Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32. KEGILAAN DIMULAI
Pintu ganda berlapis emas murni di ujung tangga utama Istana Agung Valdoria terbuka secara perlahan, membiarkan cahaya ribuan kristal lampu gantung memancar megah menyambut para tamu terhormat.
Di dalam aula dansa yang luas, ratusan bangsawan, menteri, dan petinggi kerajaan berbalut gaun sutra dan jas beludru mewah tampak sedang bercengkerama sambil menikmati alunan musik orkestra klasik.
Namun, suasana anggun itu mendadak mengalami pergeseran ritme ketika pengawal istana di depan pintu mengumumkan kedatangan tamu yang paling dinanti ... sekaligus paling dihindari.
"Yang Mulia Duke Kael Dravenhart dan sang istri, Yang Mulia Duchess Virelia Dravenhart, hadir!"
Seluruh kepala bangsawan di dalam aula sontak menoleh ke arah pintu masuk. Raja Lucien, yang duduk di singgasananya di ujung ruangan didampingi oleh sang Permaisuri, menyipitkan mata dengan tidak senang.
Mereka sengaja mengatur posisi duduk untuk menyambut para tamu undangan sejak satu jam lalu, namun sang panglima perang justru datang paling terakhir, sebuah bentuk penghinaan terang-terangan terhadap wibawa mahkota.
Di ambang pintu, Kael berdiri tegak dengan setelan formalnya yang memancarkan aura dingin dan berwibawa. Di sampingnya, Virelia melangkah anggun, menautkan jemarinya pada lengan sang suami. Gaun beludru hitam bertabur sulaman rasi bintang perak menangkap setiap pantulan cahaya lampu, membuat kehadirannya langsung menyedot seluruh perhatian di ruangan itu.
Seketika, bisik-bisik rahasia bergemuruh pelan di antara kerumunan para bangsawan.
"Ya ampun, itu benar-benar Duke Kael dan istrinya ..."
"Bukankah wanita itu Putri Virelia? Putri gila yang dikabarkan suka melempar vas bunga dan mengamuk di istana?"
"Tapi, kenapa dia terlihat begitu memukau? Gaun itu ... permata di lehernya ... itu adalah batu safir hitam langka dari perbatasan utara yang harganya setara dengan satu wilayah kekuasaan!"
Virelia menangkap setiap bisikan pujian sekaligus cemoohan itu dengan telinga tajamnya. Alih-alih merasa ciut, ia justru mulai memainkan perannya. Mengingat mereka sedang berada di sarang singa, ia memutuskan untuk menyalakan sumbu pertama dari sandiwara gilanya.
Virelia tiba-tiba mengeratkan pelukannya di lengan Kael, bersandar manja dengan kepala yang disandarkan di bahu sang suami, lalu berbisik dengan suara manja yang sengaja dilebih-lebihkan.
"Panglima Perangku ... pangeran bebek di atas sana terus menatapku dengan mata seramnya. Apakah dia mau memberiku kue krim cokelat?" rengek Virelia manja, melambaikan tangan kirinya ke udara kosong seolah menyapa makhluk tak kasat mata.
Bisikan di antara para bangsawan langsung berubah menjadi kehebohan kecil.
"Lihat itu! Dia benar-benar gila!"
"Kasihan sekali Duke Kael, pria sehebat dia harus terikat dengan wanita tidak waras ..."
"Tapi wajahnya ... kecantikan itu benar-benar mirip mendiang selir pertama. Pantas saja Raja dan Ratu tampak begitu membencinya."
Di singgasana tertinggi, Raja Lucien mengepalkan tangan di atas sandaran singgasana emasnya. Rahang sang raja mengetat.
Kehadiran Virelia malam ini bukan hanya membangkitkan kenangan buruk tentang ibu kandung gadis itu yang dulu sempat merebut perhatian istana, tetapi kecantikan Virelia yang luar biasa malam ini, yang dipadukan dengan permata langka dari wilayah kekuasaan Dravenhart, membuat beberapa bangsawan muda mulai menatap sang Duchess dengan kekaguman terbuka. Dan itu adalah hal terakhir yang ingin dilihat oleh sang Raja. Padahal alasannya mengundang Virelia untuk
Kael membawa istrinya melangkah tegap menyusuri karpet merah menuju altar singgasana. Begitu tiba di hadapan Raja dan Ratu, Kael membungkuk hormat dengan postur militer yang sempurna, menunjukkan kesetiaan formal di hadapan publik.
Namun, Virelia tidak melakukan hal yang sama. Ia justru celingak-celinguk ke atas, menunjuk-nunjuk hiasan dinding relief singa emas di belakang singgasana, lalu tertawa kecil bernada melengking.
"Wah, singanya ompong! Kenapa singanya tidak makan pisang saja?!" seru Virelia tanpa beban, melompat-lompat kecil di samping Kael.
Raja Lucien nyaris berdiri dari kursinya karena murka melihat ketidaksopanan yang luar biasa itu, sementara Ratu di sampingnya menatap Virelia dengan sorot mata penuh kebencian yang amat tajam.
Kael perlahan menegakkan tubuhnya, merangkul pinggang Virelia dengan erat dan protektif, lalu menatap Raja Lucien dengan pandangan tenang tanpa rasa bersalah.
"Selamat malam, Baginda Raja, Permaisuri. Maafkan kami yang datang terlambat. Istriku sempat asyik berbincang dengan kupu-kupu di halaman istana tadi," sapa Kael dengan suara baritonnya yang berat dan berwibawa.
Raja Lucien menarik napas panjang, berusaha meredam gejolak amarahnya di hadapan ratusan bangsawan. Pria tua bersahaja itu memaksakan sebuah senyuman sinis yang tampak mengerikan di bibirnya.
"Ah, selamat datang, Panglima Perangku yang paling diandalkan. Dan selamat datang juga kepada putri ... ah, maaf, maksudku sang Duchess Virelia. Sungguh disayangkan, kecantikan yang diwarisi dari mendiang ibumu tampak terbuang sia-sia pada pikiran yang kosong," ucap Raja Lucien dengan nada sarkastik yang kentara. Ia mengalihkan pandangannya menatap Virelia dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Sindiran telak itu langsung memicu gelak tawa tertahan dari beberapa menteri korup yang berdiri di sekitar singgasana.
Permaisuri ikut menimpali dengan senyuman palsu yang tak kalah berbisa, "Benar kata Baginda, Duke Kael. Kami tahu Anda adalah pahlawan yang berjasa besar bagi negara, tapi sungguh memprihatinkan melihat Anda harus menggandeng seorang wanita yang perilakunya memalukan di hadapan para tamu agung kenegaraan. Apakah Anda tidak merasa martabat keluarga Dravenhart jatuh serendah-rendahnya?"
Para bangsawan lain mulai berbisik-bisik semakin kencang, menunggu bagaimana sang panglima perang akan merespons penghinaan terbuka dari sang penguasa.
Namun, Kael tidak menunjukkan tanda-tanda marah. Pria itu justru tersenyum tipis, senyuman dingin seorang predator yang sedang melihat mangsanya masuk lebih dalam ke dalam perangkap.
"Martabat keluarga Dravenhart tidak akan pernah jatuh hanya karena omongan orang-orang yang duduk di singgasana emas namun lupa cara melayani rakyatnya, Ratu Yang Terhormat," balas Kael tenang namun penuh penekanan maut yang membuat suhu di sekitar altar mendadak terasa membeku.
Raja Lucien menyipitkan matanya. Alih-alih tersinggung, sang raja justru mengira Kael sedang membela diri dalam keputusasaan. Raja Lucien melangkah turun sedikit dari anak tangga singgasana, melemparkan 'racun' lewat kata-katanya untuk terus menguji kesabaran sang panglima perang di hadapan para elit kerajaan.
"Kau terlalu memanjakannya, Duke. Wanita gila seperti dia tidak pantas mengenakan permata utara yang mahal. Dia tidak lebih dari beban politik yang sengaja kuberikan agar kau tahu diri. Kau adalah panglima perang, tapi di rumah kau hanya pengasuh bagi orang tidak waras. Tidakkah kau merasa lelah?" ujar Raja Lucien dengan nada merendahkan, sengaja mengeraskan suaranya agar didengar oleh seluruh isi aula.
Di samping suaminya, Virelia berhenti berceloteh. Ia meraba gaunya, lalu melirik ke arah Kael. Ia tahu suaminya sedang menahan amarah yang luar biasa besar untuk menjaga strategi kudeta agar tidak terbongkar terlalu dini.
Namun, Virelia tidak tahan lagi melihat pria yang sangat dihormatinya ini direndahkan di hadapan orang banyak. Bom waktu itu ... kini sudah siap meledak.
Sebelum Kael sempat membuka mulut untuk menjawab, Virelia tiba-tiba melepaskan rangkulannya dari lengan sang suami. Ia melangkah maju satu langkah ke depan, mengangkat dagunya tinggi-tinggi, dan sorot mata yang tadinya tampak kosong mendadak berubah menjadi setajam pisau bedah.
"Kau si setan yang jahat itu!" seru dengan nada suara yang begitu tampak marah.
Seluruh isi aula dansa langsung mendadak sunyi senyap. Musik orkestra berhenti seketika. Ratusan pasang mata membelalak menatap sang Duchess yang mendadak berbicara kurang ajar seperti itu.
Raja Lucien terperanjat di tempatnya. Ratu menutup mulutnya karena terkejut.
Virelia menyeringai tertawa marah dalam sandiwara gilanya.
"Kau setan yang menjual rakyatnya sendiri ke negeri iblis, meracuni istri dengan bunga lili hitam, dan membunuh pamannya demi mahkota bebek emas!" seru Virelia lantang, suaranya menggema ke seluruh sudut aula besar istana, membuat seluruh bangsawan merinding seketika.
Dan spekulasi mulai terjadi di antara bangsawan yang hadir.
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣
gara gara siapa tu woiiii🫣🤣🤣🤣
lama lama virusnya akan kah nyampe ke Julian???🤨
othor.....tolong
kok lebih menjiwai mereka si
aku jadinya percaya sama siapa???
🫣🤣🤣🤣🤣