Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.
Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.
Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.
Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.
Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.
Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.
“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”
“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”
Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Cemburu
Pagi itu, Nic sudah bersiap untuk berangkat ke kantor.
Jas hitam sudah melekat sempurna di tubuhnya. Rambutnya tertata rapi, jam tangan sudah melingkar di pergelangan tangan.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat Jove di dalam walk in closet.
Bukan dengan pakaian formal seperti biasanya.
Jove mengenakan celana jeans, T-shirt sederhana, dan sepatu kets. Rambutnya ditata santai, sementara tangannya masih sibuk merapikan sedikit riasan di depan cermin.
Nic mengernyit.
“Jove, kamu tidak ke kantor?”
Jove menatapnya melalui cermin.
“Hm. Aku tidak ke kantor hari ini. Aku cuti.”
Nic semakin heran.
“Kenapa? Kamu sedang lelah dan mau pulang ke apartemen? Aku bisa mengantarmu dulu.”
“Tidak usah, Nic. Supir di rumah Daddy akan menjemputku.”
“Kamu mau ke rumah Daddy?”
“Tidak.”
Jove kembali merapikan rambutnya.
“Aku mau jemput Jayden ke bandara.”
Nama itu membuat Nic seketika diam.
Jayden.
Rahangnya mengeras.
Ada sesuatu yang kembali terasa panas di dadanya.
Ia ingin bertanya siapa sebenarnya Jayden.
Mengapa Jove sampai mengambil cuti hanya untuk menjemputnya?
Namun sebelum pertanyaan itu keluar, Nic kembali mengingat kesepakatan mereka.
Mereka tidak boleh mencampuri kehidupan pribadi masing-masing.
Jove bebas melakukan apa pun yang ia inginkan.
Jadi, apa haknya untuk bertanya?
“Oh ya,” kata Jove sambil memasukkan beberapa barang ke dalam tas kecilnya.
“Nanti aku pulang sore langsung ke rumah Daddy, ya. Kamu pulang kerja ke rumah Daddy saja.”
Nic masih diam.
Sore?
Berarti Jove akan menghabiskan hampir sepanjang hari bersama pria bernama Jayden itu.
Pikiran itu membuat Nic kembali tidak nyaman.
“Nic.”
Tidak ada jawaban.
“Hai, Nic.”
Nic tersadar.
“Ya, kenapa?”
“Kamu melamun?”
“Tidak.”
“Aku tadi bilang kamu pulang ke rumah Daddy saja. Aku mau ke sana nanti sore.”
“Sore?”
Jove mengangguk.
“Iya.”
Nic terdiam lagi.
Selama itu Jove bersama Jayden?
“Kamu bisa, kan? Atau mau langsung ke apartemen saja?” tanya Jove.
“Bisa, aku akan kerumah Daddy nanti sore.”
Jawaban Nic keluar terlalu cepat.
Jove hanya mengangguk.
“Ya sudah, ayo kita turun.”
Mereka sarapan bersama keluarga Alvarendra sebelum berpisah.
Marry terlihat sedikit sedih mengetahui Jove dan Nic akan kembali ke apartemen.
“Padahal Mama senang kalian di sini.”
Jove tersenyum.
“Nanti aku akan sering menginap lagi, Ma.”
“Benar ya?”
“Iya, Ma.”
Wajah Marry sedikit lega.
Setelah sarapan, Jove dan Nic berpamitan kepada Arman dan Marry.
Supir Jove sudah menunggu di depan rumah.
Nic membiarkan Jove masuk lebih dahulu ke mobil.
“Hati-hati.” Ucap Nic sambil membukakan pintu mobil.
Jove tersenyum.
“Iya. Kamu juga.”
Karena Arman dan Marry masih berdiri di teras, keduanya berusaha tetap memainkan peran sebagai pasangan yang harmonis dan saling memberi perhatian.
Namun tiba-tiba Marry berseru,
“Loh, kok kamu tidak cium kening Jove, sih, Nic?”
Nic menoleh.
“Hah?”
Marry mendekat dan memukul pelan bahu putranya.
“Jadi selama ini kamu bersikap cuek, ya, sama menantu Mama? Tidak pernah cium kening saat berangkat kerja?”
“Ish, Mama. Sakit, Ma.”
“Ya sudah, cepat cium istri kamu sebelum tangan Mama yang memukul badan kamu.”
Nic sebenarnya justru merasa senang mendengar permintaan itu.
Namun Jove terlihat menegang.
Ia tidak menyangka Marry akan meminta sesuatu seperti itu.
Nic mendekat.
Perlahan ia menundukkan kepala dan mencium kening Jove.
Gerakannya sangat pelan.
Jarak mereka begitu dekat sampai hembusan napas Nic sempat beradu dengan napas Jove.
Dan sebelum Jove sempat benar-benar bereaksi, Nic mencium pipinya sekilas.
Wajah Jove langsung memerah.
“Nah, gitu dong!” seru Marry puas.
“Ma, aku pergi dulu, ya.” Kata Jove dengan cepat, Jove terlalu malu menatap Nic setelah wajahnya di cium oleh Nic.
“Iya, Sayang. Hati-hati di jalan.”
Jove segera masuk ke dalam mobil.
Begitu pintu tertutup, ia bersandar dan mengembuskan napas panjang.
Tangannya tanpa sadar menyentuh dada.
Jantungnya masih berdetak lebih cepat.
Kemudian tangannya naik menyentuh pipinya yang baru saja dicium Nic.
Ya Tuhan.
Jove menggeleng kecil.
Ia tidak mengerti mengapa reaksi tubuhnya seperti itu.
Mungkin karena terkejut.
Pasti hanya karena terkejut.
Sementara Nic akhirnya masuk ke mobilnya sendiri.
Untuk sesaat, muncul keinginan untuk mengikuti mobil Jove.
Namun ia segera mengurungkan niat.
Pagi ini ia memiliki rapat penting.
Terlebih Arman juga ikut pergi bersamanya.
Nic hanya bisa melihat mobil Jove semakin jauh.
Jove tiba di bandara sekitar pukul sembilan pagi.
Jayden ternyata sudah mendarat sepuluh menit sebelumnya.
Begitu melihat Jove, pria itu langsung tersenyum lebar.
“Kamu terlambat, Nona Nakal.”
Jove memutar mata.
“Lagi minta dijemput aku. Harusnya kamu suruh Jonathan dan Jordy yang menjemput.”
Jayden langsung merangkul Jove.
“Maunya sama kamu.” Ia mengacak rambut Jove sebentar. “Yang tau-tau udah jadi istri orang. Menikah tanpa menunggu aku pulang dulu. Saudari macam apa kamu ini?”
Jove tertawa.
Jayden adalah putra Jidan Davanka, saudara kembar Jihan, ibunya Jove.
Sejak kecil, hubungan mereka memang dekat.
Jayden bukan sekadar sepupu.
Bagi Jove, Jayden sudah seperti saudara sendiri.
“Kamu terus-terusan belajar di Jerman,” balas Jove.
“Tidak capek apa kuliah sampai S3? Kalau belajar terus, kapan punya pacarnya?”
Jayden tertawa.
“Ciyee… yang sudah menikah sekarang sudah bisa meledek orang jomblo.”
Jove ikut tertawa.
Mereka kemudian masuk ke mobil.
“Kamu mau langsung aku antar ke rumah Uncle Jidan?” tanya Jove.
“Bisa tidak kalau kita makan dulu?”
“Kamu lapar? Ini masih jam sembilan.”
“Aku belum makan.” Jayden kemudian tersenyum jahil. “Dan aku ingin bermain bowling. Aku masih ingin mengalahkan skormu.”
Jove tertawa. “Masih penasaran ternyata.”
“Ya jelas.”
Setelah satu jam mereka akhirnya tiba di salah satu mall terbesar di Jakarta.
Suasana masih cukup sepi karena mall itu baru saja buka.
“Sepertinya kita pengunjung pertama,” ujar Jove. “Belum ramai karena masih pagi.”
“Nanti juga ramai.” Jayden melihat jam tangannya. “Sebentar lagi makan siang.”
Mereka kemudian menghabiskan waktu di arena bowling.
Persaingan kecil yang sudah terjadi sejak dulu kembali berlangsung.
Tawa Jove beberapa kali terdengar ketika Jayden gagal menjatuhkan semua pin.
Hingga hampir dua jam berlalu, mereka akhirnya memutuskan berhenti.
Mereka kemudian menuju restoran untuk makan siang.
Saat sedang menunggu makanan, Jayden tiba-tiba menatap Jove serius.
“Kamu belum cerita.”
Jove mengangkat alis. “Cerita apa?”
“Kenapa tiba-tiba menikah?”
Jove terdiam.
Jayden kemudian melanjutkan,
“Kamu sudah bisa move on dari mantanmu itu?”
Pertanyaan itu membuat senyum Jove sedikit menghilang.
Sejak dulu, Jove memang tidak pernah bisa menyembunyikan apa pun dari Jayden.
Namun kali ini berbeda.
Ia tidak mungkin mengatakan kebenaran.
Rahasia pernikahannya dengan Nic harus tetap aman.
“Sudah jauh lebih dari move on.”
Jayden mengerutkan dahi. “Kok bisa?”
“Ya bisalah.” Jove berusaha terdengar santai. “Dia pria baik, tampan, kaya, dan menyayangi aku.”
Jayden menatapnya curiga. “Menyayangi?”
Jove terdiam.
Tanpa sadar ia kembali teringat ucapan Nic saat diluar kota kemarin.
Ya kan, Sayang?
Kemudian panggilan yang terlontar dari Nic ketika masih setengah sadar.
Honey.
Jove segera menggeleng kecil.
Ia tidak boleh berpikir terlalu jauh.
Jayden menghela napas.
“Aku tidak akan banyak menasihatimu karena kamu sudah menikah.” Ia kemudian tersenyum. “Kalau kamu belum menikah, mungkin aku akan melarangmu menikah karena takut kamu masih ragu. Tapi sekarang ya mau bagaimana lagi.”
Jayden mengangkat bahu. “Kamu sudah jadi istri orang.”
Jove tersenyum.
Tangannya kemudian meraih tangan Jayden yang berada di atas meja.
“Restui aku, ya, Jay.”
Jayden menatapnya.
“Doakan aku agar aku bahagia dengan pilihanku.”
Jayden membalas genggaman tangan itu.
“Iya. Aku restui kamu.” Senyumnya melebar. “Kamu harus bahagia, ya.”
Kemudian ia menambahkan dengan santai, “Kalau bisa cepat hamil dan berikan aku keponakan kembar seperti Ayahku dan Mommymu.”
Jove langsung tertawa.
Namun tawanya kali ini sedikit menyembunyikan kegugupan.
Ia sedang berbohong kepada orang yang sangat dekat dengannya.
Tanpa Jove sadari, beberapa meja dari tempat mereka duduk, seseorang memperhatikan nya sedari tadi.
Nic.
Hari itu ia sebenarnya berada di mall tersebut untuk melihat perkembangan proyek pelebaran area parkir.
Sebelum melakukan peninjauan, ia memutuskan makan siang terlebih dahulu.
Namun langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.
Jove.
Duduk bersama seorang pria.
Nic langsung menebak siapa pria itu dari cara Jove menyebut namanya kemarin.
Jayden.
Dadanya kembali terasa panas.
Ia tidak bisa mendengar percakapan mereka dari tempatnya berdiri.
Namun ia bisa melihat semuanya.
Jove tertawa.
Pria itu juga tertawa.
Kemudian tangan mereka saling menggenggam di atas meja.
Tatapan Nic berubah.
Ada rasa tidak nyaman yang semakin kuat.
Ia tahu dirinya tidak memiliki hak untuk merasa seperti itu.
Jove adalah istrinya, tetapi mereka sudah sepakat bahwa kehidupan pribadi mereka bukan urusan satu sama lain.
Jayden atau bisa saja siapa pun.
Jove berhak memiliki teman.
Bahkan jika pria itu Jayden sekalipun, Nic seharusnya tidak peduli.
Namun pikirannya tidak mau menerima semua itu.
Tangannya mengepal perlahan.
Kenapa aku terganggu melihat mereka seperti itu?
Nic menarik napas panjang.
Ia mencoba menenangkan dirinya.
Tetapi semakin lama ia melihat senyum Jove, semakin sulit baginya mengabaikan perasaan yang muncul.
Dan untuk pertama kalinya, Nic mulai menyadari satu hal yang membuatnya semakin tidak nyaman.
Ia tidak suka melihat Jove begitu dekat dengan pria lain.
Bahkan ketika ia belum tahu hubungan mereka sebenarnya.
Dan mungkin… inilah yang disebut cemburu.
Namun Nic masih terlalu keras kepala untuk mengakuinya.
💪up othor