Indonesia
NovelToon NovelToon
Senja Untuk Cahaya

Senja Untuk Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romantis
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kapan Nyusul

Minggu kedua liburan semester, keluarga besar Cahaya mengadakan syukuran kecil di rumah mereka, alasan resminya adalah ulang tahun pernikahan orang tua Cahaya yang ke dua puluh tiga, tapi alasan sebenarnya, menurut Cahaya sendiri, adalah karena tantenya dari Bandung baru datang dan ibunya butuh alasan untuk masak besar-besaran.

"Kamu sama keluarga kamu dateng ya," katanya, waktu mampir ke rumahku Sabtu pagi, masih pakai daster rumah dengan rambut diikat asal ke atas. "Mama udah masak rendang dari kemarin malem. Sayang kalo enggak ada yang bantu ngabisin."

"Jam berapa?"

"Sore, jam lima. Enggak usah bawa apa-apa, dateng aja."

Ibuku, yang kebetulan dengar dari dapur, langsung menjawab dari sana tanpa perlu ditanya dua kali. "Iya, kita dateng. Bilang ke Bu Ratna, ibu bawa puding buat penutup."

"Sipp," kata Cahaya, sambil mencuri satu potong kerupuk dari toples di meja makan kami, kebiasaan yang sudah berlangsung sejak entah kapan dan tidak pernah dipermasalahkan siapa pun di keluargaku. "Aku balik dulu, masih bantuin masak."

Aku menghabiskan sisa siang itu dengan cara yang biasa, membaca beberapa chapter manga yang tertunda, membalas beberapa pesan di grup PKKMB yang sudah mulai sepi sejak liburan dimulai, dan sesekali melirik jam, menghitung berapa jam lagi sampai jam lima sore.

Tidak ada alasan khusus untuk menghitung jam itu. Cuma kebiasaan.

Rumah keluarga Cahaya, waktu kami sampai jam lima kurang sepuluh, sudah ramai.

Bukan ramai yang berlebihan, tapi ramai yang khas acara keluarga menengah, sekitar lima belas sampai dua puluh orang tersebar di ruang tamu dan halaman depan yang sudah dipasangi tenda kecil biru putih, meja-meja lipat disusun berjajar, dan aroma rendang serta sambal goreng ati sudah tercium dari gerbang.

Aku mengenal hampir semua orang di sana, karena keluarga kami memang sudah dekat sejak lama, saking dekatnya beberapa dari mereka memanggilku dengan sebutan yang biasanya khusus untuk keponakan sendiri. Om Yusuf, ayah Cahaya, langsung menepuk pundakku begitu aku masuk.

"Rendy! Makin tinggi aja kamu."

"Masih sama kayak bulan lalu, Om."

"Perasaan Om aja kali ya." Dia tertawa, lalu menoleh ke arah ibuku yang baru turun dari motor sambil membawa wadah puding. "Bu Wulan, sini, sini, taruh di meja belakang aja."

Ibuku dan ayahku langsung berbaur ke kerumunan keluarga besar Cahaya dengan lancar, seperti biasa, karena memang sudah bertahun-tahun jadi bagian dari lingkaran itu, sementara aku mencari tempat duduk yang cukup di pinggir untuk tidak terlalu terlibat obrolan orang dewasa tapi cukup dekat untuk tetap sopan.

Cahaya keluar dari dapur beberapa menit kemudian, membawa nampan berisi gelas-gelas es teh manis, sudah ganti baju dari daster ke kaos dan celana pendek biasa, rambutnya masih diikat sama seperti tadi pagi.

"Ren, bantuin bagiin ini ke meja sana," katanya, menyerahkan setengah nampan.

Aku menerima, dan kami berdua berkeliling membagikan es teh ke meja-meja, aku ke arah kiri, dia ke arah kanan, bertemu lagi di tengah setelah selesai.

"Tante dari Bandung mana?" tanyaku, mengingat cerita tadi pagi.

"Tante Sri. Itu, yang lagi ngobrol sama mama, baju kuning."

Aku melihat ke arah yang ditunjuk. Seorang perempuan setengah baya, sekitar umur lima puluhan, dengan gaya bicara yang bahkan dari jarak sepuluh meter sudah terlihat penuh energi, tangan bergerak-gerak sambil bicara, sesekali tertawa keras yang terdengar sampai ke tempat kami berdiri.

"Kelihatan seru orangnya," kataku.

"Seru sih. Cuma..." Cahaya menggigit bibir sebentar, ekspresi yang biasanya muncul kalau dia sedang mempertimbangkan sesuatu. "Dia agak, gimana ya, blak-blakan banget. Kadang suka nanya hal-hal yang bikin canggung."

"Contohnya?"

"Nanti juga kamu ngerti sendiri," katanya, sambil tersenyum kecil, dan aku tidak begitu memikirkan kalimat itu lebih jauh karena saat itu juga ibu Cahaya memanggil dari dapur, minta bantuan mengangkat panci besar.

Acara berlangsung dengan pola yang khas acara keluarga: sambutan singkat dari Om Yusuf soal syukuran dua puluh tiga tahun pernikahan, doa bersama, lalu makan, dan setelah makan, obrolan menyebar ke berbagai kelompok kecil sesuai minat masing-masing.

Aku duduk di meja yang isinya campuran, beberapa sepupu Cahaya yang seumuran denganku, dua anak tetangga yang juga diundang, dan Bimo yang ternyata juga diundang karena entah bagaimana caranya sudah kenal dengan salah satu sepupu Cahaya dari organisasi kampus yang sama.

"Dunia emang sempit," kata Bimo, waktu aku terkejut melihatnya di sana. "Gita ini temen SMA aku, ternyata sepupuan sama Cahaya."

Gita, sepupu yang dimaksud, mengangguk sambil tersenyum. "Iya, kadang emang suka ketemu orang yang enggak disangka-sangka."

Obrolan di meja itu berjalan santai, soal kuliah, soal rencana liburan, soal drama keluarga ringan yang biasanya jadi bahan obrolan setiap acara kumpul, dan aku cukup menikmati posisi itu, cukup terlibat tanpa harus jadi pusat perhatian.

Sampai Tante Sri, entah dari mana datangnya, menarik kursi kosong di sebelahku dan duduk dengan gerakan yang cukup mengejutkan sampai gelas es tehku hampir tumpah.

"Kamu ini Rendy ya?" tanyanya, langsung, tanpa basa-basi perkenalan lebih dulu.

"Iya, Tante."

"Yang temenan sama Cahaya dari kecil itu?"

"Iya, Tante."

Tante Sri menatapku lama, dari atas ke bawah, dengan cara yang membuatku merasa sedang dinilai untuk sesuatu yang aku tidak sepenuhnya paham, lalu tersenyum lebar, senyum yang entah kenapa membuat firasatku langsung tidak enak.

"Ganteng juga ya kamu ternyata," katanya, ke arahku, lalu menoleh ke meja lain di mana Cahaya sedang duduk bersama beberapa tante lain. "Cahaya! Sini deh!"

Cahaya menoleh, dan begitu melihat siapa yang memanggil, ekspresinya berubah jadi sesuatu yang aku kenali sebagai firasat buruk yang sama dengan yang aku rasakan.

"Ada apa, Tante?" tanyanya, mendekat dengan langkah yang, kalau diperhatikan baik-baik, sedikit lebih lambat dari biasanya, seperti berharap ada alasan untuk berbalik arah.

"Sini duduk sini." Tante Sri menepuk kursi di sisi lain, dan Cahaya, dengan enggan, duduk. "Tante baru ngobrol sama Rendy nih. Ganteng ya sekarang, beda banget sama waktu kecil dulu yang kata mamamu ompong depan."

"Tante!"

Meja itu, yang tadinya berisi obrolan santai soal kuliah dan drama keluarga, perlahan mulai memberikan perhatian penuh ke arah kami, dengan cara yang tidak terlalu halus.

"Kalian ini," lanjut Tante Sri, menatap bergantian ke aku dan Cahaya, "dari kecil udah deket banget kan? Tante denger sih dari mamanya Cahaya, katanya kalian tuh kayak enggak terpisahin."

"Kita temenan aja, Tante," jawab Cahaya, cepat, terlalu cepat.

"Temenan doang?" Tante Sri mengangkat alis, ekspresi yang jelas tidak sepenuhnya percaya. "Jarang-jarang lho ada temenan yang sedeket itu sampe segede ini. Biasanya kalo udah gede gini, salah satu pasti mulai naksir."

Aku merasa telingaku memanas, dan aku memilih menatap gelas es tehku sendiri dengan perhatian yang jauh lebih besar dari yang sebenarnya diperlukan.

"Enggak ada yang naksir kok, Tante," kata Cahaya, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasa. "Kita beneran cuma temen."

"Yakin?" Tante Sri menoleh ke arahku, dan aku merasakan seluruh meja, termasuk Bimo yang sekarang tersenyum dengan cara yang sangat tidak membantu, menunggu jawabanku. "Rendy, kamu yakin enggak ada perasaan apa-apa sama Cahaya?"

"Kita, eh, kita temen dari TK, Tante," jawabku, dengan suara yang aku sendiri dengar terlalu kaku untuk terdengar meyakinkan. "Jadi ya, kayak keluarga sendiri lah."

"Nah itu dia," Tante Sri menunjuk ke arahku dengan sendoknya, seperti baru saja membuktikan sesuatu. "Kayak keluarga sendiri. Padahal kalian enggak ada hubungan darah sama sekali. Itu tandanya udah sedeket apa coba."

"Tante, itu bukan..." Cahaya mencoba menyela, tapi Tante Sri sudah keburu melanjutkan.

"Dulu Tante juga gitu sama almarhum suami Tante. Temenan dari SD, semua orang bilang kita kayak sodara, eh taunya pas SMA baru sadar, ternyata bukan perasaan sodara yang kita punya."

Meja itu meledak tawa kecil, sebagian besar dari sepupu-sepupu Cahaya yang jelas menikmati momen ini lebih dari yang seharusnya, dan aku merasa wajahku sudah pasti merah sekarang, meski aku tidak berani mengecek dengan menyentuhnya di depan orang banyak.

"Tante ini lho," kata Cahaya, mencoba tertawa untuk menutupi kecanggungan, "suka bikin orang salah paham."

"Salah paham dari mana?" Tante Sri tidak menyerah. "Coba deh, kalian jujur aja, kapan sih rencananya jadian?"

"TANTE ENGGAK ADA RENCANA JADIAN APA-APA," kata Cahaya, dengan volume yang membuat beberapa orang di meja sebelah ikut menoleh.

Aku, sepanjang percakapan itu, berusaha keras untuk menemukan sesuatu yang bisa dikatakan yang tidak akan memperburuk situasi, tapi setiap kalimat yang muncul di kepalaku terasa lebih buruk dari diam saja.

Ibu Cahaya, untungnya, muncul tepat waktu, membawa piring berisi rendang tambahan, dan entah sengaja atau tidak, berhasil mengalihkan perhatian Tante Sri ke topik lain.

"Mbak Sri, ini coba rendangnya, tadi katanya kurang pedes ya?"

"Oh iya, mana, mana." Tante Sri langsung teralihkan, mengambil piring itu dengan antusias yang sama besarnya dengan antusiasnya membahas topik jodoh tadi, dan untuk sementara, tekanan di meja itu mereda.

Cahaya menatapku, dengan ekspresi campuran antara lega dan masih malu, dan aku membalas tatapan itu dengan ekspresi yang aku harap menyampaikan pesan yang sama: itu tadi menyeramkan.

"Sori," bisiknya, waktu Tante Sri sudah sibuk dengan rendangnya. "Tante emang suka gitu. Enggak ada maksud jahat, cuma dia enggak punya rem kalo udah mulai."

"Enggak apa-apa," bisikku balik. "Cuma agak... kaget aja."

"Aku juga." Dia menghela napas, mengusap wajahnya sebentar. "Tiap kumpul keluarga pasti ada aja yang nanya-nanya kayak gitu. Biasanya sih enggak separah ini."

Bimo, yang duduk di seberang, masih menahan senyum, dan begitu Cahaya sudah kembali agak tenang, dia berbisik ke arahku, cukup pelan untuk tidak terdengar orang lain.

"Itu tante paling jujur yang pernah aku denger seumur hidup."

"Diem, Bimo."

"Aku serius, Ren. Dia cuma ngomong apa yang orang lain udah pikirin tapi enggak berani bilang."

Aku tidak menjawab itu, karena aku tidak yakin harus setuju atau membantah, dan sisa waktu makan berlanjut dengan topik yang, untungnya, lebih aman: rencana liburan keluarga besar tahun depan, gosip soal sepupu yang baru menikah, dan keluhan Om Yusuf soal harga bensin yang naik lagi.

Setelah makan, acara bergeser ke sesi foto keluarga, dan di sinilah Tante Sri, yang rupanya belum sepenuhnya puas dengan pembahasan tadi, kembali menyerang dari sudut yang berbeda.

"Rendy, Cahaya, sini foto bareng," panggilnya, dari dekat kamera yang dipegang salah satu sepupu.

"Kita udah difoto tadi, Tante," kata Cahaya, mencoba menghindar.

"Itu foto keluarga besar. Ini foto kalian berdua doang."

"Buat apa foto berdua doang?"

"Buat kenang-kenangan lah. Siapa tau kapan-kapan berguna." Tante Sri sudah mendorong kami berdua ke posisi yang dia inginkan, di depan pagar rumah yang dihiasi bunga kertas untuk dekorasi acara, dan aku tidak menemukan cara sopan untuk menolak tanpa membuat keributan lebih besar dari yang sudah ada.

Kami berdiri berdampingan, dengan jarak yang canggung, tidak terlalu dekat tapi juga tidak terlalu jauh, dan sepupu yang memegang kamera menyuruh kami senyum.

"Deketan dikit dong," kata Tante Sri, dari samping. "Ini bukan foto formal kantor."

"Tante," protes Cahaya, tapi tetap bergeser sedikit lebih dekat, bahu kami hampir bersentuhan sekarang.

Kamera berbunyi beberapa kali, dan setiap kali, Tante Sri memberi instruksi tambahan, "senyum yang natural," "jangan kaku gitu," "pegangan tangan enggak papa kok," yang membuat wajahku semakin panas setiap detiknya, dan aku bisa merasakan Cahaya di sebelahku juga semakin kaku, meski tetap berusaha tersenyum untuk kamera.

Setelah sesi foto itu, akhirnya, selesai, kami berdua mundur beberapa langkah, mencari jarak aman dari Tante Sri yang sudah beralih fokus ke sepupu lain yang kebetulan datang bersama pacarnya.

"Tante kamu emang selalu kayak gitu?" tanyaku, waktu kami sudah cukup jauh, duduk di kursi plastik di pojok halaman yang lebih sepi.

"Enggak selalu," jawab Cahaya, menghela napas panjang. "Tapi kalo lagi kumpul rame gini, dia suka lepas kendali. Tahun lalu dia nanya hal yang sama ke sepupuku yang lain, sampe orangnya beneran salah tingkah di depan gebetannya."

"Berarti ini bukan yang pertama."

"Bukan." Cahaya menyandarkan punggung ke kursi, menatap ke arah tenda yang masih ramai obrolan orang dewasa. "Cuma biasanya enggak diarahin ke aku langsung sekonkret ini."

Aku memikirkan kalimat itu sebentar, mencoba mencari respons yang tepat, tapi yang keluar justru pertanyaan yang, begitu terucap, aku sadar mungkin tidak seharusnya aku tanyakan di momen seperti ini.

"Kamu risih ya ditanya-tanya gitu?"

Cahaya menoleh, menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca, campuran antara terkejut dengan pertanyaan itu dan mempertimbangkan jawaban yang tepat.

"Enggak risih," katanya akhirnya, pelan. "Cuma... enggak tau, jadi kepikiran aja."

"Kepikiran apa?"

"Enggak tau, Ren." Dia menggeleng, seperti mengusir pikiran yang baru saja muncul. "Lupain aja. Tante emang suka bikin orang mikir yang enggak-enggak."

Aku tidak mendesak lebih jauh, meski ada bagian dari diriku yang ingin tahu apa sebenarnya yang "kepikiran" itu, karena caranya menjawab terasa seperti dia sengaja menutup topik itu lebih cepat dari yang seharusnya.

Orang tuaku, yang sepertinya sempat mendengar sebagian keributan tadi dari meja mereka, membahasnya lagi di perjalanan pulang, jam sembilan malam, dengan cara yang lebih halus tapi tidak kalah membuat aku ingin menghilang.

"Tadi lucu ya, si Tante Sri," kata ibuku, dari kursi depan motor, sambil aku duduk di belakang.

"Lucu gimana?" tanyaku, berpura-pura tidak tahu maksudnya.

"Ya itu, nanya-nanya soal kamu sama Cahaya." Ibuku tertawa kecil. "Padahal ibu juga sering mikir gitu sih, sejujurnya."

"Mikir apa?"

"Ya... kalian kan emang deket banget dari kecil. Ibu sama Bu Ratna aja suka ngobrolin, 'coba ya kalo mereka jadian, enak juga, udah kenal keluarga masing-masing.'"

Aku merasa lehernya kaku mendengar itu. "Ibu, itu... kita enggak kayak gitu."

"Ibu enggak maksa kok," katanya, masih dengan nada santai seolah topik ini seringan membahas menu makan malam. "Cuma bilang aja, kalo emang suatu saat kalian ngerasa lebih dari temen, ibu enggak akan kaget."

"Ma."

"Iya iya, ibu diem." Dia tertawa lagi, dan untungnya tidak melanjutkan topik itu lebih jauh, meski kalimatnya tetap menempel di kepalaku sepanjang sisa perjalanan pulang, bercampur dengan komentar-komentar Tante Sri tadi yang belum sepenuhnya hilang dari ingatan.

Malam itu, seperti biasa, chat dengan Cahaya masuk sekitar jam setengah sepuluh, lebih lambat dari biasanya karena mungkin dia masih membereskan sisa acara di rumahnya.

"Ren, kamu masih hidup enggak setelah kejadian tadi."

"Masih. Tapi trauma."

"Sama. Aku sampe sekarang masih mikirin muka mama pas denger Tante Sri nanya kapan kita jadian."

"Muka Mama kamu gimana?"

"Dia cuma senyum-senyum enggak jelas. Enggak bantu sama sekali."

Aku tertawa kecil, membaca pesan itu, sebelum akhirnya mengetik pesan berikutnya, mempertimbangkan apakah harus cerita soal komentar ibuku di motor tadi.

"Mama aku juga komentar pas pulang."

"Komentar apa?"

"Katanya dia enggak akan kaget kalo kita jadian suatu hari."

Jeda cukup lama sebelum balasan berikutnya masuk, lebih lama dari yang biasa untuk pesan sesantai itu.

"Oh."

Hanya itu. Satu kata, tanpa lanjutan, tanpa emoji atau stiker yang biasa menyertai responsnya.

Aku menatap layar itu, bingung harus membalas apa, dan akhirnya memilih untuk melanjutkan dengan nada ringan, berharap bisa mengembalikan suasana seperti biasa.

"Aneh ya, semua orang tiba-tiba kompakan ngomongin itu."

"Iya. Aneh."

"Kamu oke?"

"Oke kok. Cuma capek abis acara tadi."

"Istirahat ya."

"Iya. Malem, Ren."

Tidak ada stiker kucing yang biasa menutup percakapan malam kami. Cuma kalimat singkat itu, dan aku menatap layar ponsel beberapa detik lebih lama, mencoba mencari tahu apakah ada yang berbeda dari nada percakapan ini dibanding malam-malam biasanya, sebelum akhirnya meletakkan ponsel dan mematikan lampu.

Aku tidak langsung tidur.

Kejadian sore tadi berputar lagi di kepalaku, dari Tante Sri yang menarik kursi tanpa aba-aba, sampai sesi foto yang dipaksakan, sampai komentar ibuku di motor yang entah kenapa terasa lebih berat dari yang seharusnya untuk sekadar candaan orang tua.

Aku memikirkan pertanyaan Tante Sri, apakah aku yakin tidak ada perasaan apa-apa ke Cahaya, dan jawaban yang keluar dari mulutku waktu itu, tentang "kayak keluarga sendiri," yang terasa aman untuk diucapkan di depan orang banyak tapi, sekarang, di kamar yang gelap dan sunyi, terasa seperti jawaban yang tidak sepenuhnya jujur.

Bukan karena aku berbohong secara sadar. Lebih karena aku tidak sepenuhnya tahu apa jawaban yang jujur itu, dan "keluarga sendiri" adalah kalimat paling dekat yang bisa aku temukan tanpa harus menyelidiki lebih jauh ke area yang, entah kenapa, terasa berisiko untuk disentuh.

Aku memikirkan juga jawaban singkat Cahaya tadi, "oh," tanpa lanjutan, tanpa candaan seperti biasa, dan bagaimana itu berbeda dari responsnya yang biasa penuh emoji atau kalimat panjang yang sering melenceng ke topik lain.

Apakah dia memikirkan hal yang sama denganku sekarang? Atau apakah "oh" itu cuma tanda kelelahan biasa setelah hari yang panjang, tanpa makna lain di baliknya?

Aku tidak tahu jawabannya, dan semakin aku mencoba mencari, semakin banyak pertanyaan baru yang muncul, alih-alih jawaban.

Yang aku tahu pasti, malam itu, adalah bahwa kalimat-kalimat yang tadinya terasa seperti candaan ringan, "kapan jadian," "kayak keluarga sendiri, padahal enggak ada hubungan darah," "ibu enggak akan kaget kalo kalian jadian," semuanya menempel dengan cara yang berbeda dari candaan-candaan serupa yang pernah aku dengar sebelumnya.

Mungkin karena diucapkan berkali-kali dalam satu hari, dari orang yang berbeda-beda, sampai terasa seperti kebetulan yang terlalu banyak untuk diabaikan begitu saja.

Atau mungkin karena, entah kenapa, kalimat-kalimat itu tidak lagi terasa sepenuhnya seperti sesuatu yang bisa aku tertawakan dan lupakan begitu saja, seperti yang biasa aku lakukan dengan kebanyakan komentar orang dewasa soal hidup sosialku.

Aku menutup mata, mencoba mengusir pikiran itu, tapi butuh waktu jauh lebih lama dari biasanya sebelum akhirnya benar-benar tertidur, dengan kalimat terakhir Cahaya, "iya, malem, Ren," yang terasa lebih singkat dan lebih dingin dari versi biasanya, masih terngiang di kepala.

1
Pena Quality
up, saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!