Elena Rossi terpaksa menjadi pembantu di mansion Lorenzo De Luca, Tuan Muda Mafia paling kejam di New York, untuk melunasi hutang ayahnya.
Hari pertama kerja, Elena tidak sengaja melihat rahasia gelap Lorenzo di lantai tiga.
Sejak itu Lorenzo mengurungnya.
"Kau sudah melihat rahasiaku. Sekarang kau milikku. Kau tidak boleh keluar dari rumah ini."
Elena ingin kabur, tapi semakin dia membenci Lorenzo, Lorenzo semakin terobsesi padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nova sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sofia Hilang di Mall - Leon Luna Panik!
Mansion De Luca jam 10.00 pagi, hari Sabtu.
Hari ini jadwal belanja bulanan keluarga De Luca.
Tapi belanja kali ini beda, karena ada anggota baru: Sofia, umur 14 hari.
Elena, Lorenzo, Leon, Luna, plus Sofia di stroller pink, plus Thomas dan 5 bodyguard, berangkat ke Mall De Luca - mall milik keluarga De Luca sendiri.
Elena menyiapkan tas bayi besar. Isinya: 10 popok, 5 botol susu, 3 baju ganti Sofia, tisu basah 2 bungkus, dan... 10 bungkus stik keju pink buat Luna.
"Semua sudah lengkap?" tanya Lorenzo di mobil.
Leon cek tas bayi kayak bodyguard cek tas senjata. "Lengkap Pa! Popok ada, susu ada, stik keju Luna ada!"
Luna yang duduk sebelah stroller Sofia, pegang tangan kecil Sofia.
"Sofia, nanti di mall Luna beliin boneka baru ya, biar Sofia punya banyak boneka," kata Luna.
Sofia yang umur 14 hari cuma tidur, tidak ngerti.
Sampai di mall jam 10.30, mall masih sepi karena hari Sabtu pagi.
Mereka langsung ke lantai 2, toko bayi.
Elena dan Lorenzo lihat-lihat baju bayi. Leon dan Luna ditugasin jaga Sofia di stroller, di depan toko, sama satu bodyguard.
"Leon, Luna, jangan kemana-mana ya, jaga Sofia di sini. Mama Papa cuma 5 menit lihat baju," kata Elena.
Leon angguk serius. "Siap Ma! Leon jaga!"
Luna angguk juga. "Luna juga jaga!"
Elena dan Lorenzo masuk toko.
Leon dan Luna berdiri di samping stroller. Bodyguard berdiri di belakang mereka.
Awalnya aman.
Luna lihat toko sebelah, toko mainan. Ada boneka beruang besar pink di etalase.
"Leon, lihat! Boneka besar! Buat Sofia!" kata Luna, mata berbinar.
Leon lihat. Boneka itu memang besar, seukuran Luna.
"Luna mau lihat?" tanya Leon.
Luna angguk. "Sebentar aja, di toko sebelah kok. Sofia kan tidur."
Leon mikir. Katanya jangan kemana-mana. Tapi toko sebelah cuma 5 langkah.
"Sebentar aja ya, 1 menit," kata Leon.
Leon dan Luna jalan 5 langkah ke toko mainan, lihat boneka besar itu.
Bodyguard yang jaga, lihat Leon Luna geser, dia ikut geser 5 langkah juga. Tapi dia lupa kunci stroller Sofia.
Stroller Sofia yang di depan toko bayi, ada roda otomatisnya. Lantai mall agak miring dikit.
Stroller pelan-pelan... ngeloyor sendiri.
Ngglinding... ngglinding... belok ke arah eskalator.
Leon dan Luna masih lihat boneka.
"Leon, bonekanya cantik ya, beliin buat Sofia yuk," kata Luna.
Leon mau jawab, tapi dia noleh ke stroller.
Stroller kosong.
Stroller Sofia tidak ada!
"STROLLER HILANG!" teriak Leon, suaranya pecah.
Luna noleh juga. Wajahnya langsung pucat.
"SOFIA! SOFIA HILANG!" teriak Luna, nangis kencang.
Satu lantai mall langsung heboh.
Bodyguard yang tadi jaga langsung panik. "Tuan! Nyonya! Stroller hilang!"
Elena dan Lorenzo yang di dalam toko bayi dengar teriakan Leon Luna, langsung lari keluar.
"Apa? Sofia hilang?" Elena hampir pingsan.
Lorenzo wajahnya langsung berubah mode bos mafia paling seram. "CARI! KUNCI SEMUA PINTU MALL! SEKARANG!"
Thomas langsung telepon sekuriti mall. "Kunci semua pintu! Jangan ada yang keluar masuk! Cari stroller pink bayi!"
Mall De Luca yang besar, 5 lantai, langsung lockdown.
Pengumuman mall bunyi: "Perhatian, ada bayi hilang, stroller pink, mohon semua pengunjung bantu cari."
Pengunjung mall yang baru 20 orang, semua ikut cari.
Leon, meskipun panik, dia coba jadi detektif.
"Pa, Ma, tadi stroller di sini, lantainya miring, pasti ngeloyor!" kata Leon, tunjuk lantai.
Lorenzo lihat lantai, memang agak miring ke arah eskalator.
Mereka lari ke eskalator.
Di bawah eskalator lantai 1, ada stroller pink nyangkut di pot bunga besar.
Dan di dalam stroller, Sofia masih tidur pulas! Tidak nangis sama sekali! Malah ngiler!
Luna yang lihat langsung lari, peluk stroller.
"SOFIA! Luna kira Sofia hilang diculik!" nangis Luna sesenggukan.
Leon juga peluk stroller, napas ngos-ngosan. "Sofia... untung masih tidur..."
Elena datang, langsung gendong Sofia, peluk erat, nangis.
"Sofia... Mama kira hilang... Mama takut..." kata Elena, ciumin Sofia yang masih tidur.
Lorenzo jongkok, peluk Elena, Luna, Leon, dan Sofia sekaligus.
"Maafin Papa, Papa seharusnya gak tinggalin kalian," kata Lorenzo, suaranya gemetar.
Bodyguard yang tadi jaga, sudah sujud minta maaf. "Maaf Tuan, saya lalai!"
Lorenzo lihat bodyguard itu, tapi tidak marah. Karena dia juga lalai.
Thomas datang bawa rekaman CCTV. Di CCTV kelihatan jelas: stroller ngeloyor sendiri karena lantai miring, bukan diculik.
Satu mall lega.
Ms. Clara yang kebetulan lagi belanja di mall itu juga, datang bawa tisu buat Luna.
"Luna, gak apa-apa, Sofia ketemu kan," kata Ms. Clara.
Jam 11.00, keluarga De Luca pulang, tidak jadi belanja.
Di mobil, Sofia masih tidur di gendongan Elena. Luna pegang tangan Sofia erat, gak mau lepas.
"Leon, mulai sekarang kita gak boleh tinggalin Sofia sedetik pun ya," kata Luna.
Leon angguk. "Iya, Leon kunci strollernya nanti pakai gembok."
Elena yang masih nangis pelan, elus kepala Leon dan Luna.
"Makasih ya, Leon Luna sudah jagain adeknya. Mama bangga," kata Elena.
Lorenzo yang nyetir, matanya masih merah. Dia telepon Thomas di mobil belakang.
"Thomas, besok panggil tukang, ratakan semua lantai mall! Jangan ada yang miring lagi! Dan beli stroller baru yang ada remnya 5!"
Thomas jawab, "Siap Tuan!"
Malam itu di mansion, stroller pink Sofia dipasangi 2 gembok, 1 alarm, dan 1 GPS tracker sama Lorenzo.
Dan di kamar Leon dan Luna, ada aturan baru ditempel di dinding, tulisan Leon:
*ATURAN BABYSITTER CILIK NOMOR 1: JANGAN TINGGALKAN SOFIA, WALAUPUN ADA BONEKA BESAR PINK!*
Apakah Sofia bakal ngeloyor lagi besok kalau lantai mansion dimiringin Leon buat main mobil-mobilan?
*BERSAMBUNG*