Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32
***
Waktu bergulir cepat tanpa mengenal belas kasihan. Dua bulan berlalu sejak langkah kaki Kenzo dan Alana meninggalkan megahnya kemewahan Mansion Elard. Kini, usia kandungan Alana telah menginjak minggu ke-28—memasuki trimester ketiga yang kian mendesak. Perutnya yang dulu membuncit halus kini tampak membesar melingkar sempurna di balik gaun terusan katun cokelat muda yang digunakannya.
Namun, di balik kehangatan rumah mungil berdinding putih itu, badai finansial merayap diam-diam bagaikan bayangan hitam.
Sore itu, gorden ruang kerja lantai atas setengah tertutup, membiarkan bias jingga matahari terbenam menyapu meja kayu yang berantakan. Di depan laptopnya, Kenzo duduk tertunduk kaku. Kemeja putih yang lengannya tergulung asal-asalan tampak lecak. Pria tegap yang dulunya memegang kendali atas ribuan triliun rupiah di bursa saham itu kini tampak begitu lemas, menyandarkan keningnya di atas lipatan tangan di atas meja.
Dua bulan berjuang menembus networking investor luar negeri ternyata tidak semulus yang diperkirakan. Perbedaan zona waktu, birokrasi verifikasi dokumen aset dari Eropa yang berbelit-belit, serta pembekuan beberapa rekening swasta lokal oleh tim hukum Kakek Hendra benar-benar menguras tabungan pribadi yang tersisa. Sementara itu, tagihan pemeriksaan rutin kandungan, biaya persiapan persalinan medis darurat di rumah sakit swasta, hingga kebutuhan gizi Alana sehari-hari kian menumpuk saban harinya.
Bip... bip...
Sebuah pesan masuk di layar ponsel Kenzo dari sekretaris Aris:
"Tuan Kenzo, negosiasi dengan Konsorsium Tuan Robert di London mengalami penundaan jadwal audit hingga akhir bulan depan. Pihak bank juga baru saja memblokir kartu kredit cadangan Anda."
Kenzo mengembuskan napas panjang yang terasa begitu membakar dadanya. Ia memejamkan mata erat-erat, meremas rambut hitamnya yang sedikit panjang dengan rasa bersalah yang teramat menusuk.
Tuhan... jangankan untuk membahagiakannya, bahkan untuk memastikan Alana melahirkan di fasilitas medis yang layak saja aku hampir tak sanggup, batin Kenzo meringis pilu. Rasa ketakutan dan kegagalan sebagai seorang suami serasa mencekik tenggorokannya.
Tanpa ia sadari, pintu ruang kerja berdecit pelan.
Alana melangkah masuk dengan gerakan perlahan, satu tangannya menyangga pinggang belakangnya untuk menahan beban perutnya yang membuncit di usia 28 minggu. Di tangan satunya, Alana membawa segelas air putih hangat.
Alana meletakkan gelas itu di tepi meja, lalu melangkah mendampingi kursi kerja Kenzo. Jemari tangannya yang halus mengusap lembut bahu suaminya yang menegang kaku.
"Mas Kenzo..." bisik Alana pelan, suaranya terdengar begitu manis dan menenangkan di tengah keheningan sore.
Kenzo tersentak kecil, cepat-cepat menegakkan tubuhnya dan berusaha menyapu wajah lesunya dengan senyuman yang dibuat-buat. "Alana? Kenapa naik ke atas? Kamu kan tidak boleh terlalu lelah menaiki tangga."
"Mas Kenzo yang kenapa?" potong Alana lembut, menatap lurus ke dalam iris mata suaminya yang memerah dan menyisakan lingkaran hitam kelelahan. "Sudah dua hari ini Mas jarang makan. Mas selalu melamun di depan laptop sampai larut malam. Ada apa, Mas? Proyek luar negerinya bermasalah?"
Kenzo meraih tangan Alana, menempelkan punggung tangan dingin istrinya ke pipinya. Kenzo menunduk, matanya berkaca-kaca menahan rasa bersalah yang tak tertahankan lagi.
"Maafkan aku, Alana..." suara Kenzo bergetar parau, pecah oleh keputusasaan yang tertahan. "Aku... aku sungguh suami yang tidak berguna. Aku berjanji akan memberimu kehidupan yang layak dan aman, tapi sekarang... negosiasi dengan investor luar negeri tertunda. Tabungan pribadi yang tersisa makin menipis untuk biaya persalinanmu dua bulan depan..."
Kenzo mengepalkan tangannya di meja, menahan isak tangis. "Dulu aku bertingkah seolah bisa menguasai dunia hanya dengan uang keluarga Elard... tapi begitu berdiri di atas kakiku sendiri, aku bahkan kesulitan membiayai kelahiran putri kita. Aku... aku takut membuatmu menderita lagi, Alana."
Alana mendengarkan seluruh tumpahan rasa bersalah itu tanpa sedikit pun mengeluh. Tidak ada raut panik, kecewa, atau tuntutan di wajahnya. Wanita itu justru tersenyum amat hangat—sebuah senyuman penuh kedewasaan dan ketabahan yang memancarkan keindahan murni.
Alana berlutut perlahan di samping kursi Kenzo, memegang kedua belah pipi suaminya dengan jemari cantiknya.
"Mas Kenzo, tatap saya," pinta Alana lembut.
Kenzo menatap mata bening istrinya.
"Waktu kita tinggal di Mansion Elard dulu, Mas memberi saya gaun-gaun sutra mahal, makanan istana, dan kemewahan melimpah," ujar Alana pelan namun mantap. "Tapi apakah saat itu saya bahagia? Tidak, Mas. Jiwa saya mati rasa, dan saya merasa bagaikan tahanan yang menunggu waktu dieksekusi."
Alana mengusap air mata tipis yang menetes di sudut mata Kenzo.
"Sekarang, kita tinggal di rumah mungil ini. Mas memasak meski wajannya gosong, Mas mengusap kaki saya yang bengkak setiap malam, dan Mas mempertaruhkan seluruh hidup Mas untuk melindungi saya dan janin ini dari keluarga besar Mas. Bagi saya... itu adalah kekayaan yang tak bisa dibeli dengan triliunan rupiah di bank," lanjut Alana dengan nada suara yang begitu dalam. "Jangan pernah merasa gagal, Mas. Mas adalah suami dan ayah terbaik yang pernah saya miliki."
Dada Kenzo bergemuruh hebat mendengar kalimat tulus itu. Pria tegap itu membawa tubuh Alana ke dalam dekapannya, merengkuh bahu istrinya dengan penuh kepasrahan dan rasa syukur yang teramat sangat.
"Terima kasih, Alana... terima kasih..." bisik Kenzo serak di pelipis istrinya.
Alana mengurai pelukannya perlahan, lalu menyunggingkan senyuman manis dengan binar ide di matanya.
"Mas... kita kan tim, kan?" tanya Alana.
Kenzo berkedip bingung. "Maksudmu, Alana?"
"Kalau usaha Mas di bidang investasi sedang tertahan, kenapa kita tidak mencoba usaha dari tangan saya?" usul Alana dengan binar mata yang antusias. "Sebelum saya menikah dengan Mas dulu, saya sering membantu almarhumah nenek membuat kue kering, bolu marmer, dan nastar resep keluarga. Kata teman-teman sekolah saya dulu, kue buatan saya sangat enak. Saya bisa membuat sistem pre-order kue secara online untuk dijual ke tetangga komplek dan media sosial!"
Kenzo seketika membelalak kaget, langsung menggelengkan kepalanya keras-keras. "Tidak! Tidak boleh, Alana! Kamu sedang hamil tua, usia kandunganmu sudah 28 minggu! Tubuhmu cepat lelah, kakimu sering bengkak! Aku tidak akan pernah mengizinkan istriku berdiri berjam-jam di depan oven panas hanya demi mencari uang!"
"Mas Kenzo, dengarkan saya dulu," potong Alana lembut, memegang kedua tangan Kenzo yang panik. "Saya tidak akan memaksakan diri. Saya hanya akan membuat kue sesuai batas kemampuan saya. Daripada saya terus berpikiran cemas mendampingi Mas yang stres sendirian, lebih baik saya melakukan hal yang saya sukai. Membuat adonan kue itu terapi buat saya, Mas."
"Tapi, Alana—"
"Mas..." Alana mendekatkan wajahnya, menatap Kenzo dengan pandangan memohon yang amat manis. "Ingat janji kita saat keluar dari mansion? Kita akan berjuang bersama-sama. Izinkan saya membantu Mas, ya? Kita buka sistem PO kue kecil-kecilan minggu ini."
Menatap kesungguhan dan binar kebahagiaan yang terpancar dari mata istrinya, benteng penolakan Kenzo seketika runtuh total. Pria tegap itu menghela napas panjang, lalu tersenyum pasrah seraya mengecup dahi Alana dengan penuh kehangatan.
"Baiklah... kamu menang," bisik Kenzo terkekeh pelan. "Tapi dengan satu syarat mutlak!"
Alana menaikkan alisnya. "Syarat apa?"
"Aku yang akan menjadi asisten pribadimu!" tegas Kenzo dengan raut wajah amat serius yang justru tampak menggemaskan. "Aku yang akan mengangkat karung terigu, mengocok telur, mencuci semua loyang kotor, dan aku sendiri yang akan menjadi kurir pengantar kuenya ke rumah pelanggan! Kamu hanya boleh mencampur bumbu dan membentuk adonan sambil duduk!"
Alana tertawa renyah, sebuah suara tawa yang begitu merdu hingga mengikis seluruh beban berat di ruang kerja itu. "Deal, Mr. Ex-CEO!"
Bersambung
thor sklian dong bikin cerita nya Kalila x lucas 🤭😂
aku sih berharap baby nya berubah jadi cowo🤣🤣🤣