Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran
Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.
Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 — Kuil Awan Sunyi
Perjalanan menuju Gunung Lima Jari memakan waktu tiga hari. Selama itu, rombongan Zhou Chen menghindari jalan utama dan bermalam tanpa api unggun agar asap tidak menarik perhatian. Pasukan pengawal kerajaan diperintahkan menunggu di kaki gunung, sebab Zhou Chen tidak lagi ingin membawa terlalu banyak orang setelah pengkhianatan Kapten Wei.
Hanya lima orang yang naik: Zhou Chen, Zhao Kai, Xiao Hei, Yue Er, dan Zhou Ming, yang bersikeras ikut setelah menerima kabar dari mata-matanya bahwa jalur belakang gunung itu memang pernah dipakai penyelundup puluhan tahun lalu.
"Kalau ini jebakan," kata Zhou Ming sambil memeriksa tali pendakian, "aku ingin melihatnya dengan mataku sendiri sudah terlalu lama aku hanya membaca laporan orang lain."
Jalur belakang itu ternyata nyaris tegak lurus. Tebing basah, berlumut, dan diselimuti kabut tebal yang membuat jarak pandang tidak lebih dari lima langkah. Paman Guo sempat membekali mereka dengan kait baja bergerigi hasil tempaannya sendiri. Kait itu menancap kuat pada celah batu, dan dalam hati Zhou Chen berterima kasih kepada pandai besi tua itu untuk kesekian kalinya.
Di tengah pendakian, Xiao Hei tiba-tiba berhenti. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"Ada apa?" tanya Zhou Chen dari bawah.
"Meridian hamba... terasa berdenyut lagi, Yang Mulia. Bukan seperti waktu itu. Lebih pelan, tetapi terasa."
Zhou Chen segera naik mendekat dan mengarahkan Mata Dewa kepadanya.
Xiao Hei. Titik lemah pada meridian dada kanan bereaksi terhadap tekanan udara tipis dan dingin ekstrem. Belum berbahaya, tetapi jangan mengerahkan tenaga dalam di ketinggian ini. Catatan: titik ini baru benar-benar menutup setelah naik ke Pembukaan Meridian Tingkat 2.
"Jangan pakai tenaga dalam sama sekali," perintah Zhou Chen. "Panjat dengan otot dan tali saja, kalau sampai di atas ada pertarungan, kau bertahan di belakang."
Xiao Hei mengangguk berat, ia tahu batas dirinya dan kali ini ia tidak membantah.
Mereka tiba di puncak menjelang tengah malam. Kuil Awan Sunyi berdiri di atas dataran sempit yang dikelilingi kabut. Atapnya sebagian runtuh, tiang-tiang kayunya menghitam dimakan usia, dan patung dewa di halamannya telah kehilangan kepala. Namun dari celah pintu utama, cahaya lilin berkedip lemah.
Terlalu sunyi, pikir Zhou Chen tidak ada penjaga, tidak ada jebakan yang terlihat.
Zhao Kai mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti "Yang Mulia, hamba mencium hawa dingin yang tidak wajar dari dalam, bukan angin gunung."
Zhou Chen mengarahkan Mata Dewa ke pintu kuil, tetapi seperti di rumah distrik lama, kemampuannya tertahan.
Area kuil Analisis terhalang. Terdeteksi satu sumber qi bersifat dingin dan sangat terkendali. Pemilik berusaha menyembunyikan tingkatnya. Peringatan: pola ini sama dengan objek bernama Zhou Han.
"Dia ada di dalam," kata Zhou Chen pelan. "Sendirian."
Mereka masuk berlima. Di tengah ruang utama, Zhou Han duduk bersila di atas lantai batu, jubahnya kusut dan wajahnya lebih pucat dari biasanya, namun senyumnya masih sama dan matanya menatap Zhou Chen seolah sudah lama menunggunya.
"Kakak Keempat," katanya lembut. "Kau datang lebih cepat dari perkiraanku, Kapten Wei benar-benar tidak berguna."
"Menyerahlah, Han," kata Zhou Chen "Ayahanda menunggumu di istana, ceritakan semuanya dan mungkin hukumanmu bisa lebih ringan."
Zhou Han tertawa kecil. "Ringan? Kau belum mengerti, Kakak. Aku tidak melarikan diri aku menunggu di sini."
Ia bangkit perlahan. Udara di ruangan itu mendadak turun beberapa derajat dan embun beku mulai merambat di lantai batu dari arah kakinya.
Telapak Embun Beku.
Zhou Han menepukkan kedua telapaknya ke lantai, hawa dingin meluncur ke segala arah seperti ombak yang membeku. Zhao Kai melompat mundur dan menebas udara dengan Teknik Pedang Delapan Arah, tetapi bilah pedangnya berselimut kristal es tipis dalam sekejap, gerakannya melambat.
"Efeknya membekukan aliran qi di lengan!" seru Zhao Kai, menggertakkan gigi "Jangan sampai terkena langsung!"
Yue Er melepaskan Panah Menembus Kabut, tetapi Zhou Han hanya mengangkat satu tangan. Anak panah itu berhenti di udara “membeku”, lalu jatuh berkeping-keping. Zhou Ming yang bukan petarung, menarik Zhou Chen mundur ke balik pilar.
"Dia tidak lagi menyembunyikan tingkatnya," bisik Zhou Ming. "Ini setidaknya Pemadatan Qi, mungkin lebih tinggi."
Zhou Chen mencoba lagi dengan Mata Dewa, memaksa kemampuannya menembus tirai yang menutupi lawannya. Kepalanya berdenyut nyeri, dan sesaat penglihatannya berkunang-kunang namun sebagian informasi berhasil masuk.
Zhou Han. Tingkat kultivasi: Pemadatan Qi Tingkat 4. Teknik: Telapak Embun Beku (membekukan aliran qi lawan pada sentuhan atau jarak dekat). Kelemahan: teknik ini menguras panas tubuh penggunanya sendiri. Pengguna tidak bisa bertahan lebih dari dua puluh tarikan napas tanpa kehilangan gerak. Catatan: pengguna sedang dalam kondisi terluka dalam. Sumber luka: penekanan paksa terhadap terobosan yang gagal.
Terobosan yang gagal. Zhou Chen menegakkan tubuh. Jadi itu sebabnya Zhou Han pucat dan terlihat letih. Ia pernah mencoba naik tingkat dalam pelarian tetapi gagal, dan kini memaksakan diri bertarung dengan tubuh yang rusak.
"Bertahanlah dua puluh tarikan napas!" seru Zhou Chen. "Jangan menyerang! Cukup menghindar!"
Zhao Kai mengerti seketika, mereka bertiga dengan Xiao Hei bertahan di belakang tanpa tenaga dalam, berputar menghindari gelombang es itu, memancing Zhou Han untuk terus menggunakan tekniknya. Satu tarikan napas Lima, Sepuluh.
Pada tarikan napas keenam belas, Zhou Han mulai terbatuk. Setetes darah menetes dari sudut bibirnya, embun beku di lantai berhenti merambat.
"Cukup," katanya terengah-engah, masih tersenyum. "Kau memang menarik, Kakak. Tetapi tenang saja, kau tidak perlu menangkapku."
Zhao Kai sudah bersiap menyerang, tetapi Zhou Han lebih dulu mengangkat tangan. Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan sebuah lempeng giok putih dan menghancurkannya di lantai.
Cahaya keperakan menyembur dari retakan lantai batu. Garis-garis rumit merambat dari titik tengah dan membentuk lingkaran besar yang mengurung seluruh ruang kuil. Udara bergetar, dan suara berat terdengar dari segala arah:
Formasi Penjara Awan telah aktif.
"Ini bukan jebakan untukmu, Kakak," kata Zhou Han sambil bersandar lemah pada pilar. Napasnya terputus-putus, tetapi matanya menatap Zhou Chen dengan sesuatu yang aneh, bukan lagi kebencian, melainkan rasa ingin tahu yang dingin. "Ini untuk kami semua. Nyonya tidak suka orang yang gagal. Ia sudah memutuskan aku tidak berguna lagi, dan kau tidak akan keluar hidup-hidup untuk menceritakan apa pun."
Ia tersenyum, kali ini lebih lelah dan lebih jujur daripada senyum mana pun yang pernah Zhou Chen lihat.
"Aku hanya ingin tahu satu hal sebelum semuanya berakhir," lanjutnya pelan. "Kau bukan Zhou Li yang kukenal. Zhou Li tidak pernah menatap orang sedalam itu. Zhou Li tidak akan pernah membaca kelemahanku dalam sekali pandang. Jadi katakan padaku, Kakak Keempat, kau ini siapa sebenarnya?"
Keheningan menyelimuti kuil. Zhou Chen merasakan darahnya membeku, bukan karena Telapak Embun Beku, melainkan karena pertanyaan itu menusuk tepat ke rahasia terbesarnya.
Di atas mereka, langit-langit kuil mulai bergemuruh. Cahaya formasi semakin terang, dan retakan mulai menjalar di dinding batu.