"Kapan nikah?"
"Udah mau 30 loh."
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."
Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.
3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.
Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?
Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Jumat siang, Jena mendatangi ruangan Papanya dengan langkah tenang. Namun, begitu pintu terbuka, langkahnya sempat terhenti. Di sana bukan Juwita yang sedang duduk menemani Pak Andika, melainkan Naura.
Adik tirinya itu baru saja pulang sekolah. Seragamnya masih melekat rapi, rambutnya diikat sederhana, dan tas sekolahnya tergeletak di sofa.
Naura langsung menoleh.
“Kak Jena.”
Jena hanya melirik sekilas.
“Hm.”
Tanpa basa-basi, Jena berjalan mendekati meja kerja Pak Andika.
“Papa.”
Pak Andika mengangkat wajah dari dokumen yang sedang dibacanya. “Ada apa?”
“Besok jangan lupa.”
“Lupa apa?”
Jena tersenyum tipis. “Budi datang melamar aku.”
Tangan Pak Andika yang semula memegang pena langsung berhenti. “Apa?”
Jena sengaja mengulang dengan nada santai.
“Budi. Besok datang ke rumah, melamar aku.”
Wajah Pak Andika seketika berubah. Ia benar-benar tidak menyangka.
Selama ini ia mengira hubungan Jena dengan Budi hanyalah sebuah sandiwara. Ia bahkan sengaja memberi tantangan datang melamar, agar Jena menyerah, mengaku jika hubungan mereka hanya pura-pura. Ternyata ia salah.
Budi benar-benar datang. Benar-benar berniat melamar putrinya. Pak Andika menyandarkan punggungnya ke kursi. Rahangnya mengeras.
Sialan.
Jangan-jangan justru dirinya sendiri yang sedang terjebak oleh permainan yang ia buat?
Ia yang memberikan tantangan. Ia yang meminta Budi datang. Dan sekarang, ketika laki-laki itu benar-benar datang, ia justru tidak bisa menarik kembali ucapannya.
“Papa kenapa?” tanya Jena, pura-pura polos, padahal dalam hati puas melihat ekspresi kesal Papanya. Dulu Papanya menikahi LC, dan sekarang ia menikahi penjual roti bakar, impas kan.
“Tidak apa-apa.”
“Kelihatannya seperti orang habis kena masalah.”
“JENA!" Andika melotot.
Jena tertawa kecil. Ia sangat menikmati ekspresi gelisah di wajah Papanya.
“Bukankah Papa sendiri yang menyuruh Budi datang melamar?”
Pak Andika diam.
“Jadi besok jangan sampai ada penolakan.”
Pak Andika menatap putrinya tajam.
Jena membalas tatapan itu tanpa gentar.
“Kalau besok Papa menolak,” lanjut Jena, “Berarti Papa sendiri yang mengingkari ucapan Papa. Jangan pernah menyuruh aku menikah lagi, jika pilihanku, Papa sendiri yang menolak. Ingat Pah, jangan pernah nyuruh aku nikah lagi, titik!"
Jena tak peduli besok lamaran Budi akan ditolak atau tidak, karena apapun itu, dia tetap memang.
“Jangan mengamcam Papa."
"Siapa yang mengancam, aku cuma ngasih tahu. Aku sudah menentukan pilihan, aku sudah mau nikah. Jadi keputusan ada di tangan Papa."
Pak Andika mengepalkan tangan di bawah meja.
“Aku tunggu besok,” kata Jena ringan. “Jangan membuat malu Budi dan Ibunya malu. Besok, Budi akan datang bersama Ibunya."
Setelah mengatakan itu, Jena berbalik dan meninggalkan ruangan.
Pintu tertutup.
Naura yang sejak tadi hanya diam akhirnya mengangkat kepalanya.
“Pa.”
Pak Andika menghela napas panjang. “Apa?”
“Kak Jena mau menikah?”
Pak Andika menatap pintu yang baru saja ditutup Jena.
“Hem." Ia sendiri belum yakin. Memikirkan punya menantu penjual roti bakar, ia sudah malu. Tapi kalau Jena tak mau menikah seumur hidup karena pilihananya ditolak, Asri akan terus menyalahkannya. Apalagi ia sendiri yang sudah menantang Budi untuk datang melamar. Sial, ia terjebak.
“Serius?”
“Iya.”
“Besok?”
“Bukan menikahnya. Besok orangnya datang melamar.”
Naura mengernyit. “Namanya...Budi?”
Pak Andika mengangguk. “Iya. Budi.”
Naura terdiam.
Budi? Nama itu terasa begitu familiar. Apa mungkin, itu Budi yang sama dengan yang ia kenal? Ah, sepertinya tak mungkin, mana mungkin Jena mau menikah dengan penjual roti bakar pinggir jalan. Kakak tirinya itu sangat sombong, mustahil mau dengan penjual roti bakar. Pasti Budi yang lain. Ada ratusan nama Budi di Indonesia, bahkan nama gurunya di sekolah juga Budi.
Naura menggeleng pelan. Ia yakin, itu Budi yang lain. Ia kemudian teringat sesuatu.
“Pa, bukannya besok kita mau ke vila?”
Pak Andika baru teringat rencana tersebut.
Ia menatap Naura dengan rasa bersalah. “Kita tunda. Papa harus pulang ke rumah Kak Jena besok."
Naura mengangguk kecil. “Ya sudah.”
Anehnya, tidak ada kekecewaan di wajahnya. Justru diam-diam ia merasa lega. Yang punya ide liburan ke vila sebenarnya adalah Mamanya. Naura sendiri tidak terlalu keberatan kalau rencana itu diundur.
Malah ada satu keuntungan besar. Kalau besok malam Papanya tidak pulang, ia bisa keluar rumah tanpa harus takut dimarahi.
Naura tersenyum kecil. Berarti aku bisa ke sana. Ke lapak Kak Budi. Menemaninya berjualan sampai malam.
Sementara itu, Pak Andika masih duduk termenung di kursinya. Ia masih memikirkan besok akan menerima atau menolak lamaran Budi.
tidak bisa pegang pisau apalagi api ya Jena,,,kena jebakan sendiri tapi tidak apa-apa Jena kan namanya juga usaha
sukur sukur kepakai paling juga Ibu nya Budi tau kalau Kamu pasti ga bisa masak
tapi siapa tau malah bisa masak secara otodidak 😂
bantu dagang mungkin saja Naura suka dengan Budiman,,, waduhhh Jangan jangan nantii di rebut sama Naura Budiman ada ipar pELaKoR maut 🥺 soalnya Naura juga suka dengan Budi tapi Budiman sudah naksir Jena sejak lama,,,,dan juga heran ke naapa pak Andika kaget merasa kejebak,,, atau ada filing,,, pokonya apapun jalan nya harus terlaksana agar Andika tidak menjodohkan
Jena terus menerus,,,siap ya Jen ketemuan camer ,,,