Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui ibu didepan pintu
Keesokan harinya, dengan keberanian yang telah dia kumpulkan sepanjang malam, Zia mengendarai motornya menuju rumah Baska, sebuah alamat yang pernah dia kunjungi sekali sebelumnya ketika diajak menghadiri acara arisan keluarga beberapa bulan lalu. Sepanjang perjalanan tersebut, hatinya dipenuhi berbagai perasaan campur aduk antara harapan dan ketakutan mengenai bagaimana pertemuan tersebut akan berlangsung.
Sesampainya di depan rumah tersebut, Zia menghela napas panjang sebelum akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu, namun yang membuka pintu tersebut bukanlah Baska, melainkan ibunya yang tampak sedikit terkejut mendapati kedatangan tamu tak terduga tersebut. "Zia? Ada apa, Nak?"
"Tante, maaf ganggu. Saya mau ketemu Baska, ada yang penting mau saya omongin," ujar Zia dengan nada sopan, meski suaranya sedikit gemetar menahan kegugupan yang begitu besar.
Ibu Baska, yang menyadari ketegangan yang tersirat dari ekspresi wajah Zia tersebut, mempersilakan gadis itu masuk sambil menjelaskan kondisi anaknya. "Baska lagi di kamar, Nak. Tapi Tante perhatikan, dia emang lagi murung banget beberapa hari ini. Ada masalah kalian berdua ya?"
Zia mengangguk pelan, tidak ingin menjelaskan detail lengkap mengenai kesalahpahaman yang terjadi kepada ibu Baska tersebut, namun cukup jujur untuk mengakui adanya masalah dalam hubungan mereka. "Iya, Tante. Ada kesalahpahaman yang belum sempat kita selesaikan."
"Coba deh, Nak, kamu bicara langsung sama dia. Baska itu orangnya emang keras kepala kalau udah kena masalah, tapi hatinya lembut kok. Tante yakin, kalau kamu jelasin baik-baik, dia bakal ngerti," ujar Ibu Baska dengan penuh kebijaksanaan, memberikan dukungan yang sangat berarti bagi Zia yang sedang membutuhkan keberanian tambahan tersebut.
Dengan restu dari ibu Baska tersebut, Zia melangkah menuju kamar pemuda itu, mengetuk pintu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Mas, ini aku, Zia. Boleh aku masuk sebentar?"
Tidak ada jawaban selama beberapa saat, membuat Zia semakin cemas, sebelum akhirnya terdengar suara Baska dari dalam kamar tersebut. "Zia? Kenapa kamu ke sini?"
"Aku pengen ngomong langsung sama kamu, Mas. Please, buka pintunya," pinta Zia dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis, mengungkapkan kesungguhan niatnya untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang telah begitu lama menggantung tersebut.
Setelah beberapa saat keheningan yang terasa begitu panjang, akhirnya pintu kamar tersebut terbuka, menampilkan sosok Baska yang terlihat begitu lelah dan berantakan, jauh berbeda dari penampilan rapi yang biasa dia tunjukkan. "Ada apa, Zia?" tanyanya dengan nada yang masih terdengar dingin, meski dari matanya yang sedikit sembab, terlihat bahwa dia juga mengalami penderitaan emosional yang tidak kalah besarnya.
"Mas, please, dengerin aku dulu. Apa yang kamu lihat kemarin itu bukan seperti yang kamu pikirin," ujar Zia dengan penuh kesungguhan, memulai penjelasan yang telah dia persiapkan sepanjang malam sebelumnya, berharap kali ini Baska bersedia membuka hati dan pikirannya untuk mendengarkan kebenaran yang sesungguhnya, sebuah harapan yang akan segera diuji oleh respons Baska yang masih belum sepenuhnya siap untuk mempercayai penjelasan tersebut tanpa keraguan yang mendalam.
Baska berdiri diam di ambang pintu, tidak langsung mempersilakan Zia masuk, namun juga tidak menutup pintu tersebut sepenuhnya, sebuah sikap yang mencerminkan kebimbangan besar yang masih dia rasakan. "Zia, aku udah capek banget mikirin ini terus. Setiap kali aku coba tenang, selalu aja ada kejadian yang bikin aku jadi ragu lagi."
"Aku ngerti, Mas. Makanya aku ke sini, buat jelasin semuanya dari awal. Ali cuma maksa aku dengerin penjelasan dia soal masa lalu, biar dia bisa move on dan berhenti dateng terus ke Sport Padel. Aku nggak pernah minta dia buat ngajak ngobrol berdua kayak gitu," jelas Zia dengan suara yang mulai bergetar, mencoba menyampaikan kebenaran tersebut dengan sejelas mungkin.
Baska menghela napas panjang, mempertimbangkan penjelasan tersebut dengan perasaan yang masih campur aduk. "Tapi kenapa harus di tempat itu, Zia? Di bangku yang sama waktu aku nembak kamu dulu?"
"Itu kebetulan aja, Mas. Bangku itu emang jadi tempat favorit orang-orang buat istirahat di Sport Padel, bukan cuma buat kita berdua," jawab Zia dengan jujur, menyadari bahwa kebetulan lokasi tersebut memang cukup menyakitkan bagi perasaan Baska meski sama sekali tidak ada maksud tersembunyi di baliknya.
Mendengar penjelasan tersebut, sedikit demi sedikit ketegangan di wajah Baska mulai mencair, meski masih menyisakan keraguan yang belum sepenuhnya hilang. "Zia, masuk dulu deh. Kita ngobrol lebih tenang di dalam."
Zia mengangguk lega, mengikuti Baska masuk ke dalam kamar tersebut, duduk di kursi kecil yang biasa digunakan pemuda tersebut untuk bekerja. "Mas, aku juga minta maaf kalau selama ini aku kurang tegas nolak kedatangan Ali yang terus-menerus itu. Tapi aku janji, aku nggak pernah punya perasaan apa-apa lagi ke dia."
Baska duduk di tepi ranjangnya, menatap Zia dengan tatapan yang masih menyimpan berbagai pertanyaan dalam benaknya. "Aku percaya kamu, Zia. Tapi jujur aja, aku juga butuh waktu buat benerin rasa nggak aman ini. Rasanya susah banget buat langsung tenang lagi setelah semua yang terjadi."
Pengakuan tersebut, meski menunjukkan sedikit kemajuan dalam upaya penyelesaian kesalahpahaman tersebut, juga mengungkapkan bahwa perjalanan mereka untuk kembali sepenuhnya mempercayai satu sama lain masih membutuhkan waktu dan usaha lebih lanjut, sebuah kenyataan yang harus mereka terima bersama sebelum benar-benar bisa memulihkan hubungan yang telah begitu terguncang tersebut.