Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.
Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasutan yang Membuat Bimbang
“Apa yang terjadi dengan Alya, Revan?”
Ibu datang dengan tergesa-gesa, memasuki kamar rawat Alya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Wajahnya penuh dengan kekhawatiran yang tidak bisa ditutupi.
Di belakangnya muncul Bude Arum dan juga Dona.
Dona, biang dari masalah emosi Aira yang meluap hari ini. Dialah yang telah memberitahukan semuanya tentang kehidupanku dan Alya di rumah. Siapa lagi kalau bukan Dona? Aku harus memberinya pembelajaran.
“Keguguran...” ucapku lirih, masih duduk di samping Alya.
“Kok bisa...?”
Ibu menatapku tegas.
“Kamu nggak tahu kalau istrimu sedang hamil? Kenapa kamu tidak berhati-hati, Revan?”
“Bu, Kak Revan dan Alya sama-sama tidak tahu kalau Alya sedang hamil.” Alya yang menjawab dengan pelan. Ia berusaha tersenyum hangat pada Ibu yang masih diliputi wajah tegang.
“Aku yang keliru, Bu. Awalnya aku mengira kalau Alya yang sering mual dan muntah itu adalah efek dari tekanan darahnya yang rendah, padahal itu salah. Alya tengah hamil. Perkiraan dokter, usia kandungannya sekitar empat minggu.”
“Ya Tuhan....” Ibu menghela napas gusar. Ia mengerutkan kening, kemudian melangkah mendekat ke arah Alya dan menggeser posisiku.
“Terus kenapa Alya bisa seperti ini? Bisa keguguran seperti ini. Apa sebabnya?”
Aku masih terdiam membisu. Jika mengatakan nama Aira di hadapan Ibu yang menjadi penyebab keguguran Alya, pasti Ibu akan sangat marah dan semakin tidak menyukai Aira.
“Alya....” Terdengar suara lirih dari balik pintu. Pak Darman masuk dengan didorong menggunakan kursi roda oleh seorang perawat.
“Siapa wanita tadi yang telah mencelakai anak saya?” lirihnya lagi, dengan napas yang terdengar lemah.
Seketika semua pasang mata tertuju padaku, Bude, Dona, dan terutama Ibu. Tatapan mereka tajam bagai hujaman pedang yang mengarah kepadaku.
“Aira tidak sengaja mendorong tubuh Alya, Bu.”
Ujarku pelan dan sangat hati-hati. Membuat Ibu melotot dengan rahang yang terkatup rapat.
“Tidak sengaja?” Perkataan Ibu menggantung di atas langit-langit.
“Setelah melihat apa yang dilakukan oleh kekasihmu itu pada Alya, apa kamu masih menganggap kalau wanita itu adalah wanita baik-baik?” Suara Ibu penuh dengan ketegasan.
“Aira tidak sengaja, Bu. Lagian Aira tidak mengetahui kalau Alya sedang hamil.”
Kini aku berdiri berhadapan dengan Ibu, saling menghunuskan tatapan tajam.
“Kamu masih membelanya, Revan? Setelah wanita yang membuatmu bodoh dan buta itu hampir menghilangkan nyawa seseorang?”
Ruangan hening seketika. Hanya detak jam dinding yang terus melaju teratur tanpa mengulur waktu. Namun bagiku, waktu ini terasa sangat lama.
Apa iya aku bodoh?
“Kamu bilang tidak sengaja? Tidak mungkin tangan Aira terbawa oleh angin lalu tidak sengaja mendorong Alya. Kamu ini seorang dokter, Revan. Kamu terkenal sebagai dokter yang baik dan cerdas. Tapi masalah seperti ini saja kamu sangat bodoh....”
Ibu benar-benar marah akan perbuatan Aira. Posisiku serba salah saat ini.
“Sudahlah, Rahayu. Lagian hanya keguguran saja. Kamu ini terlalu berlebihan. Sudah Revan jelaskan kalau Aira itu tidak sengaja. Lagian baru melakukan satu kali saja sudah tumbuh janin....”
“Memangnya kamu tidak curiga pada Alya, Revan?”
Kedatangan Bude Arum semakin memperkeruh suasana. Dengan prasangka buruknya yang tidak masuk akal, tidak mungkin Alya melakukan hal itu dengan pria lain. Karena selama ini ia selalu menjaga dirinya.
“Mbak, tolong. Niat awal Mbak untuk datang ke sini itu untuk apa?”
Ibu kini yang bertindak tegas pada Bude Arum.
“Tapi apa yang dikatakan Bude Arum masuk akal juga, Kak. Coba Kakak pikirkan lagi. Masa baru satu kali melakukan hal itu bisa langsung berhasil? Bahkan orang-orang di sana membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk berhasil.”
Kini Dona yang mendukung Bude Arum. Omongannya, menjadi pemantik bagiku untuk segera meledakkan gumpalan emosi yang sedari tadi sudah bergumul di dalam dada.
“Dona! Diam. Kejadian ini semuanya bersumber dari kamu. Jika kamu tidak melaporkan semuanya pada Aira, mungkin tidak akan pernah terjadi.”
“Kok aku yang jadi disalahkan, Kak?”
Dona semakin mendekat ke arahku. Matanya menatap bengis pada Alya, kemudian beralih padaku.
“Aku hanya kasihan pada Kak Aira. Aku juga wanita. Melihat Kak Revan yang semakin dekat dengan Alya, aku juga sakit hati. Aku merasakan bagaimana yang Aira rasakan.”
Aku terdiam dengan apa yang diucapkan Dona. Apa selama ini aku berlebihan dalam memberi perhatian pada Alya?
“Ingat, Kak. Kalian sudah berhubungan selama tiga tahun lebih. Tapi kenapa Kak Revan begitu mudah untuk menerima wanita baru dalam hidup Kakak?”
“Sebagai wanita, Bude juga ikut merasakan rasa sakit yang Aira rasakan. Bude juga akan bersikap seperti Aira yang merasa dikhianati oleh orang yang selama ini dia percaya.”
Kini Bude yang mendukung. Membuatku semakin dilema. Di satu sisi, Alya juga istriku dan aku adalah pria yang sangat normal. Di sisi lain, aku telah mengingkari janjiku pada Aira. Aku salah. Aku terlalu terlena dengan perhatian Alya hingga aku melupakan janjiku pada Aira.
“Cukup! Jangan memperkeruh suasana di sini. Mbak Arum, Dona. Selama ini aku diam kala kalian merendahkan Alya di rumah. Tapi untuk saat ini, maaf. Aku tidak bisa lagi menoleransi masalah besar seperti ini.”
Aku hanya bisa diam terpaku. Sungguh, hatiku kini diliputi kebimbangan.
“Dona... selama ini Bude mampu bersabar. Tapi dengan masalah ini, dengan campur tangan kamu yang berusaha untuk merusak hubungan Alya dan Revan, Bude tidak bisa memaafkan lagi. Dona, minta maaflah pada Alya!”
“Revan!” panggil Ibu tegas, membuatku menoleh padanya.
“Hubungan kamu dan Alya tidak ada salahnya. Kalian suami istri, dan Aira hanya kekasihmu, yang selalu membuatmu bodoh karena dibutakan oleh cintanya. Jangan merasa bersalah padanya hingga kamu menyalahkan dirimu sendiri.”
“Alya istri kamu, dan Aira belum tentu akan menjadi istri kamu. Kamu belum mengenal wanita itu lebih jauh, karena cintamu pada wanita itu membuatmu buta dan tuli.”
Terdengar helaan napas gusar dari Ibu.
“Jangan sampai sebuah penyesalan yang menghukummu. Bukalah matamu selebar mungkin, Revan!”
“Bude Rahayu terlalu mengagungkan menantu yang munafik itu. Seharusnya Bude yang membuka mata selebar mungkin. Wanita yang berada di sampingmu itu bertopeng tebal. Luarnya terlihat baik, tapi dalamnya itu terlihat busuk....” Nada suara Dona meningkat satu oktaf, membuat Ibu sedikit tersentak.
“Apa sih yang membuat wanita itu spesial di matamu, Rahayu?” Bude Arum ikut mendukung Dona.
“Ibu... pandanganku kenapa terasa berputar?” lirih Alya. Seketika aku menoleh dan mendekat ke arahnya.
Alya terlihat meringis sambil memegangi kepala dan menutup matanya.
“Alya... apa yang terjadi?” Aku menyentuh tangannya yang terlihat memutih dan terasa semakin dingin.
“Kak Revan... kenapa aku terasa lemas sekali?” Suara Alya mulai terdengar lemah.
“Nak Revan... tolong anak saya.” Pak Darman ikut histeris.
Cepat aku menelepon Dokter Rima, dokter yang menangani kondisi Alya.
Aku tetap memegangi Alya yang mulai kehilangan kesadaran.
“Al, jangan tidur, Al....” Aku menepuk pipi Alya yang semakin terasa dingin.
Bersambung...