Di balik kemegahan dan keagungan Kerajaan Veldora, tersimpan rahasia busuk yang menjijikkan. Kalyca, sang putri kandung yang sah, dibuang sejak bayi ke sebuah gubuk reot di pinggiran kota dan hidup dalam penderitaan. Sementara itu, gadis licik, Edelyn putri palsu yang merampas takhtanya, menikmati kemewahan istana.
Rasa sakit dan ketidakadilan, membuat jiwa lemah itu membangkitkan jiwa gelap dari seorang alkemis genius, berdarah dingin, yang sudah mati ribuan tahun yang lalu.
Di tengah misi balas dendam dan intrik berdarah di istana, takdir mempertemukannya dengan Grand Duke Erik Klaus, pria bermata tajam yang dijuluki sebagai dewa perang yang terkenal kejam pada musuh, namun menyimpan rahasia kelam.
“Ribuan tahun lalu, aku gagal melindungi mu. Kali ini, biarkan aku merobek dunia ini untuk membawamu pulang...”
~Grand Duke Erik Klaus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PUTRI KANDUNG
Semua anggota Dewan, Mentri dan petinggi istana langsung bangkit dan menunduk hormat.
"Salam Yang Mulia, kami permisi dulu," ucap mereka serentak, membungkukkan badannya hormat.
"Hem, pergilah," ucap Raja Veldora, mengibaskan tangannya.
Setelah mereka semua keluar dari ruang sidang, kini hanya tinggal Erik, Gale, Raja, Ratu, Joel dan juga Kalyca yang sedari tadi masih berdiri di sana.
"Lyca kamu..." ucap Raja Veldora, lidah nya terasa kelu.
Ratu Alice sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, wanita paruh baya itu langsung berlari dan membawa Kalyca ke dalam pelukannya.
"Benarkah kamu putri ku Lyca?" tanya Ratu Alice, menangis tersedu-sedu.
"A-aku..."
Kalyca tidak tahu harus mengatakan apa, jujur dirinya juga tidak menyangka, rahasia ini akan terbongkar secepat ini.
"Maafkan Ibu Nak hiks...hiks... maafkan ibu," ucap Ratu Alice, hati nya terasa perih.
Walaupun belum ada sesuatu yang keluar dari mulut Kalyca, tapi dia mulai membalas pelukan Ratu Alice.
Pelukan hangat itu membuat suasana di aula utama mendadak terasa jauh lebih hening dan haru, Ratu Alice masih membenamkan wajahnya di pundak Kalyca, air matanya tumpah semakin deras seiring kesadaran bahwa gadis yang ada di pelukannya ini adalah darah dagingnya yang selama bertahun-tahun terpisah dan hidup menderita di luar sana.
Sementara Kalyca, dia terdiam kaku, di dalam hatinya, jiwa Cassandra yang keras bercampur dengan emosi Kalyca yang asli saling bergolak. Namun, melihat betapa tulusnya air mata Ratu Alice, pertahanan dingin yang selama ini dia bangun perlahan-lahan runtuh.
Perlahan, tangan Kalyca terangkat dan balas memeluk tubuh wanita paruh baya itu dengan lembut.
"Sudahlah, Ratu, maksud saya, Ibu," ucap Kalyc, pelan.
"Semua sudah berlalu, dan yang penting sekarang para pengkhianat itu sudah mendapatkan balasannya," lanjut Kalyca, ada rasa lega di hati nya, mungkin ini adalah perasaan Kalyca asli.
Raja Veldora melangkah mendekat dengan langkah pelan, wajahnya yang biasanya tegas kini terlihat sendu, dia merengkuh istri dan anak kandungnya dalam satu pelukan hangat.
"Maafkan ayah, Nak..." suara Raja Veldora tercekat di tenggorokan.
Erik Klaus, yang sejak tadi berdiri mengamati dengan tangan bersidekap, pia berdarah dingin itu menghela napas panjang, menepis rasa penasarannya terhadap sang tabib misterius.
Ternyata, gadis bermata safir yang sering mendebatnya dan berani menampar putri mahkota itu adalah seorang putri kerajaan yang selama ini hidup terbuang.
"Jadi tabib galak ini ternyata adalah seorang putri kerajaan," celetuk Erik dengan nada datar, berusaha mencairkan suasana tegang di antara keluarga kerajaan itu.
Kalyca langsung melepaskan pelukannya, menoleh ke arah Erik dengan melorotkan mata nya tajam
"Siapa yang Anda sebut tabib galak, Grand Duke? Jaga mulutmu ya!" ucap Kalyca, kesal.
Melihat reaksi kesal Kalyca, sudut bibir Erik terangkat membentuk senyuman tipis, entah kenapa dia sangat senang membuat gadis itu senang, menurut nya wajah marah Kalyca terlihat sangat menggemaskan.
"Lihatlah, mana ada seorang putri yang menatap tamunya seperti mau menerkam? Tapi, kurasa julukan itu sangat pas untukmu," ucap Erik, tersenyum miring.
"Kau!"
Geram Kalyca.
"Sudahlah, Erik, jangan menggoda anakku lagi," interupsi Ratu Alice sambil menghapus sisa air matanya, meski kini senyuman tulus menghiasi wajahnya.
"Mulai sekarang, tidak ada lagi yang boleh menyakitimu, Lyca, kamu sudah pulang ke rumahmu," ucap Ratu Alice, sembali menatap Kalyca dengan penuh kasih sayang.
Kalyca mengangguk pelan, meski di balik ketenangannya, pikirannya masih melayang pada satu nama yang belum terselesaikan.
"Terima kasih, Ibu, tapi urusan kita belum sepenuhnya selesai. Masih ada satu orang lagi yang memegang sihir hitam dan bertanggung jawab atas kekacauan ini, Charlotte," ucap Kalyca, wajah nya kembali serius dan dingin.
Mendengar nama itu, ekspresi Raja Veldora langsung mengeras kembali.
"Kau benar, prajurit dan pasukan khusus akan segera dikerahkan untuk memburu penyihir hitam itu sampai dapat. Tidak boleh ada lagi ancaman yang tersisa di kerajaan ini!" ucap Raja Veldora, penuh ketegasan.
Erik mengangguk setuju, matanya menyipit tajam.
"Saya akan memimpin sendiri pencarian penyihir itu, Charlotte tidak akan bisa bersembunyi lebih lama lagi," ucap Erik tegas.
"Pastikan semua nya aman, aku tidak ingin Kalyca menjadi alat balas dendam mereka," ucap Ratu Alice, tegas.
"Semuanya sudah berakhir, Alice," bisik Raja Veldora lembut, mengelus punggung istrinya dengan penuh kasih sayang meski wajahnya sendiri masih menyisakan sisa-sisa amarah.
"Yang Mulia, eksekusi di alun-alun utama akan segera dilangsungkan oleh Panglima Joel, sebaiknya kalian beristirahat, biar urusan luar diselesaikan oleh para kesatria," ucap Erik, datar.
Ratu Alice mendongak, menyeka sisa air mata di pipinya, lalu mengangguk pelan.
"Terima kasih, Erik, terima kasih karena sudah melindungi kerajaan ini dari kehancuran," ucap Ratu Alice, tersenyum tulus.
"Sudah tugas saya, Yang Mulia," jawab Erik singkat.
"Sayang ayo kamu juga harus istirahat," ucap Ratu Alice, mengandeng tangan Kalyca.
Kalyca tampak tidak bergeming, gadis itu terlihat gelisah.
"Em Ratu, maksud ku ibu, kenapa kalian semua langsung percaya kalau aku ini Putri kalian, bisa saja semua ini salah," ucap Kalyca, melihat Raja dan Ratu.
"Kamu ini berbicara apa, tentu saja ibu yakin kamu itu Putri ibu, kamu tidak sadar warna mata mu itu sama seperti ayah mu, di kerjaan ini hanya kelurga istana yang memiliki mata safir," ucap Ratu Alice, tegas.
"Selama ini kami terlalu bodoh untuk mengenali darah daging kami sendiri, padahal seharusnya sedari dulu kami sadar, bahwa ada yang aneh dengan Edelyn, gadis itu sangat bertolak belakang dengan kita berdua, baik dari rupanya ataupun wajah nya," lanjut Ratu Alice, terlihat sendu.
"Benar! Kalyca kamu tidak perlu memikirkan itu, karena kami percaya bahwa kamu adalah putri mahkota kerjaan Veldora yang asli!" ucap Raja Veldora, angkat bicara.
"Nanti ayah akan mengadakan pesta untuk perkenalkan mu sebagai pewaris kerajaan Veldora! Agar semua orang tahu bahwa putri ku sudah kembali!" lanjut Raja Veldora, bangga.
Mata Kalyca terasa panas, lagi-lagi perasaan jiwa Kalyca yang asli merasakan emosinal, ini yang selama ini di impikan oleh Kalyca, kembali pada kedua orang tua nya.
"Kalyca terimakasih telah bertahan selama ini, sekarang Ayah dan Ibu mu sudah mengetahui semua nya, mereka sangat menyayangi mu Kalyca, beristirahat lah dengan tenang, jiwa suci," batin Kalyca, lebih tepatnya jiwa Cassandra.
Erik yang melihat pemandangan itu, tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis nya, entah kenapa hati nya ikut merasa senang melihat senyum tulus dari gadis yang baru beberapa Minggu ini dia temui, sang tabib misterius yang ternyata adalah putri kandung Raja Veldora.
"Cantik," batin Erik tanpa sadar.