Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BINTANG DI ATAS BUKIT DAN AWAL BARU
Desir angin pegunungan yang membawa aroma khas pinus dan tanah basah menyambut kedatangan kami di Villa Green Ridge, rumah peristirahatan keluarga Ammar yang terletak di lereng gunung. Perjalanan tiga jam dari kota tak terasa melelahkan karena sepanjang jalan Ammar tak henti-hentinya memastikan kenyamananku. Ia bahkan melapisi kursi penumpang dengan bantal busa ekstra tebal agar punggungku tidak pegal menghadapi jalanan menanjak yang berbelok-belok.
Mobil berhenti mulus di pelataran berumput hijau. Villa bergaya kolonial dengan sentuhan kayu hangat itu berdiri megah, dikelilingi kebun teh yang membentang seperti permadani hijau di bawah langit sore yang jernih.
"Sampai juga kita, Sayang," ujar Ammar halus. Ia bergegas keluar lebih dulu, mengitari kap mobil, lalu membukakan pintu untukku dengan kehati-hatian yang luar biasa.
Umi Khadijah yang turun dari pintu belakang menatap sekeliling dengan binar mata penuh nostalgia. "Masya Allah... udara di sini tidak pernah berubah sejak almarhum Abahmu masih ada, Ammar. Tetap sejuk dan menenangkan."
"Alhamdulillah, Umi. Semua fasilitas di dalam sudah disiapkan oleh Pak Joko kemarin. Umi bisa langsung istirahat di kamar utama bawah," sahut Ammar seraya merengkuh pinggangku, membimbing langkah pelanku menaiki tangga teras kayu.
"Terima kasih, Mas... udaranya segar sekali, beda jauh dari cuaca kota," bisikku seraya menghirup napas dalam-dalam. Rasa hangat menjalar di dadaku saat melihat betapa perhatiannya suamiku mengatur liburan singkat ini.
"Ini baru permulaan, Aisyah," balurnya manis di dekat telingaku. "Tugasmu di sini hanya dua: menikmati pemandangan dan bahagia."
Kamar kami terletak di lantai dua, memiliki balkon luas yang menghadap langsung ke lembah dan hamparan kebun teh. Usai merapikan pakaian dan membersihkan diri, Ammar memintaku duduk di kursi santai dekat jendela balkon.
Ia membawa sebuah baskom kayu berisi air hangat yang diberi tetesan minyak aromaterapi lavender, lalu berlutut di hadapanku tanpa ragu.
"Mas Ammar? Mau melakukan apa?" tanyaku kaget saat jemari tangannya mulai melepas kaus kaki tebal yang kukenakan.
"Kaki kamu kelihatan sedikit membengkak sejak tadi di mobil," jawab Ammar tenang. Tanpa menunggu persetujuanku, ia menyingsingkan sedikit ujung gamisku lalu merendam kedua kakiku ke dalam air hangat. "Dokter bilang, mengompres dan memijat telapak kaki dengan air hangat bisa melancarkan sirkulasi darah di usia kehamilan tua."
Jemari Ammar yang kokoh dan berurat mulai memberikan tekanan lembut di titik-titik pegal pada telapak kakiku. Usahanya yang begitu tulus membuat tenggorokanku mendadak tercekat oleh rasa haru yang meluap.
Pria yang dulunya dikenal sangat dingin, kaku, dan berjarak dengan dunia luar itu, kini berlutut di bawah kakiku, melakukan hal-hal sederhana namun bermakna dalam dengan penuh kasih sayang.
"Mas... tidak usah sampai seperti ini, aku bisa minta tolong bibi atau—"
"Aisyah," potong Ammar lembut, mendongak menatap mataku. Binar mata cokelat mewahnya memancarkan ketulusan yang murni. "Memijat kaki istriku sendiri bukan sebuah keburukan. Ini kehormatan untuk saya. Kamu sedang berjuang membawa calon anak kita kemana-mana setiap hari. Pegal yang kamu rasakan tidak ada apa-apanya dibanding pelayanan sederhana ini."
Air mataku menetes tanpa bisa ditahan, menepiskan titik hangat di pipi. Ammar menyapu lelehan bening itu dengan ibu jarinya, lalu mengecup lututku penuh penghormatan sebelum melanjutkan pijatannya.
Malam harinya, usai makan malam bersama Umi Khadijah dengan menu sup ayam kampung hangat khas pegunungan, Ammar membimbingku menuju area balkon luar. Suasana malam begitu hening, hanya dihiasi derik jangkrik dan hamparan bintang yang bertaburan terang di langit malam yang bersih tanpa polusi kota.
Ammar menyelimuti bahuku dengan kain rajut tebal, lalu memelukku dari belakang. Dada lapangnya menjadi sandaran paling nyaman bagi punggungku. Kedua tangannya bertangkup tepat di atas perutku yang kian membuncit.
"Lihat ke atas, Aisyah," bisik Ammar, napas hangatnya berembus manis di leherku. "Langit di sini selalu jujur. Ketika malam sangat gelap, bintang-bintang justru bersinar paling terang."
"Seperti perjalanan kita ya, Mas?" sahutku pelan, menyandarkan kepala di bahunya. "Dulu rasanya gelap sekali. Badai fitnah, cemoohan orang, dan ketakutan akan masa depan hampir membuatku menyerah."
Ammar mempererat pelukannya, mengecup pelipisku lama. "Tapi kamu tidak menyerah. Allah memilihmu untuk melewati itu semua karena Allah tahu kamu kuat. Dan malam ini, di bawah bintang-bintang ini, saya berjanji akan terus menjadi langit yang memayungimu dari badai apa pun di masa depan."
Gerakan di dalam perutku tiba-tiba terasa cukup kuat. Buah hati kami seolah ikut merespons janji yang diucapkan ayahnya.
"Aduh..." ringisku pelan seraya tertawa halus.
"Kenapa, Sayang? Ada yang sakit?" tanya Ammar panik, seketika mengubah posisinya berdiri di sampingku.
"Tidak sakit, Mas. Anakmu menyetujui ucapan babaknya. Dia menendang agak keras tadi," jelasku seraya mengarahkan tangannya ke titik gerakan tersebut.
Ammar tersenyum lebar, senyuman langka yang selalu berhasil membuat dadaku berdesir hebat. Ia membungkuk, menempelkan bibirnya di perutku. "Anak Pintar... bantu Ibu ya, jangan nakal di dalam sana. Bapak dan Ibu sudah tidak sabar ingin memelukmu."
Tiga hari di vila pegunungan berlalu bagaikan mimpi indah yang memulihkan seluruh energi dan psikologis kami. Kami kembali ke rumah dengan kondisi fisik dan mental yang jauh lebih siap. Keputusan sidang Pengadilan Negeri yang dibacakan secara in absentia beberapa hari setelahnya pun membawa angin segar mutlak: para terdakwa divonis hukuman penjara atas pelanggaran UU ITE dan kejahatan pencemaran nama baik, sementara nama baikku serta pesantren direhabilitasi secara penuh oleh negara.
Bulan-bulan berikutnya bergulir dengan ketenangan yang menyejukkan. Ammar makin selektif menerima agenda luar kota. Ia lebih banyak mengontrol pembangunan kompleks pendidikan Syekh Ali dari rumah, memastikan dirinya selalu berada di dekatku ketika usia kandunganku menyentuh bulan kesembilan.
Hingga pada suatu dini hari di minggu ketiga bulan kesembilan, takdir Allah menuntun kami pada puncak penantian.
Rasa mulas yang teramat hebat menghantam pinggang bawahku sekitar pukul tiga pagi. Aku terbangun dalam keadaan peluh membasahi dahi. Ketika mencoba berdiri menuju kamar mandi, rasa hangat mengalir membasahi tungkai kakiku. Air ketuban telah pecah.
"Mas... Mas Ammar..." panggilku parau, menahan dorongan mules yang datang bergelombang.
Ammar yang dasarnya adalah seorang light sleeper seketika melonjak bangun. Dalam hitungan detik, ia sudah berada di sampingku, menangkap tubuhku yang gemetar.
"Aisyah! Kenapa, Sayang? Ketubannya pecah?" tanya Ammar dengan suara yang tenang namun tak bisa menyembunyikan getar kekhawatiran di matanya.
"Sakit sekali, Mas... mulasnya beda dari kemarin..." rintihku seraya meremas lengan kemeja tidurnya.
Tanpa membuang waktu, Ammar menyambar tas perlengkapan bayi yang memang sudah disiapkan di dekat lemari sejak dua minggu lalu. Ia menggendong tubuhku secara bridal style dengan cekatan, menuruni tangga rumah sembari berseru memanggil Umi Khadijah.
"Umi! Aisyah mau melahirkan! Kita ke Rumah Sakit sekarang!"
Suasana rumah seketika berubah sigap namun teratur. Pak Joko menyiapkan mobil di garasi, sementara Umi Khadijah menyusul membawa dokumen-dokumen medis. Di dalam mobil menuju Rumah Sakit Bersalin Syifa, Ammar memangku kepalaku di pangkuannya. Tangannya tak pernah berhenti mengusap dahiku dan melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an tepat di telingaku.
Suara baritonnya yang merdu dan penuh ketenangan menjadi satu-satunya jangkar yang menahanku agar tidak larut dalam rasa sakit kontraksi yang kian merapat.
"Tarik napas perlahan, Aisyah... Laa ilaaha illa Anta subhaanaka inni kuntu minadz dzaalimiin... Kamu pasti bisa, Sayang. Saya ada di sini," bisik Ammar berulang kali, mengusap peluh di pelipisku dengan jarinya yang gemetar.
Setibanya di rumah sakit, tim medis langsung membawaku ke ruang bersalin. Dokter Sarah—dokter spesialis kandungan yang menangani kehamilanku sejak awal—segera melakukan pemeriksaan dalam.
"Pembukaan sudah pembukaan tujuh, Mbak Aisyah. Progresnya sangat bagus dan cepat," ujar Dokter Sarah dengan nada menenangkan. "Tetap atur napas ya. Jangan mengedan dulu sebelum saya beri instruksi."
Ammar mengenakan baju steril hijau dan berdiri setia di sisi kiriku. Ia menggenggam tangan kiriku erat-erat, membiarkan jemariku meremas tangannya sekuat tenaga setiap kali gelombang kontraksi hebat itu datang menerjang.
"Mas... sakit..." tangisku pecah, tak sanggup lagi menahan puncak rasa mules yang luar biasa.
Ammar mendekatkan wajahnya, mencium dahiku dengan kehangatan yang mendalam. Air mata terlihat menggenang di sudut mata cokelat mewahnya—sebuah pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Pria sekuat batu karang itu kini meneteskan air mata menyaksikan perjuanganku.
"Saya tahu, Sayang... maafkan saya... terima kasih sudah berjuang sejauh ini," bisik Ammar parau, suaranya terputus-putus oleh keharuan. "Zikir, Aisyah... sebut nama Allah..."
Dua jam berlalu dengan perjuangan hidup dan mati. Ketika pembukaan telah lengkap sepuluh, Dokter Sarah memberi sinyal tegas.
"Bagus! Pembukaan sudah lengkap. Saat kontraksi datang lagi, tarik napas dalam, dagu menempel di dada, dan dorong kuat-kuat ke arah bawah ya, Mbak Aisyah!" instruksi Dokter Sarah.
Ammar menopang tengkukku dengan tangan kanannya, membantuku mengambil posisi mengedan yang ideal. "Ayo, Sayang... Bismillah... dorong, Aisyah!"
"Nggghhhh...!"
Aku mengumpulkan seluruh sisa tenaga yang kumiliki, mendorong sekuat jiwa dan raga. Rasa sakit yang memuncak seolah membelah tubuhku menjadi dua, namun bayangan wajah Ammar dan harapan akan hadirnya sang buah hati membakar seluruh ketahananku.
"Kepalanya sudah keluar! Sedikit lagi, Mbak! Dorong sekali lagi yang panjang!" seru Dokter Sarah semangat.
"Aisyah, sedikit lagi, Sayang! Bismillah!" pangkas Ammar memberi semangat di dekat telingaku.
"Aarghhh...!"
Oeeekkk! Oeeekkk! Oeeekkk!
Suara tangisan melengking yang jernih dan nyaring seketika memecah ketegangan di ruang bersalin.
Duniaku serasa berhenti berputar. Seluruh rasa sakit yang teramat sangat itu hilang seketika dalam sekejap mata, digantikan oleh gelombang lega dan kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Dokter Sarah mengangkat tubuh mungil berbalut darah dan cairan ketuban itu, lalu meletakkannya di atas dada telanjangku untuk proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
"Selamat, Habib Ammar, Mbak Aisyah... Bayinya laki-laki, sangat sehat dan tangguh!" ucap Dokter Sarah tersenyum lebar.
Aku menunduk menatap makhluk mungil yang kini bergerak-gerak kecil di dadaku. Kulitnya merah, rambutnya hitam lebat, dan garis wajahnya... sangat mirip dengan ayahnya.
Ammar berlutut di samping tempat tidur. Wajahnya sejajar dengan wajahku dan bayi kami. Tangannya yang gemetar perlahan menyentuh jemari mungil anaknya yang terkepal. Air mata Ammar menetes riil, jatuh ke pipiku dan pipi bayi kami.
"Anak kita, Aisyah..." bisik Ammar parau, bibirnya bergetar hebat. Ia mencium dahiku lama, sangat lama, lalu beralih mencium pipi merah bayi kami dengan kelembutan yang teramat murni. "Terima kasih, Ya Allah... Terima kasih, Aisyah... Kamu luar biasa."
Ammar kemudian mendekatkan telinganya ke telinga kanan sang bayi. Dengan suara baritonnya yang merdu dan parau oleh tangis haru, ia mengumandangkan azan pertamanya:
"Allahu Akbar, Allahu Akbar..."
Gema azan Ammar merambat halus di ruang bersalin, menggetarkan sanubari siapa pun yang mendengarnya. Aku memejamkan mata, merasakan air mataku menetes penuh rasa syukur. Anak laki-laki kami lahir di tengah keberkahan, dikelilingi cinta suci yang telah teruji oleh berbagai badai kehidupan.
Beberapa jam kemudian, aku telah dipindahkan ke ruang rawat inap VIP yang nyaman. Suasana kamar dipenuhi oleh kehangatan keluarga. Bunga-bunga segar menghiasi sudut ruangan, dan Umi Khadijah tak berhenti mengusap kepala cucu pertamanya yang kini tertidur lelap di dalam boks bayi transparan di samping tempat tidurku.
Nabila dan Ustaz Ridwan juga hadir menjenguk, membawa bingkisan dan kebahagiaan yang meluap-luap.
"Masya Allah, Aisyah... ketampanannya benar-benar menjiplak Ammar!" puji Nabila gemas seraya melihat bayi kecil itu dari balik kaca boks. "Hidungnya mancung sekali sejak lahir."
"Alhamdulillah... yang terpenting dia sehat dan menjadi anak yang saleh," sahut Umi Khadijah penuh haru. Umi lalu menatap Ammar yang duduk setia di samping tempat tidurku, memegang tanganku. "Ammar, siapa nama yang sudah kamu siapkan untuk putramu?"
Ammar menatapku terlebih dahulu, meminta persetujuan lewat binar matanya. Aku mengangguk pelan dengan senyuman hangat.
Ammar berdiri melangkah mendekati boks bayi, mengusap lembut pipi halus anaknya. "Kami memberinya nama Muhammad Arkhan Zhafran."
"Masya Allah... nama yang indah sekali," tutur Ustaz Ridwan mengapresiasi. "Artinya apa, Ammar?"
"Muhammad yang terpuji, Arkhan yang bermakna tiang penyangga atau sosok yang mulia, dan Zhafran yang berarti kejayaan atau kemenangan," jelas Ammar dengan suara tegas nan berwibawa. "Kami berharap, dia akan tumbuh menjadi pria mulia yang menjadi tiang penopang agama dan keluarga, serta membawa kejayaan atas kebenaran."
"Aamiin ya Rabbal 'Aalamiin..." sahut seluruh orang di dalam ruangan serentak.
Sore harinya, setelah para tamu dan keluarga pamit memberikan waktu istirahat bagi kami, kamar kembali hening dan tenang. Cahaya jingga matahari terbenam menerobos masuk dari jendela, membiaskan warna keemasan yang hangat di atas tempat tidur.
Ammar duduk di tepi ranjang, merengkuh tubuhku yang masih sedikit lemas ke dalam pelukannya. Kami menatap Arkhan kecil yang tertidur lelap di lengan Ammar.
"Terima kasih untuk hadiah terindah ini, Aisyah," gumam Ammar halus, mengecup puncak kepalaku yang tertutup jilbab instan. "Dulu saya pikir, hidup saya hanya tentang kewajiban dan ketegasan. Tapi kehadiranmu—dan kini hadirnya Arkhan—mengajari saya apa arti cinta dan ketulusan yang sebenarnya."
Aku menyandarkan daguku di bahunya, menatap dua pria tercinta dalam hidupku. "Aku yang berterima kasih, Mas. Tanpa bimbingan dan perlindungan Mas Ammar, aku tidak akan pernah sampai di titik seindah ini."
Ammar mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan hangat di bibirku sebuah kecupan manis yang menjadi lambang dari awal babak baru kehidupan kami. Tidak ada lagi sisa-sisa kegelapan masa lalu. Yang ada di hadapan kami hanyalah lembaran putih yang siap diisi dengan kebahagiaan, tawa, dan cinta yang abadi bersama sang buah hati.