Indonesia
NovelToon NovelToon
PANGERAN KETUJUH DAN PECAHAN DEWA

PANGERAN KETUJUH DAN PECAHAN DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Bisikan di Tingkat Keempat

Tekad itu masih membara di dada Chu Feng ketika ia kembali melangkah menuju area medan berat keesokan paginya—atau setidaknya, yang terasa seperti pagi dalam ritme waktu aneh di dalam ruangan tersembunyi itu. Tombak Awan Kelabu tersampir di punggungnya, tubuhnya masih menyimpan sedikit pegal dari sesi latihan tingkat keempat kemarin, namun semangatnya tidak berkurang sedikit pun.

"Kau yakin ingin langsung mencoba tingkat keempat lagi hari ini?" tanya Jiang Rou, mengamatinya dengan sedikit khawatir. "Tubuhmu baru saja beradaptasi kemarin. Mungkin lebih aman untuk memantapkan diri dulu di tingkat itu sebelum mendorong lebih jauh."

"Aku akan berhati-hati," Chu Feng meyakinkannya, meski di dalam hatinya, dorongan untuk terus maju terasa sulit ditahan. Tanpa suara di dalam dirinya yang biasa memberi peringatan, ia harus mengandalkan penilaiannya sendiri sepenuhnya—sesuatu yang masih terasa asing meski sudah beberapa hari berlalu sejak kepergian sementara itu.

Ia melangkah masuk ke area medan berat, mengaktifkan lempengan pengatur ke tingkat keempat seperti kemarin. Tekanan yang familiar segera menghantam tubuhnya, namun kali ini, alih-alih hanya merasakan beban fisik seperti biasa, sesuatu yang lain mulai menyusup ke dalam kesadarannya.

Sebuah bisikan halus, nyaris tak terdengar, mulai bergema di pinggiran pikirannya.

Kenapa harus bersusah payah untuk orang lain?

Chu Feng terkejut, menghentikan gerakannya sejenak. Suara itu berbeda dari suara yang biasa ia dengar dari pecahan Dewa—lebih dingin, lebih menggoda, dan yang paling mengganggu, terdengar seperti berasal dari dalam pikirannya sendiri, bukan dari sumber eksternal mana pun.

Kau bisa jauh lebih kuat kalau tidak perlu menahan diri demi formasi tim yang lemah itu.

"Siapa itu?" gumamnya pelan, mencoba tetap fokus meski bisikan itu terasa semakin jelas seiring ia bertahan lebih lama di dalam medan tingkat keempat.

Di luar area medan berat, Zhao Lin yang sedang berlatih meditasi di dekat sana memperhatikan sesuatu yang aneh pada ekspresi Chu Feng—wajahnya yang biasanya tenang kini menunjukkan ketegangan yang tidak biasa, matanya menyipit seolah bergulat dengan sesuatu yang tidak terlihat.

"Chu Feng?" panggilnya, mulai khawatir.

Namun Chu Feng tidak sepenuhnya mendengar panggilan itu, terlalu tenggelam dalam pergolakan yang kini terjadi di dalam benaknya. Bisikan itu semakin kuat, membentuk bayangan-bayangan samar di pikirannya—citra tentang kekuatan tanpa batas, tentang dirinya berdiri sendirian di puncak yang tidak memerlukan siapa pun, tentang betapa mudahnya semua masalah akan terselesaikan kalau ia berhenti menahan diri, berhenti peduli pada keselamatan orang lain, dan hanya fokus pada kekuatannya sendiri.

Su Yue akan tetap terjebak dalam perjodohan itu tidak peduli seberapa keras kau berusaha, bisikan itu melanjutkan, nadanya semakin menusuk. Sekte ini akan tetap hancur cepat atau lambat kalau Aula Kegelapan Malam benar-benar menginginkannya. Kenapa tidak menerima saja bahwa satu-satunya cara untuk benar-benar aman adalah menjadi begitu kuat hingga tidak seorang pun bisa menyentuhmu—bahkan kalau itu berarti meninggalkan mereka semua di belakang?

Chu Feng merasakan sesuatu yang gelap mulai merayap di sudut hatinya, godaan yang terasa mengerikan justru karena sebagian dari dirinya—bagian yang lelah, bagian yang takut kehilangan, bagian yang masih menyimpan luka dari tujuh belas tahun merasa sendirian di istana—ingin mendengarkan bisikan itu.

Tangannya mengepal erat, kukunya nyaris menembus kulit telapak tangannya sendiri.

Tidak, pikirnya, berjuang melawan gelombang bisikan yang semakin deras. Ini bukan diriku. Ini bukan yang kuinginkan.

Namun bisikan itu tidak semudah itu menyerah. Bayangan-bayangan di pikirannya mulai berubah lebih tajam—ia melihat dirinya sendiri, dalam sebuah visi yang terasa nyata meski ia tahu itu hanya ilusi, berdiri di atas reruntuhan Sekte Awan Langit yang hancur, mayat-mayat rekan timnya tergeletak di sekitarnya, sementara ia sendiri berdiri tegak, tidak tersentuh, kekuatannya begitu besar hingga tidak ada yang bisa menyakitinya lagi—namun juga tidak ada seorang pun yang tersisa untuk ia lindungi.

Inikah yang sebenarnya kau inginkan? bisikan itu bertanya, nadanya kini menyerupai ejekan. Kesendirian abadi, dibungkus dalam kekuatan yang tidak berguna karena tidak ada lagi yang perlu dilindungi?

Chu Feng terjatuh berlutut, keringat dingin membasahi keningnya, tubuhnya bergetar hebat—bukan lagi karena tekanan medan berat, melainkan karena pertarungan yang jauh lebih berat sedang berkecamuk di dalam benaknya sendiri.

Ia memejamkan mata, mencoba mengingat kembali setiap momen yang telah membentuknya sejauh ini—tatapan bangga Tetua Wang saat memberikan Tombak Awan Kelabu, tawa lepas Liu Bo setelah pertandingan latihan mereka, kepercayaan tulus Jiang Rou saat formasi daruratnya berhasil menyelamatkan Chu Feng dari serangan Tetua Feng, surat penuh kekhawatiran namun juga harapan dari Su Yue, pelukan canggung namun tulus dari ayahnya sebelum keberangkatannya.

Bukan kekuatan tanpa siapa pun yang kuinginkan, pikirnya, suaranya sendiri kini melawan bisikan gelap itu dengan tekad yang perlahan menguat. Aku ingin cukup kuat untuk melindungi mereka. Bukan menggantikan mereka dengan kekuatan itu sendiri.

Visi tentang reruntuhan dan kesendirian abadi itu mulai goyah, retak seperti kaca yang dipukul, hingga akhirnya pecah berkeping-keping, digantikan oleh kesadaran penuh akan dirinya sendiri—Chu Feng, bukan sekadar pembawa pecahan Dewa, bukan sekadar Pangeran Ketujuh yang dulu menyembunyikan diri, melainkan seseorang yang telah memilih, dengan sadar dan tulus, untuk peduli pada orang lain meski itu berarti membawa risiko dan kerentanan yang menyertainya.

Ketika kesadarannya kembali sepenuhnya, Chu Feng mendapati dirinya masih berlutut di dalam medan berat tingkat keempat, napasnya memburu, namun sesuatu yang berbeda kini mengalir di dalam tubuhnya—sensasi hangat yang jauh lebih kuat dari sebelumnya, seolah pertarungan batin yang baru saja ia menangkan telah membuka sesuatu yang tersembunyi jauh di dalam dirinya.

Qi-nya, yang biasanya mengalir dengan ritme tertentu, kini terasa lebih dalam, lebih stabil, seperti sungai yang telah menemukan jalurnya yang sesungguhnya setelah sekian lama mengalir dengan arah yang belum sepenuhnya jelas.

"Chu Feng!" Jiang Rou dan Zhao Lin, yang sejak tadi mengamati dengan cemas namun tidak berani mengganggu apa pun yang sedang terjadi, segera berlari mendekat begitu melihatnya ambruk.

"Aku baik-baik saja," Chu Feng menjawab, suaranya lemah namun matanya menunjukkan ketenangan baru yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. "Lebih dari baik-baik saja, sebenarnya."

Ia bangkit perlahan, merasakan kekuatan baru yang mengalir di setiap sudut tubuhnya. Ketika ia mengaktifkan Mata Dewa untuk memeriksa dirinya sendiri, ia terkejut mendapati bahwa kapasitas qi-nya telah berkembang secara signifikan—bukan hanya karena latihan fisik di medan berat, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih mendalam telah berubah dalam dirinya.

"Apa yang terjadi?" tanya Liu Bo, yang baru saja tiba setelah mendengar keributan.

Chu Feng menjelaskan pengalamannya dengan hati-hati—bisikan gelap yang muncul di tingkat keempat, godaan untuk mengejar kekuatan tanpa peduli pada siapa pun, dan pertarungan batin yang akhirnya ia menangkan dengan mengingat kembali semua yang telah ia pelajari tentang arti sesungguhnya dari kekuatan.

"Mungkin ini semacam ujian tersembunyi dari ruang latihan ini," gumam Zhao Lin, mempertimbangkan penjelasan itu dengan saksama. "Energi negatif yang menguji niat sesungguhnya dari siapa pun yang mencoba mencapai tingkat lebih tinggi. Kalau kau menyerah pada godaan itu, mungkin kau akan terjebak dalam jalur kegelapan. Tapi kalau kau berhasil mengatasinya..."

"...kekuatan yang didapat jauh lebih murni, dan jauh lebih besar," Chu Feng menyelesaikan kalimat itu, mengangguk, mulai memahami sepenuhnya apa yang baru saja terjadi.

Kabar tentang pengalaman Chu Feng menyebar cepat di antara kelima anggota tim, membawa kewaspadaan baru namun juga harapan bagi mereka yang masih berjuang untuk mencapai tingkat medan berat yang lebih tinggi. Liu Bo, yang beberapa hari kemudian juga berhasil mencapai tingkat keempat, mengalami godaan serupa—meski dalam bentuk yang berbeda, bisikan yang menggoda kesombongan dan keinginannya untuk selalu menjadi yang terbaik, membisikkan bahwa ia akan selalu berada di bawah bayang-bayang Chu Feng kalau terus bekerja sama alih-alih bersaing sepenuhnya untuk dirinya sendiri.

Ia pun berhasil mengatasinya, meski dengan perjuangan yang tidak kalah beratnya, muncul dari pengalaman itu dengan kekuatan yang meningkat pesat dan pemahaman baru tentang persahabatan sejati yang tidak memerlukan persaingan tanpa henti untuk membuktikan nilai dirinya.

Malam itu—atau yang terasa seperti malam dalam ritme waktu ruangan tersembunyi itu—Chu Feng duduk sendirian sejenak, merenungkan perjalanan yang telah mereka tempuh sejauh ini. Tanpa bimbingan suara di dalam dirinya, ia dan timnya telah menemukan kekuatan baru bukan hanya dari latihan fisik semata, melainkan dari pertarungan melawan bagian tergelap dari diri mereka sendiri—dan kemenangan atas pertarungan itu, ia sadari, mungkin jauh lebih berharga dibandingkan kekuatan mentah yang bisa didapat dari cara lain mana pun.

Terima kasih, pikirnya, entah ditujukan pada siapa—pada ruang latihan misterius ini, pada dirinya sendiri yang telah bertahan, atau pada suara yang kini tertidur namun telah membawanya sejauh ini. Aku akan terus maju, membawa semua yang telah kupelajari ini bersamaku.

1
Sahrul Akbar
keren thor
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
semoga menarik
Nanik S
Chu Feng ..harusnya cepat tinggalkan sekte dan mulai mengembara👌
Irhab Hauzan: terimakasih 👍🙏
total 1 replies
Nanik S
Hei...jadilah kuat agar bisa melindungi Tuanmu
Irhab Hauzan: siap laksanakan 👍
total 1 replies
Nanik S
Lanjut terus💪💪💪
Irhab Hauzan: gas👍👍
total 1 replies
Nanik S
Menjadi Murid sekte
Nanik S
Chu Feng ada teman dalam perjalanan
Nanik S
Akhirnya Chu Feng pergi menuju Sekte Langit
Irhab Hauzan: lanjut kak🙏
total 1 replies
Nanik S
Siapa nanti yang akan berkhianat pada Chu Feng apakah itu Su Yue
Irhab Hauzan: ditunggu kelanjutannya 🙏👍
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng harus berlindung disekte dan terus berlatih agar menjadi Kuat
Irhab Hauzan: terimakasi🙏😄
total 1 replies
Nanik S
Keturunan siapakah sebenarnya Ibu Chu Feng
Nanik S
Lanjutkan💪💪💪
Irhab Hauzan: terimakasih 🙏
total 1 replies
Nanik S
Chu Yan... kenapa tidak malu melawan adiknya yang paling Lemah
Irhab Hauzan: suka mbuly soalnya😄👍
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng.... mulai menunjukan kemampuannya dan pasti akan berbahaya bagi Kakak²nya😇😇😇
Irhab Hauzan: ditunggu kelanjutannya kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng memang harus berhati hati karena kelicikan wanita
Irhab Hauzan: 😄😄😄 wanita memang tipudaya
total 1 replies
Nanik S
Semoga pangeran Ketuju tidak terlalu tertarik dengan asmara agar cerita ini tidak membosankan
Irhab Hauzan: terimakasih atas masukanya🙏
total 1 replies
Nanik S
Ada yang mengawasi ... dan kenapa sang Dewa tidak menyadarunya
Irhab Hauzan
terimakasih masukanya🙏
Nanik S
Lanjutkan Tor... jangan sampai ada perjodohan atau pernikahan muda pasti Ceritanya sudah TDK akan menarik
Nanik S
Lanjutkan Tor💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!