Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fin~
Beberapa tahun kemudian, mentari pagi bersinar cerah menyinari kota Evelia, menghangatkan jalanan berbatu di depan kedai keluarga Goto. Suasana di dalam kedai begitu sibuk dan hidup. Aroma kaldu hangat dan roti segar berpadu memanjakan indra penciuman, sementara gelak tawa kecil dan suara piring berderik menciptakan melodi kehidupan sehari-hari yang damai.
Di balik meja bar utama, Miyura—yang kini telah sepenuhnya menerima identitas barunya sebagai Rin—tampak bergerak lincah menyiapkan pesanan. Rambutnya terikat rapi, dan senyum manis menghiasi wajahnya yang kini berseri-seri tanpa bayangan beban masa lalu.
"Pesanan meja tiga segera disusul, ya!" seru Rin dengan suara yang terdengar begitu ceria dan bersemangat, memecah kesibukan pagi itu.
Ibu Goto yang sedang membawa nampan berisi cangkir teh tersenyum hangat melihat menantunya yang begitu bersemangat. "Tenang saja, Rin. Kau tidak perlu terlalu terburu-buru, biarkan Ibu dan Ayah yang membereskan bagian depan ini," ucap Ibu Goto dengan penuh kasih sayang.
Ayah Goto yang berdiri di samping mesin penggiling kopi turut mengangguk sambil tertawa kecil. "Benar, nak. Kau sudah bekerja sangat keras sejak pagi. Periksalah ke atas sebentar, pastikan suamimu itu sudah bangun atau belum. Bisa-bisa dia terlambat lagi ke pos militer."
Rin mengangguk patuh. Ia melepaskan kain lap di tangannya, membersihkan celemeknya sebentar, lalu melangkah ringan menaiki anak tangga menuju kamar tidur mereka di lantai atas.
Sesampainya di kamar, Rin membuka pintu perlahan. Di atas tempat tidur yang luas, Goto—dengan tubuh tegapnya yang kini berseragam militer kerajaan setengah lengkap—tampak masih terlelap menyamping, memeluk bantal guling erat-erat dengan mata terpejam rapat.
Rin terkekeh pelan melihat perangai suaminya yang terkadang mirip anak kecil jika sudah berurusan dengan jam tidur pagi. Ia mendekati tepi ranjang, lalu dengan gemas mencolek-colek pipi pria itu.
"Hei, pemalas... bangun!" bisik Rin gemas sambil mengguncang pelan lengan Goto. "Kau bisa terlambat berangkat ke pos militer kerajaan kalau terus begini. Cepat bangun, matahari sudah tinggi!"
Goto menggeliat malas di balik selimutnya. Ia membuka satu matanya secara perlahan, menatap manik ungunya ke arah sang istri dengan tatapan memelas yang dibuat-buat. Suaranya terdengar serak khas bangun tidur.
"Eungh... sebentar lagi, Rin..." gumam Goto malas, mengeratkan pelukannya pada bantal guling. "Aku terlalu malas hari ini. Rasanya berat sekali ingin beranjak dari kasur... aku masih ingin bermanja-manja dengan Rin."
Rin menghela napas panjang, menepuk pelan dahinya sendiri menghadapi sifat manja suaminya yang hanya dikeluarkan di hadapannya itu. Ia berkacak pinggang kecil dengan senyuman geli di bibirnya.
"Bukannya semalam kau sudah bermanja-manja sepuasnya, Tuan Tentara?" balas Rin dengan nada menggoda. Ia kemudian menunduk sedikit, mengusap lembut perutnya yang kini tampak sedikit membuncit, lalu kembali menatap suaminya. "Lagi pula... kalau nanti anak kita sudah lahir ke dunia ini, kau masih mau bermanja-manja seperti ini juga, hah? Apa kata anak kita nanti kalau ayahnya lebih manja darinya?"
Mendengar ucapan telak tentang anak mereka, Goto seketika terperanjat kecil. Ia membuka kedua matanya lebar-lebar, lalu perlahan-lahan bangun dari posisinya dan duduk bersila di atas ranjang dengan ekspresi pasrah yang jenaka.
"Baiklah, baiklah... kau menang, istriku tercinta," ucap Goto menyerah sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Mana mungkin aku kalah saing dengan anakku sendiri nanti."
Rin yang melihat perubahan sikap suaminya langsung tersenyum manis. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu dengan penuh kasih mengecup pelan pipi Goto.
"Nah, begitu dong. Makanya, cepat bangun dan bersiaplah sebelum Ayah naik ke sini dan menceramahimu," perintah Rin lembut sambil merapikan kerah seragam militer suaminya. "Cepat mandi dan segera berangkat!"
Sementara Rin sibuk merapikan apron dan melayani para pelanggan di lantai bawah dengan senyum cerahnya, suasana hangat kedai keluarga Goto di era Barok akhir itu dipenuhi denting porselen dan aroma teh hitam berempah. Ibu Goto tampak cekatan mengelap meja kayu mahoni yang mengkilap di bawah temaram lampu gantung kuningan berukir, sementara Ayah Goto sibuk menggiling biji kopi di sudut konter, sesekali melempar tawa ringan bersama para warga kota yang datang berkunjung.
Di tengah kesibukan kedai yang riuh harmonis itu, pikiran Goto mendadak melayang jauh. Kesibukan di sekitarnya perlahan memudar, berganti dengan bayangan samar dari masa lalu—sebuah kenangan manis bercampur kepedihan tentang mendiang istri pertamanya, Evelyn, yang merajut hari-hari terakhirnya di tempat tidur kamar atas sebelum ia berpulang selamanya.
Flashback...
Sore itu, cahaya keemasan matahari Barok menyusup lewat jendela kaca patri kamar tidur mereka, memantulkan warna-warni hangat di atas seprai linen putih. Evelyn berbaring lemah, napasnya terdengar satu-satu dengan dada yang kian menipis kekuatannya. Di sisinya, Goto menggenggam jemari pucat istrinya erat-erat, seolah takut jika ia sedikit saja mengendurkan pegangan, wanita itu akan terbang bersama angin.
Evelyn menolehkan kepalanya secara perlahan. Bibirnya yang kering menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang begitu menenangkan, meski sorot matanya menyiratkan kelelahan yang teramat sangat.
"Nee... suamiku tercinta," panggil Evelyn dengan suara lirih, nyaris berbisik di antara keheningan kamar.
Goto mendongak, manik matanya menyembunyikan genangan air mata yang enggan ia tumpahkan. "Ya, Evelyn? Aku di sini. Jangan banyak bicara dulu, istirahatlah..."
Evelyn menggeleng pelan, meremas lembut jari-jari Goto dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Dengarkan aku... waktu ku tidak banyak lagi. Kalau aku sudah meninggal nanti, kau boleh menikah lagi kok... aku tahu persis sifatmu, kau akan merasa kesepian di rumah sebesar ini seorang diri."
Mendengar kalimat itu, dada Goto terasa sesak seketika. Pemuda itu menggeleng keras, rahangnya mengeras menahan gelombang emosi yang menghantam rongga dadanya.
"Jangan bicara hal bodoh seperti itu, Evelyn," tukas Goto dengan suara serak dan bergetar hebat. "Aku tidak akan pernah menikah lagi. Aku akan tetap setia padamu sampai akhir hidupku, dan tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisimu di hatiku."
Evelyn terkekeh pelan, sebuah tawa kecil yang terdengar rapuh namun sarat akan kehangatan khas dirinya. Dengan sisa tenaganya, ia menggunakan tangan bebasnya untuk mengusap pipi suaminya yang kasar.
"Jika begitu nanti kamu akan menua sendirian loh di rumah tua ini," ucap Evelyn dengan nada bercanda yang lembut, mencoba meringankan beban kesedihan di wajah suaminya. "Nanti pasti akan ada wanita lain yang datang kepadamu... dan saat hari itu tiba, kamu harus menunjukkan kasih sayangmu yang sama persis seperti yang kau berikan kepadaku ya... jangan membantah, ini adalah permintaan terakhirku."
Goto tertegun, napasnya tercekat di tenggorokan. Ia menatap manik mata istrinya yang mulai meredup, tak sanggup membantah meski hatinya memberontak mendengar permintaan tersebut.
"Jangan membebaniku dengan permintaan seperti itu..." cicit Goto putus asa, air mata akhirnya lolos menetes di punggung tangan Evelyn.
Evelyn mendekatkan wajahnya perlahan, menyeka air mata suaminya dengan ibu jarinya. "Hiduplah dengan bahagia, Goto... itu saja sudah cukup bagiku."
Kembali ke masa kini...
Lamunan Goto buyar saat sebuah tepukan ringan di bahunya membuyarkan bayangan masa lalu itu. Ia mengerjap, mendapati dirinya masih berdiri di balik tirai dapur kedai, sementara Ayah Goto melintas sambil membawa nampan dan menepuk lengannya ramah.
"Ada apa, nak? Jangan melamun di jam sibuk begini, pelanggan sedang ramai," tegur Ayah Goto dengan senyuman bijak.
Goto mengangguk pelan, menarik napas dalam-dalam untuk menata kembali detak jantungnya. Di lantai bawah, ia bisa mendengar suara tawa riang Rin—wanita luar biasa yang kini telah menjadi pelita baru di hidupnya, memenuhi janji tak terucap masa lalu untuk kembali merajut kebahagiaan di bawah atap rumah yang sama.
Mendengar teguran sang ayah, bibir Goto justru menyunggingkan seulas senyum lebar penuh seringai usil. Alih-alih tampak tertekan atau terburu-buru, pemuda berbadan tegap itu malah menegakkan posisinya dengan gestur santai yang dibuat-buat.
"Ah, kebetulan sekali Ayah menegurku," ucap Goto dengan nada riang yang dibuat-buat antusias. "Sebenarnya, barusan aku mendapat surat perintah tugas mendadak dari komandan pos militer kerajaan untuk siaga di sana seharian ini."
Rin yang baru saja turun dari lantai tangga setelah merapikan kamar langsung menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. Gadis itu menyipitkan matanya, menatap sang suami dengan sebelah alis terangkat penuh curiga.
Ibu Goto yang kebetulan sedang berdiri di dekat mesin kasir langsung menghentikan aktivitasnya, menoleh ke arah anak laki-lakinya dengan tatapan menyelidik.
"Tugas mendadak? Bukankah jadwal pos militer giliranmu baru lusa, Goto?" selidik Ibu Goto dengan nada jenaka, menahan tawanya.
Goto berdehem pelan, berusaha memasang ekspresi seserius mungkin meski binar kebahagiaan karena bisa menghindari pekerjaan kedai terpancar jelas di wajahnya. "Ah, peraturannya berubah, Ibu! Komandan bilang situasi di pos sedang mendesak, jadi aku harus segera berangkat sekarang juga." Ia melirik sekilas ke arah Rin, lalu menambahkan dengan nada riang, "Yah... sayang sekali aku jadi tidak bisa membantu kalian merapikan kedai dan harus merelakan diri bertugas demi negara. Senang sekali... eh, maksudku, sungguh sebuah pengorbanan yang berat!"
Rin menghela napas panjang, kepalanya menggeleng pelan melihat tingkah suaminya yang terang-terangan mencari alasan untuk bolos membantu di kedai keluarga. Dengan kedua tangan berkacak pinggang, Rin menghampiri pria berseragam militer itu.
"Bohong sekali," ujar Rin dengan nada gemas bercampur nada mengejek yang lembut. "Kau hanya ingin mangkir dari tugas mencuci piring dan memotong sayuran di kedai kan, Tuan Tentara?"
"Mana mungkin aku berbohong pada istriku tercinta?" kilah Goto cepat, mencoba membela diri dengan cengiran lebarnya. "Ini murni panggilan tugas negara, Rin. Negara membutuhkan keahlianku!"
Melihat perdebatan kecil pasangan muda itu, Ibu Goto tidak lagi mampu menahan diri. Wanita paruh baya tersebut menutup mulutnya dengan sebelah tangan sambil terkekeh geli melihat kelakuan putranya yang tidak pernah berubah sejak dulu.
"Sudahlah, Rin, biarkan saja anak pemalas itu pergi ke pos militernya daripada dia mengacau di dapur kita," ucap Ibu Goto di sela-sela tawanya yang hangat. "Kalau dia terus di sini, yang ada bahan makanan kedai kita malah habis dimakannya tanpa bekerja."
"Nah, dengar itu kata Ibu! Aku harus segera berangkat sebelum komandanku mencariku," seru Goto girang, lalu dengan cepat mengecup puncak kepala Rin sekilas sebelum berlari kecil mengambil jubah luar dan pedangnya di dekat pintu depan.
Rin kembali menghela napas, meski pada akhirnya sebuah senyuman manis terukir di bibirnya melihat punggung suaminya yang melenggang pergi dengan langkah ringan meninggalkan kedai.
Sinar keemasan senja akhir era Barok merembes lembut melalui kaca jendela kamar lantai atas, memantulkan bayangan hangat di atas lantai kayu mahoni yang mengkilap. Suasana di luar kedai mulai berangsur tenang, menyisakan deru angin sore yang menggoyang dedaunan di sepanjang jalan kota Evelia.
Rin duduk termenung di kursi kayu dekat jendela, mengenakan gaun rumahannya yang longgar untuk menopang kehamilannya yang kian membesar. Di pangkuannya, sebuah buku harian bersampul kulit tua terbuka lebar. Jemarinya yang lentik memegang pena bulu, menari-nari di atas lembaran kertas putih, merangkai kata demi kata untuk mencurahkan isi hatinya hari ini.
Sesekali, Rin menghentikan gerakannya, menoleh ke arah kursi kosong di samping meja kerjanya dengan seulas senyuman paling tulus yang pernah terukir di wajahnya. Di dalam batin dan dunianya yang hangat, ia bisa merasakan kehadiran sosok yang begitu ia rindu—Aragoto, kakak laki-lakinya, seolah-olah pria itu kini berdiri atau duduk diam di sampingnya, mendengarkan setiap cerita kecil tentang kehidupannya yang sekarang.
"Tahu tidak, Kak..." bisik Rin pelan, memulai monolognya dengan suara lirih namun sarat akan kebahagiaan yang meluap-luap. Ia menatap kursi di sebelahnya seolah Aragoto benar-benar berada di sana, mendengarkan dengan saksama. "Hari ini Goto kembali berulah. Tadi pagi, dia beralasan ada tugas mendadak di pos militer hanya karena ingin bolos membantuku dan Ibu di kedai bawah. Padahal aku tahu persis, dia hanya malas menghadapi tumpukan piring kotor dan sayuran yang harus dipotong."
Rin terkekeh pelan, tawanya renyah dan penuh kehangatan, sementara tangannya kembali menuliskan cerita itu ke dalam buku harian.
"Dia benar-benar pria yang kekanak-kanakan terkadang," lanjut Rin dengan nada bicara yang terdengar begitu dimanja dan menyayangi. "Tapi... di balik semua sifat usilnya itu, dia adalah pria paling tulus dan berharga yang kumiliki di dunia ini, Kak. Ibu dan Ayah juga sangat baik kepadaku, memperlakukanku seperti putri kandung mereka sendiri, menghapus semua ketakutan dan rasa bersalah yang dulu sempat meremukkan jiwaku."
Ia mengusap pelan perutnya yang membuncit dengan tangan kirinya, senyum di bibirnya semakin merekah indah.
"Dan sebentar lagi... keluarga kecil ini akan kedatangan satu anggota baru," lanjutnya berbisik, suaranya sedikit bergetar oleh rasa haru yang mendalam. "Aku sangat gugup, Kak. Apakah aku bisa menjadi ibu yang baik seperti Ibu Goto? Apakah aku bisa memberikan kebahagiaan yang layak untuk anak kami kelak? Rasanya masih seperti mimpi bisa berdiri di sini, hidup dengan damai, tanpa bayang-bayang ketakutan masa lalu."
Rin berhenti menulis, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi, memejamkan mata sejenak untuk menikmati hembusan angin sore yang menerpa wajahnya. Ia seolah bisa merasakan tepukan lembut di puncak kepalanya—sentuhan familier dari sang kakak yang selama ini selalu ia rindukan di setiap malam-malam gelapnya.
"Terima kasih, Kak..." ucap Rin sekali lagi, matanya mengerjap basah oleh air mata kelegaan, bukan lagi air mata kesedihan. "Terima kasih karena telah menyuruhku untuk tetap hidup. Pesanmu untuk memaafkan diriku sendiri... kini benar-benar telah kuresapi sepenuhnya. Aku bahagia di sini... bersama mereka, dan terutama... bersama Goto."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Rin kembali menundukkan kepalanya, melanjutkan goresan penanya di atas buku harian dengan hati yang begitu ringan, seolah beban bertahun-tahun lamanya telah sepenuhnya terangkat dari pundaknya.