tidak. Cukup buat semuanya berjalan begitu lama sampai orang itu kehabisan tenaga.

“Pastikan tidak ada permohonan yang masuk tanpa persetujuanku,” kataku.

Elsa mengangkat alis. “Surya sama Helena juga?”

“Terutama mereka. Kirim pemberitahuan tertulis bahwa aku tidak memberi kuasa menunda, memindahkan, atau mengubah jadwal.”

“Kalau mereka tetap mencoba?”

“Serahkan kepada Damar dan pengadilan.”

Elsa mengetik perintah tersebut. Sesaat aku memikirkan rumah yang masih menyimpan pakaian Nadira, cangkir yang tidak dipindahkan staf, dan sisi tempat tidur yang sengaja tidak kusentuh sejak ia pergi. Selama ini aku membiarkan semua benda tetap pada tempatnya seolah rumah dapat menjadi alasan baginya kembali.

Benda-benda itu bukan janji.

Hanya barang milik seseorang yang sudah meminta jalan keluar.

Aku mengembalikan tablet kepadanya.

“Tidak,” kataku. “Terima pemberitahuannya.”

Di layar, status perkara berubah dari diajukan menjadi tercatat untuk pemanggilan.

Kali ini, batas yang harus kupatuhi bukan jarak enam bulan.

Batasnya adalah menerima bahwa Nadira mungkin benar-benar pergi. Aku tidak berhak menutup jalan di depannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!