Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Membawa Adira

Ketika Takdir Membawa Adira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengantar Bekal

Areksa sempat berpikir bahwa ia bisa meminta maaf dan menjelaskan semuanya kepada Adira saat malam tiba.

Namun, waktu terus berjalan.

Pukul sembilan malam hingga sepuluh malam.

Hingga akhirnya jam menunjukkan pukul sebelas.

Aretha sudah tidur sejak tadi. Rumah pun mulai sepi.

Namun Adira tak kunjung masuk ke kamar mereka.

Areksa yang sejak tadi menunggu akhirnya bangkit dari tempat tidur. “Mungkin dia masih di bawah.”

Ia membuka pintu kamar dan keluar.

Baru beberapa langkah menuju tangga, Areksa berpapasan dengan Soraya yang baru saja mengambil segelas air.

Soraya langsung mengernyit melihat putranya. “Kok kamu belum tidur?”

“Nunggu Adira, Ma.”

Soraya mengangkat alis. “Adira?”

“Iya.”

“Memangnya dia nggak ada di kamar kamu?”

Areksa menggeleng. “Nggak.”

Soraya menatap putranya beberapa detik. “Loh, kok bisa?”

Areksa menghela napas.

“Mama pikir tadi setelah Adira mengantar Aretha yang sudah pulas ke kamar Mama, dia langsung ke kamar kalian.”

“Enggak.”

Soraya mulai curiga. “Jangan-jangan kalian ribut?”

Areksa diam.

Soraya langsung menghela napas. “Ya ampun, Reksa. Kalian ribut lagi?”

“Bukan begitu, Ma.”

“Terus bagaimana?”

Areksa mengusap tengkuknya. “Aku... membentaknya tadi.”

Soraya langsung menatapnya tajam. “Kamu apain menantu Mama?”

Areksa meringis. “Kenapa sih mama langsung begitu?”

“Ya karena Mama tau kamu. Kalau sampai Adira memilih tidur di kamar lain, berarti ada sesuatu.”

Areksa terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Tadi dia nggak sengaja menjatuhkan kotak di meja kerja aku.”

“Terus?”

“Di dalamnya ada barang-barang Aruna.”

Soraya mengangguk pelan. “Lalu?”

“Adira menemukan jepitan rambut Aruna. Dia memakainya sebentar."

Soraya masih menunggu. “Dan karena itu kamu marah sampai membentaknya?”

Areksa menundukkan kepala. “...Iya.”

Soraya menggeleng-gelengkan kepala. “Reksa.”

“Apa?”

“Kalau cuma karena itu, Mama yakin Adira nggak akan sampai seperti ini.”

Areksa terdiam.

Soraya menatap wajah putranya lekat-lekat. “Kamu pasti mengatakan sesuatu yang lebih menyakitkan.”

Areksa tidak menjawab.

Soraya langsung tau jawabannya. “Kamu bilang apa?”

Areksa mengembuskan napas panjang. “Saya bilang dia jangan merasa bisa seenaknya hanya karena hubungan kami mulai membaik.”

Soraya memejamkan mata sebentar. “Lalu?”

Areksa semakin pelan menjawabnya. “Saya juga bilang... dia cuma orang baru.”

Soraya langsung menggeleng. “Nah.”

“Mama...”

“Makanya.” Soraya menatap putranya dengan ekspresi tidak habis pikir.

“Jepitan itu bisa kamu ambil kembali. Barang Aruna bisa kamu simpan lagi. Tapi ucapan kamu tadi nggak bisa kamu tarik begitu saja. Mama sudah mendorong kamu terus supaya lebih dekat dengan Adira. Mama lihat sendiri kalian mulai nyaman satu sama lain.”

Soraya menghela napas. “Eh, baru juga mulai membaik, kamu sendiri yang bikin dia merasa seperti orang asing lagi.”

Areksa hanya bisa menunduk. “Maaf.”

“Bukan Mama yang harus kamu mintai maaf.”

Soraya kemudian menguap. “Sudah. Mama ngantuk.”

“Ma...”

“Cari istri kamu.”

“Saya sudah mau cari.”

“Ya cari. Bujuk dia. Pikirkan sendiri bagaimana caranya.”

“Mama...”

Soraya berjalan melewatinya. “Selamat malam.”

“Maaaa...”

Soraya berhenti sebentar dan menoleh. “Apa?”

“Jangan tinggalin saya begini.”

“Lah, memang Mama harus ikut tidur sama kalian?”

Areksa langsung terdiam.

Soraya terkekeh. “Urus sendiri.”

Setelah itu Soraya melanjutkan langkahnya menuju kamar.

Areksa hanya bisa menghela napas pasrah. “Benar-benar...”

Areksa kemudian mulai mencari Adira.

Satu per satu ruangan ia periksa.

Hingga akhirnya langkahnya berhenti di depan sebuah kamar.

Kamar yang dulu menjadi tempat Adira tidur sebelum mereka menikah.

Areksa membuka pintunya perlahan.

Benar saja, Adira ada di sana.

Perempuan itu sudah terlelap di atas tempat tidur.

Mungkin karena terlalu lelah setelah seharian beraktivitas, ia bahkan tidak menyadari ketika Areksa masuk dan berdiri beberapa saat di ambang pintu. Tatapannya tertuju pada wajah Adira yang terlihat tenang dalam tidurnya.

Ia kembali teringat wajah istrinya beberapa jam lalu.

Mata yang berkaca-kaca. Suara yang bergetar. Dan satu kata yang terus terngiang di kepalanya.

Maaf.

Areksa menghela napas pelan. Ia sebenarnya ingin membangunkannya.

Ingin meminta maaf malam itu juga. Namun melihat Adira yang sudah tertidur, ia mengurungkan niatnya.

“Besok,” bisiknya.

Areksa kemudian berjalan mendekat dan berbaring di sisi lain tempat tidur dengan hati-hati.

Ia menjaga jarak agar tidak membangunkan Adira.

Untuk beberapa saat, Areksa hanya menatap langit-langit kamar.

Malam ini, ia tidur di kamar yang dulu menjadi tempat Adira berlindung sendirian.

Namun pikirannya tetap tertinggal pada satu hal.

Besok gue harus minta maaf.

***

Seperti biasa, alarm Adira membangunkannya beberapa saat sebelum waktu subuh.

Namun, kali ini ada sesuatu yang terasa aneh.

Dalam keadaan masih setengah mengantuk, Adira mengernyitkan kening ketika menyadari sesuatu yang sedang dipeluknya terasa hangat dan keras.

Sejak kapan gulingku jadi keras?

Bukankah semalam ia tidur sambil memeluk guling?

Perlahan, Adira membuka matanya. Dan seketika matanya membulat.

Areksa.

Laki-laki itu berada di sampingnya.

Lebih parahnya lagi, kedua tangan Adira melingkar erat di tubuh laki-laki tersebut.

Adira langsung tersentak dan buru-buru menjauh.

Gerakan itu membuat Areksa ikut terbangun. Ia membuka mata perlahan, lalu menatap Adira yang kini duduk dengan wajah panik.

“Kamu sudah bangun?”

“K-kenapa Tuan bisa di sini?”

Areksa mengusap wajahnya sebentar sebelum menatap perempuan itu. “Seharusnya saya yang bertanya. Kenapa kamu tidur di sini, bukan di kamar atas?”

“Saya di sini saja.”

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.” Adira mengalihkan pandangan. “Lebih baik Tuan keluar. Saya mau ke kamar mandi.”

Areksa menatapnya lekat. “Kamu mengusir saya?”

“Bukan. Saya hanya tidak ingin Tuan—”

“Kamu masih marah sama saya?”

“Saya tidak marah.”

“Kamu marah, Adira.”

“Saya tidak marah.”

“Buktinya kamu menghindari saya.”

Adira menggenggam ujung selimut. “Saya tidak berhak untuk marah. Karena memang apa yang Tuan katakan kemarin itu benar adanya.”

“Adira, saya bisa jelaskan.”

“Tolong, Tuan.” Adira menarik napas panjang. “Sikap Tuan yang seperti ini justru membuat saya yakin kalau pernikahan kita lebih baik—”

“Hmmp!” Areksa tiba-tiba memotong ucapannya dengan sebuah ciuman.

Adira membeku, matanya membulat sempurna.

Beberapa detik kemudian, Areksa menarik diri dan menatapnya dengan sorot mata serius.

“Jika kamu membicarakan itu lagi…” suaranya rendah, “saya akan melakukan hal itu lagi ke kamu tanpa persetujuan kamu, Adira.”

Adira menatapnya dengan mata melebar.

Areksa kemudian melanjutkan, masih dengan nada tegas. “Saya sudah pernah katakan. Pernikahan kita tidak akan berakhir.”

Setelah mengatakan itu, Areksa bangkit dari ranjang.

Tanpa menunggu jawaban Adira, ia berjalan menuju pintu, membukanya, lalu keluar dari kamar.

Pintu tertutup perlahan.

Sementara Adira masih duduk diam di atas ranjang.

Pikirannya kacau. Ia bahkan tidak tau harus merasa marah, takut, atau terluka setelah mendengar perkataan Areksa barusan.

Yang jelas, satu hal kembali terpatri kuat di kepalanya.

Areksa tidak berniat membiarkan pernikahan mereka berakhir.

***

Suasana di meja makan pagi itu terasa hening.

Soraya dan Bayu beberapa kali saling pandang. Keduanya sama-sama menyadari perubahan suasana di antara Areksa dan Adira.

Beberapa hari sebelumnya, keheningan di meja makan lebih terasa seperti kecanggungan yang malu-malu.

Namun pagi ini tidak.

Ada sesuatu yang lebih berat.

Seperti ada luka yang belum benar-benar selesai.

Soraya akhirnya berinisiatif memecah keheningan. “Ini Bik Tini yang masak, ya?”

Adira yang sejak tadi hanya menunduk mengangguk kecil. “Iya, Ma. Maaf, aku nggak sempat masak.”

“Gapapa.” Soraya tersenyum lembut. “Memang bukan tugas kamu juga, kok. Areksa saja yang maunya masakan kamu terus. Tuh lihat piringnya. Dia hanya makan dikit."

“Maa…” Areksa langsung menatap ibunya.

Soraya malah terkekeh. “Loh, memang benar kan? Kamu sudah ketagihan makanan yang dimasak Adira.”

Areksa menghela napas. “Bukan begitu, Ma.”

Adira hanya tersenyum tipis, meskipun sorot matanya masih terlihat murung.

“Iya, maaf,” ucapnya pelan. “Nanti siang saya masakin.”

Bayu yang sejak tadi memperhatikan mereka akhirnya ikut bicara. “Nanti Papa juga mau ke kantor Areksa. Sekalian kamu bawakan masakan itu ke kantor.”

Areksa menoleh kepada ayahnya. “Papa mau ke kantor?”

“Iya.” Bayu mengangguk santai. “Papa sudah lama nggak ke sana. Minta sopir antar Adira nanti.”

Adira mengangguk. “Iya, Pa.”

Soraya tersenyum kecil. Ia tau persis apa yang sedang dilakukan suaminya.

Bayu sengaja mengajaknya ke kantor.

Dan tanpa mengatakan secara langsung, ia juga sedang mencari alasan agar Areksa dan Adira kembali menghabiskan waktu bersama.

“Aku juga ke kantor, Pa?” tanya Areksa.

Bayu menatap putranya seolah pertanyaan itu tidak perlu ditanyakan. “Loh, iya dong. Itu kan kantor kamu. Masa Papa yang kerja di sana?”

Areksa menghela napas kecil. “Iya, iya.”

Bayu tersenyum. “Tenang saja. Aretha ada Mama yang jagain.”

Soraya langsung mengangguk. “Betul. Kamu berdua kerja saja dengan tenang.”

***

Siang harinya, Adira sudah berada di kantor Dirgantara.

Begitu turun dari mobil, ia langsung terpana melihat gedung perusahaan itu.

Bangunannya begitu luas dan megah. Lobi utama dipenuhi karyawan yang berlalu-lalang dengan pakaian formal. Adira sampai tanpa sadar memperlambat langkah.

Jadi selama ini kantor Tuan sebesar ini?

Ia segera mengingat tujuannya dan kembali berjalan sambil membawa dua kotak makanan yang sudah ia siapkan sejak pagi.

Seorang resepsionis menghampirinya. “Maaf, Mbak. Cari siapa ya?”

Adira tersenyum canggung. “Mbak, saya Adira. Saya mau mengantarkan makan siang untuk Tuan Areksa dan Tuan Bayu.”

Resepsionis itu memperhatikannya sebentar. “Maaf, Mbak. Siapanya Pak Areksa, ya?”

Adira terdiam sesaat.

Ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya adalah istri Areksa. Pernikahan mereka masih dirahasiakan dari sebagian besar orang di luar keluarga.

“S-saya…” Adira menggenggam erat pegangan kotak makanan. “Saya pembantu di rumahnya. Tadi saya diminta mengantarkan ini.”

“Oh, baik.” Resepsionis itu kemudian mengangguk.

“Sebentar ya, Mbak. Saya hubungi asisten Pak Areksa dulu.”

Beberapa menit kemudian, setelah mendapat konfirmasi, resepsionis itu tersenyum.

“Silakan masuk. Nanti saya antar ke atas.”

“Terima kasih, Mbak.”

Adira mengikuti resepsionis tersebut menuju lantai tempat Areksa bekerja.

Begitu sampai, seorang pria yang sudah dikenalnya langsung menghampiri.

“Bu Adira?”

Adira tersenyum. “Iya, Pak Chandra.”

“Tadi Pak Bayu minta saya mengambil bekal makan siangnya untuk saya bawakan ke ruangan beliau.”

“Oh, iya. Ini, Pak.” Adira menyerahkan salah satu kotak makanan.

Chandra menerimanya. “Terima kasih, Bu. Kalau untuk Pak Areksa, ruangannya di sini. Ibu bisa langsung masuk.”

“Baik. Terima kasih, Pak.”

“Sama-sama.”

Setelah Chandra pergi, Adira berdiri di depan pintu ruangan Areksa.

Ia menghela napas pelan.

Entah kenapa, setelah kejadian pagi tadi, masuk ke ruangan itu terasa jauh lebih sulit daripada biasanya.

Adira akhirnya mengetuk pintu.

“Masuk.”

Ia membuka pintu perlahan.

Areksa sedang duduk di balik meja kerjanya. Beberapa dokumen terbuka di hadapannya, sementara layar laptop menyala dengan sejumlah berkas pekerjaan.

Areksa sempat mengangkat wajah ketika melihat siapa yang datang.

Tatapan mereka bertemu. Hanya beberapa detik.

Kemudian Areksa kembali menatap layar laptop.

“Ini makanannya, Tuan.”

Adira meletakkan kotak makanan di atas meja.

“Taro saja. Nanti saya makan.”

Adira melirik jam tangannya. “Tapi ini sudah jam makan siang.”

“Saya tau.”

“Kalau begitu, makan dulu.”

“Saya sibuk, Adira.”

Adira menghela napas. Pagi tadi mereka baru saja bertengkar. Ia sebenarnya ingin menjaga jarak.

Namun, melihat Areksa bahkan tidak berniat menyentuh makanan yang sudah susah payah ia masak, rasa kesal Adira perlahan bercampur dengan khawatir.

“Mas.”

Tangan Areksa yang sedang membalik dokumen langsung berhenti.

Ia mengangkat wajah dan menatap Adira.

Adira sendiri tampak sedikit salah tingkah setelah memanggilnya demikian.

“Makan dulu.”

“Nanti.”

“Mas.”

Areksa menghela napas panjang. “Adira, saya benar-benar sedang banyak pekerjaan.”

“Dan Mas tadi pagi cuma makan sedikit.”

“Saya bisa makan nanti.”

“Kalau nanti ternyata lupa?”

“Saya tidak akan lupa.”

Adira menatapnya beberapa saat.

Kemudian, tanpa berkata apa-apa, ia mengambil kotak makanan yang tadi diletakkan di atas meja dan membukanya.

Aroma masakan langsung memenuhi ruangan.

Areksa melirik sekilas.

Adira kemudian mengambil sendok dan duduk di kursi di depan meja kerjanya.

Areksa mengernyit. “Kamu mau apa?”

“Menyuapi Mas.”

Untuk sesaat, Areksa hanya menatapnya. Lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.

Berhasil.

Sejak tadi ia memang sengaja berpura-pura sibuk.

Ia tau Adira pasti akan khawatir kalau ia terus mengatakan belum sempat makan. Dan ternyata dugaannya benar.

“Baiklah.”

Adira mengambil sedikit makanan dengan sendok. “Buka mulutnya.”

Areksa menurut.

Adira mulai menyuapinya dengan sabar.

Satu suapan. Kemudian satu lagi.

Namun, bukannya kembali membaca dokumen, perhatian Areksa justru tertuju kepada perempuan di hadapannya.

Ia memperhatikan setiap gerakan Adira.

Cara perempuan itu mengambil makanan, meniupnya sebentar, lalu menyodorkan sendok kepadanya.

Tanpa sadar, tatapannya terlalu lama.

Adira akhirnya menyadarinya. “Katanya banyak kerjaan,” katanya sambil mengangkat alis. “Kenapa malah lihat ke saya?”

Areksa terkesiap kecil. “Hm? Iya…”

Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke laptop.

Adira menahan senyum. “Kalau memang banyak kerjaan, ya kerja.”

“Iya.”

Areksa meraih salah satu dokumen dengan gerakan sedikit kikuk.

Namun, beberapa detik kemudian, matanya kembali melirik Adira.

Adira langsung memergokinya. “Mas.”

“Iya?”

“Jangan lihat-lihat.”

Areksa tersenyum kecil. “Sulit.”

Adira mengerutkan kening. “Kenapa?”

Areksa tidak menjawab. Ia hanya membuka mulut ketika Adira kembali menyodorkan sendok, sementara senyum tipis masih bertahan di wajahnya.

1
Syti Sarah
selmat ya Adira 😍😍
sunaryati jarum
Selamat atas kehamilannya Adira, semoga bayi dan kamu sehat.Thoor segera kuak kalau Adira itu Little girl nya Areksa,agar rasa insecure Adira hilang.
Fegajon: iya 2 bab lagi, tenang aja😎
total 1 replies
Syti Sarah
mungkin Adira hamil kli ya
sunaryati jarum
Coba jika kamu tidak mengharapkan dinikahi Areksa,kamu tidak mempermasalahkan pernikahan Adira dan Areksa Felicia,itu juga karena olahmu yang ingin menjebak Areksa.Memang Adira itu mungkin jodoh Areksa setelah Aruna.
anakkeren
rasain lo fel
sunaryati jarum
Kau yang memberi obat perangsang tapi Adira yang digagahi Areksa.Lagia Adira itu orang yang selama ini dicari Areksa.Jepit dan liontin Aruna,itu milik Adira dari Areksa, maka Areksa mengira Aruna little girl nya
Syti Sarah
rasain kamu fel,ktahuan kn akal licik kamu
sunaryati jarum
Jika tahu Adira little girl kamu,kamu menyesal telah membentaknya.Jika kau mencintai Adira kenapa bisa tertarik pada Aruna.Semoga kalian makin dekat dan terungkap bahwa kamu cinta pertama suamimu
Fegajon: sebentar lagi ka
total 1 replies
sunaryati jarum
Areksa padahal barang itu milik Adira sebelum diberikan kepada Aruna
Syti Sarah
waaah,cri Msalah mmang ya kamu reksa
sunaryati jarum
Sedikit demi sedikit little girl nya dekat,pasti nanti sangat bahagia
sunaryati jarum
Mama mertua the best tahu cara membantu putranya untuk dekat dengan istrinya /Good//Heart//Heart/
sunaryati jarum
Memang dia punya magnet untuk menarik kamu Nak Arka
sunaryati jarum
Emak beri dr Kenzo Adira itu istri majikannya
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Beneran jatuh cinta Tuan Reksa
cutegirl
nah kan begtu enak Diomongin
sunaryati jarum
Jadi ternyata Little girl kamu itu Adira bukan Aruna, jangan buru-buru buru Nak Reksa juga jangan memaksa ,beri perhatian nanti trauma dengan pernikahan dulu akan hilang hatinya jadi luluh
sunaryati jarum
Jalani saja Adira ikuti kehendak Authoor , yang penting upnya lancar pembaca senang,tegang , geram dan senyum juga gemas /Drool//Drool//Drool/


🥰🥰🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Emak berharap kalian menerima dan menjalankan pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab bersama
sunaryati jarum
Berarti malai itu kamu sadar , karena masih terbayang kemolekan tubuh Adira.Semoga Adira memang jodohmu yang akan mendampingi sama kamu menua Nak Reksa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!