'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Aneka
...~•Happy Reading•~...
Setelah membaca ancaman Alena, Nelson tidak jadi berbaring. Dia segera bangun dan duduk di tepi tempat tidur memikirkan dampak dari ancaman Alena.
Tanpa membalas pesan Alena, dia turun membuka laptop. Nelson hanya menengadah tanpa berani meminta tolong pada Tuhan, akibat rasa bersalah, kotor dan malu atas perbuatannya. Dia menyusun kata dan mengetik surat sambil mengendalikan rasa hatinya yang bergolak.
Dia tidak mau terus terbelenggu oleh jerat yang dipasang Alena. Oleh karenanya dia harus bertindak memutuskan ikatan, sebelum dia benar-benar kehilangan semuanya.
Selesai mengetik surat, dia membaca beberapa kali sebelum menutup laptop. Bayangan kariernya yang cemerlang berantakan di dalam kegelapan dan penyesalan yang tak berujung.
~•~
Ke esokan pagi ; Nelson tidak ke kampus, tapi ke rumah dosen untuk menyerahkan surat pengunduran diri sebagai asistennya.
"Ada apa, Nelson. Mengapa tiba-tiba resign?" Tanya dosen setelah membaca surat yang diberikan padanya.
"Maaf, Pak. Saya ada sedikit masalah, jadi saya tidak bisa fokus untuk mengajar." Ucap Nelson pelan. Dia tidak bisa mengatakan alasan sebenarnya yang sangat memalukan.
"Kalau begitu, tidak usah resign. Kau libur saja beberapa waktu. Nanti hubungi saya lagi, kalau sudah bisa mengajar lagi." Dosennya tidak mau Nelson berhenti. Dia sengaja memberi kesempatan Nelson menyelesaikan masalah, agar bisa menjadi dosen di kampus airbunyi.
"Maaf, Pak. Saya hanya menyelesaikan tugas saya bulan ini. Selanjutnya saya tidak bersedia jadi asisten lagi." Nelson tetap pada niatnya untuk mengundurkan diri. Dia tidak enak, jika tiba-tiba berhenti dan belum ada penggantinya.
"Baik. Apa pun yang terjadi kelak, kau bisa menemui saya lagi. Tangan saya terbuka untuk menerimamu kembali." Dosen masih berharap Nelson jadi asistennya sekaligus dosen.
~••
Beberapa waktu kemudian setelah berbicara dengan dosen, Nelson masih datang ke kampus untuk menunaikan tugas terakhirnya.
Tanpa dia ketahui, Alena telah menyebar mata-mata di berbagai fakultas, terutama fakultas Teknik. Agar dia mengetahui kehadiran Nelson di kampus atau mengajar.
Sehingga saat Nelson keluar dari ruang kuliah, Alena telah menunggunya. Nelson bersikap tenang, karena sudah siap menghadapi Alena dalam berbagai situasi. Apa lagi sedang berada di area ruang kuliah.
Tanpa peduli pada mahasiswa yang keluar dari ruang kuliah, Alena mendekati Nelson. "Kau mau ikut, atau aku teriak di sini?" Ancam Alena yang emosi telah lama menunggu, tapi Nelson bersikap biasa, seakan tidak melihatnya.
"Teriak saja." Nelson balik menantang, lalu memanggil seorang mahasiswa yang baru keluar dari ruangan untuk mendekati mereka.
"Saya, Pak." Mahasiswa itu berlari mendekat, karena melihat wajah Nelson yang dingin.
"Senior ini butuh bantuanmu." Ucap Nelson sambil menunjuk Alena dengan wajah dan hendak pergi. .Tetapi Alena dengan cepat memegang lengannya dengan kedua tangan. Rahang Nelson mengeras untuk mengendalikan amarahnya.
"Pergi dari sini." Alena mengusir mahasiswa yunior yang baru kuliah, dan bingung menatapnya.
Setelah mahasiswa itu menjauh, Alena memajukan wajahnya mendekati Nelson. "Kalau kau terus mengacuhkanku, tidak terima telponku dan tidak balas pesanku, aku akan melapor kepada pihak kampus, kau telah lakukan pelecehan padaku." Alena mengatakan apa yang sudah dia siapkan untuk merusak reputasi Nelson di mata mahasiswa dan para dosen.
Walau Nelson sudah memikirkan akan terjadi seperti itu, jantungnya tetap berdegup kuat mendengar Alena berani mengancam dia secara langsung.
Namun Nelson berusaha tenang dan berpikir jernih. Agar tidak terjebak untuk kedua kali oleh provokasi Alena yang merusak suasana hatinya.
"Silahkan lapor. Aku tidak sabar menunggu." Nelson balik menantang, sebab dia sudah berserah akan masa depan kariernya yang kelam. Dia tidak mau menjadi bulan-bulanan Alena dengan terus mengancamnya.
Setelah mempelajari pola Alena menjebaknya dan cara dia berteman, Nelson yakin dia sendiri pasti tidak akan merelakan kariernya berada di jurang oleh pemberitaan negatif. Oleh sebab itu, Nelson bersikap tegas. Tidak ada lagi toleransi pada pesona kebaikan yang pura-pura.
Sebelumnya, dia berpikir bisa berteman dengan Alena sebelum memutuskan untuk berpacaran. Tetapi dengan tindakan Alena, Nelson langsung mencoret namanya dari daftar wanita yang layak baginya.
"Kau kira aku akan biarkan jatuh sendiri? Aku akan membuka kedokmu, supaya semua dayang-dayangmu tahu siapa kau." Mata Alena membulat saat menyadari dampak dari laporan pelecehan yang dilayangkan kepada Nelson.
Nelson mendekatkan wajahnya kepada Alena. "Apa ada orang yang percaya aku melakukan pelecehan di dalam kamarmu sendiri? Di mana isi otakmu yang dibilang pintar itu?"
Nelson menyerang pada titik lemah Alena. "Otak pintar dipakai untuk merencanakan kejahatan adalah tindakan iblis bukan manusia." Nelson melampiaskan yang dia rasakan kepada Alena.
"Kau bilang itu kejahatan? Memperjuangkan yang diinginkan itu salah?" Alena tersadar dan tidak terima saat dibilang iblis oleh Nelson.
"Keinginan baik, diperjuangkan dengan cara yang baik. Kau tidak diajari itu oleh orang tuamu?" Nelson bicara dengan gigi gemerutuk.
"Kalau kau merasa yang kau lakukan itu adalah cara yang baik, periksa lagi hati nuranimu. Mungkin sudah dimasak iblis untuk jadi santapannya."
"Minggir sebelum aku memanggil mahasiswa dan mengingatkan mereka untuk waspada pada wanita sepertimu." Nelson memakai ransel dipunggung lalu berjalan meninggalkan Alena yang terkejut mendengar ucapan Nelson.
Alena jadi mengejar Nelson saat melihat mahasiswa lain mulai keluar dari ruangan dan melihat dia dengan wajah heran. "Kau kira aku takut?" Alena tidak rela Nelson meninggalkan dia, dan tidak membiarkan buruannya lepas. Egonya terluka saat diabaikan oleh Nelson dan disaksikan oleh Arni dari jauh.
Tanpa melihat Arni, dia berjalan meninggalkan Nelson dengan perasaan tidak menentu. Apa yang dikatakan dan sikap Nelson terus mengganggunya. Apa lagi Nelson tidak tergoda untuk mengejarnya setelah dia menyerahkan diri.
Padahal dia pernah baca, jika tertarik kepada seorang pria yang tidak tertarik pada pesonamu, modal terakhir adalah ajak bergulat di atas ranjang untuk menaklukan dia.
Namun setelah dilakukan kepada Nelson, terbalik. Nelson makin jauh dan tidak menganggapnya. Hal itu membuat Alena frustasi dan seperti orang yang hilang kewarasannya.
"Bagaimana Alena? Apa Kak Nelson bisa diajak untuk membantu kita?" Tanya Arni yang mendekati Alena dan berjalan balik ke fakultas.
"Gak sekarang. Lagi sibuk mengajar. Apa Danna dan Darcy masih belum mau kumpul lagi dengan kita?" Alena mengalihkan pembicaraan, agar Arni tidak terus bertanya tentang Nelson.
"Danna masih kesal dan sakit soal mengejar fery itu. Jadi sementara ini, dia belum mau kumpul dengan kita. Apa aku perlu bicara dengannya?" Tanya Arni yang melihat wajah Alena memerah.
"Tidak usah. Urus saja kuliah masing-masing. Aku mau bersemedi, selesaikan rencana mau penelitian." Alena berkata sambil mengibaskan tangan, seakan menghalau Arni.
"Jadi kau tetap mau penelitian tanpa kami? Kau penelitian, walau kami terutama aku belum siap?" Arni terkejut dengar rencana Alena.
Arni tidak menyangka Alena mempunyai rencana sendiri tanpa melibatkan mereka. Hal itu mengkhawatirkan dia, seakan pertemanan mereka tidak berarti.
...~•••~...
...~•○♡○•~...