Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.
Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.
Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusup di Dalam
Vania mengubah penampilannya secara signifikan sebelum mengajukan lamaran magang di Yayasan Wirawan Pratama — memotong pendek rambutnya yang dulu panjang bergelombang, mengganti kacamata dengan lensa kontak, dan menggunakan nama tengahnya, Ratih, sebagai identitas baru untuk menghindari kecurigaan. Dia juga membuat dokumen palsu sederhana yang menyembunyikan riwayat pekerjaannya sebagai dokter, hanya menampilkan pengalamannya sebagai staf administrasi di klinik kecil tempat dia bekerja belakangan ini.
Proses seleksi untuk posisi sukarelawan magang memang tidak seketat posisi resmi lainnya, mengingat yayasan itu justru berusaha membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun yang ingin berkontribusi di bidang kesehatan, termasuk mereka yang mungkin tidak memiliki latar belakang formal yang sempurna sebuah nilai yang justru dijunjung tinggi Alya sejak awal pendirian yayasan, mengingat pengalaman pahitnya sendiri dulu.
Vania kini dikenal sebagai Ratih diterima bekerja di divisi administrasi dokumen kasus, posisi yang memberinya akses cukup luas untuk melihat berbagai berkas internal yayasan, meski tidak langsung berhubungan dengan Alya secara personal pada awalnya.
Minggu-minggu pertama, dia bekerja dengan tekun dan profesional, membangun kepercayaan rekan-rekan kerjanya yang tidak menaruh curiga sedikit pun pada identitas aslinya. Dia mengamati dengan seksama rutinitas Alya, jadwal kunjungan yayasan, hingga pola keamanan yang diterapkan di kantor tersebut.
"Ratih orangnya rajin sekali," komentar salah satu rekan kerjanya suatu hari, saat mereka makan siang bersama. "Dokter Alya bahkan sempat memujimu kemarin soal laporan yang kamu susun."
Vania tersenyum tipis mendengar itu, menyembunyikan kepahitan yang masih membara di dadanya. "Terima kasih. Aku memang berusaha memberikan yang terbaik."
Kesempatan yang dia tunggu-tunggu akhirnya datang sekitar sebulan setelah dia bekerja di sana. Alya, yang kini memasuki trimester kedua kehamilannya, mulai mengurangi sebagian jadwal kerjanya sesuai saran dokter kandungannya, mendelegasikan beberapa tugas administratif kepada staf yang dipercaya, termasuk beberapa dokumen sensitif terkait identitas pelapor kasus-kasus whistleblower yang pernah ditangani yayasan — termasuk berkas lengkap kesaksian Ibu Retno dan Diah dalam kasus Om Wisnu.
Vania, yang kebetulan ditugaskan membantu pengarsipan dokumen-dokumen lama tersebut, menyalin diam-diam beberapa informasi sensitif itu ke dalam flashdisk pribadinya, meski dia sendiri belum sepenuhnya yakin akan digunakan untuk apa informasi tersebut nantinya. Instingnya sebagai orang yang pernah merasakan kekalahan telak mengatakan bahwa informasi selalu bisa menjadi senjata, kapan pun dibutuhkan.
Namun, kehati-hatian Vania mulai sedikit goyah ketika suatu sore dia berpapasan langsung dengan Alya di lorong kantor yayasan, lebih dekat dari yang pernah terjadi sebelumnya.
"Ratih, kan?" sapa Alya ramah, tersenyum tulus tanpa curiga sedikit pun. "Aku dengar kerjamu sangat rapi belakangan ini. Terima kasih sudah membantu tim kami."
Jantung Vania berdegup kencang, menahan diri sekuat tenaga agar ekspresinya tidak berubah drastis di hadapan wanita yang dulu begitu dia benci. "Terima kasih, Dokter Alya," jawabnya, suaranya berhasil dia jaga tetap tenang meski tangannya sedikit gemetar di balik map yang dia pegang.
Alya, yang tidak menaruh curiga sedikit pun, melanjutkan langkahnya setelah percakapan singkat itu, sementara Vania berdiri mematung sejenak, dadanya bergemuruh dengan perasaan campur aduk yang sulit dia jelaskan kebencian yang masih membara, namun juga rasa aneh yang muncul melihat betapa tulus dan ramahnya sikap Alya, bahkan pada seorang staf magang biasa sekalipun.
Malam itu, di apartemen kecilnya, Vania duduk menatap flashdisk berisi data sensitif yang berhasil dia kumpulkan, pikirannya berkecamuk antara dendam yang masih membara dan keraguan yang mulai muncul entah dari mana.
Namun keraguan itu segera lenyap ketika dia membuka kembali media sosial, melihat unggahan terbaru keluarga Wirawan foto USG bayi mereka yang pertama, disertai keterangan penuh kebahagiaan dari Raka tentang betapa dia tidak sabar menyambut kelahiran anak pertamanya.
Rahang Vania mengeras, kepahitan lama kembali menguasai dirinya sepenuhnya. Dia mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat kepada jurnalis gosip lama yang pernah membantunya menyebarkan fitnah sebelumnya orang yang sama yang dulu membantu menerbitkan artikel skandal pernikahan kontrak Alya dan Raka.
"Aku punya data baru yang jauh lebih berbahaya kali ini. Kamu tertarik?"
Namun sebelum pesan itu sempat terkirim, ponselnya tiba-tiba bergetar menampilkan panggilan masuk dari atasannya langsung di yayasan, suaranya terdengar tegang di ujung telepon.
"Ratih, bisa kamu segera ke ruang kerja Dokter Alya sekarang? Ada yang ingin beliau bicarakan denganmu, secara langsung."
Jantung Vania mencelos mendengar itu, tangannya yang memegang ponsel tiba-tiba terasa dingin. Apakah kedoknya sudah terbongkar?