Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Hasil Tangkapan
"Mas gimana mau buka kelapanya? Kan gak bawa golok?" Tanya Sisil yang nampak bingung setelah mengumpulkan kelapa.
"Pakai pisau ini." Jawab Komandan Kaivan sambil menunjukkan pisau militer yang selalu ia bawa kemana-mana.
"Memang bisa, Mas?" Tanya Sisil.
"Bisa." Jawab Komandan Kaivan yang kemudian menunjukan skilnya.
Dengan mudah Komandan Kaivan membuka kelapa muda dengan menggunakan pisaunya hinga ini kelapa muda itu siap untuk diminum.
"Wiih, keren!" Puji Sisil.
"Ini salah satu skil survival." Jawab Komandan Kaivan yang kemudian membuat sendok untuk mengeruk daging kelapa muda dari kulit kelapa.
Setelah selesai, mereka berdua menikmati kelapa muda itu sembari memandangi lautan indah dihadapan mereka. Tak mengobrol, keduanya sama-sama terdiam beberapa saat sembari menikmati debur ombak yang menjilat pasir pantai.
"Mas, Bulan depan aku mau kembali ke Kota. Ada hal yang harus aku selesaikan di Rumah Sakit." Kata Sisil yang membuka pembicaraan.
"Sendiri?" Tanya Komandan Kaivan yang dijawab anggukan oleh Dokter Sisil.
"Mas temani. Sekalian Mas mau melamar kamu." Kata Komandan Kaivan.
"Uhuuk! Uhuk... Uhuuuk!" Sisil sampai tersedak air kelapa muda karena mendengar ucapan tiba-tiba dari Komandan Kaivan.
"Mas serius?" Tanya Sisil.
"Memangnya Mas kelihatan sedang bercanda?" Komandan kaivan justru balik bertanya sambil membalas tatapan Kekasihnya.
"Apa gak terlalu cepet, Mas?" Tanya Sisil lagi.
"Kamu gak mau Mas lamar?" Komandan Kaivan justru balik bertanya.
Sisil menghela nafas panjang. Ia kemudian menjelaskan maksud ucapannya, supaya Komandan Kaivan tak salah paham.
"Mau lah! Aku gak pernah bilang kalo gak mau Mas lamar." Jawab Sisil.
"Tapi, apa Mas sudah yakin? Aku takut Mas akan kecewa kalau terburu-buru. Barangkali nantinya aku ini gak sesuai dengan ekspektasi Mas." Imbuhnya.
"In Syaa Allah, mas sudah yakin." Jawab Komandan Kaivan tanpa ragu.
"Bagaimanapun kamu dengan semua kekurangan dan kelebihanmu, akan Mas terima dengan senang hati. Yang terpenting, kamu tetap disisi Mas." Imbuh Komandan Kaivan.
Mendengar itu, tentu membuat Sisil meleleh. Ia tiba-tiba menangkup wajah Komandan Kaivan sambil memandang manik mata Kekasihnya.
"Mas lagi gak halu karena kurang konsumsi kopi satu minggu ini, kan?" Tanya Sisil.
"Mas dari tadi gombalin aku loh. Hatiku sampe lumer-lumer tau." Imbuh Sisil yang membuat mereka berdua akhirnya terkekeh.
"Udah jauh-jauh kesini, gak mau main air, Sayang?" Tanya Komandan Kaivan yang dijawab gelengan oleh Sisil.
"Aku lebih suka menikmati keindahan pantai kayak gini aja, Mas." Jawab Sisil.
"Apa lagi nikmatin kayak gini sama Mas." Imbuhnya yang kembali membuat mereka berdua tertawa.
Komandan Kaivan kemudian merangkul bahu Sisil. Ia lalu mengecup puncak kepala kekasihnya itu dengan lembut. Ia bersyukur ada Sisil disini. Gadis yang selalu ceria dan bisa membuatnya selalu tersenyum.
"Naik ke batu besar itu, bisa gak sih, Mas?" Tanya Sisil sambil menunjuk ke arah batu karang besar yang ada di laut.
"Bisa." Jawab Komandan Kaivan.
"Boleh, gak?" Tanya Sisil sambil menatap ke arah kekasihnya penuh dengan permohonan.
"Boleh, Sayang. Ayo." Jawab Komandan Kaivan.
Komandan Kaivan kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Sisil. Sisil pun menyambut uluran tangan Komandan Kaivan dengan senyuman lebar. Dua sejoli itu kemudian berjalan sambil bergandengan tangan. Langkah keduanya tertinggal di atas pasir pantai yang lebut dan terasa hangat.
Saat sampai di bibir pantai, Sisil dan Komandan Kaivan menggulung celana mereka. Untuk sampai ke bawah batuan, mereka harus berjalan melewati air laut setinggi betis.
"Kayak ada suara anak-anak ya, Mas." Ujar Sisil saat mereka semakin dekat dengan batu.
"Mungkin mereka di balik batu besar itu." Jawab Komandan Kaivan.
"Tinggi banget ini batunya." Komentar Sisil ketika mereka sampai di bawah batu besar yang menjorok ke laut.
"Ayo naik. Ini sepertinya sering di panjat, karena kelihatannya cukup mudah untuk di panjat." Sahut Komandan Kaivan saat melihat bentuk batu karang yang cukup berundak.
Komandan Kaivan kemudian membantu Sisil untuk naik ke atas batu itu dengan hati-hati. Begitu sampai di atas batu setinggi hampir lima meter dari permukaan laut itu, mereka kemudian berjalan menuju ke ujung batu karang yang tertanya cukup panjang dan lebar itu.
"Wah! Gak nyangka, ternyata panjang juga, Mas." Kata Sisil yang di jawab anggukan oleh Komandan Kaivan.
Batu Karang itu memiliki panjang sekitar lima meter mengarah ke laut. Tepat di ujungnya, terdapat batu karang besar lagi dengan posisi sedikit kekanan dan lebih tinggi sekitar setengah meter.
Komandan Kaivan dan Sisil pun dengan mudah berpindah ke batu karang itu. Keduanya kemudian duduk di ujung batu karang kedua yang lebih kecil dari batu karang pertama.
"Woy! Kalian buat apa disana?" Tanya Komandan kaivan ketika melihat beberapa anak laki-laki sedang berada di bawah batu besar yang mereka duduki.
"Kami cari Lobster dan gurita." Jawab salah satu anak.
"Dapat kah, tidak?" Tanya Komandan Kaivan.
"Dapat, ini." Jawab si anak yang kemudian mengangkat ember berisi sebuah lobster dan sebuah gurita.
"Waah! Pasti enak tuh." Komentar Sisil saat melihat Lobster da gurita yang segar.
"Ko cari banyak-banyak e. Nanti saya beli." Ujar Komandan Kaivan.
"Benar kah Kaka?" Tanya si anak yang tampak bersemangat.
"Benar lah." Jawab Komandan Kaivan yang membuat bocah-bocah itu langsung menceburan diri ke laut untuk mencari lebih banyak tangkapan.
Melihat anak-anak yang sedang berburu itu, menjadi hiburan tersendiri untuk Sisil dan Komandan Kaivan. Anak-anak itu terlihat mudah sekali mendapatkan lobster air laut yang berukuran lumayan besar.
"Ko ambil lobster yang besar-besar saja. Anaknya itu saya tidak mau beli." Ujar Komandan Kaivan.
"Siap, Kaka!" Sahut mereka dengan semangat.
Cukup banyak tangkapan yang mereka peroleh. Sesuai janji, Komandan Kaivan pun memberikan uang untuk membayar hasil buruan anak-anak itu.
"Terima kasih, Kaka! Banyak sekali Kakak kasih uang." Girang si Anak.
"Buat kalian beli makanan. Makan kenyang-kenyang. Jangan beli makanan yang tidak sehat." Pesan Komandan kaivan yang di jawab anggukan oleh bocah-bocah itu sebelum mereka pergi dengan riang.
"Mas, ini banyak banget. Sampe satu ember gini." Kata Sisil.
"Untuk kita makan siang disini." Jawab Komandan Kaivan.
"Memangnya habis?" Tanya Sisil.
"Kalau tidak habis, berarti kita lanjutkan makan malam disini." Ujar Komandan Kaivan yang membuat Sisil tertawa.
kompor baget sih Miko & Riki