Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Klek.
Pintu kaca tebal itu terdorong terbuka tanpa suara. Langkah kaki Bashkar yang biasanya menggelegar tegas kini terasa begitu pelan dan hati-hati, membelah keheningan kamar VVIP yang dingin.
Aroma antiseptik mendominasi udara. Manik mata kelabu milik Bashkar langsung tertambat pada sudut terbawah ruangan di dekat tirai tebal yang terkulai. Di sana, di atas lantai marmer yang dingin, tubuh ramping Zela terlipat kecil. Wanita itu berjongkok memeluk kedua lututnya rapat-rapt ke dada, menyembunyikan wajah pucatnya di antara lipatan kain piyama rumah sakit yang terlalu besar untuk tubuhnya yang kian mengurus.
Dada Bashkar serasa dihantam oleh rasa sesak yang luar biasa. Pria tegap itu melangkah mendekat, menghentikan derap langkahnya dua meter sebelum mencapai sudut tersebut agar tidak mengejutkannya.
Begitu mendengar ketukan halus dari alas sepatu kulit, tubuh Zela tersentak hebat. Ia mendongak pelan dengan napas memburu, matanya yang bulat dan memerah karena ketakutan menatap sosok tegap berbalut mantel hitam di depannya. Refleks, Zela mengangkat kedua tangannya yang kurus, menutup wajahnya rapat-rapat seraya makin merapatkan punggungnya ke sudut dinding yang dingin.
"J-jangan... jangan mendekat..." cicit Zela, suaranya gemetar parah, polos dan penuh kepanikan murni. "Jangan sakiti aku..."
Bashkar tidak menjawab dengan gertakan atau nada dingin seperti biasanya. Perlahan-lahan, pria dingin yang ditakuti seluruh dunia underworld itu menurunkan tubuh tegapnya. Ia melipat kakinya, berjongkok di atas lantai dingin tepat di hadapan Zela, menyamakan posisi mata mereka agar wanita itu tidak merasa terintimidasi.
Aura membunuh dan kekejaman yang tadinya membakar tubuh Bashkar menguap tanpa sisa, berganti dengan kelembutan yang sangat asing dan langka.
"Kenapa tidak mau makan?" tanya Bashkar dengan nada suara yang sangat pelan, dalam, dan tenang—sebuah nada suara lembut yang belum pernah didengar oleh siapa pun sebelumnya.
Zela mengintip sedikit dari sela-sela jarinya yang gemetar. Melihat pria di depannya berjongkok dan tidak berbuat kasar, pertahanan ketakutannya sedikit luluh, namun ia tetap terperanjat ragu. Zela menggeser tubuhnya mundur beberapa sentimeter, mencoba makin menyatu dengan sudut dinding.
"T-takut..." bisik Zela sangat pelan, matanya menatap Bashkar dengan kepolosan yang polos dan linglung. "Orang-orang di sini asing... Makanan itu... aku takut."
Zela menurunkan tangannya perlahan dari wajahnya, menatap lekat wajah tegap Bashkar yang dipenuhi garis rahang kaku dan bekas noda lelah di bawah matanya. Di dalam kepala Zela yang hampa, pria ini terasa sangat asing, namun entah mengapa, sorot mata kelabu pria di depannya tidak memancarkan ancaman seperti orang lain.
"Kamu... kamu siapa?" tanya Zela polos. Suaranya kecil dan jujur, bagaikan anak kecil yang tersesat dan bertanya pada orang dewasa. "Kenapa kamu bisa masuk ke sini? Kamu... mau jahat sama aku juga?"
Pertanyaan sederhana itu menghantam ulu hati Bashkar bagaikan tusukan sembilu. Kata-kata itu menegaskan betapa hancurnya ingatan wanita di hadapannya.
Bashkar menghembuskan napas berat, tatapannya tak pernah lepas dari sepasang mata bulat Zela yang begitu jernih.
"Aku suamimu," jawab Bashkar tegas namun lembut, menatap lurus ke dalam iris mata Zela. "Namaku Bashkar. Dan aku tidak akan pernah menyakitimu. Tidak akan pernah."
Zela memiringkan kepalanya sedikit, mengedipkan matanya berulang kali dengan raut bingung. Kata 'suami' terasa sangat asing di lidahnya, namun ada getaran aneh yang berdesir di dadanya saat mendengar nama itu terlontar dari bibir pria di depannya.
"Suami...?" ulang Zela canggung. "Artinya... kamu orang terdekatku?"
"Ya," sahut Bashkar pendek, jemari tegapnya yang dipenuhi perban luka memegang pelan lututnya sendiri, menahan diri agar tidak menyentuh Zela secara mendadak. "Aku orang yang bertugas melindungimu. Jadi kamu tidak perlu takut lagi pada apa pun di ruangan ini."
Zela menatap wajah tegap Bashkar lama, mencoba mencari kebohongan di dalam sepasang mata kelabu yang biasanya sedingin es batu itu. Namun yang ia temukan hanyalah kesungguhan yang teramat pekat.
Zela menggigit bibir bawahnya yang pucat, lalu perlahan menjatuhkan kakinya dari posisi berjongkok. Ia memberanikan diri menatap Bashkar dengan sorot mata yang meminta kepastian.
"Benarkah...?" cicit Zela polos. Ia mengulurkan jari kelingkingnya yang mungil dan kurus dengan gemetar pelan ke arah Bashkar. "Janji... kamu enggak akan pukul aku? Enggak akan biarkan orang asing bawa aku ke tempat gelap lagi...?"
Melihat jari kelingking mungil yang terulur polos itu, dada Bashkar bergemuruh hebat oleh rasa bersalah dan kehangatan yang meremukkan pertahanannya. Sang penguasa underworld yang ditakuti semua orang itu mengangkat tangan kanannya yang terbebat perban.
Dengan sangat hati-hati, Bashkar melingkarkan jari kelingking tegapnya pada jari kelingking mungil Zela.
"Aku janji," desis Bashkar rendah, mengikat janji sederhana itu di tengah dinginnya ruangan ICU. "