Indonesia
NovelToon NovelToon
Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Bertahan Hidup Sebagai Tuan Muda Sampah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:954
Nilai: 5
Nama Author: Nappzz

Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Histerisnya Sang Pahlawan

Aku menyelinap kembali ke barisan belakang kerumunan murid akademi dengan mulus, seolah aku baru saja kembali dari buang air kecil di balik semak-semak salju.

Kain Kafan Malam Tak Bintang yang kukenakan kembali menyatu dengan bentuk mantel musim dinginku. Keberadaanku yang sempat terhapus dari radar kini kembali muncul. Tidak ada satu pun ksatria penjaga atau murid yang menyadari bahwa aku sempat menghilang selama dua jam. Di mata mereka, aku hanyalah bangsawan pemalas yang berdiri menggigil di belakang kerumunan sambil memandangi tebing es.

Di punggungku, Perisai Gerhana tersimpan aman di dalam dimensi penyimpanan spasial dari cincin keluarga Pendelton.

"Rampok dan lari. Klasik, rapi, dan memuaskan," bisik Nox dari dalam bayanganku. Ia terkikik pelan. "Sekarang kita tinggal menunggu gunung berapinya meletus."

Tiga menit kemudian, gunung berapi itu benar-benar meledak.

DHUAAARRR!

Gerbang Pahlawan Pertama di depan kami memuntahkan gelombang kejut yang diwarnai oleh kobaran api suci yang tidak stabil. Para Uskup Agung dari Kuil Cahaya terhuyung mundur. Kuda-kuda para ksatria meringkik panik.

Dari balik kepulan debu dan pecahan es, dua sosok muncul.

Mereka sama sekali tidak terlihat seperti pahlawan yang baru saja mendapatkan artefak suci. Zirah Pangeran Julian penyok dan dipenuhi noda hangus. Rambut emasnya yang selalu sempurna kini acak-acakan. Di sebelahnya, Leon terengah-engah dengan mata merah menyala, menggenggam pedangnya erat-erat seolah siap membunuh siapa saja yang berdiri di depannya.

"TUTUP AREA INI! JANGAN ADA YANG BERGERAK!" raung Julian dengan suara yang serak karena berteriak terlalu keras di dalam makam.

Ratusan murid dan ksatria saling berpandangan dengan kebingungan akut. Profesor Aegis melangkah maju, wajahnya dipenuhi tanda tanya.

"Yang Mulia? Apa yang terjadi? Di mana Aegis of the Sun?" tanya sang Profesor.

Pertanyaan itu bagaikan bensin yang disiramkan ke dalam kobaran api. Mata Julian menatap liar ke seluruh kerumunan, hingga akhirnya tatapan membunuh itu terkunci tepat ke arahku.

"TANGKAP DIA!" Julian menunjuk ke arahku dengan jari gemetar. "Tangkap Arthur Pendelton sekarang juga! Dia mencuri Perisai Matahari! Dia merusak altar suci!"

Keheningan absolut menyelimuti lereng gunung. Angin badai salju seolah berhenti bertiup sesaat. Semua kepala serempak menoleh ke arahku.

Aku memiringkan kepalaku sedikit, menampilkan raut wajah kebingungan yang sangat natural dan polos. Di kehidupanku yang dulu, trik ini selalu berhasil saat rekan kerjaku menuduhku menghapus data server padahal mereka sendiri yang lupa menyimpan file.

"Maaf, Yang Mulia?" tanyaku dengan nada lembut yang sopan. "Saya mencuri apa?"

"JANGAN BERPURA-PURA, KAU IBLIS LICIK!" Leon melangkah maju, mengarahkan ujung pedangnya lurus ke arah dadaku dari kejauhan. Urat di pelipisnya menonjol. "Kau meninggalkan surat sialan itu di atas altar! Kau mencuri artefak takdirku!"

Tuduhan itu begitu tidak masuk akal hingga beberapa murid kelas unggulan mulai berbisik-bisik, bukan untuk mengejekku, tapi karena kebingungan.

"Tuan Muda Pendelton... mencuri artefak suci?" bisik seorang murid di dekatku.

"Bagaimana caranya? Dia berdiri di sebelahku sejak tadi mengeluh soal sepatunya yang kemasukan salju."

"Lagipula... masuk ke dalam Makam Suci butuh penyucian jiwa. Jika dia melangkah melewati gerbang, bukankah tubuhnya akan meledak karena sihir kegelapan?"

Profesor Aegis menengahi dengan wajah keras. "Yang Mulia Julian, mohon tenang. Tuduhan Anda sangat berat. Tuan Pendelton tidak pernah melewati gerbang ini. Puluhan pasang mata, termasuk saya sendiri, melihatnya berdiri di area perkemahan selama ekspedisi berlangsung."

"ITU ILUSI!" bantah Julian kalap. Ia kehilangan seluruh tata krama kerajaannya. Ia menoleh pada Uskup Agung. "Uskup! Periksa dia! Periksa ruang penyimpanannya, periksa inti sihirnya! Dia menyembunyikan Perisai Matahari!"

Uskup Agung, seorang pria tua yang memegang tongkat berlambang matahari, mengerutkan dahi. Ia tidak suka diperintah dengan nada histeris, bahkan oleh seorang Pangeran sekalipun. Namun, demi menjaga kesucian gereja, ia melangkah maju mendekatiku.

"Tuan Pendelton. Demi membersihkan nama Anda, izinkan saya menggunakan Cermin Kebenaran," ucap Uskup Agung dengan nada netral.

"Silakan, Yang Mulia Uskup. Saya tidak punya apa pun untuk disembunyikan," balasku santai, merentangkan kedua tanganku layaknya orang yang sedang digeledah di bandara.

Uskup Agung mengeluarkan sebuah cermin perak kecil dari jubahnya, lalu merapal mantra. Cermin itu memancarkan cahaya putih yang menyapu seluruh tubuhku, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Cahaya ini dirancang untuk mendeteksi anomali sihir, ilusi, barang curian suci, dan aura kegelapan.

Namun, berkat Kain Kafan Malam Tak Bintang yang bekerja diam-diam di balik mantelku, setiap partikel sihir pelacak dari cermin itu langsung dinetralisir dan diserap oleh tubuhku tanpa sisa.

Setelah semenit melakukan pemindaian menyeluruh, cermin itu tidak berubah warna. Cahayanya tetap putih bersih.

Uskup Agung menurunkan cerminnya, lalu menatap Pangeran Julian dengan tatapan kecewa dan tersinggung.

"Tuan Pendelton sepenuhnya bersih, Yang Mulia Julian," deklarasi Uskup Agung dengan suara lantang. "Inti sihirnya tidak memancarkan hawa kegelapan, dia tidak berada di bawah pengaruh sihir ilusi ruang, dan dia sama sekali tidak membawa artefak suci gereja kita."

"T-TIDAK MUNGKIN!" Julian memucat. Ia menarik selembar kertas perkamen lecek dari sakunya—surat yang kutinggalkan di altar—dan menunjukkannya pada Uskup Agung. "Lihat ini! Dia meninggalkan inisialnya! 'A.P.'! Arthur Pendelton!"

Uskup Agung melirik kertas itu dengan pandangan meremehkan.

"Yang Mulia," suara Uskup Agung kini menegas, dipenuhi otoritas gereja. "Apakah Anda secara tidak langsung menuduh bahwa sistem pertahanan Makam Suci Pahlawan Pertama, yang dibangun oleh para Dewa, begitu lemah hingga bisa dibobol oleh seorang murid tahun pertama tanpa ketahuan? Apakah Anda meragukan keagungan Dewa Cahaya?"

Skakmat.

Kata-kata Uskup Agung menghantam Julian layaknya palu godam. Menuduh bahwa segel makam suci bisa dibobol dengan mudah sama saja dengan melakukan penistaan agama di depan petinggi gereja.

Julian seketika terbungkam. Mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan yang kehabisan air. Keringat dingin mengucur deras di dahinya. "S-Saya... bukan begitu maksud saya, Yang Mulia Uskup. T-Tapi surat ini—"

"Siapa pun bisa menulis surat dengan inisial palsu untuk memprovokasi Anda, Pangeran Julian," potong Profesor Aegis, menggelengkan kepalanya. "Mungkin saja ada pencuri kelas atas dari sekte bawah tanah yang membobol makam ini jauh sebelum kita tiba, dan sengaja menggunakan nama Pendelton untuk mengadu domba fraksi bangsawan."

Aku harus menahan diri sekuat tenaga agar tidak tertawa terbahak-bahak. Logika orang-orang ini begitu sempurna dalam menciptakan alibi untukku.

Aku melangkah maju dengan raut wajah prihatin yang kubuat-buat.

"Saya sangat menyesal mendengar hilangnya artefak suci tersebut, Yang Mulia Julian," ucapku dengan nada tulus yang beracun. "Mungkin, alih-alih menuduh murid yang tidak bersalah, kita harus mengevaluasi kembali sistem keamanan istana? Siapa tahu, musuh yang sebenarnya berada tepat di bawah hidung Anda."

Leon menatapku dengan mata berkaca-kaca karena marah. Napasnya memburu. Pahlawan Terpilih itu telah diberi panggung oleh Sistem, namun naskahnya dicuri tepat sebelum ia membacakannya. Pencerahan Ilahi di dalam tubuhnya mendidih, menuntut penyaluran, namun tidak ada musuh yang bisa ia serang secara sah.

"Kau..." bisik Leon, menunjukku dengan pedangnya yang bergetar. "Aku tahu itu kau, Arthur. Cepat atau lambat, topengmu akan hancur."

"Simpan pedangmu, Leon," tegurku dingin, tatapanku seketika berubah setajam es, menembus langsung ke dalam jiwanya. "Atau kau ingin aku mengulangi pelajaran hukum fisika di arena kemarin?"

Leon berjengit mundur satu langkah. Memori rasa sakit saat tulang rusuknya hancur oleh pukulanku kembali melintas di otaknya. Meski ia kini memiliki kekuatan baru, trauma psikologis itu masih tertanam kuat.

"Cukup!" Profesor Aegis mengambil alih komando. "Ekspedisi dibatalkan! Kita kembali ke akademi. Ksatria, amankan area ini. Gereja akan melakukan investigasi mandiri terhadap hilangnya Perisai Matahari."

Kerumunan mulai membubarkan diri dengan suasana hati yang kelam.

Pangeran Julian menatapku untuk terakhir kalinya sebelum berbalik menuju kudanya. Punggung sang Putra Mahkota terlihat merosot. Reputasinya telah hancur. Ia memimpin ekspedisi besar-besaran, gagal mendapatkan artefak, dan malah mempermalukan dirinya sendiri dengan berteriak histeris menuduh tanpa bukti di depan Uskup Agung.

Saat aku berbalik untuk menuju kereta kudaku, kulihat Cecilia von Arnault berdiri agak jauh dari kerumunan, menatapku lekat-lekat.

Gadis berambut platina itu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memutar bola matanya sedikit, mendengus pelan, lalu menyembunyikan senyum tipis di balik syal tebalnya sebelum berjalan pergi. Ia tahu. Tentu saja dia tahu. Tapi ia memilih untuk diam dan menikmati runtuhnya keangkuhan Pangeran Julian.

Aku masuk ke dalam kereta kuda keluarga Pendelton, menutup pintu, dan akhirnya membiarkan tawaku pecah.

"Kau bajingan paling licik yang pernah kulihat selama tiga ratus tahun terakhir," Nox terbahak-bahak, berguling-guling di udara di dalam kereta. "Muka Pangeran itu! Ya ampun, aku pikir dia akan mati terkena serangan jantung di tempat!"

"Ini namanya Social Engineering, Nox," jawabku sambil bersandar rileks di kursi kereta empuk, mengeluarkan Perisai Gerhana SSS dari dalam cincin spasialku. Perisai hitam itu berdenyut hangat, memancarkan kekuatan yang absolut.

"Sang Protagonis kehilangan item takdirnya, dan faksi pangeran kehilangan muka di depan gereja," gumamku, membelai permukaan perisai tersebut. "Sistem dunia ini pasti sedang error berat sekarang. Tapi kita tidak bisa lengah. Karena jika plot cerita dipaksa keluar dari jalurnya..."

"...dunia ini akan merespons dengan anomali yang lebih brutal," sambung Nox, mendadak serius.

Aku mengangguk. Musim dingin ini akan menjadi titik balik. Dengan kekuatan fisik Tulang Obsidian, sihir penelan Vespera, Mata Kausalitas, dan kini Perisai Gerhana, Tuan Muda Sampah dari utara telah berevolusi menjadi Bos Terakhir yang tidak bisa disentuh oleh pahlawan mana pun.

1
ZAHRANI
upnya lama banget,padahal cuman buat 1 novel doang😮‍💨
Nappzz: di usahakan up secepatnya ya ka🙏🏻
total 1 replies
ZAHRANI
5 bab lah thor😭
Nappzz: segera ditunggu ya ka
total 1 replies
ZAHRANI
keren thor mantap👍
Nappzz: thank you ka, makasih support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!