Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:256.2k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat Reatha diam-diam pergi. Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Puluh Dua

Pagi itu, rumah Azka yang biasanya tenang mendadak dikejutkan oleh suara pintu depan yang dibuka cukup keras. Reatha yang sedang berada di dapur langsung menoleh.

Ia baru saja selesai membuat sarapan ketika suara langkah kaki terdengar semakin mendekat.

“Azka!” teriak orang itu.

Suara itu membuat tangan Reatha berhenti bergerak. Vania. Reatha menarik napas panjang.

Ia sebenarnya sudah menduga wanita itu akan datang setelah percakapan telepon semalam. Namun ia tidak menyangka Vania akan datang sepagi ini.

“Azka!” Vania kembali memanggil.

Reatha segera keluar dari dapur. “Vania ...," ucapnya.

Wanita itu langsung menoleh. Tatapan Vania terlihat tajam.

“Mana Azka?” tanya Vania.

“Di kamar.”

“Kenapa semalam kamu yang mengangkat teleponnya?” Kembali Vania bertanya.

Reatha terdiam. “Aku sudah bilang. Azka sedang sakit.”

“Dan kamu ada di kamar bersamanya?” tanya Vania lagi.

Nada Vania meninggi. Reatha mengerutkan kening.

“Dia sakit. Aku cuma menjaganya.”

“Menjaga?” Vania tertawa sinis. “Sejak kapan kamu punya hak untuk menjaga Azka?”

Reatha menahan napas. “Vania, jangan salah paham.”

“Aku enggak salah paham!” Vania melangkah mendekat. “Aku tahu kamu memang menunggu kesempatan seperti ini.”

“Maksud kamu?” tanya Reatha.

“Kamu pura-pura baik. Pura-pura enggak peduli. Padahal sebenarnya kamu ingin merebut Azka dari aku!” seru Vania.

Reatha terdiam. Kalimat itu terasa menyakitkan. Namun sebelum ia sempat menjawab, terdengar suara langkah dari arah tangga. Azka muncul dengan wajah pucat.

Ia mengenakan kaus sederhana dan celana panjang. Rambutnya masih sedikit berantakan. Tubuhnya terlihat lemah.

“Vania …,” panggil Azka pelan.

Vania langsung menoleh. Wajahnya berubah. “Azka.”

Ia segera menghampiri pria itu. “Kamu kenapa? Kenapa semalam enggak bilang kalau kamu sakit?”

Azka memegang pegangan tangga. “Aku cuma demam.”

“Cuma demam?” Vania terlihat kesal. “Aku telepon berkali-kali. Kenapa kamu enggak angkat?”

“Aku tidur.”

“Dengan dia!" tunjuk Vania ke arah Reatha.

Pertanyaan itu membuat suasana mendadak hening. Azka mengerutkan kening.

“Vania.”

“Aku cuma bertanya!”

“Jangan bicara seperti itu," ucap Azka.

Vania menatap Reatha. “Aku berhak tahu.”

Azka menghela napas. “Kamu datang ke sini hanya untuk bertengkar?” tanyanya.

“Aku datang karena aku khawatir," jawab Vania.

“Kalau khawatir, bicara baik-baik.”

“Aku enggak bisa tenang setelah tahu kamu bersama dia!” ujar Vania.

Reatha menundukkan kepala. Ia merasa tidak nyaman.

“Kalau kalian mau bicara, aku bisa pergi ke dapur," ucap Reatha dengan suara lirih.

Namun baru saja Reatha hendak berbalik, Azka memanggil. “Raisa.”

Reatha berhenti. Ia menatap ke arah Azka.

“Jangan pergi," ujar Azka.

Vania langsung menatap Azka. “Kamu masih membelanya?”

Azka menatap Vania dengan wajah lelah. “Dia istriku," jawabnya.

Dua kata itu membuat Reatha terdiam. Begitu pula Vania. Untuk beberapa detik, tidak ada suara apa pun.

Vania mengepalkan tangannya. “Istri?”

Azka mengangguk. “Ya. Raisa istri sahku.”

“Tapi kamu bilang pernikahan ini cuma sementara!”

“Aku tahu.”

“Dan kamu bilang kamu tetap mencintaiku!” seru Vania dengan suara serak.

“Aku masih mencintaimu.”

Jawaban itu membuat mata Vania berkaca-kaca. “Kalau begitu kenapa kamu membelanya?”

Azka menghela napas panjang. “Karena dia tidak melakukan kesalahan apa pun. Jangan pernah libatkan Raisa dalam masalah kita. Dia sudah terlalu banyak mengalah," ucap pria itu.

Vania menggeleng. “Mengalah? Dia tidur di kamar kamu!”

“Karena aku sakit. Ia menjagaku," balas Azka.

“Kamu memeluknya!”

Azka terdiam. Reatha langsung menundukkan wajah.

Vania melanjutkan dengan suara bergetar. “Aku dengar semuamu ditelpon kemarin malam. Aku tahu dia ada di sampingmu.”

Azka memijat pelipisnya. Kepalanya kembali terasa berdenyut. “Vania, aku sedang sakit.”

“Aku juga sakit, Azka!” Suara Vania pecah. “Aku sakit melihat kamu semakin dekat dengannya!”

Azka menatapnya. “Cukup Vania!”

“Tidak! Aku enggak mau cukup!” Vania menangis. “Aku sudah berusaha menerima semuanya. Aku enggak pernah meminta kamu menceraikannya sekarang. Aku bahkan berusaha memahami keadaan kamu.”

Azka diam. Sepertinya terlalu lelah untuk berdebat.

“Tapi sekarang kamu mulai berubah.”

“Aku tidak berubah.”

“Berubah!” Vania menunjuk ke arah Reatha. “Dulu kamu bahkan tidak peduli padanya. Sekarang kamu membelanya di depanku!”

Azka menarik napas dalam-dalam. “Karena kamu sudah keterlaluan.”

Vania membeku. “Apa?”

“Aku bilang kamu sudah keterlaluan. Aku tak suka itu!" seru Azka.

Reatha menatap Azka. Ia tidak pernah melihat pria itu berbicara seperti itu kepada Vania.

“Dia tidak pernah mengganggu hubungan kita,” lanjut Azka. “Dia tidak pernah memaksaku mencintainya. Dia tidak pernah menuntut apa pun dariku.”

Azka menatap Reatha sekilas. “Bahkan ketika aku pergi bersamamu, dia tidak pernah bertanya.”

Vania mengusap air matanya. “Jadi sekarang kamu membandingkan aku dengannya?”

“Bukan itu maksudku.”

“Lalu apa?” tanya Vania.

Azka memejamkan mata sebentar. Kepalanya semakin sakit. “Aku cuma ingin kamu menghargai dia," ucapnya.

Vania tertawa getir dan berkata, “Bagaimana aku bisa menghargai wanita yang mengambil tempatku?”

“Dia tidak mengambil tempatmu.”

“Lalu kenapa kamu terlihat nyaman bersamanya?”

Pertanyaan itu membuat Azka terdiam. Reatha ikut membeku. Ada sesuatu dalam tatapan Azka yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Namun pria itu akhirnya mengalihkan pandangan. “Aku sedang sakit. Aku tidak mau bertengkar.”

Vania kembali mendekat. “Azka .…”

“Pulanglah!" Azka seperti memerintah.

Vania menatapnya tidak percaya. “Apa?”

“Aku bilang pulanglah.”

“Azka .…”

“Aku sedang tidak ingin menerima keributan seperti ini," ujar Azka.

Air mata Vania semakin deras. “Kamu mengusir aku?”

“Iya.” Jawaban Azka begitu tegas. Reatha sampai terdiam.

“Apa ini artinya kamu mulai menerimanya dan mau membuangku?" tanya Vania.

“Bukan.” Azka menatap Vania. “Karena kamu datang ke rumahku untuk marah-marah ketika aku sedang sakit.”

Vania menggigit bibir. “Jadi sekarang aku tidak penting?”

Azka tidak langsung menjawab. Hening beberapa detik.

“Kamu penting.”

Vania berharap mendengar sesuatu yang lebih. Namun Azka melanjutkan.

“Tapi bukan berarti kamu boleh memperlakukan istriku sesukamu," ucap Azka.

Kata-kata itu menghantam Vania lebih keras daripada bentakan. Istriku. Sekali lagi Azka menyebut Reatha sebagai istrinya.

Vania menggeleng pelan. “Aku benar-benar enggak percaya, kamu bilang tak berubah, tapi kamu membelanya."

Azka tidak menjawab.

“Baik,” ucap Vania akhirnya sambil menghapus air matanya. “Aku pergi.”

Ia berbalik dan berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, Vania berhenti.

Ia menoleh. “Azka.”

“Hm?”

“Aku mau ke kuburan Bang Beni. Kamu sudah mulai lupa janjimu," ucap Vania. Setelah mengatakan itu, Vania membuka pintu dan pergi.

Vania berhenti di halaman rumah. Memandang ke arah pintu. Berharap Azka mengejarnya dan meminta maaf saperti biasanya.

Reatha berdiri beberapa langkah dari Azka. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Sementara Azka masih berdiri di dekat tangga dengan wajah pucat. Beberapa detik kemudian, tubuhnya sedikit oleng.

“Azka!” Reatha segera berlari menghampiri dan memegang lengannya.

“Kamu enggak apa-apa?” tanya Reatha.

Azka menggeleng. “Kepalaku pusing.”

Reatha langsung panik. “Ya ampun, kamu itu masih sakit malah turun ke bawah.”

Ia membantu Azka duduk di sofa. “Duduk dulu.”

Azka menurut. Reatha mengambil segelas air. “Minum.”

Azka menerima gelas itu. Namun sebelum meminumnya, ia menatap Reatha.

“Maaf ...," ucap Azka dengan suara lirih.

Reatha mengerutkan kening. “Untuk apa?”

“Karena kamu harus mendengar semua itu.”

Reatha tersenyum kecil. “Enggak apa-apa," balasnya.

Reatha lalu duduk di samping Azka. “Aku sudah biasa dianggap bukan siapa-siapa," ucap gadis itu selanjutnya.

Azka terdiam. Entah kenapa kalimat itu justru membuat hatinya terasa sesak. Selama ini ia selalu menganggap Raisa hanya istri di atas kertas. Terpaksa menikahi hanya karena desakan orang tuanya.

Namun pagi ini, untuk pertama kalinya ia menyadari satu hal. Ketika Vania marah, ia ingin Raisa tetap tinggal.

Ketika Vania menyerang, ia membela Raisa. Dan saat gadis itu mengatakan dirinya terbiasa dianggap bukan siapa-siapa…

Azka justru ingin mengatakan bahwa mulai sekarang, wanita itu bukan lagi siapa-siapa. Raisa adalah istrinya. Dan perlahan, ia mulai takut jika suatu hari nanti wanita itu benar-benar pergi meninggalkannya.

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Naufal Affiq
kamu wanita yang baik rea,jadi sudah sewajar nya kamu mendapatkan kasih sayang yang utuh dari mama mertua mu,kalau masalah orang tua mu gak usah kau dengar kan rea,anggap aja angin lalu
Sri Supriatin
ikut seneng buat Azka sm Reatha 👍👍😍😍
Teh Euis Tea
semoga secepatnya kalian menikah dan ortunta reatha ga bikin drama yg menyalahkan reatha lg
Patrick Khan
akhirnya. 👏👏👏👏rea azka bersatu
.kawal sampai sahh
Teh Euis Tea
achhhh meleleh hati ade bang 🤣🤣🤣🤣🤣
Cicih Sophiana
jgn bilang klo orang tua mu akan menjegal pernikahan kamu Reatha... seandai nya iya kamu harus bisa melawan jgn cuma nangis atau mengalah..
Patrick Khan: siap siap demo aja kak.
klo sampai emaknya rea ngereog🔨🔨🔨
total 1 replies
Cicih Sophiana
wadau so sweet deh kalian... terus lah bahagia untuk kalian... klo ada cobaan pun kalian tetap bergandengan tangan jgn lepas kan... pasti ujian yg lebih berat lg akan datang
vania larasati
lanjut kak
Sri Angga
davidd patah hati donk
ken darsihk
Saat nya bahagia 👏👏👏
Nar Sih
kira,,gimana reaksi org tua mu ya reatha klau kmu dtg minta restu mereka ,
Sri Supriatin
Air mataku bombay, pasti ortunya Azka seneng banget 👍👍🙏🙏🙏
Novita Sari
setelah ini..muncul vania
Nar Sih
alhamdulilah lamaran diterima wah...ikutan seneng nih dgn azka dan reatha
Naufal Affiq
Romantis banget kamu azka,cepetan nikahin reatha azka,sebelum di ambil orang
Lusi Hariyani
akhir y perjuanganmu berhasil aska
Eka ELissa
Ahir nya rea ktmu orang yg cinta dgn nya secara ugal ugalan...♥️♥️♥️♥️
tinggal Risa nih ksian yg mengenaskan.....🤦
Apriyanti
Alhamdulillah di terima Azka semoga lancar sampe hari h nya
Linda Ayu Tong-Tong
aaaa meleleh..tp kak itu si azka ceraiin dlu npa yg sah secara negara sama raisa...gmn ya konsepnya aduh gk tau dah pokoknya selesain dlu urusan pernikahannnya sma raisa dlua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!