Indonesia
NovelToon NovelToon
Mereka Pikir Aku Miskin

Mereka Pikir Aku Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas / Penyesalan Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:51.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.

Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.

Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.

Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.

Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Pagar Yang Ditanam Keira

.

Arsen baru saja datang ke perusahaan setelah sebelumnya mampir ke rumah sakit menjenguk ayahnya ketika Mario masuk ke ruangannya dengan wajah tegang. Sejak pagi, dua kepala divisi mengajukan pengunduran diri, disusul beberapa manajer senior yang selama ini menjadi tulang punggung Wijaya Group. Keadaan itu membuat Arsen semakin sulit mempertahankan operasional perusahaan yang sudah tertekan akibat kekalahan tender.

“Pak, ada empat surat pengunduran diri lagi,” lapor Mario sambil meletakkan berkas di meja.

Arsen langsung mendongak. “Empat orang sekaligus?”

Mario mengangguk. “Termasuk Pak Burhan dari divisi keuangan dan Pak Handoko yang mengawasi operasional. Mereka mengatakan sudah menerima tawaran pekerjaan di tempat lain.”

Arsen mengusap wajahnya dengan frustrasi. Burhan dan Handoko bukan pegawai biasa. Keduanya telah bekerja sejak awal berdirinya Wijaya group dan mengetahui hampir seluruh seluk-beluk perusahaan. Kehilangan mereka berarti ia harus menghadapi masalah keuangan dan operasional tanpa orang-orang yang selama ini paling bisa diandalkan.

“Panggil mereka ke sini,” perintahnya. “Aku ingin bicara langsung.”

*

Tidak sampai lima belas menit kemudian, Burhan dan Handoko datang bersama tiga manajer senior lainnya. Mereka berdiri di hadapan meja Arsen dengan ekspresi tenang, seolah keputusan yang mereka ambil tidak lagi bisa diganggu gugat.

Arsen mempersilakan mereka duduk, lalu berusaha berbicara dengan kepala dingin.

“Saya sudah membaca surat pengunduran diri kalian. Saya ingin tahu apa alasan sebenarnya. Kalau masalahnya berkaitan dengan kondisi perusahaan, kita masih bisa mencari jalan keluar bersama.”

Burhan saling pandang dengan rekan-rekannya sebelum menjawab, “Kami sudah mempertimbangkannya matang-matang, Pak. Keputusan ini tidak ada hubungannya dengan masalah pribadi.”

“Kalau begitu, karena apa? Kalian tahu perusahaan sedang membutuhkan orang-orang berpengalaman. Kalian juga tahu saya tidak bisa membiarkan semua posisi penting kosong dalam waktu bersamaan.”

“Justru karena kami memahami kondisi perusahaan, kami memilih pergi sekarang.”

Jawaban itu membuat Arsen terdiam sejenak. “Apa maksudmu?”

Handoko menyela dengan nada datar, “Kami tidak yakin Wijaya Group bisa kembali seperti dulu dalam waktu dekat, Pak. Ada banyak hal yang selama ini berjalan karena dukungan yang tidak pernah benar-benar diketahui oleh sebagian besar karyawan.”

Arsen mengernyit. “Dukungan siapa?”

Tidak ada yang langsung menjawab. Beberapa orang justru bertukar pandang, seolah pertanyaan itu terdengar aneh bagi mereka.

Arsen mulai kehilangan kesabaran. “Saya sedang bertanya kepada kalian. Kalau ada masalah yang membuat kalian ingin pergi, katakan dengan jelas. Saya bisa menawarkan kenaikan gaji setelah keadaan perusahaan membaik. Bahkan, jika kita berhasil bangkit, saya bersedia memberikan gaji yang lebih tinggi daripada yang kalian terima sekarang.”

Burhan tertawa kecil. Handoko menyusul, disusul beberapa manajer lainnya. Tawa mereka bukan terdengar seperti orang yang merasa lega, melainkan seperti mendengar tawaran yang terlalu terlambat untuk dianggap serius.

Wajah Arsen mengeras. “Apa yang lucu?”

“Maaf, Pak,” jawab Burhan sambil menahan senyum. “Kami tidak bermaksud menghina Anda. Hanya saja, Anda benar-benar tidak mengetahui apa yang selama ini terjadi di perusahaan ini.”

“Apa yang tidak kuketahui?”

Burhan menarik napas, kemudian menatap Arsen lurus-lurus. “Selama ini kami bekerja di Wijaya Group atas perintah Bu Keira.”

“Apa?" Arsen membeku. Beberapa detik lamanya, ia bahkan mengira telinganya yang salah dengar.

“Siapa?” tanyanya pelan, meskipun ia sudah mengetahui jawabannya.

“Bu Keira Anindita,” jawab Handoko tanpa ragu. “Beliaulah yang meminta kami membantu Wijaya Group.”

Arsen bangkit dari kursinya. “Jadi, kalian semua orang-orang Keira?”

Alih-alih menghindari pertanyaan itu, kelima orang tersebut mengangguk bersamaan.

“Kami adalah pegawai inti KA Grup, Pak,” jelas Surya. “Sebelum ditempatkan di Wijaya Group, kami bekerja langsung di bawah koordinasi Bu Keira. Beliau meminta kami membantu membantu Anda untuk menjaga kelangsungan perusahaan ini.

Arsen menatap mereka satu per satu dengan wajah pucat. Selama ini, ia mengenal Burhan sebagai kepala keuangan yang kompeten, Handoko sebagai pengelola operasional yang tegas, dan para manajer lainnya sebagai orang-orang yang selalu mampu menyelesaikan masalah dengan cepat. Ia tidak pernah mencurigai bahwa mereka adalah orang-orang yang sebenarnya ditanam oleh mantan istrinya untuk menjaganya.

“Sejak kapan?” tanyanya, suaranya mulai kehilangan ketegasan.

“Sejak Anda mulai mendirikan perusahaan ini,” jawab Burhan. “Kami ditempatkan di sini untuk membantu, tetapi kami mengikuti semua arahan Bu Keira dalam hal penugasan dan evaluasi. Kami diminta memastikan Wijaya Group bisa berjalan dengan baik.”

Arsen menggeleng perlahan. “Tapi kalian bekerja untuk ayahku. Kalian menerima gaji dari perusahaan ini.”

“Sebagian gaji kami memang tercatat dalam anggaran Wijaya Group, Pak. Tapi apa Anda pikir, gaji yang diberikan oleh Wijaya sesuai dengan standar keahlian kami? Sama sekali tidak. Bu Keira yang membayarkan kekurangannya.”

Setiap penjelasan terasa seperti pukulan baru bagi Arsen. Selama ini dirinya membanggakan keberhasilan Wijaya Group, menganggap keputusannya sendiri sebagai kunci pertumbuhan perusahaan, dan memandang Keira hanya sebagai perempuan yang duduk menunggu di rumah dan menerima uang setiap bulan. Tapi ternyata orang-orang di perusahaanya dibayar oleh wanita itu.

“Kenapa tidak ada yang pernah memberitahuku?” tanyanya.

Handoko menatapnya dengan ekspresi sulit diartikan. “Kami tidak memiliki kewenangan untuk menjelaskan pengaturan internal Bu Keira kepada Anda, Pak. Kami hanya menjalankan tanggung jawab yang diberikan.”

“Lalu sekarang kalian pergi karena Keira memerintahkan kalian?”

“Tidak,” jawab Handoko tegas. “Bu Keira tidak pernah meminta kami mengundurkan diri. Kami sendiri yang memutuskan untuk kembali ke KA Grup setelah melihat situasi perusahaan ini.”

Arsen terdiam dengan punggung yang tersandar lemah. Pria itu menggelengkan kepala berkali-kali menolak mempercayai fakta yang baru saja ia dengar.

“Namun, kami tidak bisa terus bekerja di sini seolah tidak terjadi apa-apa,” lanjut Handoko. “Hubungan kerja sama yang menjadi dasar penempatan kami sudah berubah. Kami juga memiliki tanggung jawab terhadap perusahaan tempat kami bernaung.”

“Jadi, kalian akan meninggalkan perusahaan ini begitu saja?”

“Kami akan menyelesaikan seluruh tanggung jawab sebelum masa kerja kami berakhir sesuai prosedur. Kami tidak berniat merugikan siapa pun, Pak. Tetapi kami juga tidak bisa menggantungkan masa depan kami kepada perusahaan yang tidak lagi memiliki masa depan jelas.”

Arsen tidak mampu membalas. Ia ingin marah, tetapi tidak tahu kepada siapa harus melampiaskannya. Kelima orang itu tidak melanggar aturan. Mereka hanya menyampaikan kenyataan yang selama ini tidak pernah ia ketahui.

Setelah mereka berpamitan, Arsen menekan dadanya yang terasa sesak. Ruangannya mendadak terasa terlalu sunyi, sementara surat-surat pengunduran diri di atas meja seolah menjadi bukti bahwa ia sedang kehilangan orang-orang yang selama ini menjaga perusahaannya tetap berjalan.

Arsen meraih ponselnya, membuka percakapan dengan mantan istrinya, lalu menatap pesan terakhir yang dikirimkannya beberapa hari lalu. Keira telah menolak untuk kembali terlibat, dan ia baru memahami seberapa besar peran perempuan itu dalam kehidupan keluarganya.

Arsen menutup mata, menahan dadanya yang semakin sesak. Tanpa sadar air matanya perlahan menetes. Ia merasakan pipinya yang basah, tetapi sama sekali tidak berusaha untuk menghapusnya.

“Key… aku salah.”

1
vania larasati
lanjut
Noey Aprilia
Keira mngkn mau mmafkn kslhn mreka d msa lalu,tp untk kmbli lg....
Soryyyy yeee......😛😛😛
Aditya hp/ bunda Lia
tidak akan bisa soalnya kamu tuh udah terbiasa terima beres ...tanpa kerja keras dulu
〈⎳ FT. Zira
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Sri Widiyarti
menyesalpun tiada guna Arsen...
Ilfa Yarni
tidak Ada Jln lain untukmu slain menerima nasib itulah karma yg hrs kau jalani karena kesombonganmu arsen
Lee Mba Young
nnti di kluarga santoso Clarissa di jadikan babu
Aditya hp/ bunda Lia: setuju semoga ajah ... kita mohon sama othor 🤭
total 1 replies
Patrick Khan
oalah tibak e podo bangkrut e🤣🤣
Nurhartiningsih
gila sih ini
Lily
keluarga gila
vania larasati
lanjut
Ilfa Yarni
inilah contohl orang2 yg tamak Akan harta dikira mereka beruntung tp malah buntung penasaran apa yg Akan dikatakan papa Clarissa ya perusahaanya jg mau bangkrut dia menikahkan anknya dgn arsen berharap bisa dimanfaatin ternyata arsen malah bankrupt duluan
Ayuk Witanto
Keira udah gak Sudi mungut sampah
Aditya hp/ bunda Lia
makanya jangan pada mau enak mau senang tanpa berjuang ...
juwita
Arsen menghela nafas pendek.
juwita
yg penting tidak menceraikan carissa. mgkn itu yg di maksudnya ya mam
juwita
keluarga g bener semua saling memanfaatkan. tp akhirnya zonk semua🤣🤣🤣🤣
Patrick Khan
udah tidur saja km arsen pasti capek🤣🤣
ryuka
makaaih banyak unt banyak up nya ya thorrrr 😍😍😍😍😍😍
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: terima kasih juga atas dukungannya kak /Kiss//Pray/
total 1 replies
ryuka
penyesalan emang selalu datang terlambat arsen..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!