Indonesia
NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Racikan Pakan dan Bau yang Tak Asing

Anak dalam mimpi belum memiliki nama. Racikan pakan Laras justru mulai memiliki angka.

Enam hari setelah pelatihan, Pak Bahar membawa hasil penimbangan dua sapi percobaan. Keduanya makan lebih lahap, feses tetap normal, dan bobot naik sedikit lebih baik dibanding dua sapi pembanding.

"Belum cukup untuk menyebut berhasil," kata Laras setelah membaca tabel. "Enam hari terlalu singkat. Kita lanjutkan dua minggu dan tambah pemeriksaan kondisi tubuh."

Pak Bahar tertawa. "Kalau penjual lain, kenaikan sedikit ini sudah ditulis besar di spanduk."

"Karena itu banyak spanduk lebih gemuk daripada sapinya."

Wati dan Rina ikut tertawa. Di ruang belakang Puskeswan, mereka mengubah meja kosong menjadi tempat pencampuran kecil. Ampas kedelai diperas, dikeringkan sampai kadar air lebih aman, lalu dicampur dedak dan daun lokal dalam takaran rendah. Semua bahan ditimbang. Setiap kelompok produksi diberi tanggal, nomor, dan daftar pemasok.

Laras menolak memakai daun hanya karena disebut ramuan tradisional. Ia mencari catatan penggunaannya, berkonsultasi dengan drh. Hutomo, lalu menguji palatabilitas dalam jumlah kecil.

"Herbal tetap bahan aktif," katanya kepada Wati. "Alami bukan berarti bebas dosis."

Rina menghitung biaya. Ampas kedelai murah, tetapi pengeringan membutuhkan tenaga dan bahan bakar. Jika diproduksi terlalu sedikit, harga per kilogram menjadi tinggi. Jika terlalu banyak, mereka berisiko menyimpan barang lembap.

"Kita buat sesuai pesanan dulu," usulnya. "Pembeli membayar uang muka bahan, sisanya setelah barang ditimbang."

Laras setuju. Mereka memakai nama sederhana pada buku: Pakan Pemulihan Kelompok A. Tidak ada klaim ajaib, hanya komposisi, tanggal produksi, cara penyimpanan, dan saran pemberian bertahap.

Pak Bahar menjadi pembeli pertama. Setelah dua minggu, hasilnya cukup stabil. Ia mengirim foto sapi dan catatan bobot ke grup peternak.

Saya tidak dibayar untuk bilang ini. Sapinya makan bagus dan tidak kembung. Pakai sesuai petunjuk Bu Laras, jangan langsung banyak.

Pesanan datang pada hari yang sama. Pak Amir meminta sepuluh kilogram. Tiga pemilik kambing memesan ukuran kecil. Bahkan seorang pengelola kandang dari kecamatan sebelah menelepon untuk bertanya harga.

Laras belum menerima pesanan dari luar wilayah. Ia ingin memastikan kemampuan produksi tidak melebihi tempat pengeringan. Rina membuat batas harian dan daftar antrean, sedangkan Wati menempel petunjuk bahwa pakan harus diperkenalkan sedikit demi sedikit selama beberapa hari.

Satu pembeli mengeluh sapinya tidak langsung gemuk setelah dua kali makan. Laras meminta foto, jumlah pemberian, dan ransum lain. Ternyata pemilik mengganti seluruh hijauan dengan racikan baru agar hasil lebih cepat.

"Ini pakan tambahan, bukan pengganti semua serat," jelas Laras melalui telepon. "Kembalikan hijauan, pantau kembung, dan jangan menaikkan jumlah tanpa pemeriksaan."

Ia lalu mencetak label yang lebih besar. Kesalahan pemakai tidak selalu lahir dari niat buruk. Kadang petunjuk mereka sendiri belum cukup jelas. Setiap keluhan dicatat sebagai bahan perbaikan, bukan disembunyikan demi menjaga penjualan.

Bu Yuni membaca percakapan itu berulang kali. Kambingnya masih dalam pemulihan setelah tertimpa balok. Ia ingin membeli, tetapi malu menghubungi Laras. Akhirnya ia menyuruh salah satu tetangga bertanya atas nama orang lain.

Rina mengenali alamat pengiriman dan hanya tersenyum. Laras tetap mencatat harga yang sama.

"Tidak diberi lebih mahal?" tanya Rina.

"Pakan bukan alat membalas dendam. Kalau dia membayar dan mengikuti aturan, pesanannya sama dengan orang lain."

Usaha kecil itu belum menghasilkan banyak uang. Sebagian keuntungan dikembalikan untuk membeli timbangan, rak pengering, dan wadah tertutup. Namun bagi Laras, angka pertama di buku kas adalah bukti bahwa keahlian bisa membangun hidup tanpa bergantung pada nama suami.

Pada akhir pekan, Pak Sutrisno meminta Laras ikut mengambil sampel bahan dari daerah pinggir. Ada kelompok petani yang menawarkan jerami jagung dan daun legum setelah badai. Laras pergi bersama Wati menggunakan kendaraan Puskeswan.

Jalan menuju lokasi melewati padang kering, kebun jagung, dan beberapa kandang terpencil. Di titik ketiga, mereka memeriksa jerami yang disimpan di bawah atap terbuka. Sebagian masih bisa dipakai setelah dipisahkan dari lapisan berjamur.

"Jangan membeli berdasarkan berat sebelum kering," kata Laras. "Air membuat angka tampak besar."

Pak Sutrisno mengangguk dan menegosiasikan pembayaran berdasarkan berat akhir.

Dalam perjalanan ke lokasi berikutnya, kendaraan melambat di dekat sebuah pondok ternak yang terpisah dari rumah lain. Pagar kayunya tinggi. Terpal hitam menutup sisi belakang, seolah pemiliknya tidak ingin orang melihat ke dalam.

Laras mendengar suara kecil.

Bukan kambing. Bukan burung.

Tangisan seorang anak ditahan agar tidak terdengar.

Ia meminta pengemudi berhenti dengan alasan memeriksa sumber hijauan di tepi jalan. Begitu turun, bau pahit menyentuh hidungnya. Campuran daun tumbuk, asap, dan minyak tua.

Bau yang sama dengan mimpinya.

Dada Laras mengencang. Ia berjalan mendekati pagar. "Permisi. Ada orang?"

Seorang lelaki keluar dari belakang pondok. Tubuhnya kurus, wajahnya keras. "Cari siapa?"

"Saya dokter hewan dari Puskeswan. Kami sedang memeriksa bahan pakan di daerah ini. Saya mendengar anak menangis. Apakah dia sakit?"

"Anak saya. Demam biasa. Tidak perlu dicampuri."

"Kalau demamnya tinggi atau sudah lama, bawa ke puskesmas manusia. Kami bisa membantu menghubungi."

"Saya bilang tidak perlu."

Lelaki itu berdiri menutup celah pagar. Dari balik terpal terdengar gesekan, lalu suara kecil segera diam.

Laras melihat sebuah mangkuk kecil di tanah dekat pagar. Isinya sisa bubur yang telah mengering dan dikerubungi lalat. Di sampingnya ada tali pendek terikat pada tiang, terlalu kecil untuk menahan sapi atau kambing dewasa. Ketika lelaki itu menyadari arah pandang Laras, ia menendang mangkuk ke balik terpal.

"Anaknya umur berapa?" tanya Laras.

"Tidak tahu. Delapan mungkin. Anak angkat."

"Ada dokumen pengasuhan atau catatan kesehatan?"

"Kamu dokter hewan, bukan polisi. Pergi."

Kemarahan muncul di dada Laras, tetapi ia menahannya. Semakin jelas kecurigaannya, semakin penting untuk tidak membuat anak di dalam menanggung akibat setelah mereka pergi.

"Nama Bapak?" tanya Laras.

"Karman. Semua orang di sini tahu saya."

Namun Pak Sutrisno yang menunggu di dekat kendaraan mengerutkan kening. Ia tidak ingat ada keluarga bernama Karman terdaftar di blok itu.

Laras tidak memaksa masuk. Tanpa bukti dan tanpa petugas perlindungan anak, menerobos hanya akan membuat lelaki itu memindahkan atau menyakiti anak tersebut. Ia melihat sekeliling, mencatat patokan jalan, warna atap, sumur tua, serta bekas ban di tanah.

"Baik, Pak Karman. Kalau membutuhkan bantuan, hubungi Puskeswan atau aparat desa."

Lelaki itu menunggu sampai mereka kembali ke kendaraan.

Dalam perjalanan, Laras bertanya kepada Wati, "Kamu pernah dengar nama itu?"

"Tidak. Pondok itu dulu kosong. Setahu saya, baru ditempati beberapa bulan."

Pak Sutrisno berjanji memeriksa catatan pemilik lahan tanpa menimbulkan keributan. Laras menggenggam buku catatan. Kesuksesan pakan yang sejak pagi membuatnya ringan kini hilang dari pikiran.

Malam itu, ia kembali bermimpi.

Gadis kecil yang sama duduk di dekat tumpukan jerami. Kali ini Laras melihat kedua matanya tertutup selaput putih. Bahunya yang kurus memiliki bekas luka melengkung. Anak itu mengangkat wajah ke arah suara Laras, tetapi tidak bisa melihatnya.

"Icha takut," bisiknya.

Laras terbangun sambil duduk. Bau ramuan seolah masih memenuhi kamar.

"Itu bukan sekadar mimpi," katanya dalam kegelapan.

1
Nadia Zalfa
lanjut kak
aku
lanjutkan melangkah menuju kehancuran total van. aku mendukungmu!!! /Determined//Determined//Facepalm//Facepalm/
aku
hitung ras!!! smpe tuntas pokoknya!! 🌹
aku
jgn di tolongin. biarin2.
aku
mamvuss!! pecat sekalian pecat!! yess /Curse/
aku
duh pengen kuikat tuh pegawai di kursi baru mulutnya sumpal pke kaos kaki /Scream//Curse/
aku
bagus laras, tegas!!
aku
modelan vania sm rendra n emaknya tuh manusia yg halal disantet 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!