Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Tiba-Tiba Cemburu
“Habis, Mas sih? Tiap kali ada janji, pasti selalu tidak jadi.”
Arven sedikit menahan napas. “Baiklah. Aku tidak akan pernah berjanji lagi.”
Mireya langsung menatapnya. “Bukan begitu.”
“Lalu?”
“Sebenarnya boleh berjanji, tetapi harus ditepati.”
Arven terdiam.
Mireya melanjutkan dengan suara lebih lembut.
“Elden masih kecil. Dia memang belum sepenuhnya memahami arti sebuah janji, tetapi dia sedang belajar.”
Tatapan Arven perlahan berubah serius.
“Kalau pada janji kecil saja kita sudah tidak bisa memenuhi, bagaimana dengan janji yang besar?”
Arven terdiam cukup lama.
Ia menoleh kepada Elden yang sedang bermain di dekat kebun.
Anak itu mungkin belum memahami banyak hal. Namun setiap kali Arven mengatakan akan melakukan sesuatu, Elden selalu mengingatnya.
Arven menghela napas. “Kamu benar.”
Mireya sedikit terkejut. “Mas mengakuinya?”
Arven menoleh. “Kenapa? Aku tidak boleh mengakui kalau aku salah?”
Mireya tersenyum kecil. “Boleh. Syukur lah kalau gak ngeyel."
Arven kembali menatap Elden. “Mulai sekarang, aku akan lebih berhati-hati sebelum berjanji.”
Mireya mengangguk. “Bukan hanya lebih berhati-hati.”
Arven mengangkat alis. “Lalu?”
“Kalau sudah berjanji, harus berusaha untuk menepatinya.”
Arven sejenak hanya menatap mereka bergantian, dan akhinya mengangguk. “Baik.”
Mireya tersenyum. “Begitu lebih baik.”
Arven menatap istrinya beberapa detik. “Sepertinya aku memang masih harus banyak belajar," ucapnya dengan pelan.
Mireya terkekeh. “Tidak apa-apa. Kita bisa belajar bersama-sama.
.
.
Di saat malam semakin larut, Elden telah tertidur dengan pulas di tengah-tengah mereka.
Napas anak itu terdengar teratur. Ketika tubuhnya bergerak, kaki bocah itu langsung mendarat di wajah Arven.
"Aaagh," lenguhnya berat.
Arven yang tadinya terlelap tersentak dengan rasa yang cukup perih. Dengan pelan, ia menurunkan kaki Elden dari wajahnya.
Ia pun duduk mengusap wajah yang tadi kena kendangan dan melirik putranya. "Kamu lagi mimpi main bola?"
Mireya ikut terduduk juga. "Kenapa, Mas?"
Lalu tatapannya berpindah pada Mireya. "Kaki anakmu sampai ke wajahku."
Mireya sontak tertawa. "Nah itu yang aku rasakan tiap hari."
"Kamu tak tidur?" tanya Arven melihat wajah Mireya yang lelah.
Raut wajah Mireya tiba-tiba berubah dan menggeleng tipis.
"Kamu memikirkan Syahzan?"
Mireya menunduk. Ia tak memungkiri, bayangan masa lalu tentanga mantannya kembali berputar di kepalanya semenjak kabar yang dibawa Arven.
Tak bisa dipungkiri, lima tahun pernikahan bukanlah waktu yang singkat.
Arven mengembuskan napas panjang seakan telah tahu jawaban meski mulut Mireya tak bersuara.
"Jadi benar? Hanya dia yang ada di hatimu?"
"Mas ... Aku tak berkata begitu." Mata Mireya menyipit.
Arven akhirnya bangkit dan turun dari ranjang. Gerakannya membuat Mireya menoleh memasang wajah heran.
Ia berjalan mengitari sisi ranjang, lalu berhenti tepat di hadapan Mireya.
Mireya mendongak menatap wajah yang kali ini memasang raut yang tak bisa diartikan.
“Mas, kenapa—?”
Arven menundukkan badan dan membungkam bibir Mireya dengan bibirnya. Mireya tersentak dan mendorong tubuh Arven.
"Jadi benar, kamu masih memikirkannya?" bisiknya menarik dagu Mireya dan kembali menekankan bibirnya ke bibir perempuan itu.
"Hmm ... hmmmppp ..." Mireya gelagapan mencoba mendorong Arven tetapi kekuatannya ternyata tak bisa mengalahkan Arven.
Mireya memukul dada bidang Arven dengan sisa tenaganya, tetapi erang protesnya tenggelam sepenuhnya di balik ciuman Arven yang semakin menuntut.
Tiba-tiba saja, emosi membakar pria itu, perpaduan antara cemburu dan rasa takut kehilangan, membuat setiap gerakannya terasa makin intens dan tak terelakkan.
Telapak tangan Arven mencengkeram erat tengkuk Mireya, mengunci pergerakannya agar tak lagi bisa berpaling. Napas Arven berembus memburu dan panas menabrak kulit pipi Mireya, memburu tiap inci pertahanan yang coba perempuan itu bangun. Usaha Mireya untuk mendorong bahu Arven justru dibalas dengan desakan tubuh yang makin menghimpit, merapatkan jarak hingga tak ada selapis udara pun tersisa di antara mereka.
Buku-buku jari Mireya yang semula memukul keras perlahan melemah, hanya bisa meremas kain piyama Arven saat pasokan udaranya makin terkuras. Ritme napas Arven yang berat dan tidak beraturan bergema di remang kamar yang sunyi.
Ketika Arven akhirnya memberi sedikit jeda, jarak mereka hanya terpaut seakan selembar kertas. Dahi mereka saling menempel, sama-sama naik-turun meraup udara dengan napas yang memburu.
Mata Arven yang tajam dan terluka menatap lurus ke dalam bola mata Mireya yang berkaca-kaca.
"Katakan padaku, Mireya..." bisik Arven dengan suara serak yang bergetar tepat di depan bibir istrinya. "... apakah hatimu masih milik dia?"
“Tidak, Mas. Bukan dia.”
Lalu Arven justru menangkap ada sesuatu yang tidak dikatakan Mireya.
“Kalau bukan dia, lalu kenapa kau takut menerimaku?”
*bersambung*
*Mohon maaf agak lama up bagian ini ya Kakakku, soalnya hari ini pekerjaan real life akuh cukup sibuk, jadi baru bisa up setelah sampai rumah* terima kasih ya udah menemani sampai bab ini. 😘😍❤️
Ditunggu cerita selanjutnya
ini cerita tee realistis yg pernah aku baca di sepanjang baca pernovelan si.
kenapa?
karena untuk bahagia itu sebenarnya sederhana.
kita ga perlu merubah orang lain atau memaksa keadaan yg penuh problematika biar lepas dr masa lalu.
cukup jadi diri sendiri dan merubah mindset kita sendiri si.
terimakasih atas cerita indah nya Thor.
mungkin Se savage aku mesti belajar jadi orang woles yaa🤣🤣
kalau aku udah bertanduk itu...
tapi ga bikin puas ya
kalau begini mereka yg malu sendiri
Sekarang kalau mereka tahu Mireya hamil....bakalan heboh.
kira² gmn reaksi keluarga mantan jika tau mireya hamil?
bahagia itu sederhana ya ven
gaya hidup lu yg dulu,yg bebas bisa ga ngasih kebahagiaan kyk gini?