Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.
Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!
"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."
Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TROPES "TERKUNCI DI RUANG PENYIMPANAN"
Kegelapan total yang melanda aula utama mansion itu disertai dengan teriakan histeris Tante Ratna yang melengking lebih nyaring dari sirine ambulans. "Aaa! Gelap! Ini pasti ulah Vania! Dia pasti sudah memotong kabel listrik!"
Vania, yang sedang duduk dengan tenang di kursinya sambil menatap piring Foie Gras yang tidak tersentuh, hanya menghela napas panjang. Dia menatap "kamera" imajinernya di tengah kegelapan. Sabotase lampu. Tropes paling dasar. Tante Ratna, kau benar-benar kehabisan ide. Di tahun 2026, orang pakai ransomware untuk matikan lampu. Ini amatiran banget.
"Kevin," ucap Vania datar, suaranya memotong kepanikan di ruangan. "Kotak sekring ada di pantry belakang dapur. Ayo kita perbaiki sebelum Tante Ratna pingsan dan menuduh aku menyantetnya."
Kevin, yang sedari tadi hanya duduk di samping Vania dengan tatapan dingin menatap kegelapan, langsung berdiri. Dia meraba-raba di kegelapan, mencari tangan Vania, dan ketika jari-jarinya menyentuh pergelangan tangan wanita itu, dia langsung menggenggamnya erat. "Jangan lepas tanganku. Aku tidak mau kau tersesat di kegelapan ini."
"Aku hafal denah rumah ini, Kevin. Lepaskan, kau menarik tanganku terlalu keras," balas Vania, tapi Kevin sudah menyeretnya keluar dari aula, menyusuri koridor gelap menuju dapur.
Begitu mereka masuk ke ruang pantry yang luas dan berbau rempah-rempah, pintu kayu solid di belakang mereka terbanting tertutup oleh hembusan angin misterius yang selalu datang tepat waktu.
Klik.
Suara kunci berputar terdengar sangat jelas dan final.
Vania berhenti. Dia menatap gagang pintu kuningan yang tidak bergerak sama sekali saat dia memutarinya. "Terkunci," gumam Vania. "Dari luar. Pintu pantry ini memang punya mekanisme kunci otomatis kalau ditutup terlalu keras. Tropes klasik. Kita terjebak."
Di dalam kegelapan pekat yang hanya berbau karung goni dan bawang merah, Vania bisa merasakan Kevin bergerak mendekat. Bukan untuk mencari kotak sekring, tapi untuk berdiri tepat di belakangnya.
"Fascinating," suara Kevin bergema rendah di ruangan sempit itu. "Semesta memaksakan kita ke dalam ruang tertutup. Ini adalah tanda, Vania."
"Tanda bahwa engsel pintu ini perlu dilumasi WD-40," balas Vania datar. Dia merogoh tas Hermes-nya, mengeluarkan sebuah jepit rambut logam kecil. "Minggir sedikit. Aku akan membobol kunci ini."
"Membobol?" Kevin terkekeh pelan, suara yang terdengar sangat berat dan sangat dark romance. "Kau pikir kau bisa keluar dari sini, Sayang? Aku sudah menyuruh anak buahku mengelas semua pintu dari luar sebelum pesta dimulai, untuk mencegah penyusup. Kita tidak akan keluar sampai aku mengizinkannya."
Vania membeku, jepit rambut di tangannya berhenti di udara. Dia menatap "kamera" imajinernya dengan tatapan hampa. Dia mengelas pintu pantry? Demi keamanan? Pria ini benar-benar gila. Ini bukan mansion, ini bunker!
"Kevin," ucap Vania, suaranya datar namun penuh penekanan. "Buka pintunya. Sekarang."
"Tidak," jawab Kevin santai. Dia melangkah maju, mengurangi jarak di antara mereka. "Aku suka kegelapan ini. Tidak ada yang bisa melihat kita. Tidak ada Raka, tidak ada Larasati, tidak ada Pak Darmawan. Hanya ada kau dan aku."
Vania mundur selangkah, punggungnya menabrak rak kayu berisi kaleng-kaleng biskuit. Dengan refleks cepat, dia meraih karung beras 25 kilogram yang ada di sebelahnya dan mengangkatnya dengan susah payah, menjadikannya perisai di antara mereka.
"Minggir, Tuan. Ini beras 25 kilo. Kalau jatuh, kaki Anda patah," ucap Vania, suaranya terengah-engah karena beratnya karung itu.
Kevin menatap karung beras itu, lalu menatap Vania yang bersembunyi di baliknya. Sudut bibirnya terangkat. "Kau melindungi dirimu dengan beras? Kau pikir aku akan menyakitimu? Vania, kau benar-benar malu-malu di kegelapan. Ini sangat menggemaskan."
Aku tidak malu-malu! Aku sedang mengangkat beban 25 kilo! teriak Vania di dalam hatinya. Dia meletakkan karung beras itu dengan suara brak yang berat, lalu meraih sapu lidi yang bersandar di dinding. Dia mengarahkan gagang sapu itu ke arah dada Kevin.
"Jangan mendekat. Ini sapu lidi. Bisa sakit," ancam Vania.
Kevin tidak mundur. Dia justru melangkah maju, tangannya dengan lembut namun tegas menangkap gagang sapu itu, menyingkirkannya ke samping. "Kau bermain hard to get dengan sapu lidi? Wanita lain biasanya hanya melempar taplak meja. Kau memang berbeda."
Aku membenci pria yang terlalu banyak membaca novel romansa murahan! batin Vania frustrasi. Dia mencoba meraba-raba di rak sebelahnya, mencari benda lain untuk dijadikan tameng. Tangannya menyentuh tumpukan piring keramik. Dia mengangkatnya. "Jangan mendekat! Ini piring! Bisa pecah!"
Kevin tertawa kecil, suara yang renyah dan sangat tidak cocok dengan aura villain-nya. Dia melangkah lagi, memangkas jarak hingga Vania benar-benar terjepit di antara rak kaleng biskuit dan tubuh bidang pria itu. Kevin mengangkat kedua tangannya, menangkapi tangan Vania yang memegang tumpukan piring, dan meletakkannya perlahan di rak.
"Cukup, Vania," bisik Kevin, suaranya bergetar rendah, tepat di dekat telinga Vania. "Kau tidak perlu perisai. Kau tidak perlu sapu. Kau aman bersamaku."
Vania menelan ludah. Ruang pantry itu tiba-tiba terasa sangat sempit. Udara di dalamnya terasa panas, bercampur antara aroma debu, bawang merah, dan cologne mahal Kevin yang memabukkan. Jantung Vania berdegup kencang. Dug. Dug. Dug. Ritmenya tidak wajar.
System error. Heart rate increasing, batin Vania panik. Ini bukan karena aku suka dia. Ini karena aku terjebak di ruang sempit dengan kadar oksigen yang menipis. Ini hipoksia ringan. Ya, pasti itu.
Kevin menunduk. Wajahnya sangat dekat dengan Vania. Dalam kegelapan, Vania bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di kulit lehernya. Tangan Kevin yang tadi menangkap tangannya, kini merosot ke pinggang Vania, menarik tubuh wanita itu hingga tidak ada celah di antara mereka.
"Di sini gelap," gumam Kevin, suaranya serak dan penuh dengan emosi yang tertahan. Dia mencondongkan wajahnya lebih dekat, hidungnya hampir menyentuh hidung Vania. "Tapi wangimu... wangimu membuatku tenang. Seperti rumah."
Vania memejamkan matanya. Otak logisnya yang terbiasa dengan spreadsheet dan analisis risiko tiba-tiba crash. Ada desiran aneh yang merambat di tulang belakangnya. Sudah tiga tahun sejak dia merasa diperhatikan, sejak ada yang menatapnya dengan tatapan seintens ini. Tangan Kevin di pinggangnya terasa hangat, besar, dan sangat... aman.
Jangan baper, Van. Jangan baper. Dia ini psikopat. Dia mengelas pintu pantry. Ingat tebing. Ingat musik seruling, batin Vania mencoba menalar dirinya sendiri.
Dengan sisa tenaga logikanya, Vania membuka matanya dan menatap lurus ke arah wajah Kevin di kegelapan. Dia mengangkat satu tangannya, menepuk dada bidang Kevin dengan kekuatan yang cukup keras.
"Kevin," ucap Vania, suaranya sedikit serak tapi tetap tegas. "Kotak sekring ada di rak paling atas, tepat di belakang kepala Anda. Naik ke atas sana dan naikkan tuasnya. Atau kita akan mati lemas di sini karena kehabisan oksigen."
Kevin terdiam sejenak. Dia menatap Vania, lalu perlahan menoleh ke belakang, menatap kotak sekring yang memang berada tepat di atas bahunya.
"Tuh kan," gumam Vania, menghela napas lega. "Fokus pada kelistrikan, Tuan Kevin. Bukan pada hormon."
Kevin menatap Vania lagi. Senyum tipis terukir di wajahnya. Dia tidak melepaskan pinggang Vania. "Kau selalu tahu cara meruntuhkan egoku, Vania. Tapi tidak apa-apa. Aku suka cara kau meruntuhkannya."
Sebelum Kevin bisa melakukan hal konyol lainnya, tiba-tiba gagang pintu di belakang Vania bergetar hebat.
Jegleg! Jegleg!
Pintu pantry itu didorong paksa dari luar. Engselnya berderit nyaring, dan pintu itu terbuka lebar.
Cahaya menyilaukan dari senter dan lampu teplok masuk, menerangi seluruh ruangan pantry yang berdebu. Vania dan Kevin langsung menoleh ke arah pintu, tangan mereka masih bertautan di pinggang Vania, posisi mereka sangat intim dan mencurigakan di antara rak-rak kaleng biskuit.
Di ambang pintu, berdiri Raka dan Larasati.
Raka memegang senter besar yang cahayanya menyorot tepat ke wajah Kevin dan Vania. Larasati memegang lampu teplok, wajahnya berseri-seri, dan senyum yang... "tahu-tahu-aja" terukir di bibirnya.
Hening.
Hanya ada suara dengungan lampu teplok dan napas Kevin yang sedikit memburu.
"Kalian berdua..." ucap Raka, suaranya datar namun ada nada sinis yang kental. Dia menatap Kevin yang masih memeluk pinggang Vania, lalu menatap Vania yang wajahnya memerah padam. "Sedang apa di dalam?"
Larasati di sebelahnya terkekeh pelan, menutupi mulutnya dengan tangan. "Aww, Mas Raka. Jangan ganggu mereka. Kak Vania pasti sedang... mengecek stok biskuit Kak Kevin."
Vania menatap "kamera" imajinernya yang kini terlihat jelas di bawah sorotan senter Raka.
Ini bukan akhir dari tropes ini, batin Vania putus asa. Ini baru permulaan dari gosip paling hancur di seluruh sinetron.
BERSAMBUNG...