Indonesia
NovelToon NovelToon
Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: AZKA DINARA

Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.

Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.

Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEPARUH GELANG YANG HILANG

Malam itu, angin bertiup kencang di luar sebuah rumah tua yang tersembunyi di pinggir ibu kota.

Pelita kecil di atas meja bergetar, membuat bayangan dua orang lelaki bergerak-gerak di dinding.

Seorang pelayan tua berdiri dengan punggung tegak. Di tangannya tergenggam separuh gelang giok yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan. Permukaannya telah menguning dimakan usia, tetapi ukiran awan di bagian tengahnya masih terlihat jelas.

Di hadapannya, lelaki berjubah gelap mengenakan lambang keluarga Zhāng.

“Serahkan gelang itu,” ujar lelaki tersebut. “Aku tidak ingin menggunakan kekerasan terhadap orang tua sepertimu.”

Pelayan tua itu menggeleng.

“Kalau kau benar-benar datang atas perintah keluarga Zhāng, kau seharusnya tahu bahwa gelang ini bukan milik kalian.”

Mata lelaki itu menyipit.

“Kau tidak memahami apa yang sedang kau lakukan. Jika gelang itu sampai kepada Kaisar, banyak orang akan kehilangan kedudukan. Bahkan orang-orang yang selama ini kau hormati mungkin tidak akan selamat dari pengadilan.”

“Justru karena itulah kebenaran harus disampaikan.”

Lelaki berjubah gelap itu melangkah maju.

“Siapa yang memberitahumu bahwa kebenaran akan menyelamatkan siapa pun?”

Pelayan tua itu terdiam sejenak. Kemudian ia mengangkat gelang giok tersebut.

“Pada malam dua anak dilahirkan, aku melihat sendiri seseorang membawa mereka keluar dari Paviliun Han Mei. Aku mendengar tangisan mereka. Aku melihat kedua gelang ini dikenakan pada pergelangan tangan masing-masing bayi.”

Ia menarik napas panjang.

“Dan aku juga melihat seseorang menukar catatan kelahiran mereka.”

Untuk pertama kalinya, ekspresi lelaki berjubah gelap itu berubah.

“Kau seharusnya sudah mati bersama rahasia itu.”

“Sayangnya, aku masih hidup.”

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari luar rumah.

Lelaki berjubah gelap itu segera menoleh. Saat perhatiannya teralihkan, pelayan tua tersebut menyelipkan gelang giok ke dalam kantong kain kecil yang tersembunyi di balik lengan bajunya.

Pintu rumah terbuka.

Seorang pemuda berpakaian sederhana muncul di ambang pintu.

“Paman, kereta sudah siap.”

Pelayan tua itu mengenali pemuda tersebut. Ia adalah anak dari seorang tabib yang pernah diselamatkannya bertahun-tahun lalu.

Namun, sebelum ia sempat berkata apa-apa, lelaki berjubah gelap itu menghunuskan sebilah pisau kecil dan menunjuk ke arah pemuda tersebut.

“Jangan bergerak!”

Pemuda itu membeku.

Dalam kekacauan singkat tersebut, pelayan tua itu mengambil keputusan. Ia melemparkan kantong kain ke arah pemuda itu.

“Bawa ini ke Paviliun Han Mei! Temukan Lù Shān!”

Pemuda itu menangkap kantong tersebut dengan gugup.

“Paman—”

“Pergi!”

Pemuda itu berbalik dan berlari keluar melalui pintu samping.

Lelaki berjubah gelap itu hendak mengejarnya, tetapi pelayan tua tersebut menghadang.

“Kau tidak akan melewatinya.”

Malam itu, di rumah tua yang diterangi satu pelita, rahasia kerajaan kembali dipertaruhkan.

---

Di Paviliun Han Mei, Liān Huā belum juga tidur.

Ia duduk di dekat jendela, memperhatikan liontin giok pemberian ibunya. Sejak Putri Ning kembali, banyak hal yang dahulu dianggapnya sebagai kebetulan mulai membentuk sebuah gambaran yang mengerikan.

Mengapa namanya dihapus dari catatan kerajaan?

Mengapa ia dan Yuán Zhēn dilahirkan pada malam yang sama?

Dan mengapa ayah Yuán Zhēn meninggalkan dokumen yang hanya berbicara tentang kepercayaan, bukan tentang nama kedua anak itu?

Pintu kamarnya diketuk pelan.

“Masuk,” katanya.

Putri Ning melangkah masuk. Wajahnya tampak lelah, tetapi tatapannya tetap tenang.

“Kau belum tidur?”

“Aku mencoba, Ibu. Namun, setiap kali memejamkan mata, aku teringat semua yang belum kita ketahui.”

Putri Ning duduk di sampingnya.

“Kadang-kadang, kebenaran tidak datang sebagai satu jawaban. Ia datang sedikit demi sedikit, dan setiap bagian menuntut keberanian yang berbeda.”

Liān Huā menatap ibunya.

“Ibu, apakah aku benar-benar hanya seorang anak yang dilindungi Paviliun Yún? Atau sejak awal, semua orang telah menentukan jalan hidupku tanpa sepengetahuanku?”

Putri Ning tidak segera menjawab.

“Ketika kau masih kecil, aku membuat satu keputusan yang sangat sulit. Aku ingin kau hidup sebagai dirimu sendiri, bukan sebagai alat untuk merebut takhta. Tetapi aku tidak pernah menyangka bahwa orang-orang yang mengetahui rahasiamu akan terus memburumu.”

“Kalau begitu, apa yang sebenarnya tertulis dalam perjanjian kerajaan itu?”

Sebelum Putri Ning sempat menjawab, terdengar ketukan tergesa-gesa dari luar.

Lù Shān masuk dengan wajah serius.

“Yang Mulia, seseorang sedang menuju ke sini. Ia mengaku membawa pesan dari seorang pelayan tua yang pernah bertugas di Paviliun Han Mei.”

Yuán Zhēn muncul di belakangnya. Ia rupanya baru saja meninggalkan ruang penyelidikan.

“Di mana orang itu sekarang?” tanya Kaisar.

“Di gerbang luar. Ia meminta bertemu dengan Lù Shān secara langsung.”

Yuán Zhēn segera berdiri.

“Bawa dia masuk. Dan jangan biarkan siapa pun mengetahui kedatangannya.”

---

Pemuda itu dibawa ke ruang samping yang dijaga ketat.

Napasnya masih tersengal ketika ia berlutut di hadapan Yuán Zhēn.

“Ampun, Yang Mulia. Saya diperintahkan menyerahkan sesuatu kepada Tuan Lù Shān.”

Ia mengeluarkan kantong kain dari balik pakaiannya.

Lù Shān membukanya.

Di dalamnya terbaring separuh gelang giok dengan ukiran awan yang sama seperti gelang yang ditemukan di Paviliun Han Mei.

Liān Huā, yang berdiri di sisi ibunya, seketika kehilangan kata-kata.

Yuán Zhēn mengambil gelang itu dengan hati-hati.

“Dari mana kau mendapatkannya?”

“Seorang pelayan tua memberikannya kepada saya. Ia meminta saya berlari ke sini. Ada seorang lelaki berlambang keluarga Zhāng yang ingin mengambil gelang itu darinya.”

“Siapa nama pelayan tersebut?” tanya Yuán Zhēn.

Pemuda itu menyebutkan sebuah nama yang membuat Putri Ning langsung berdiri.

“Tidak mungkin…”

Yuán Zhēn menoleh kepadanya.

“Ibu Suri, apakah Anda mengenalnya?”

Putri Ning mendekati meja dan memandangi gelang itu.

“Namanya adalah Chén Wéi. Ia dahulu bertugas di Paviliun Han Mei. Pada malam aku kehilangan anakku, dialah salah satu orang yang dipercaya untuk menjaga ruang kelahiran.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Liān Huā menatap gelang di tangan Yuán Zhēn.

“Berarti dia tahu apa yang terjadi malam itu?”

“Lebih dari sekadar tahu,” jawab Putri Ning lirih. “Jika ia masih menyimpan gelang pasangannya, mungkin ia juga mengetahui siapa yang menukar catatan kelahiran.”

Yuán Zhēn segera memberikan perintah.

“Lù Shān, kirim orang-orangmu untuk menemukan Chén Wéi. Kita harus membawanya ke sini sebelum keluarga Zhāng menemukannya.”

Lù Shān membungkuk dan bergegas keluar.

Namun, ketika Yuán Zhēn hendak menyimpan gelang tersebut, ia melihat sesuatu yang sebelumnya tersembunyi di bagian dalam ukiran.

Ada dua huruf kecil yang tergores di permukaan giok.

N dan Z.

Liān Huā mendekat.

“Huruf itu… Ning dan Zhēn?”

“Bisa jadi,” jawab Yuán Zhēn. “Tetapi kita tidak boleh menyimpulkan apa pun sebelum menemukan catatan aslinya.”

Ia mengamati kedua huruf itu sekali lagi.

“Kalau gelang ini memang dibuat untuk dua bayi yang lahir pada malam yang sama, mengapa hanya satu yang memiliki kedua huruf tersebut?”

Putri Ning tampak semakin pucat.

“Ada sesuatu yang belum pernah kuceritakan kepada kalian.”

Semua mata tertuju kepadanya.

“Pada malam itu, sebelum aku dibawa pergi, seseorang memberiku sebuah pesan. Katanya, kedua anak tersebut tidak boleh dipisahkan sebelum mereka mengetahui kebenaran tentang kelahiran mereka.”

Liān Huā merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.

“Siapa yang memberikan pesan itu?”

Putri Ning menggeleng pelan.

“Aku tidak pernah melihat wajahnya. Tetapi aku masih mengingat kalimat terakhir yang diucapkannya.”

Ia memandang Yuán Zhēn.

“Takhta akan tetap berdiri, katanya, tetapi kerajaan akan hancur jika dua anak itu dipaksa menjadi musuh.”

Yuán Zhēn terdiam lama.

Selama ini, ia mengira penyelidikannya hanya menyangkut penghapusan identitas seorang putri dan perebutan kekuasaan oleh keluarga Zhāng. Kini ia mulai menyadari bahwa rahasia tersebut mungkin jauh lebih besar daripada yang dibayangkannya.

Jika catatan kelahiran telah ditukar, maka siapa yang sebenarnya diuntungkan?

Dan mengapa ayahnya memilih menyimpan kebenaran itu dalam sebuah perjanjian, alih-alih mengungkapkannya kepada seluruh istana?

---

Menjelang fajar, Lù Shān kembali dengan kabar yang buruk.

Rumah tua tempat Chén Wéi tinggal telah ditemukan.

Namun, pelayan tua itu sudah menghilang.

Di atas meja rumah tersebut hanya tersisa secarik kertas yang basah terkena hujan.

Lù Shān menyerahkannya kepada Yuán Zhēn.

Tulisan di atasnya pendek, tetapi cukup untuk membuat suasana ruangan berubah dingin.

Jangan mencari orang yang menyimpan gelang.

Carilah orang yang memerintahkan gelang itu dibuat.

Di bagian bawah kertas terdapat sebuah cap merah.

Bukan lambang keluarga Zhāng.

Bukan pula lambang Paviliun Yún.

Melainkan lambang pribadi milik mendiang Kaisar—ayah Yuán Zhēn.

Yuán Zhēn menggenggam kertas itu erat-erat.

“Siapa pun yang menulis ini mengetahui rahasia ayahku.”

Liān Huā menatap lambang tersebut. Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang pernah dikatakan Yún Róng: ada satu nama yang hilang bukan hanya dari catatan kerajaan, melainkan juga dari daftar orang-orang yang pernah mengabdi kepada istana.

Nama itu adalah Guān Shí.

“Yang Mulia,” ujar Liān Huā perlahan, “bagaimana jika orang yang memerintahkan gelang itu dibuat bukanlah orang yang kita curigai?”

Yuán Zhēn menoleh.

“Maksudmu?”

“Bagaimana jika keluarga Zhāng hanya berusaha menutupi rahasia yang sejak awal mereka sendiri tidak ciptakan?”

Tak seorang pun menjawab.

Di luar jendela, cahaya pertama fajar mulai menyentuh atap Paviliun Han Mei.

Pada saat yang sama, jauh di dalam istana, seorang kasim tua membuka sebuah laci tersembunyi. Dari dalamnya, ia mengeluarkan buku catatan berdebu yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Pada halaman terakhir, terdapat dua nama yang ditulis berdampingan.

Yuán Zhēn.

Liān Huā.

Di bawah kedua nama itu tertulis satu kalimat:

Jika mereka mengetahui siapa yang memilih nama mereka, maka seluruh kebenaran akan terbuka.

Kasim tua itu menutup buku tersebut dengan tangan gemetar.

Kemudian, dari balik tirai, terdengar suara seorang perempuan.

“Apakah bukunya sudah ditemukan?”

Kasim itu berlutut.

“Sudah, Yang Mulia.”

Perempuan itu melangkah keluar dari bayangan.

Wajahnya tertutup kerudung tipis, tetapi pada tangannya terpasang sebuah cincin dengan lambang yang sama seperti cap merah di surat tadi.

“Bagus,” katanya dingin. “Kalau begitu, sudah waktunya kita memastikan bahwa kedua anak itu tidak pernah membaca halaman terakhir.”

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, seseorang di dalam istana mulai bergerak bukan untuk merebut takhta—

melainkan untuk menghapus asal-usulnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!