Indonesia
NovelToon NovelToon
Takluk Oleh Kelembutannya

Takluk Oleh Kelembutannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hasanah Yoyoh

Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: JANJI KECIL DAN KEMBALI KE PESTA

​Di dalam kamar suite VVIP hotel yang temaram, suasana mendadak diliputi rasa panik yang menggelitik. Rizky Syah yang baru saja beranjak dari kasur masih meringis pelan, memegangi area vitalnya sambil melayangkan tatapan memelas yang dipaksakan pada Kamila.

​Melihat ekspresi pria tegap di hadapannya, Kamila justru mengibaskan tangannya santai. Rasa bersalah yang sempat merayapi hatinya seketika hilang berganti cemoohan jahil.

​"Tidak boleh bagaimana, sih?" cetus Kamila seraya melipat kedua tangannya di dada. "Aduh, tidak apa-apa kali, Kak Syah... Lagi pula, kamu kan juga suka sesama laki-laki. Jadi, tidak perlu terlalu khawatir soal garis keturunan atau masa depan keluargamu."

​Kamila memiringkan kepalanya, menyunggingkan senyum polos yang teramat menyebalkan di mata Rizky. "Kalaupun kamu benar-benar tidak bisa lagi setelah kutendang tadi... ya tidak apa-apa juga. Paling-paling... biar kakakku—Kak Roya—yang jadi pasangan hidupmu nanti."

​Mendengar ucapan absurd yang keluar dari mulut manis gadis itu, raut wajah tampan Rizky Syah seketika memerah padam oleh rasa jengkel yang tak tertahankan. Pria tegap itu melangkah mendekat, mengikis jarak hingga bayangannya mengurung tubuh Kamila.

​"Coba dengar apa yang baru saja kamu katakan itu, Kamila!" bentak Rizky Syah gemas, matanya menatap Kamila tajam. "Waktu kamu menikmati perbuatanku semalam... bukankah kamu merasa cukup senang dan puas, hah?!"

​Wajah Kamila seketika memerah bagaikan kepiting rebus teringat adegan intim mereka. Namun, mendengar derak langkah kaki dan suara gedoran lembut dari balik pintu kamar yang bisa pecah kapan saja, Kamila menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada dengan raut memelas.

​"Hai, Rizky Syah! Aku mohon padamu... secepatnya keluarlah dari sini ya!" pinta Kamila setengah berbisik dengan nada tergesa-gesa. "Kalau kamu tidak keluar dan sembunyi sekarang juga... sebentar lagi kakakku akan membobol masuk ke dalam kamar ini lagi!"

​Rizky Syah yang melihat raut panik Kamila justru menyunggingkan senyum miring yang penuh kejahilan. Ia menyandarkan tubuhnya di tepi meja, melipat tangannya dengan sikap acuh tak acuh.

​"Baiklah kalau begitu..." ujar Rizky Syah dengan intonasi suara yang santai namun penuh godaan. "Tapi ada syaratnya... Cium aku sekali sebagai ganti rugi atas tendanganmu tadi."

​Mata Kamila seketika membelalak lebar. Ia mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Rizky. "Jangan... jangan keterlaluan ya, Kak Syah!"

​"Aku tidak keterlaluan," balas Rizky Syah makin berani. Ia memajukan wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari bibir Kamila. "Kalau hal semudah ini saja kamu tidak setuju... ya sudah, aku akan tetap berdiri santai di sini. Aku tidak peduli siapa pun yang akan masuk menerobos pintu itu!"

​Rizky menyunggingkan senyum licik yang teramat berbahaya. "Aku tinggal bilang pada kakakmu dan seluruh media di luar sana... bahwa kamu, Kamila Ye, setelah tidur denganku semalaman langsung tidak mau mengaku dan berniat mencampakkanku begitu saja. Kita lihat saja apa yang akan dilakukan orang-orang nanti."

​Mendengar ancaman gila yang sanggup meruntuhkan nama baiknya dalam sekejap, Kamila akhirnya menyerah total.

​"Iya, iya! Kucium! Dasar pemeras!" pasrah Kamila sambil meratapi nasibnya di dalam hati.

​Rizky Syah tersenyum sangat puas, memejamkan matanya sedikit sambil memajukan wajahnya.

​Dengan napas terengah pelan dan pipi merona panas, Kamila berjinjit sedikit lalu mendaratkan ciuman manis di bibir Rizky Syah.

​Cium!

​Sensasi hangat dan lembut menyapu bibir mereka selama beberapa detik sebelum Kamila menarik tubuhnya kembali dengan cepat.

​"Sudah kan?! Sana... kamu cepat pergi sembunyi lewat pintu rahasia samping!" usir Kamila sambil mendorong dada bidang Rizky.

​Rizky Syah terkekeh pelan, menatap Kamila dengan pendar asmara yang teramat dalam dan memanjakan. "Baiklah... Istriku."

​"Siapa yang kamu sebut istri, hah?!" bentak Kamila melotot malu.

​"Kamilah... siapa lagi kalau bukan kamu?" goda Rizky Syah menepuk pelan puncak kepala Kamila.

​"Cepat pergi!" Kamila mendorong tubuh tegap Rizky Syah sekuat tenaga hingga pria itu melangkah mundur menuju pintu akses keluar khusus pengurus hotel.

​Rizky Syah menyunggingkan senyum miring yang teramat tampan. Pas berdiri di depan pintu keluar sambil merapikan dan mengancingkan baju kemejanya satu per satu, sebuah tekad tegar terukir di dalam batinnya.

​Hari ini kamu bisa menciumku... Besok kamu pasti bisa jadi pacarku... Dan lusa nanti... aku pasti akan membawa Kamila pulang ke rumahku secara resmi sebagai istri sahku! batin Rizky Syah penuh keyakinan sebelum menghilang di balik pintu samping.

​Setelah memastikan Rizky Syah benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak, Kamila dengan cepat membetulkan gaun malam mewahnya di depan cermin, merapikan tatanan rambutnya, lalu melangkah keluar dari kamar VVIP untuk menemui kakaknya, Roya Ye.

​"Kak... maaf ya tadi aku agak lama di dalam," alibi Kamila dengan senyum manis yang dipaksakan saat menemui Roya Ye di lorong. "Pakaianku tadi sedikit bermasalah."

​Roya Ye menatap adiknya dari atas ke bawah. Melihat Kamila tampak baik-baik saja dan tidak ada hal mencurigakan di dalam kamar, raut cemas di wajah pria protektif itu perlahan memudar.

​"Ya sudah... yang penting kamu tidak kenapa-kenapa," ujar Roya Ye menghembuskan napas lega. "Ayo kita turun kembali ke aula pesta. Para tamu undangan sudah menunggu bintang utama acara ini."

​Kamila mengangguk patuh. Keduanya kemudian melangkah menyusuri tangga melingkar, kembali bergabung di tengah kemewahan pesta ulang tahun yang masih meriah.

​Denting alunan musik waltz menggema lembut di seluruh penjuru aula utama hotel bintang lima tersebut. Cahaya lampu kristal membiaskan pendar keemasan, menyambut kehadiran sang putri klan Ye yang kembali berbinar.

​Begitu Kamila menginjakkan kakinya di area lantai dansa, seorang pria bertuksedo rapi dengan senyum santun mendekatinya—Ikra Pratama.

​Ikra Pratama membungkukkan tubuhnya sedikit dengan gerakan yang sangat elegan, lalu mengulurkan telapak tangannya ke hadapan Kamila.

​"Kamila... alunan musik malam ini sangat indah," sapa Ikra Pratama dengan suara yang lembut nan memikat. "Bolehkah aku mendapat kehormatan untuk mengajakmu berdansa sekali lagi?"

​Kamila menatap uluran tangan Ikra Pratama sejenak. Meski pikirannya masih dipenuhi bayang-bayang senyuman jahil Rizky Syah dan sentuhan manis di kamar tadi, Kamila teringat akan janjinya pada sang kakek untuk selalu bersikap baik pada Ikra.

​Kamila menyunggingkan senyum tipis yang anggun, lalu meletakkan jemari halusnya di atas telapak tangan Ikra.

​"Iya... boleh, Ikra," jawab Kamila halus.

​Ikra Pratama tersenyum puas, menuntun Kamila melangkah menuju tengah lantai dansa di bawah tatapan kagum ratusan tamu undangan...

Di tengah putaran dansa yang lembut, Ikra Pratama mengeratkan genggaman tangannya di pinggang Kamila seraya berbisik pelan, "Kamila, aku ingin memastikan bahwa setelah acara malam ini selesai, kita bisa segera membicarakan tanggal resmi pertunangan kita dengan Kakek."

​Kamila tersentak kecil mendengar ucapan itu. Ia mengalihkan pandangannya sebentar untuk menghindari tatapan penuh harap dari Ikra. "Ikra... semuanya terlalu cepat. Kakek masih di rumah sakit, aku ingin fokus pada kesembuhannya dulu."

​"Justru karena Kakek ingin melihat kebahagiaan kita sebelum kondisinya makin menurun, beliau menitipkan amanah ini padaku," balas Ikra dengan intonasi yang begitu sabar namun mengikat.

​Kamila hanya bisa menggigit bibir bawahnya, merasa terjebak dalam pusaran tanggung jawab keluarga dan perasaan rumitnya sendiri terhadap Rizky Syah. Alunan musik terus berputar, mengantarkan malam perayaan itu ke ambang batas ketegangan baru yang siap meledak kapan saja.

1
Hasanah Yoyoh
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!