Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.
Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.
Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siska Menjual Baju Bekas
Matahari yang tadinya terasa seperti membakar kulit kini mulai meredup, menyisakan bias jingga yang menyakitkan di ufuk barat. Bagas, Ibu Melati, dan Siska masih berada di pinggir jalan raya, terjebak di antara kebisingan knalpot kendaraan yang melintas tanpa mempedulikan nasib mereka. Rasa lapar yang mulai mendera membuat Ibu Melati semakin gelisah, tangannya yang gemetar sesekali mengusap tas kain yang berisi pakaian tersisa.
"Kita tidak bisa terus berdiri di sini seperti orang bodoh," gerutu Siska sambil menendang kerikil di pinggir jalan. "Kak Bagas, lihat ponselku saja sudah mati total. Aku tidak bisa memesan ojek atau mencari informasi sewa rumah lewat aplikasi."
Bagas menghela napas panjang, matanya yang sembab menatap tajam ke arah sebuah bangunan tua di seberang jalan yang memiliki papan kayu bertuliskan disewakan. Ia tidak menjawab keluhan adiknya, melainkan hanya melangkah gontai menyeberangi jalanan yang ramai. Suara klakson mobil yang beradu di sekitarnya seolah menjadi latar musik bagi kehancuran hidup yang sedang mereka alami.
"Ayo ikut," perintah Bagas singkat tanpa menoleh.
Ibu Melati dengan susah payah mengikuti langkah putranya, napasnya tersengal karena kelelahan yang luar biasa. Bagian kaki ibunya yang membengkak akibat berjalan jauh di trotoar yang tidak rata mulai menunjukkan rasa sakit yang nyata. Ia terpaksa menyeret kakinya, memaksakan diri agar tidak tertinggal terlalu jauh dari Bagas.
"Tunggu, Bagas! Kakimu terlalu panjang, Ibu tidak bisa mengimbangi," keluh Ibu Melati dengan suara yang nyaris tenggelam oleh deru mesin kendaraan berat.
Bagas berhenti tepat di depan gerbang besi yang sudah berkarat, di mana seorang pria paruh baya bertubuh gempal sedang duduk di kursi kayu sambil mengisap rokok kretek. Pria itu menatap mereka dengan sorot mata yang curiga, menilai penampilan mereka yang tampak berantakan dan jauh dari kesan orang mampu.
"Mau cari apa kalian?" tanya pria itu tanpa menawarkan senyum, asap rokoknya mengepul di depan wajah Bagas.
Bagas berusaha menegakkan punggungnya, mencoba mempertahankan sisa wibawa yang ia miliki meski pakaiannya sudah kucel dan penuh debu. Ia merapikan sedikit kerah bajunya yang sudah lusuh, mencoba terdengar seperti pria yang masih memegang kendali atas kehidupannya.
"Saya ingin menanyakan tentang kamar yang disewakan di sini, Pak," ucap Bagas dengan nada yang diusahakan tenang. "Kami butuh tempat untuk tiga orang, kalau bisa yang memiliki dua ruangan terpisah."
Pria itu tertawa sinis, matanya melirik ke arah Siska dan Ibu Melati yang tampak seperti gembel kota. Ia membuang puntung rokoknya ke tanah, lalu menginjaknya dengan ujung sandal jepitnya yang kotor.
"Di sini hanya ada satu kamar sisa dengan ukuran tiga kali tiga meter," jawab pria itu ketus. "Dan harganya harus dibayar di muka untuk satu bulan. Kalau tidak ada uangnya, jangan berharap bisa masuk ke pekarangan ini."
Siska yang mendengar jawaban itu langsung berteriak tidak terima, wajahnya memerah karena amarah yang tidak terbendung. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh pemilik rumah kontrakan kumuh itu.
"Tiga kali tiga meter untuk kami bertiga? Apa Bapak sudah gila?" seru Siska dengan suara melengking tinggi. "Kami terbiasa tinggal di rumah mewah, setidaknya berikan kami tempat yang lebih layak daripada kandang ayam seperti ini!"
Bagas segera mencengkeram lengan Siska, menarik adiknya untuk diam agar tidak memperkeruh keadaan. Ia tahu bahwa saat ini mereka tidak memiliki daya tawar apa pun, dan menyinggung orang yang memegang akses tempat tinggal adalah tindakan yang sangat bodoh.
"Maafkan adik saya, Pak," potong Bagas dengan suara yang merendah, menelan ego demi mendapatkan atap untuk berteduh. "Berapa harganya per bulan? Kami akan membayarnya sesuai permintaan Anda."
Pemilik kontrakan itu mendengus, lalu menyebutkan angka yang sebenarnya cukup terjangkau, namun bagi Bagas yang hanya memiliki sisa uang di dompet, jumlah itu terasa sangat berat. Bagas merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang yang sudah lusuh dan terlipat tidak rapi.
"Ini uangnya, Pak," kata Bagas sambil menyerahkan sisa tabungan terakhir yang ia miliki. "Sisanya akan saya bayar setelah saya mendapatkan pekerjaan di kawasan industri esok pagi."
Pria itu menghitung uang di tangannya dengan lambat, matanya menyipit saat memastikan jumlahnya. Setelah merasa cukup, ia mengeluarkan sebuah kunci besi yang berkarat dari saku celananya dan melemparkannya ke tanah di depan kaki Bagas.
"Itu kunci kamar di ujung lorong," kata pria itu sambil menunjuk ke arah gang sempit yang gelap dan pengap. "Jangan membuat keributan di malam hari, atau saya akan mengusir kalian tanpa mengembalikan uang sepeser pun."
Bagas memungut kunci itu dengan tangan yang gemetar. Ia merasa seperti sedang memungut harga dirinya yang sudah hancur berkeping-keping. Ia berbalik dan memberi isyarat kepada Ibu Melati dan Siska untuk segera masuk.
"Ayo, masuk," perintah Bagas pelan, suaranya terdengar hampa.
Mereka berjalan masuk melewati gang sempit yang bau air selokannya sangat menyengat, menusuk indra penciuman hingga membuat Ibu Melati berkali-kali menutup hidung dengan sapu tangannya. Dinding-dinding di sepanjang jalan terlihat lembap dan dipenuhi lumut, menciptakan pemandangan yang sangat kontras dengan kehidupan yang mereka jalani beberapa bulan lalu.
Sesampainya di depan pintu kayu yang rapuh, Bagas memasukkan kunci ke lubang kunci yang macet. Setelah berjuang beberapa saat, pintu itu akhirnya terbuka dengan suara derit yang panjang dan menyakitkan telinga. Ruangan di dalamnya pengap, hanya ada satu kasur lantai yang tipis dan sebuah meja kecil di sudut ruangan.
Siska langsung melempar tasnya ke lantai, lalu duduk di atas kasur dengan wajah yang ditekuk karena kesal. Ia memandang sekeliling ruangan dengan tatapan penuh kebencian, menolak untuk menerima kenyataan bahwa ia kini terdampar di tempat seperti ini.
"Ini tidak masuk akal, Bagas!" teriak Siska sambil menunjuk ke arah tembok yang terkelupas. "Bagaimana kita bisa hidup di tempat sekecil ini? Ibu sudah tua, dan aku tidak bisa tidur berdesakan dengan kondisi ruangan yang seperti ini!"
Ibu Melati duduk di samping Siska, ia terdiam membisu, air mata yang tadi sempat kering kini kembali mengalir di pipinya yang kusam. Ia menatap dinding yang berjamur dengan pandangan kosong, menyadari bahwa setiap pilihan yang mereka buat selama ini telah membawa mereka ke titik nadir.
"Sudahlah, Siska," bisik Ibu Melati dengan suara serak yang memilukan. "Kita tidak punya pilihan lain. Daripada harus tidur di kolong jembatan, tempat ini setidaknya bisa menutupi kita dari hujan."
Bagas berdiri di tengah ruangan, tangannya terkepal erat hingga buku jarinya memutih. Ia menatap ke luar jendela kecil yang hanya menampakkan tembok beton tetangga, menyadari betapa sunyi dan hancurnya dunia mereka saat ini. Tidak ada lagi telepon dari klien, tidak ada lagi fasilitas mewah, dan yang paling menyakitkan, tidak ada lagi Laras yang diam-diam membereskan kekacauan yang mereka buat.
"Aku akan mencari pekerjaan besok," ucap Bagas memecah keheningan, suaranya datar namun penuh tekanan. "Apapun pekerjaannya, kita harus bertahan. Jika kita tidak bisa makan, kita tidak akan pernah bisa bangkit kembali."
Siska mendengus sinis, ia memalingkan wajah dan memilih untuk membelakangi kakaknya. Ruangan yang sempit itu kini terasa seperti penjara yang mencekik, tempat di mana mereka harus menanggung akibat dari kesombongan yang telah mereka tuai sendiri. Malam itu, di bawah temaram lampu bohlam yang berkedip-kedip, ketiganya terdiam, membiarkan kegelapan dan kepahitan menyelimuti ruang sempit yang kini menjadi satu-satunya tempat mereka berpijak.