Indonesia
NovelToon NovelToon
Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.

Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.

Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.

Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.

Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32

Kotak Jarum di Ruang Jaga

Pukul delapan malam, Amaya akhirnya menutup buku penerimaan terakhir.

Lehernya kaku. Kedua kaki terasa berat setelah tiga belas jam berpindah antara rak sampel, komputer unit, dan ruang arsip.

Sebagian besar peneliti sudah pulang. Lampu laboratorium dimatikan per bagian, menyisakan meja Amaya dan dua petugas jaga di ruang belakang.

Hari pertama menghasilkan empat puluh tujuh baris terverifikasi. Sembilan data hijau tetap dipertahankan. Dua belas data kuning mendapatkan jalur bukti baru. Enam baris merah harus dikeluarkan karena bahan melewati batas stabilitas, sedangkan sisanya menunggu log alat.

Amaya memeriksa kembali setiap perubahan sebelum menyimpan. Tidak ada angka yang dihapus dari berkas asli. Baris tidak layak tetap terlihat dengan alasan, bukti, nama penilai, dan waktu keputusan.

Enam sampel yang dikeluarkan berasal dari satu hari pengiriman yang sama. Catatan kurir menunjukkan pendingin rusak di tengah perjalanan. Tim lama memasukkan hasilnya karena angka masih berada dalam rentang yang diharapkan, seolah hasil yang terlihat bagus bisa menggantikan proses yang gagal.

Sebastian telah menegaskan sebaliknya. Data bukan dinilai dari apakah hasilnya menyenangkan, tetapi apakah jalannya dapat dipercaya.

Amaya membuat tanda khusus untuk mencari semua sampel pada tanggal tersebut. Satu kerusakan pendingin mungkin memengaruhi lebih banyak baris daripada yang terlihat.

Belum banyak dibandingkan ribuan baris, tetapi untuk pertama kalinya laporan yang kacau itu bergerak ke arah yang bisa dipertanggungjawabkan.

Punggung tangannya memiliki bekas tinta. Telapak kakinya perih karena sepatu kerja yang dipilih untuk kantor, bukan berdiri tiga belas jam. Ia belum terbiasa, tetapi tidak sekali pun meminta pulang lebih cepat.

Pukul tujuh sore, Sebastian sempat lewat dan menyuruhnya berhenti. Amaya meminta satu jam untuk menyelesaikan tanggal pengiriman bermasalah. Pria itu tidak memuji, hanya meletakkan sebotol air di mejanya dan berkata nilainya tidak bertambah karena keras kepala.

Botol tersebut sudah kosong.

Amaya meregangkan bahu dan memeriksa daftar tugas.

Satu hal belum selesai: formulir serah terima akses harian harus ditandatangani pembimbing.

Ia mengirim pesan kepada Sebastian.

`Dokter di mana? Aku butuh tanda tangan.`

Tidak ada jawaban.

Perawat jaga memberi tahu bahwa Sebastian terakhir terlihat menuju ruang jaga setelah memeriksa pasien lantai dua belas.

Amaya memasukkan laptop ke loker, membawa formulir, lalu berjalan menyusuri koridor klinis.

Pada malam hari, rumah sakit memiliki suara berbeda. Langkah kaki lebih jelas. Bunyi monitor dari kamar tertutup terdengar seperti detak yang berpindah-pindah. Aroma disinfektan menjadi lebih tajam karena kantin dan ruang tunggu mulai sepi.

Ia melewati kamar Nayla.

Pintu sedikit terbuka. Bu Lastri duduk di kursi dengan kepala tertunduk, masih memakai jaket pengemudi ojek daring. Nayla sudah tidur, tetapi tangannya mencari sisi bantal yang biasanya ditempati Lulu.

"Mbak Amaya," bisik Bu Lastri ketika melihatnya. "Kelinci Nayla dibawa Dokter Sebastian, ya?"

"Iya. Katanya mau diperbaiki."

"Saya sudah coba jahit berkali-kali, tapi kainnya rapuh. Mudah-mudahan masih bisa."

Bu Lastri menyentuh ujung jaketnya. "Ayahnya beli kelinci itu di pasar malam. Harganya murah, tapi Nayla selalu tidur pakai itu. Setelah bapaknya meninggal, dia nggak mau boneka lain."

"Sudah berapa lama Bu bekerja hari ini?"

"Pagi antar penumpang, siang bersih-bersih rumah orang, malam ke sini. Besok saya jual sarapan dulu."

Tidak ada nada mengeluh. Bu Lastri hanya menjelaskan jadwal seperti seseorang yang tidak punya pilihan untuk lelah.

Amaya memandang tangan perempuan itu. Kulit di jari-jari kasar dan ada bekas tusukan benang. Jahitan pada Lulu bukan jelek karena kurang cinta. Seorang ibu yang kehabisan waktu hanya memperbaiki sebisanya sebelum kembali bekerja.

"Kalau ada kebutuhan selama Nayla dirawat, beri tahu bagian sosial rumah sakit," kata Amaya. "Jangan menunggu sampai kesulitan."

Bu Lastri tersenyum lelah. "Terima kasih, Mbak. Selama operasi anak saya lancar, saya bisa cari jalan lain."

Ada kepercayaan penuh dalam nada perempuan itu. Amaya merasa sedikit bersalah karena sepanjang siang ia menganggap Sebastian mungkin membuang mainan tersebut.

"Nayla bagaimana?"

"Sudah nggak sakit banyak. Tadi masih tanya Lulu sebelum tidur."

"Besok pasti kembali."

Amaya tidak tahu apakah janji itu benar. Ia hanya tidak ingin seorang ibu yang bekerja tiga pekerjaan ikut cemas malam ini.

Ia melanjutkan ke ujung koridor.

Lampu di depan ruang jaga lebih redup. Pintu kayu tidak tertutup rapat, tetapi kaca sempit di bagian atas memperlihatkan sebagian meja di dalam.

Amaya mengangkat tangan untuk mengetuk.

Sebelum buku jarinya menyentuh pintu, ia melihat kepala Sebastian menunduk di balik kaca.

Pria itu masih memakai jas putih. Stetoskop diletakkan di samping laptop, lengan kemejanya digulung, dan kacamata turun sedikit di batang hidung.

Sebuah kotak kecil terbuka di meja.

Kotak jarum.

Lulu terbaring di atas kain steril. Telinga yang putus telah dirapikan, lalu disatukan dengan benang berwarna hampir sama dengan bulunya.

Sebastian menusukkan jarum dengan gerakan canggung.

Ia bukan penjahit. Jarak setiap tusukan tidak seragam. Dua kali benang tersangkut di jarinya. Sekali ujung jarum menusuk kulit hingga ia mengerutkan kening.

Namun ia tidak melepaskan kelinci itu.

Sebastian membuka video singkat di ponsel, memutar cara menguatkan kain lama dengan lapisan dari bagian dalam, lalu mencoba lagi. Tangannya yang mampu membuat jahitan operasi rapi ternyata harus belajar ulang ketika berhadapan dengan kain rapuh dan telinga kelinci kecil.

Di layar ponsel terlihat riwayat pencarian: `cara menjahit boneka kain tua`, `memperbaiki telinga boneka tanpa membongkar`, dan `benang aman untuk mainan anak`.

Sebastian rupanya tidak menyerahkan pekerjaan itu kepada orang lain karena ingin memastikan bahan yang menyentuh wajah Nayla aman, mudah dicuci, dan tidak meninggalkan ujung tajam.

Ia memakai sarung jari kecil, membersihkan jarum, lalu memotong benang jauh dari permukaan. Ketelitian klinis dibawa ke benda yang bagi orang lain mungkin sudah pantas masuk tempat sampah.

Benangnya putus pada percobaan pertama. Sebastian mengembuskan napas, membuka kembali dua tusukan, dan mengulang dari awal.

Tidak ada rasa kesal pada kelinci tersebut. Kekesalannya hanya diarahkan pada keterampilannya sendiri.

Ia bekerja lebih pelan daripada saat memegang kulit manusia.

Setiap kali benang ditarik, ia berhenti sebelum kain berkerut. Ia menguji telinga itu dengan ujung jari, memastikan sambungannya kuat tanpa mengubah bentuk lama.

Di sisi meja ada potongan kain yang warnanya sengaja dibuat kusam agar tidak terlihat baru. Sebastian telah mencari bahan penyangga yang tidak akan menghapus bekas jahitan Bu Lastri.

Amaya menurunkan formulir sedikit.

Pria yang siang tadi mengambil Lulu seperti menyita barang kini duduk sendirian setelah jam kerja, belajar menjahit agar seorang anak tidak kehilangan benda terakhir dari ayahnya.

Ia bisa saja membeli kelinci baru. Bisa meminta staf rumah sakit mengirimkannya ke penjahit. Bisa menyerahkan urusan tersebut kepada perawat.

Namun kelinci baru bukan Lulu. Jahitan penjahit mungkin merapikan semua bekas hingga hadiah ayah Nayla berubah menjadi benda lain. Sebastian memahami sesuatu yang bahkan sempat luput dari Amaya: yang perlu diselamatkan bukan hanya bentuk mainannya, tetapi sejarah pada setiap tambalan.

Sebastian memilih melakukannya sendiri.

Tidak ada kamera. Tidak ada pasien atau keluarga yang akan memuji. Bahkan Nayla sudah tidur dan tidak tahu jarum beberapa kali menusuk jari Om Dokter.

Kebaikan tersebut hanya hidup karena tidak ada orang yang melihat.

Amaya merasa sesuatu di dadanya bergeser.

Selama ini ia melihat Sebastian sebagai laki-laki dingin yang menarik, mudah digoda, dan menyimpan hasrat di balik aturan. Sebagian permainan mereka lahir dari keinginannya menaklukkan sesuatu yang sulit.

Pemandangan di balik kaca membuat kemenangan itu mendadak terasa terlalu dangkal.

Ia teringat Sebastian yang mengembalikan foto keluarga di album kepada pusat perhatian, yang menghentikan ciuman saat tubuhnya sempat diam, dan yang sekarang menjahit mainan saat tidak ada orang menonton.

Tiga kejadian itu memiliki garis yang sama. Pria tersebut selalu terlihat paling dingin tepat ketika sedang menjaga sesuatu dengan sangat hati-hati.

Amaya selama ini mengira ingin menaklukkannya.

Untuk pertama kali, ia justru ingin mengenalnya tanpa permainan.

Ada lapisan lain dalam diri pria tersebut. Sisi lembut yang tidak dipamerkan, tidak digunakan untuk membeli rasa terima kasih, dan mungkin bahkan tidak ia akui sebagai kelembutan.

Jantung Amaya melewatkan satu detak.

Ujung jarinya mati rasa. Ia ingin mengetuk, masuk, lalu menertawakan jahitan yang tidak rapi. Ia juga ingin tetap di luar agar momen tersebut tidak pecah.

Sebastian mengangkat Lulu mendekati lampu. Ia memeriksa kedua sisi telinga, lalu tersenyum sangat tipis ketika sambungannya bertahan.

Senyum yang tidak pernah ia berikan kepada tamu pesta, dewan direksi, atau perempuan yang menggodanya.

Senyum itu hanya berlangsung satu detik, tetapi cukup untuk membuat kelelahan Amaya hilang dari kesadaran. Lehernya masih sakit, kakinya masih berat, dan formulir di tangannya tetap membutuhkan tanda tangan. Tak satu pun terasa penting.

Ia akhirnya mengerti mengapa Nayla memanggilnya Om Dokter dengan begitu percaya. Anak-anak mungkin belum memahami gelar atau kekuasaan, tetapi mereka mengenali orang yang akan menjaga benda paling rapuh milik mereka.

Amaya menahan napas.

Tangannya tetap terangkat di depan pintu.

Jika ia mengetuk, Sebastian akan kembali memakai wajah dingin dan menyembunyikan kotak jarum itu. Amaya belum siap kehilangan pemandangan yang baru saja mengubah sesuatu dalam dirinya.

Belum mengetuk.

1
R_Bell
jangan php ya thor. lanjutkan ampe tamat sih. ga mau tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!