Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Dua titik cahaya keemasan berpendar dari balik kegelapan lorong, menusuk masuk layaknya mata dewa kematian. Ketiga kultivator yang baru saja mendobrak masuk membeku di tempat. Pedang mereka sedikit bergetar, pertanda ketakutan yang mulai merayap naik ke tenggorokan.
Ye Chan pun terpaku.
Keheningan menyelimuti ruangan, hanya menyisakan suara tetesan air yang jatuh berirama ke permukaan batu. Detik demi detik terasa seperti belenggu yang mengencang.
Krek.
Batu di bawah kaki mereka retak halus.
Air mulai merembes dari sela-sela lantai, dingin dan pekat. Salah satu kultivator Pembentukan Inti Awal menunduk, matanya membelalak lebar melihat fenomena di hadapannya.
"Apa..." bisiknya, suara yang tertelan oleh gemuruh air.
Cairan itu bergerak naik. Bukan sekadar mengalir, melainkan merayap melewati batu layaknya memiliki kesadaran. Ia melilit pergelangan kaki pria itu dengan kelembutan yang mematikan.
Wajah kultivator tersebut berubah pucat pasi.
"Keluar! Cepat!"
Ia berbalik, hendak melarikan diri kembali ke arah celah gua.
Terlambat.
BOOOM!
Sebuah kepala raksasa menembus dinding lorong, menciptakan ledakan batu yang menyakitkan telinga. Sisik hitamnya berkilau di antara derasnya arus air yang mengikuti sang makhluk. Dua tanduk pendek mencuat dari kepalanya, melengkung tajam. Rahangnya terbuka lebar, memperlihatkan deretan gigi yang mampu meremukkan tulang manusia hanya dalam sekali gigit.
Kultivator Pengumpulan Qi Atas berteriak histeris.
"Monster!"
Ia mengangkat pedangnya dengan tangan gemetar.
Ye Chan tahu apa yang akan terjadi. Ia ingin berteriak melarang, namun tenaganya seolah terkunci oleh rasa sesak yang menekan dada.
Pedang itu menghantam keras tempurung kepala monster.
TING!
Bilah pedang itu patah seketika. Makhluk itu bahkan tidak bergeming, matanya tetap terpaku pada mangsanya.
Cakar depannya menyambar dengan kecepatan yang tak masuk akal.
DUAR!
Tubuh kultivator tersebut terpelanting jauh, menghantam dinding gua dengan suara tulang retak yang mengerikan. Darah segar menyembur keluar, membasahi batu yang lembap. Ia masih berusaha bangkit, namun air di bawah tubuhnya sudah bergerak sigap.
Arus itu membelit kakinya, menariknya paksa kembali ke tengah ruangan.
"Ah—!" rintihnya, jari-jarinya mencakar lantai batu hingga kuku-kukunya berdarah. "Tarik aku!"
Kedua rekannya hanya mundur, membiarkan ketakutan mengambil alih kewarasan mereka. Tidak ada yang berani mendekat untuk memberi pertolongan. Pusaran air di bawah pria itu semakin liar, menyeret tubuhnya ke pusat kegelapan.
"Tunggu!"
Tumitnya menghantam batu, tangannya menggapai udara kosong dengan sia-sia.
BLUURP!
Tubuhnya menghilang ke dalam telan air. Hanya menyisakan beberapa tetes darah yang mengambang di permukaan, memudar seiring arus yang kembali tenang.
Yuen Fang menelan ludah, dadanya sesak karena panik.
"Tetua..."
"Jangan lihat."
Suara Ye Chan rendah, datar, namun penuh penekanan.
Yuen Fang menoleh. Ia mendapati Ye Chan sedang mengunci tatapan pada makhluk itu. Bukan lagi tatapan seseorang yang menghadapi monster, melainkan tatapan ahli taktik yang sedang menghitung peluang hidup mati.
Hasil perhitungannya buruk. Sangat buruk.
Hewan Buas Bertanduk Hitam ini berada di tingkat Pembentukan Inti Atas. Ye Chan baru saja mencapai Pembentukan Inti Awal. Zhan Ya berada di puncak Pembentukan Inti, namun kondisinya jauh dari prima. Yuen Fang sendiri bahkan belum menyentuh tingkat itu.
Perbedaan kultivasi ini adalah jurang kematian.
Namun masalah sebenarnya bukan sekadar tingkat kekuatan. Ye Chan mengamati bagaimana air terus mengitari tubuh makhluk tersebut, seolah melindunginya.
Kemampuan bawaan.
Di antara hewan buas, ada tingkatan yang menentukan takdir. Sebagian mampu mencapai tingkat Roh Purba, bahkan Iblis Bertitah. Namun bagi makhluk ini, medan air adalah segalanya. Ia lahir untuk berkuasa di sini.
Ye Chan mengepalkan hulu pedang yang tersisa di tangannya.
"Jangan sentuh air," perintahnya tegas.
Salah satu kultivator yang tersisa menoleh, wajahnya masih pucat pasi.
"Kau pikir kami akan mendengarkan—"
WUUUUM!
Air meledak ke segala arah. Gelombang besar menerjang ruangan, memaksa semua orang untuk bertahan. Ye Chan langsung menebas, membelah gelombang yang mendekat.
SRAAK!
Air terbelah, namun tekanan sisa menghantam tubuhnya hingga ia terseret beberapa langkah ke belakang.
"Ke belakang!"
Zhan Ya menarik Yuen Fang, melindungi muridnya dengan tubuhnya sendiri.
Dua kultivator yang tersisa mencoba melakukan serangan terakhir. Salah satunya menekan telapak tangan ke permukaan air, mengeluarkan sisa Qi yang ia miliki.
BOOM!
Gelombang Qi itu berhasil memukul mundur sang monster.
"Berhasil!" pria itu bersorak, matanya berbinar penuh harapan.
Namun, air di bawah kakinya tiba-tiba menghilang, menyisakan kekosongan yang mematikan. Pria itu kehilangan pijakan, tubuhnya limbung.
Mata Ye Chan melebar.
"Jangan—!"
Terlambat.
Sebuah lubang hitam terbentuk di bawah kaki pria tersebut. Ia jatuh ke dalamnya tanpa sempat bersuara. Jeritannya baru terdengar setelah tubuhnya terserap penuh.
"AAAAH!"
KRAK!
Suara tulang yang dipatahkan bergema dari dalam pusaran air. Kemudian, hening total kembali menguasai.
Kultivator terakhir mundur perlahan, napasnya memburu.
"Tidak mungkin..."
Ia berbalik dan mencoba berlari menuju lorong. Namun, air di dinding seolah merespons gerakannya. Sebuah cambuk air pekat menghantam punggung pria itu tanpa ampun.
WHAM!
Tubuhnya terhempas ke tanah. Sebelum ia bisa merangkak bangun, rahang sang monster sudah menunggu dengan sabar.
KRAK!
Darah segar mengotori dinding gua. Yuen Fang menutup mulutnya, berusaha menahan suara tangis. Zhan Ya segera merengkuh bahu gadis itu, menariknya menjauh dari pemandangan mengerikan di depan mereka.
"Jangan lihat," bisiknya pelan.
Ye Chan tidak berkata apa-apa. Tiga orang tewas dalam hitungan detik. Dan mereka bertiga masih terperangkap di sarang yang sama.
"Pergi," ujar Ye Chan berbalik. "Kita harus mencari jalan keluar."
Mereka berlari tanpa formasi, tanpa strategi. Hanya insting bertahan hidup yang tersisa. Lorong sempit di sisi lain gua menjadi satu-satunya harapan. Ye Chan menempatkan dirinya di posisi paling belakang, siap menebas setiap kali suara air mendekat.
SRAK! BOOM! SRAK!
Serangan-serangannya tidak membunuh, hanya memperlambat pengejaran monster itu.
"Ye Chan!" Zhan Ya berteriak di depan. "Di depan!"
Lorong itu berakhir pada dinding batu yang kokoh. Buntu.
Ye Chan berhenti mendadak, hampir saja Yuen Fang menabrak punggungnya.
"Jalan keluarnya..." gumam Ye Chan.
Ia menyentuh dinding batu. Padat. Dingin. Tidak ada celah. Tidak ada harapan. Suara air di belakang semakin nyaring, monster itu semakin dekat.
Yuen Fang menoleh, wajahnya putus asa.
"Senior..."
Ye Chan tidak menjawab. Air sudah mencapai mata kaki, lalu lutut. Rasa dingin merayap melalui pori-pori kulit mereka, membawa tekanan Qi yang menyesakkan. Ye Chan merasakan kekuatan monster itu meningkat pesat seiring bertambahnya volume air di lorong.
"Naik," perintah Ye Chan.
Ia menunjuk sebuah celah sempit di bagian atas dinding. Zhan Ya segera mendorong Yuen Fang agar bisa memanjat ke sana.
Saat Zhan Ya hendak menyusul, air sudah mencapai dada mereka.
GRAAAAAH!
Raungan itu mengguncang dinding gua. Monster itu muncul, kepalanya memenuhi seluruh lebar lorong, mata emasnya menatap tajam ke arah mereka.
"Lebih cepat!" seru Yuen Fang dari atas.
Ye Chan menoleh. Makhluk itu sudah berada di depan mata. Ia mengangkat pedang, mengumpulkan sisa-sisa Qi terakhir untuk satu tebasan.
"Naik!" teriaknya pada Zhan Ya.
Zhan Ya berhasil menggapai celah tersebut, namun ia berbalik melihat Ye Chan masih di bawah.
Ye Chan mengayunkan pedang.
BOOM!
Gelombang Qi menghantam kepala monster, memberi jeda satu detik yang berharga. Ye Chan mencoba melompat, namun cakar monster menyambar bahunya.
SRAK!
Pedang Ye Chan terlempar jauh. Darah merembes membasahi kain bajunya. Ye Chan menggertakkan gigi, menancapkan tangannya ke dinding batu demi memanjat.
Monster itu mengamuk, air meledak dengan kekuatan penuh.
BOOOOM!
Zhan Ya yang berada di tepi celah terdorong oleh tekanan arus air.
"Ye Chan!"
Ye Chan meraih tangannya. Jari mereka bertaut kuat. Kulit bertemu kulit, hangat di tengah dinginnya maut. Untuk sekejap, dunia seakan melambat.
Ini adalah momen terakhir mereka.
Dalam keputusasaan yang mencekik, Zhan Ya menatap mata Ye Chan. Ada kesedihan, ketakutan, namun juga sebuah penerimaan yang mendalam. Mereka telah melalui banyak hal, dari sekte hingga pengasingan. Perasaan yang selama ini mereka kubur, yang tak sempat terucap karena batasan kultivasi dan tanggung jawab, kini meluap dalam genggaman tangan yang gemetar.
Ye Chan bisa merasakan detak jantung Zhan Ya melalui telapak tangannya. Di tengah ancaman kematian, ia merasakan perasaan yang justru lebih hidup dari hari-hari biasanya.
"Pegang tanganku!" seru Ye Chan.
"Iya," jawab Zhan Ya, air mata mengalir di pipinya.
"Aku tarik!"
Zhan Ya menarik sekuat tenaga, dibantu oleh Yuen Fang.
Namun, arus hitam menghantam mereka dari samping.
DUAR!
Tubuh Zhan Ya terlempar ke air.
"MASTER!"
Ye Chan tidak berpikir dua kali. Ia melepas pegangannya pada batu dan terjun menyelam ke dalam air yang bergejolak. Ia menangkap pinggang Zhan Ya, mendekapnya erat ke dada.
Di balik permukaan, monster itu menyambut mereka dengan rahang terbuka.
Ye Chan memutar tubuh, membawa Zhan Ya ke samping.
KRAAAK!
Gigi monster menghantam dinding batu, menghancurkan bebatuan hingga berserakan. Ye Chan segera membawa Zhan Ya ke permukaan.
"Zhan Ya!"
Zhan Ya terkulai lemas di pelukannya. Wajahnya sepucat kertas, darah mengalir dari pelipisnya.
"Zhan Ya!" Ye Chan menepuk pipinya, namun tidak ada respons. Napas wanita itu sangat lemah.
"Guru!" Yuen Fang berlutut di tepi celah, tangannya gemetar memeriksa kondisi gurunya. "Masih bernapas, tapi..."
Ye Chan tahu. Waktu mereka habis.
Ia menatap sekeliling. Buntu. Menatap lorong. Monster. Menatap Zhan Ya. Lalu Yuen Fang.
Satu-satunya pilihan adalah pengorbanan.
Ye Chan melepas cincin penyimpanannya, menyerahkannya pada Yuen Fang.
"Ambil ini," suaranya parau.
Yuen Fang membeku.
"Senior..."
"Jangan tanya," potong Ye Chan tegas. Ia menutup tangan Yuen Fang dengan telapak tangannya sendiri. "Gunakan semua yang ada di dalam."
Yuen Fang merasakan isi cincin itu dalam kesadarannya. Ramuan, batu Qi, senjata. Timbunan yang Ye Chan kumpulkan seumur hidup.
"Jaga dia," Ye Chan menatap mata Yuen Fang tajam. "Jangan biarkan dia mati."
Yuen Fang mengangguk dengan air mata yang menetes. "Aku akan menjaga Master. Aku bersumpah."
Ye Chan mengangguk puas. Ia mengambil pedang yang tergeletak di air. Tenaganya nyaris habis, namun ia berdiri tegak.
Ye Chan berjalan menjauh, menuju arah monster. Ia tidak menoleh lagi.
"Terima kasih."
Ia menghantam dinding batu dengan pedangnya untuk memancing perhatian.
BOOOOM!
Mata emas monster itu berbalik. Ye Chan menantang monster itu dengan senyum kecil di bibirnya.
"Ke sini."
Monster itu meraung. Ye Chan berbalik dan berlari, memancing makhluk itu semakin jauh dari tempat Zhan Ya dan Yuen Fang bersembunyi.
Di balik dinding batu, Yuen Fang hanya bisa menatap punggung Ye Chan yang perlahan lenyap ditelan kegelapan. Ia menggenggam cincin itu erat-erat, sementara Zhan Ya masih tak sadarkan diri di pelukannya.
Suara pertarungan di kejauhan semakin samar.
"Tetua..." gumam Yuen Fang, suaranya pecah di tengah kesunyian lorong yang mulai tenang.