Indonesia
NovelToon NovelToon
Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad girl
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Xyfvxnyy

Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.

Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.

Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.

Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman Pertama

Adrian meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mendorong kursinya ke belakang seraya meregangkan otot bahu.

"Gue ke toilet dulu bentar ya, mumpung makanan kita belum datang," pamit Adrian sembari menyugar rambutnya.

Clyrine tersenyum manis ke arah pemuda itu, sebuah senyum yang sengaja ia buat sehangat mungkin. "Iya, jangan lama-lama ya, Ian."

"Siap, paling dua menit," tawa Adrian renyah sebelum melangkah menjauh, membelah lorong restoran menuju bagian belakang ruko.

Sepeninggal langkah Adrian, keheningan yang menyesakkan seketika menyergap meja sudut tersebut. Aroma kayu manis dan ketegangan pekat langsung menguar dari sosok pria di samping Clyrine. Clyrine segera menarik kembali senyumnya, melipat kedua tangan di dada, dan kembali membuang pandangan ke luar jendela kaca besar.

"Dekat banget ya," celetuk Damien tiba-tiba. Suara baritonnya begitu rendah, berat, dan sarat akan desis amarah tertahan yang sejak tadi ia tekan di depan cangkir kopinya.

Clyrine bahkan tidak repot-repot menoleh. Dengan dagu terangkat pongah, ia membalas datar tanpa intonasi keramahan sedikit pun, "Bukan urusan lo."

Jawaban ketus itu menjadi percikan api yang menyulut habis seluruh benang kesabaran dan kendali diri Damien Vance.

Sebelum Clyrine sempat menyadari pergerakan di sampingnya, tangan kiri Damien yang kokoh bergerak secepat kilat mencengkeram tengkuk gadis itu, sementara tangan kanannya menarik pinggang Clyrine hingga tubuh mungilnya terseret mendekat ke balik partisi bilik kayu yang terlindung dari pandangan utama restoran.

"Kak Dam—"

Kalimat protes Clyrine terputus total.

Tanpa aba-aba, Damien mencondongkan tubuhnya ke depan dan menempelkan bibirnya langsung ke atas bibir Clyrine.

Deg.

Dunia Clyrine mendadak berhenti berputar. Matanya membelalak lebar dalam keterkejutan luar biasa. Ini adalah pertama kalinya seorang pria menciumnya. Di balik sentuhan yang tiba-tiba dan tegas itu, Clyrine dapat merasakan kelembutan tak terduga dari bibir Damien yang hangat—sebuah rasa manis bercampur pahitnya aroma kopi hitam yang baru saja disesap pria itu.

Namun keterkejutan bukan hanya milik Clyrine. Bagi Damien sendiri, ini adalah ciuman pertamanya. Damien yang selama ini selalu dingin, kaku, dan menjauhkan diri dari segala bentuk romansa remeh di lingkungan kampusnya itu seketika kehilangan arah kendali. Sentuhan bibir Clyrine terasa begitu lembut, polos, dan memabukkan, meruntuhkan seluruh batasan moral serta logika disiplin yang mati-matian ia bangun selama ini.

Napas Damien memburu berat. Cengkeramannya di tengkuk Clyrine melunak menjadi belaian posesif saat ia mulai melumat pelan bibir ranum gadis itu, menyalurkan rasa frustrasi, kecemburuan yang membakar, dan keputusasaannya yang tak terucap sejak pagi.

Selama beberapa detik yang memabukkan, Clyrine membeku. Sensasi menggelenyar merayapi seluruh pembuluh darahnya, membuat jemarinya sempat mencengkeram kemeja hitam Damien tanpa sadar.

Namun tepat saat derap langkah pelayan pembawa nampan terdengar di kejauhan lorong, kesadaran Clyrine tersentak keras.

Bruk!

Clyrine menggunakan kedua tangannya untuk mendorong dada bidang Damien sekuat tenaga, memutus tautan intim di antara mereka dengan napas yang terengah-engah.

Wajah Clyrine memerah padam hingga ke ujung telinga. Manik mata oranye-tembaganya bergetar hebat antara syok, malu, dan marah. Jemarinya gemetar menyentuh bibirnya sendiri yang masih terasa basah dan berdenyut hangat.

"L-lo... lo gila ya, Kak?!" bisik Clyrine histeris dengan suara tercekat, menatap Damien seolah baru saja melihat monster di siang bolong.

Damien terengah pelan, menatap Clyrine dengan manik mata gelap yang kini sayu bercampur intensitas liar yang belum sepenuhnya reda. Ibu jari kanannya terangkat perlahan, mengusap sudut bibirnya sendiri dengan rahang yang mengeras rapat.

Pria itu tahu batasannya telah runtuh, namun ia tidak menunjukkan sedikit pun penyesalan di wajahnya.

Sembari merapikan kerah jasnya dengan ketenangan dingin yang dipaksakan, Damien menatap lurus ke dalam manik mata Clyrine yang kalut.

"Nanti pulang bareng gue," titah Damien dengan nada suara rendah tak terbantahkan, memangkas jarak di antara wajah mereka sekali lagi. "Tanya apa pun yang mau lo tanya. Gue bakal jawab semuanya di mobil."

Sial, sial, sial!

Umpatan itu terus berputar kalap di kepala Damien seperti alarm bahaya yang meraung-raung.

Di luar, ia tampak menegakkan kembali duduknya dengan punggung tegak dan wajah sedingin es, namun di balik kemeja hitamnya, jantung Damien berdegup menggila hingga terasa menghantam tulang rusuknya. Ini bukan sekadar debaran canggung biasa; dadanya bergemuruh luar biasa cepat, memompa darah panas ke sekujur tubuhnya.

Jemarinya yang mencengkeram tepi meja sedikit bergetar halus. Rasa sentuhan bibir Clyrine yang begitu lembut, manis, dan hangat masih menempel lekat di indra perasanya—sebuah sensasi memabukkan yang mengoyak habis seluruh prinsip kedewasaan dan benteng kendali diri yang mati-matian ia bangun selama ini.

Lembut banget... desis batin Damien dengan rahang yang mengeras rapat, berusaha mati-matian menenangkan napasnya yang sempat memburu liar. Gue benar-benar sudah gila.

Di sampingnya, Clyrine duduk membeku dengan wajah merah padam bak kepiting rebus. Gadis itu menundukkan kepala sedalam-dalamnya, menatap nanar jemarinya yang masih gemetar di atas paha. Napasnya pendek-pendek, otaknya korsleting total memproses ciuman pertama yang baru saja direnggut paksa oleh sang mentor.

Tepat pada detik-detik penuh kegentingan dan udara yang terasa kian menipis itu, derap langkah dari dua arah berbeda mendekati meja mereka.

"Permisi, pesanannya sudah siap. Satu porsi iga bakar madu ukuran besar, satu iga bakar pedas manis, kentang goreng, dan es teh manisnya," suara ramah seorang pelayan memecah kesunyian seraya meletakkan piring-piring tembikar panas yang mengepulkan aroma gurih memikat.

Bersamaan dengan mundurnya sang pelayan, sosok Adrian muncul dari balik partisi bilik seraya mengeringkan tangannya yang basah dengan selembar tisu.

"Wah, pas banget! Baru aja gue balik, makanannya langsung mendarat!" seru Adrian ceria tanpa menaruh curiga sedikit pun.

Pemuda itu menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi di seberang mereka, menarik piring iga bakar madu mendekat. Namun saat pandangannya terangkat menatap dua orang di hadapannya, kening Adrian bertaut heran.

"Eh, Cly?" Adrian memicingkan mata, menatap wajah Clyrine yang merah padam sampai ke daun telinga dan bibir bawah gadis itu yang tampak sedikit bengkak basah. "Muka lo merah banget, kenapa? Kepedasan padahal belum makan, atau AC di sudut sini kurang dingin?"

Clyrine tersentak kaget seperti baru saja disengat listrik. Dengan gerakan panik, ia langsung menyambar gelas es teh manisnya dan meneguknya terburu-buru hingga es batunya berdenting keras.

"G-gue... gue gerah aja! Iya, AC-nya agak mati tadi!" sahut Clyrine terbata-bata dengan suara yang terdengar serak dan canggung, sama sekali tidak berani melirik ke arah pria jangkung di sebelah kanannya.

Adrian terkekeh pelan, lalu pandangannya beralih menatap Damien yang sejak tadi hanya memandangi cangkir kopi hitamnya dengan tatapan lurus dan misterius.

"Kak Damien nggak makan sekalian? Porsi di sini lumayan banyak lho kalau mau coba," tawar Adrian ramah.

Damien mengangkat wajahnya perlahan. Topeng dingin dan angkuh khas pewaris keluarga Vance telah terpasang kembali dengan sempurna, menutupi badai yang baru saja memporak-porandakan hatinya beberapa detik lalu.

"Nggak usah, gue sudah makan tadi," jawab Damien datar dengan suara baritonnya yang berat dan tenang. Manik matanya melirik sekilas ke arah Clyrine yang kini memotong iganya dengan gerakan kaku dan berantakan. Sudut bibir Damien terangkat sangat tipis—sebuah seringai samar yang menyiratkan kepuasan sekaligus janji atas obrolan empat mata yang tak akan bisa gadis itu hindari nanti.

"Makan yang kenyang, Cly," ujar Damien pelan, nada bicaranya terdengar seperti bisikan peringatan halus. "Biar lo punya tenaga buat ngobrol di mobil nanti."

Clyrine nyaris menjatuhkan garpunya ke atas piring porselen mendengar suara berat itu. Di seberang meja, Adrian hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, bingung dengan atmosfer mencekam bercampur sengatan aneh yang mendadak melingkupi meja makan mereka.

1
falea sezi
keliatan kuat ehh sama aja menye sama bokap aja g berani cupu🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!