Indonesia
NovelToon NovelToon
RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiawan

Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31.B Praha Knalpot, Monster Jalanan dan Aliansi Kawat Jemuran

Setelah drama karburator dan kuah soto di Magelang berhasil diselesaikan dengan mengorbankan kesucian sepatu pantofel Prancis milik Pak Handoko, rombongan ugal-ugalan ini akhirnya resmi memasuki ring satu pertempuran yang sesungguhnya: Jalur Utama Pantura [Pantai Utara]. Begitu roda depan motor Astrea Grand tahun 1995 milik Gavin Dewantara menyentuh aspal lurus wilayah Pekalongan arah Batang, atmosfer udara mendadak berubah drastis. Udara pegunungan yang sejuk kini berganti dengan hembusan angin laut yang kering, panas menyengat, dan aroma solar pekat yang sanggup merontokkan bulu hidung manusia normal dalam sekali hirup.

Di jalur legendaris ini, status sosial tidak ada artinya. Di sini berlaku hukum rimba jalanan yang absolut. Dan penguasa tertinggi dari ekosistem ini bukanlah para pemilik saham triliunan rupiah atau limosin mewah seharga miliaran, melainkan monster-monster besi raksasa bermesin diesel copotan kapal perang: bus-bus malam antar-kota berkecepatan cahaya dan truk gandeng bermuatan tebu yang panjangnya melanggar aturan tata ruang wilayah.

Gavin memacu motor bebek tuanya dengan penuh percaya diri, meskipun dari sudut pandang estetika, penampilannya mirip dengan kurir paket yang tersesat di tengah simulasi perang pasca-apokaliptik. Helm cetok merah pudarnya bergoyang-goyang ditiup angin samping yang kencang. Kaos oblong hitamnya yang sudah tipis berkibar-kibar layaknya bendera partai pasca-pemilu, sedangkan jaket denim lusuhnya tersampir malas di pundak kanan, berayun menantang debu jalanan.

"Ayo Ndut, tunjukkan pada dunia kalau besi tua ini punya mentalitas korporasi kelas kakap!" teriak Gavin menyemangati motornya sambil memutar tuas gas dalam-dalam.

Mesin Astrea Grand itu menjerit histeris. Bunyi rantainya yang kendur beradu dengan gesekan spakbor plastik, menciptakan simfoni bising yang sangat tidak ergonomis. Pada kecepatan puncaknya yang hanya menyentuh enam puluh kilometer per jam, seluruh bodi motor bergetar begitu hebat hingga spion kirinya yang longgar mulai berputar-putar sendiri dengan kecepatan tinggi mirip baling-baling helikopter Apache. Gavin bahkan harus menahan stang motor dengan kekuatan ekstra agar getaran mesinnya tidak membuat giginya saling berbenturan.

Sementara itu, tepat seratus meter di belakang Gavin, penderitaan spiritual tim pengawal VIP Dewantara Group memasuki level teranyar. Sopir limosin keluarga Dewantara, seorang pria paruh baya bernama Pak Mulyono yang biasanya hanya mengemudikan mobil di area SCBD dengan kecepatan rata-rata dua puluh kilometer per jam karena macet, kini harus mengalami depresi klinis akibat mengendarai Mercedes-Maybach S-Class di jalur Pantura demi menjaga jarak aman di belakang seorang remaja ugal-ugalan.

WOSSHHH!!!

Tiba-tiba, dari arah kanan, sebuah bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) bermesin Hino dengan livery warna-warni bertuliskan "SURGA DUNIA - CEPAT TANPA REM" melesat memotong jalur Gavin dengan jarak hanya berkisar beberapa sentimeter. Bus itu melaju dengan kecepatan yang tampaknya menentang hukum fisika Newton. Hembusan angin buritan yang dihasilkan oleh bodi bus raksasa tersebut menciptakan efek pusaran angin puyuh berskala kecil di bahu jalan.

"Astaga naga!" seru Gavin reflek condong ke kiri. Tubuh Gavin beserta motor bebeknya langsung terombang-ambing hebat di tepi aspal layaknya selembar daun kering yang terempas badai.

Belum sempat Gavin menguasai keseimbangan penuh, sang sopir bus malam dengan sangat tidak sopan menekan tombol klakson udara taktisnya yang bermodulasi suara telolet kombinasi terompet kapal selam.

TET-TOOT-TEEEELOOOLET!!! BUMMM!!!

Suara menggelegar itu menghantam udara Pantura dengan kekuatan desibel yang sanggup merubuhkan fondasi rumah petak. Getaran suaranya membuat helm cetok tanpa kaca milik Gavin bergeser mundur ke belakang akibat tekanan udara, hingga tali pengikatnya mencekik leher Gavin sendiri. Pada saat yang sama, cerobong knalpot bus yang posisinya berada di samping bawah memuntahkan segumpal asap hitam pekat sisa pembakaran solar berkualitas rendah tepat ke arah wajah Gavin.

UHUK! UHUK! OWEKKK!

Dalam sekejap, Gavin terbatuk-batuk hebat. Wajahnya yang tadinya hanya kusam kini sepenuhnya dilapisi oleh jelaga hitam pekat, membuatnya terlihat persis seperti mekanik genset yang baru saja selamat dari ledakan ruang bawah tanah. Matanya perih menyengat, meneteskan air mata akibat kombinasi debu jalanan dan belerang solar.

Namun, alih-alih ciut dan menepi untuk menangis, adrenalin jalanan di dalam darah Gavin Dewantara justru melonjak ke titik tertinggi. Jiwa ugal-ugalan yang ia pupuk selama bertahun-tahun hidup prihatin di Kos Bu Broto mendadak bangkit bergolak.

"Oh, nantangin ya! Lu belum tahu kalau ini motor di tangkinya mengalir doa-doa anak kos yang telat bayar uang bulanan!" teriak Gavin gila dengan mata melotot merah di balik lapisan jelaga.

Ia memutar tuas gas Astrea Grand-nya sekencang mungkin, mencoba mengejar bus raksasa yang mulai menjauh di depan. Mesin motor tua itu mengeluarkan raungan keputusasaan yang luar biasa keras. Kecepatan motor naik menjadi enam puluh lima kilometer per jam—sebuah pencapaian teknologi yang terasa seperti kecepatan suara bagi motor yang setang solisnya sudah oblak tersebut.

Di dalam kabin limosin Maybach yang sejuk dan kedap suara, Pak Handoko yang sedang menikmati secangkir teh chamomile hangat untuk menenangkan sarafnya langsung tersedak hebat hingga air tehnya menyembur ke dasbor berlapis kayu walnut. Dari kaca depan yang lapang, ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Tuan Mudanya, sang ahli waris tunggal aset triliunan rupiah, sedang melakukan aksi balap liar tak resmi melawan bus ekonomi tanpa AC di jalur maut Pantura.

"Pak Mulyono! Demi stabilitas makroekonomi perusahaan! Kejar Tuan Muda! Jangan biarkan bus kelas bisnis itu menyentuh selembar benang pun di kaos oblong beliau!" teriak Pak Handoko histeris, wibawa korporatnya runtuh total dalam sedetik.

"Siap, Komandan! Tapi ini truk gandeng di depan kita tidak mau memberi jalan!" balas Pak Mulyono panik, tangannya gemetaran memegang kemudi kemudi berlapis kulit asli.

"Tabrak kalau perlu! Maksud saya, potong jalurnya! Kita beli truknya sekalian nanti sore!" sahut Pak Handoko asal asalan akibat panik tingkat dewa.

Mobil limosin mewah seharga miliaran itu terpaksa meliuk-liuk ekstrem di antara truk-truk gandeng bermuatan besi tua dan tebu. Suspensi udara canggih Maybach yang dirancang untuk memberikan kenyamanan maksimal bagi para menteri kini dipaksa bekerja keras menahan guncangan manuver zigzag ekstrem ala supir angkot jurusan Kampung Melayu.

Pak Handoko dengan sigap meraih mikrofon interkom mobil yang terhubung langsung dengan sistem pengeras suara luar berkekuatan tinggi di bumper depan. Ia menekan tombol aktif dengan ibu jarinya yang bergetar.

"Perhatian kepada pengemudi bus 'Surga Dunia' di depan! Harap segera kurangi kecepatan kendaraan Anda!" suara berat Pak Handoko menggema menggelegar di sepanjang jalan raya Batang, memantul di antara bak-bak truk. "Anda saat ini sedang melakukan tindakan intimidasi jalanan terhadap aset tunggal dan paling berharga dari Dewantara Group! Harap menepi ke bahu jalan atau tim hukum kami akan mengakuisisi seluruh perusahaan otobus Anda sebelum bursa saham ditutup sore ini juga!"

Pengumuman bernada ancaman korporat kelas atas itu menggema luar biasa keras, membuat beberapa pengendara motor lokal di pinggir jalan reflek menoleh dengan wajah bingung, mengira ada operasi militer gabungan dari dinas perpajakan internasional.

Gavin yang mendengar suara Pak Handoko dari arah belakang lewat pengeras suara limosin justru tertawa terbahak-bahak hingga dadanya sakit. "Hahaha! Pak Han bener-bener gak ada akhlak korporasinya! Masa bus malam mau diakuisisi di jalanan!"

Gavin menolehkan kepalanya sedikit ke belakang, berniat memberikan isyarat tangan "aman" kepada Pak Handoko menggunakan ibu jarinya. Namun, malang tak dapat ditolak, seni mengemudi ugal-ugalan memiliki satu aturan mutlak: jangan pernah lengah sedetik pun di jalur Pantura.

Tepat saat Gavin menoleh, roda depan Astrea Grand tahun 1995 miliknya menghantam sebuah lubang jalan yang cukup dalam dan lebar—sebuah lubang legendaris Pantura yang terbentuk akibat erosi air hujan dan beban muatan truk tronton kelebihan muatan.

JEGLUK! KRAK!

Benturan itu terjadi begitu keras dan instan. Efek kejutnya membuat motor bebek Gavin melompat ke udara setinggi kurang lebih lima belas sentimeter. Helm cetok tanpa kaca Gavin sempat terlepas dari kepalanya sebelum jatuh kembali miring menutupi mata kirinya. Namun, dampak paling fatal dari hantaman lubang maut itu terjadi pada sistem pembuangan gas motor.

Pipa knalpot bobokan milik Astrea Grand yang kondisinya memang sudah rapuh, karatan, dan hanya menempel pada mesin menggunakan dua buah baut aus yang tersisa, mendadak patah total tepat di bagian leher mesin. Knalpot besi sepanjang satu meter itu terlepas dari dudukannya dan menggelinding dengan sangat dramatis di atas aspal panas jalur Pantura.

KLANG! KLING! KELENTENG! KRAK!

Knalpot karatan itu berputar-putar di aspal layaknya gasing besi liar, memercikkan bunga api, lalu meluncur cepat tepat ke arah jalur lintasan limosin Maybach yang sedang melaju kencang di belakangnya.

"Komandan! Ada objek tak dikenal meluncur ke arah kita!" teriak Pak Mulyono si sopir dengan mata melotot panik.

"Hindari, Mulyono! Hindari! Itu potongan properti Tuan Muda!" lolong Pak Handoko sambil memegangi pegangan tangan di langit-langit mobil.

Dalam kondisi panik luar biasa, Pak Mulyono reflek membanting setir Maybach dengan sangat tajam ke arah kiri untuk menghindari tabrakan langsung dengan knalpot terbang tersebut. Manuver darurat itu sukses membuat mobil limosin hitam kepresidenan itu keluar dari jalur aspal, meluncur bebas menembus rerumputan liar di bahu jalan, dan dengan sangat tidak estetik menghantam deretan pohon pisang hias milik seorang warga lokal yang ditanam di pinggir jalan raya.

CRASHHH! SREEEET! BUMM!

Mobil mewah bernilai miliaran rupiah itu akhirnya berhenti total dengan posisi bumper depan melesak ke dalam semak-semak, sementara kap mesinnya yang mulus kini sepenuhnya tertutup oleh hamparan daun-daun pisang hijau yang robek-robek. Salah satu pelepah pisang bahkan tersangkut dengan indahnya di spion kanan mobil, memberikan kesan kamuflase hutan tropis yang sangat tidak diinginkan.

Sementara itu, Gavin Dewantara yang motornya kini sudah tidak memiliki knalpot sama sekali, langsung merasakan sensasi suara baru yang sangat mengerikan. Begitu ia menarik tuas gas sedikit saja untuk menstabilkan motornya pasca-hantaman lubang, lubang pembuangan mesin silinder tunggal 100cc milik Astrea-nya langsung memuntahkan suara murni pembakaran tanpa redaman sedikit pun.

BRRRRRRRRRRRRRRRRREEEEEEEEEEEEEEMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMM!!!!!

POP! POP! BANG!

Suaranya bukan lagi cempreng bising, melainkan berubah menjadi suara raungan mesin helikopter tempur Black Hawk yang sedang mengalami kegagalan fungsi rotor di tengah zona pertempuran udara aktif. Setiap kali piston bergerak, suara ledakan dari bawah mesin terdengar persis seperti rentetan tembakan senapan serbu otomatis kaliber 7.62mm.

BRRRREEEEEEMMM! BANG! BANG!

Efek suara baru ini benar-benar luar biasa merusak ketertiban umum. Beberapa warga lokal di daerah Batang yang sedang berjalan di trotoar langsung reflek menjatuhkan diri dan tiarap di atas tanah, mengira ada serangan fajar atau kontak senjata antargeng motor trans-nasional. Sebuah angkutan kota yang sedang ngetem di depan pasar bahkan langsung melesat pergi dengan supirnya yang histeris ketakutan.

Gavin sendiri hampir tuli seketika. Telinganya berdengung begitu hebat hingga ia bisa merasakan getaran suara itu merambat naik melalui tulang rahangnya langsung ke otak. Air mata Gavin meleleh keluar bukan lagi karena debu solar, melainkan karena rasa sakit akustik yang luar biasa hebat dari bawah joknya sendiri.

"Aduh mak! Kuping gue serasa digergaji!" teriak Gavin sambil buru-buru menepikan motornya di depan sebuah pos polisi lalu lintas kecil yang terletak di pertigaan jalan raya Batang. Ia mematikan mesin motornya dengan sentakan kasar pada kunci kontak. Suasana mendadak hening seketika, menyisakan suara dengungan panjang di dalam kepala Gavin: NGIIIIIIING...

Di dalam pos polisi tersebut, seorang petugas polisi lalu lintas berpangkat Ajun Inspektur Dua bernama Pak Bambang—kebetulan memiliki nama yang sama dengan pengawal Gavin—sedang asyik menikmati kopi hitamnya sambil menulis laporan rutin harian. Begitu mendengar rentetan suara ledakan mirip senapan mesin yang berhenti tepat di depan posnya, Pak Bambang langsung tersedak hingga kopi hitamnya keluar dari hidung.

Dengan wajah merah padam karena marah dan kaget, Pak Bambang langsung menyambar pet petugasnya, mengambil buku tilang paling tebal berukuran folio dari laci meja, dan melangkah keluar pos dengan langkah tegap yang dipenuhi aura intimidasi hukum maksimal.

"Selamat siang, Saudara!" bentak Pak Bambang dengan suara menggelegar, menunjuk Gavin menggunakan pulpen hitamnya. "Kamu ini niatnya mau mudik atau mau melakukan makar hukum di jalan raya?! Surat-surat kendaraan kamu mana?! Ini motor atau mesin giling padi tanpa roda?! Suaranya sudah melanggar Undang-Undang Lalu Lintas Pasal Gangguan Jiwa Masyarakat!"

Gavin turun dari motornya dengan santai, menaruh helm cetoknya di atas stang, lalu menyeka jelaga hitam di wajahnya menggunakan ujung kaos oblongnya—tindakan yang justru membuat jelaga itu makin merata ke seluruh permukaan mukanya hingga ia terlihat seperti anggota pasukan komando yang sedang menyamar di hutan malam.

"Selamat siang juga, Bapak Polisi yang sangat gagah, tampan, dan berwibawa tinggi," sapa Gavin dengan senyum miring andalannya, mencoba menggunakan teknik negosiasi tingkat kos-kosan. "Maaf banget, Pak. Ini bukan modifikasi sengaja demi tren anak muda zaman sekarang. Knalpot saya baru saja mengalami musibah patah tulang akibat menghantam lubang maut di belakang sana. Ketinggalan di belakang, Pak. Mungkin sekarang sudah jadi suvenir jalanan."

"Halah! Alasan klasik anak muda jaman sekarang! Pokoknya tidak ada toleransi! Motor ini saya sita dan kamu saya tilang dengan denda maksimal!" tegas Pak Bambang sambil mulai menulis di buku tilangnya dengan sentakan pulpen yang emosional.

Namun, belum sempat pulpen Pak Bambang menyelesaikan goresan huruf pertama pada lembar tilang warna merah tersebut, sebuah mobil limosin Mercedes-Maybach hitam besar dengan bumper depan dipenuhi sisa-sisa daun pisang robek dan ranting pohon hias meluncur pelan dan berhenti dengan sangat anggun tepat di depan pos polisi.

SREEEET…

Pintu penumpang belakang terbuka otomatis dengan suara desis hidrolik yang mewah. Pak Handoko turun dari mobil dengan wibawa penuh yang tersisa, meskipun penampilannya kini sudah tidak se-klimis tadi pagi. Jas Prancis-nya tidak dikancingkan lagi, memperlihatkan kemeja putihnya yang agak kusut, dan ujung celana mahalnya tampak kotor akibat lumpur semak pisang. Di belakangnya, Bambang dan Joko—dua pengawal raksasa berjas safari hitam—langsung mengambil posisi berdiri tegap di kanan-kiri Pak Handoko dengan ekspresi wajah seolah-olah mereka sedang mendampingi delegasi perdamaian PBB di zona konflik bersenjata.

Pak Bambang si polisi lalu lintas langsung menghentikan gerakan pulpennya. Matanya melotot menatap pelat nomor khusus yang terpasang di limosin tersebut. Sebagai seorang petugas yang sudah bertahun-tahun berjaga di jalur utama antar-provinsi, ia tahu persis kode pelat nomor tersebut—itu adalah kode rahasia yang hanya dialokasikan untuk lingkar dalam elit korporasi multinasional dan pejabat tinggi tingkat nasional yang memiliki pengaruh terhadap kebijakan ekonomi negara.

"Selamat siang, Petugas," sapa Pak Handoko dengan suara berat, dalam, dan penuh tekanan psikologis khas eksekutif senior yang biasa memimpin rapat umum pemegang saham. "Apakah ada masalah hukum atau regulasi birokrasi yang melibatkan Tuan Muda kami?"

Pak Bambang si polisi menelan ludah dengan susah payah, suara jakunnya naik-turun terdengar jelas. Ia memandang Gavin yang kaos oblongnya compang-camping penuh jelaga hitam mirip korban kebakaran, lalu memandang limosin mewah berlapis baja dan dua pengawal raksasa di depannya. Otak polisi lalu lintasnya mencoba memproses informasi yang sangat tidak sinkron ini dengan kecepatan penuh.

"I-Ini... anak muda yang mukanya hitam ini... adalah Tuan Muda Anda?" tanya Pak Bambang dengan suara yang mendadak naik dua oktav, kehilangan kegarangannya yang tadi.

"Benar. Beliau adalah Gavin Dewantara, pewaris tunggal dan pemegang kendali masa depan dari Dewantara Group," jawab Pak Handoko dengan nada formal yang sangat kaku namun mematikan mental lawan bicara. Ia kemudian menoleh sedikit ke arah Joko tanpa mengubah pandangannya dari Pak Bambang. "Joko, ambilkan dokumen kompensasi darurat untuk gangguan ketertiban lalu lintas regional yang disebabkan oleh kerusakan teknis kendaraan Tuan Muda."

Joko melangkah maju satu langkah, membuka sebuah koper kecil hitam berbahan serat karbon yang dibawanya sejak tadi. Di dalamnya bukan berisi tumpukan uang tunai seperti di film-film mafia, melainkan selembar sertifikat hukum kepemilikan aset resmi dan beberapa dokumen dengan stempel emas korporasi.

"Bapak Petugas Bambang yang terhormat," kata Pak Handoko dengan ketenangan yang luar biasa. "Atas nama kenyamanan dan efisiensi waktu perjalanan Tuan Muda kami menuju ibu kota, kami tidak ingin memperpanjang urusan administrasi surat tilang ini di meja pengadilan. Ini adalah surat pernyataan hibah resmi yang sudah ditandatangani oleh divisi hukum Dewantara Group pagi ini. Mulai detik ini, Dewantara Group resmi menghibahkan lima unit mobil patroli Mitsubishi Lancer Evolution terbaru lengkap dengan spesifikasi mesin balap untuk polres wilayah Anda. Selain itu, kami juga berkomitmen untuk merenovasi total pos polisi kecil ini menjadi gedung dua lantai berlapis kaca antipeluru, lengkap dengan fasilitas AC sentral, kursi pijat otomatis di ruang tunggu, dan mesin pembuat kopi espresso otomatis dari Italia. Apakah lembar hibah ini cukup untuk menggantikan fungsi knalpot Tuan Muda yang hilang?"

Pak Bambang si polisi langsung gemetaran hebat. Buku tilang di tangan kirinya terlepas dan jatuh begitu saja ke atas tanah berdebu tanpa ia sadari. Matanya membelalak menatap segel emas pada dokumen hibah tersebut, lalu menatap Gavin seolah-olah remaja kucel itu adalah malaikat pelindung ekonomi yang turun langsung dari langit Pantura untuk menyelamatkan karier dan kesejahteraan pos polantasnya.

"C-Cukup... sangat... sangat cukup mewah, Bapak yang terhormat!" seru Pak Bambang dengan suara bergetar, lalu secara refleks mengambil posisi hormat gerak dengan tingkat ketegakan tubuh yang luar biasa ekstrem hingga punggungnya berbunyi KREK. "Jangankan knalpot hilang, Pak! Kalau Tuan Muda Gavin ingin mengendarai motor tua ini tanpa roda, tanpa stang, atau bahkan sambil terbang di atas jalur berlawanan pun, seluruh jajaran kepolisian resort Batang siap mengawal di depan menggunakan sirine penuh sampai perbatasan Jakarta!"

Gavin hanya bisa menepuk dahinya sendiri dengan telapak tangan yang penuh oli, menyisakan noda hitam baru di dahinya. "Pak Han... lu bener-bener ngerusak seni petualangan miskin gue tahu gak? Rencana awal gue tuh pengen ngerasain debat argumen seru sama polisi jalanan, pengen ngerasain motor gue disita terus gue terpaksa melas-melas pake uang tebusan pas-pasan hasil patungan anak kos. Kenapa lu malah membangun resort mewah dua lantai lengkap dengan fasilitas kopi Italia di sini?! Ini namanya intervensi kapitalisme terhadap romansa jalanan!"

"Kenyamanan psikologis dan keselamatan fisik Anda adalah prioritas mutlak yang tertera dalam anggaran dasar perusahaan, Tuan Muda," jawab Pak Handoko tanpa ekspresi wajah sedikit pun, tetap mempertahankan wibawa kaku pelayan setianya.

Gavin menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. Ia kemudian berbalik ke arah Pak Bambang si polisi yang masih dalam posisi hormat tegak. "Pak Polisi Bambang, daripada saya nunggu gedung dua lantai ini selesai dibangun, boleh pinjam kawat jemuran baju gak di belakang pos? Sama tang potong kalau punya."

"Siap! Ada, Tuan Muda! Jangankan kawat jemuran, jemuran bajunya sekalian sama baju-baju dinas saya yang masih basah boleh diambil kalau Tuan Muda butuh untuk mengikat motor!" seru Pak Bambang penuh semangat, langsung berlari ke belakang pos dengan kecepatan penuh seperti atlet lari cepat nasional.

Beberapa menit kemudian, knalpot karatan milik Gavin yang sempat menggelinding tadi ternyata sudah dipungut dan dibawa oleh Joko menggunakan kain pelapis khusus agar tidak mengotori tangannya. Knalpot itu kini berada di tangan Gavin.

Dengan bantuan kawat jemuran besi milik pos polisi dan keahlian mekanik jalanan darurat yang Gavin pelajari dari montir bengkel tambal ban dekat Kos Bu Broto, operasi penyambungan knalpot darurat pun dimulai. Gavin melilitkan kawat jemuran itu berkali-kali secara brutal pada leher knalpot yang patah, menyambungkannya langsung ke rangka blok mesin bawah. Untuk memastikan knalpot tidak bergoyang saat diterpa angin Pantura, Gavin menambahkan aliansi pengikat berupa tali rafia warna merah rapuh yang ia temukan di selokan samping pos, mengikatnya erat pada besi pijakan kaki belakang.

Setelah selesai, Gavin mencoba menyalakan mesin motornya kembali. EENGKEEEL!

BRRRUMMM! POP! CHUG! CHUG!

Mesin Astrea Grand kembali hidup. Suaranya kini kembali ke tingkat kebisingan standar motor tua: mirip dengan suara mesin jahit kuno yang rusak dan kekurangan pelumas, tapi setidaknya tidak lagi memicu kepanikan massal warga sekitar atau memecahkan kaca jendela pos polisi.

"Nah! Mantap! Aliansi kawat jemuran dan tali rafia terbukti lebih efektif ketimbang teknologi suspensi Maybach milik lu, Pak Han!" seru Gavin bangga sambil menepuk-nepuk jok motornya yang sobek. Ia kembali memakai helm cetok merah tuanya yang posisinya masih agak miring.

"Perjalanan berlanjut! Target berikutnya: Pemalang! Gue mau cari makan malam yang gak ada unsur emas atau kokinya dari Italia!" teriak Gavin penuh semangat. Ia menarik tuas gasnya, membiarkan kepulan asap putih tipis dari knalpot kawatnya meniup wajah Pak Bambang si polisi yang kembali memberikan hormat paling takzim sepanjang sejarah kariernya di Korps Lalu Lintas.

Rombongan aneh itu kembali bergerak membelah debu jalur Pantura yang mulai meredup diselimuti senja. Di depan, Gavin Dewantara melaju memimpin jalan dengan motor bebek karatan yang diikat kawat jemuran, sementara di belakangnya, sebuah mobil limosin mewah berlapis baja seharga miliaran rupiah setia mengekor dengan bumper depan dipenuhi daun pisang, bergerak perlahan menuju barat demi menjemput sebuah takhta korporasi yang kaku.

1
Mey-mey89
lanjut
Azmi Zildiawan: Terima kasih sudah membaca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!