Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.
Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.
Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah Lagi
**
"Rey, aku mau daftar kuliah boleh?"
"Hah?"
"Kamu kenapa sih, dari tadi diam melamun terus? Ada masalah?"
Reyhan terkekeh. "Gue ganteng tapi kenapa gak jadi idol Korea aja, yah? Lagi mikir, umur segini masih bisa daftar gak, yah?"
"Hah, serius Rey, isi otak kamu dari tadi cuman melamun itu?" Percuma dari tadi dia cemas melihat lelaki itu terdiam seperti mempunyai masalah besar saja.
Reyhan tertawa. "Kamu anggap serius, kamu yang gak waras. Eh tadi apa, kamu mau daftar kuliah atau apa tadi?"
Wajah Ayana kembali berseri. "Iya, salah satu senior aku di cafe kan kuliah, nah dia bilang bulan depan udah mulai pendaftaran semester baru di kampusnya. Dia nawarin buat daftar di sana, katanya dia bakal bantu buat urus semuanya sambil cari-cari beasiswanya."
Reyhan mengangguk. "Iya, terus?"
"Emmm ... boleh gak, aku daftar kuliah?" tanya Ayana terlihat ragu.
"Emang kenapa gak boleh?"
"Masalahnya, aku bakal jadi kerja part time dan gajiku otomatis berkurang. Kata seniorku, walau nanti beasiswa, pasti akan selalu ada bayaran-bayaran yang lain. Nanti, aku akan susah bantu keuangan kita lagi."
Deg
Reyhan merasa gagal, rasanya dia hanya membuat Ayana menderita saat menjadi istrinya. Seharusnya, wanita itu tidak harus ikut pusing memikirkan masalah keuangan sebagai istri, tapi sayangnya dia harus bernasib menjadi istri dari suami yang melarat seperti dirinya yang terpaksa membuat Ayana harus ikut membantu memenuhi kebutuhan mereka. Walaupun Reyhan sering melarang, tapi gaji dia setiap bulan yang UMR itu selalu terkena potongan yang membuat otomatis kebutuhan mereka selalu kekurangan saat menjelang diakhir-akhir bulan.
Pekerjaan sampingan dia menjadi editor itu sudah tidak ada, sebab orang yang memperkerjakannya berhenti membuat konten karena tidak laku. Sebisa mungkin dia berusaha selalu tidak memakai uang Ayana, tapi ujung-ujungnya selalu terpakai untuk kebutuhan mereka.
Sekarang, dia sudah dipecat. Uang pesangon sebagian tadi sudah dia bayarkan kontrakan selama tiga bulan. Tadinya, Reyhan mau memberitahukan masalah ini ke Ayana, tapi sekarang rasanya dia jadi merasa tidak tega. Dia tahu bagaimana Ayana yang selalu ingin berkuliah, dia tidak mau mematahkan mimpinya karena harus ikut meringankan beban kebutuhan mereka yang seharusnya hanya menjadi tanggungjawabnya.
"Rey, melamun lagi? Jadi, boleh gak?"
Reyhan tersentak, kemudian tersenyum. "Kuliah aja, itu mimpi kamu. Gak usah mikirin biaya kebutuhan kita, itu urusan aku. Kalau kamu mau berhenti bekerja supaya bisa fokus kuliah juga kamu bisa berhenti saja, urusan bayaran lainnnya biar aku yang usahakan nanti."
Ayana memeluk Reyhan, dibalas lelaki itu. "Makasih Rey, gak papa aku kerja aja, aku gak mau nambahin beban kamu. Kampusnya lumayan jauh, nanti pasti aku pulang pergi ada ongkos lagi. Gak usah ngide mau anter, kamu repot nanti. Enggak ada bantahan, Rey!"
Reyhan mengangguk. "Ok. Kamu harus tahu, kalau kamu gak pernah jadi beban Ay, jadi jangan pernah mikir gitu."
"Makasih Rey." "Aku sayang kamu" tambah Ayana dalam hatinya.
"Gak usah berterima kasih ke aku karena gak ada jasa apa-apa."
Ayana menggeleng. "Makasih karena udah nerima aku tanpa anggap aku beban kamu. Selama ini, orang-orang cuman anggap aku beban."
"Gak waras mereka. Aku malah makasih karena kamu tetap mau bertahan sama lelaki yang miskin ini."
Ayana terdiam, menatap Reyhan dalam kemudian tertawa. "Aku juga miskin terus yatim piatu lagi."
"Berarti kita emang sama-sama miskin, jadi cocok."
Setelahnya mereka berdua tertawa, menertawakan nasib malang mereka. Sekali-kali hal tidak baik memang harus ditertawakan, supaya tidak terlalu terasa sangat menyedihkan sekali.
Reyhan harap, dia bisa segera menemukan pekerjaan lagi. Masih ada waktu, sampai waktu pendaftaran kuliah nanti. Sebaiknya, Ayana memang tidak harus tahu tentang hal ini karena dia sudah terlalu banyak menderita selama ini.
Cup
Reyhan yang sedang melamun lagi tiba-tiba mendapat serangan kecupan singkat di bibirnya. Reyhan menatap Ayana yang masih berada dalam pelukannya malu-malu. Reyhan menarik dagu Ayana, sehingga tatapan mereka bertemu.
"Kenapa, gak suka aku cium?" tanya Ayana sangat terlihat jelas malu.
"Yakali, dapat rezeki ditolak."
Reyhan langsung mencium bibir Ayana dalam dan menggebu-gebu seperti biasanya.
Sekarang ciuman dulu, masalah diurus dan dipikirkannya nanti saja. Jika beruntung, Reyhan bisa dapat jatah full malam ini.
Hahahaha
*
"Woi ... itu bukan oli tapi air anjir!"
Udah lah, orang galau gak usah sok ngide bantuin gue, bikin rugi aja. Lo udah gak bisa bedain oli dan air aja, itu udah ditahap gawat. Fix, nanti gue anter ke rumah sakit jiwa!"
Reyhan melempar kain lap kotor ke wajah Bima yang sedari tadi mengomel terus.
"Berisik lo, mulut udah mirip Mak Ijah warteg pas nagih hutang. Tapi boleh juga, di RS jiwa gratis makan dan tidur kan yah, gak usah bayar."
"Iya bisa pakai BPJS, tapi kamar lo rame-rame jadi gak bisa coli!" Bima tertawa. "Eh ... lo mah sekarang udah pensiun coli, udah punya tampungan. Gak usah ngelak, lo udah dapat jatah, kan? Soalnya beda lah, hawa-hawa udah gak perjaka mah."
"Sialan emang si anj*ng ini!" Reyhan beranjak, memilih tidak ikut otak-atik motor lagi, kasian Bima takut makin rugi dan makin miskin. "Emang apa bedanya gue udah gak perjaka apa enggak?"
Kepala dia mumet, sekarang malah tambah mumet dengan pembicara random mereka yang tidak jelas. Ini baru Bima, belum Dion sang ahli tidak waras yang kebetulan hari ini masih bekerja.
"Kata si Dion lo udah gak mau diajakin nonton bok*p lagi, dikirimin video porno, malah ngamuk. Tandanya, lo udah gak butuh semua itu karena udah bisa praktekkan semua video itu dengan berbagai gaya
lebih kreatif." Bima tergelak.
"Si anj*ng, teori lo sama sibangke Dion gak nyambung!" Reyhan menyalakan sebatang rokok lalu menghisapnya. "Tapi memang iya, ngapain lihatin orang lagi gituan kalau udah bisa dan lebih jago dari video."
"Anj*ng!" teriak Bima, dia mengangkat tangan. "Udah gue nyerah sama orang yang tiap malam udah bisa indehoy mulu!"
"Lo yang mancing, lo yang baper. Banci emang!" Reyhan tertawa, menertawakan nasib temannya yang tidak seberuntung dirinya.
"Btw Rey, nikah enak gak?" Tiba-tiba Bima menjadi serius.
"Enak bagian bikin anaknya doang, tapi pusing kasih makannya. Kenapa tiba-tiba muka lo serius gitu? Mau berak!"
"Sialan!" maki Bima, dia beranjak ikut duduk di samping Reyhan. "Gue dijual bokap."
"Emang laku?" tanya Reyhan kaget berlebihan.
"Bangsat, gue serius!" Bima menendang kaki Reyhan yang masih tertawa mengejeknya itu. "Gue dijodohin!"
"Hah, apa?" Reyhan yang tertawa berhenti, beneran terkejut. "Serius, sama siapa?"
Bima memijit keningnya, terlihat sangat banyak pikiran. "Bokap gue minjem duit sama rentenir kaya di desa, terus seperti kebanyakan kasus dengan perkejaan dia tidak jelas itu, pasti tidak bisa dibayar. Alhasil, ditagih, diteror. Pernah ada preman dari desa ke sini buat nagih, ngamuk-ngamuk rusakin isi rumah. Mereka ancam, kalau gak bayar dalam waktu dua minggu, bapak gue diambil ginjalnya buat bayar hutang atau dijebloskan ke penjara."
Reyhan tanpa sadar tepuk tangan. "Ajegile, drama sekali hidup Anda melebih hidup saya. Terus hubungannya lo dijodohin sama hutang bokap lo, apaan?"
"Iya kan, drama banget. Pokoknya, kisah lo kalah sama gue. Nah ... dramanya lagi, pas waktu dua minggu itu abis, bokap ke sana dan memohon ampun dan meminta keringanan. Seperti kebanyakan rentenir sinetron, gak ada ampun tapi dia tiba-tiba nawarin buat nikahin anaknya sama anak bokap, yah siapa lagi gue!" teriak Bima tiba-tiba menjadi sangat kesal.
Reyhan malah tertawa tidak ada perasaan. "Gue turut berduka cita deh. Tapi bukannya itu bagus buat lo, gak usah susah-susah cari istri karena udah ada yang kasih. Hutang bokap lo lunas, lo bisa indehoy kaya gue. Lagipula bapaknya rentenir pasti kaya, hidup lo udah makmur jadi menantu rentenir kaya."
"Males gue!"
"Kenapa jelek? Bodyshaming lo, gak boleh, gak sopan. Nanti dosa acuk nelaka!"
"Dia lumpuh," jawab Bima terdengar kesal sekali. "Dia katanya pernah kecelakaan terus sekarang lumpuh. Umurnya udah 25, kalau di kampung umur segitu sudah disebut perawan tua. Karena itu rentenir takutnya anaknya gak laku, pas tahu bokap punya anak cowok yang ganteng kaya gue, langsung nyuruh nikahin anaknya. Dia suruh gue jagain ajaknya yang lumpuh, kan sialan! Emangnya gue badan amal yang tampung ibu-ibu!"
"25 masih seger bos, masih muda bukan ibu-ibu!" Reyhan tidak suka saat Bima merendahkan wanita itu. "Terus lo mau milih bokap lo diambil ginjalnya dan dipenjara atau lo nikahin anaknya?"
"Gue gak dikasih pilihan. Seminggu. Lagi gue nikah dan bakal tinggal di desa bantu urus usaha itu rentenir," jawaban Bima kali ini benar-benar membuat Reyhan syok.
"Tiba-tiba banget! Bengkel lo gimana?"
"Yah tutup lah, Anj*Ng! Lo kayaknya lebih sedih tahu bengkelnya tutup, daripada dengerin kisah hidup gue!" Memang bangsat temennya ini.
Reyhan terkekeh. "Lah, ngapain sedih mikirin kisah hidup lo yang sebentar lagi bakal jadi orang kaya. Tempat nongkrong gue hilang ini gimana?"
"Sialan lo Rey, sialan!" maki Bima kesal. "Lo nanti sama si Dion anter gue, yah? Awas lo kalau enggak, sekarang kan lu pengangguran jadi punya waktu lah. Nanti ajak juga istri lo, kampungnya sebelahan sama kampung istri lo."
"Ok." Reyhan mengangkat kedua jempolnya. "Jadi sedih lagi, ingat gue pengangguran sekarang."
Reyhan memang tadi sudah menceritakan kisahnya ke Bima sebelum lelaki itu balik berbagi kisah drama juga, termasuk soal dia tidak memberitahu Ayana tentang penganggurannya dan wanita itu yang mau kuliah.
"Apa gue ikut kerja bareng si Dion aja yah, di proyek?" tanya Reyhan lebih ke diri sendiri.
"Kaki lo pernah cedera karena kecelakaan, gak akan sanggup lo. Kata Dion kerjaannya berat, capek."
Reyhan menghela napas berat. "Dipikir-pikir, hidup kita sama-sama penuh drama. Gue sekarang pengangguran padahal ada istri yang harus gue nafkahi, Lo dijodohkan buat bayar hutang. Noh, si Dion jadi tulang punggung keluarga, teledor terus sering dipecat, sekarang kerja apa aja buat kasih makan keluarganya di kampung."
"Bener juga," kata Bima membenarkan.
"Emang dari awal gue gak usah temenan sama kalian yang blangsak, jadi gue ikut-ikutan blangsak kaya kalian."
Bima menoyor kepala Reyhan. "Lo sebelum kenal kita udah blangsak dari lahir, sialan!"
"Reyhan tertawa. "Iya juga, gue em--"
Drttt drttt drttt
"Aduh siapa, sih? Ganggu orang lagi merenungi nasib aja."
Reyhan mengambil ponselnya, melihat nomer baru. "Siapa, nih? Mau nagih hutang, kah?"
Bima tergelak. "Lo pemenangnya kalau hidup paling menderita daripada kita."
"Sialan!" Reyhan mengangkat panggilan teleponnya. "Halo siapa? Hah, apa? Bikin perkara aja lo! Gue ke sana sekarang! Iya, gue gak akan kasih tahu ibu-bapak, tapi nanti kita ketemu, gue bakal bunuh lo!"
"Kenapa?"
Reyhan tertawa sumbang. "Si Rama adek gue yang SMP sekarang lagi di kantor polisi."
"Hah, serius? Kenapa?" Bima syok, jelas. Lagipula, ada saja gebrakannya drama mereka hari ini.
"Gak tahu lah gue." Reyhan beranjak. "Mau ke sana dulu, mau bunuh itu anak!"
"Gue temenin, gak?"
"Uchh cocweet ... gak usah!"
"Kabarin deh nanti," kata Bima lagi mengabaikan ejekan Reyhan.
"Iya Sayang, siap. Aku pergi dulu." Reyhan memberikan kiss jauh ke Bima sambil berjalan mundur, setelahnya dia berbalik berjalan mengambil motornya.
"Sialan, masih aja bercanda."
Reyhan bercanda padahal kepala dia rasanya mau pecah, ada saja gebrakan masalahnya. Dia akan bunuh adik sialannya itu nanti.
##