Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sore itu hujan tidak memilih untuk reda.
Sejak siang ia turun dengan sabar, tidak marah, tidak deras, hanya tekun. Seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu, tapi juga tidak mau pergi. Bunyinya jatuh di atap seng rumah mereka dengan nada yang konstan — lalu menyebar ke daun-daun jambu di halaman yang sudah terlalu rimbun, ke tanah yang mulai becek dan berbau tanah basah yang khas. Bau yang selalu mengingatkan Arhan pada masa kecil.
Di dalam rumah kecil itu, dunia terasa menyempit menjadi seukuran meja dapur.
Laptop Arhan terbuka di atas meja kayu yang permukaannya sudah tidak rata lagi. Layarnya menyala putih, naskah novelnya berhenti di tengah paragraf. Kursor berkedip, menunggu. Di sampingnya, gelas teh sudah kehilangan uapnya sejak lama, dingin, dengan lapisan tipis di permukaannya. Arhan tidak menyentuhnya. Jemarinya masih di atas keyboard, tapi pikirannya tidak lagi di dalam cerita yang ia tulis. Cerita yang ia tulis tentang kebahagiaan, ironisnya.
Di sudut yang sama, kehangatan itu ada. Bukan dari teh, melainkan dari Anya.
Anya ada di sana, di dapur yang sama. Tidak jauh, hanya berjarak satu langkah. Ia berdiri di dekat wastafel yang catnya sedikit mengelupas, mengurusi sebuah vas kaca bening. Di dalamnya hanya ada satu tangkai lily putih. Hanya satu. Bunga yang kemarin sudah menunduk layu, kelopaknya kecokelatan di ujung. Hari ini Anya mengganti airnya dengan telaten.
Arhan meliriknya diam-diam.
Wajah Anya memang pucat. Pucat yang tidak bisa disembunyikan oleh lampu dapur yang kekuningan. Matanya sedikit cekung, bibirnya kering. Tapi ia berusaha keras untuk terlihat biasa saja. Ia memotong batang lily itu yang terlalu panjang dengan gunting kecil, sangat hati-hati, seolah takut melukai bunganya yang satu-satunya itu. Ia merapikan daunnya satu per satu. Gerakannya pelan, napasnya diatur. Arhan tahu betul, ini caranya melawan. Anya tidak pernah suka dilarang. Ia paling benci ketika terus-menerus dianggap sebagai orang sakit. Ia ingin tetap menjadi Anya yang merapikan bunga, bukan Anya yang dirawat.
Hujan di luar membuat suasana di dalam menjadi begitu intim. Dingin di luar, hangat di dalam. Kontras yang membuat Arhan ingin waktu berhenti di sore itu saja.
"Han," panggil Anya akhirnya. Suaranya pelan sekali, hampir tenggelam oleh suara hujan yang jatuh di seng.
Arhan masih mengetik, atau berpura-pura mengetik. Matanya tetap di layar. "Apa, An?"
Anya meletakkan guntingnya. Ia melangkah pelan, langkah-langkah kecil yang ia atur agar tidak terengah, lalu duduk di kursi kayu satunya di samping Arhan. Kursi itu berdecit pelan, bunyi kayu tua yang sudah hafal dengan berat tubuh mereka.
Anya menatap layar laptop Arhan. Barisan kata-kata yang belum selesai.
"Kemarin, pas aku lihat hasil diagnosa dari dokter Rendra yang kamu taruh di meja itu..." Anya memulai, suaranya ditata, pelan-pelan. "Entah kenapa ya, Han. Aku... aku ngerasa udah siap. Dengan apapun yang nanti akan terjadi."
Kalimat itu jatuh begitu saja di antara suara hujan.
Jari Arhan berhenti.
Suara Ketikan keyboard yang sedari tadi menjadi musik latar di dapur itu hilang seketika. Yang tersisa hanya hujan. Arhan akhirnya menoleh. Ia menatap istrinya. Mata Anya sayu, tapi anehnya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja membaca vonis tentang tubuhnya sendiri. Ketenangan yang justru membuat dada Arhan sesak.
"Aku yang nggak pernah siap, An," jawab Arhan. Suaranya hampir berbisik, serak. "Jangan ngomong gitu."
Anya tersenyum. Senyum yang dipaksakan untuk terlihat ringan, senyum yang ia buat agar Arhan tidak khawatir, padahal justru membuat Arhan melihat betapa kerasnya ia menahan sesuatu.
"Kamu itu lelaki baik, Han," kata Anya, menatap jauh ke arah jendela yang berembun. "Baik banget. Pasti... pasti nanti banyak yang bisa gantiin aku. Yang lebih sehat, yang bisa..."
Kalimatnya menggantung. Tidak selesai. Ia tidak sanggup menyelesaikannya.
Tapi Arhan mengerti. Dan pengertian itu melukainya lebih dari apapun.
"An, cukup!"
Suara Arhan pecah. Lebih keras dari yang ia mau. Bukan bentakan marah, tapi bentakan dari seorang lelaki yang ketakutan setengah mati. Dadanya naik turun.
"Aku nggak mau bahas ini! Jangan ngomong seolah-olah aku nggak ngusahain kamu buat sembuh! Jangan bikin aku seakan-akan udah nyerah sama kamu, An!"
Hening.
Senyum di wajah Anya runtuh seketika. Ia menunduk dalam-dalam. Bahunya yang kecil itu turun, jemarinya yang tadi merapikan satu-satunya bunga lily itu kini meremas ujung dasternya kuat-kuat. Rumah kecil itu tiba-tiba terasa sangat sunyi meski hujan masih turun.
"Maaf..." suaranya kecil, gemetar, nyaris seperti anak kecil yang dimarahi. "Aku nggak bermaksud nyinggung kamu, Han. Maaf..."
Mendengar suara itu, kemarahan Arhan langsung mencair menjadi penyesalan yang tajam.
Ia menarik napas panjang, memejamkan mata. Ia membenci dirinya sendiri dalam lima detik terakhir. Ia membenci suaranya yang keras. Apa yang ia lakukan? Pada perempuan yang ia jaga dengan segenap hidupnya, ia justru membentaknya.
"Maafin aku, An," kata Arhan pelan, suaranya kini basah, matanya berkaca-kaca. Ia ingin meraih tangan Anya, tapi tangannya berhenti di udara, ragu. "Aku... aku cuma nggak mau kehilangan kamu. Aku nggak bisa denger kamu ngomong seolah-olah semuanya udah selesai. Seolah-olah itu udah hasil akhirnya. Kita belum selesai, An. Kita masih di tengah jalan."
Anya tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berdiri dari kursinya. Kursi itu berdecit lagi, kali ini terdengar lebih nyaring.
"Gak apa-apa. Aku yang salah. Maaf ya, Han," ucapnya lirih, lalu melangkah pelan masuk ke kamar. Pintu tidak ia tutup rapat, hanya dibiarkan terbuka sedikit, menyisakan celah cahaya tipis dari dalam. Mungkin ia tidak ingin Arhan merasa ditinggalkan sepenuhnya.
Arhan tetap duduk. Kedua tangannya naik memegang kepalanya, menekan pelipisnya kuat-kuat. Rasa bersalah itu menumpuk di tenggorokannya.
Kenapa ia harus membentak? Kenapa ia tidak bisa menjadi tempat yang paling aman untuk Anya pulang? Ia merasa menjadi lelaki yang paling gagal di dunia.
Ia berdiri, kursinya terdorong ke belakang dengan bunyi berderit. Ia berjalan ke arah jendela dapur, menatap halaman kecil mereka yang rumputnya sudah tinggi karena belum sempat ia potong minggu ini. Hujan membuat semuanya terlihat buram dan sendu. Di meja wastafel, vas kaca dengan satu tangkai lily putih itu masih di sana, berdiri sendirian, bunganya masih berusaha tegak meski pucat.
"Aku gagal jadi anak yang baik," gumamnya pada kaca jendela yang berembun. Napasnya membuat embun itu semakin tebal. "Dan sekarang... apa aku harus gagal juga jadi suami yang baik?"
Di luar, langit masih kelabu. Air hujan mengalir pelan di kaca, menggambar jalur-jalur kecil yang tidak beraturan.
Saat itulah matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa di ujung jalan.
Di jalan raya kecil depan rumah mereka yang biasanya sepi kalau hujan, sebuah mobil hitam mewah melaju pelan. Sangat pelan. Tidak seperti pengendara lain yang buru-buru ingin berteduh. Mobil itu bersih, mengkilap meski terkena hujan, ban-nya mencipratkan air becek dengan anggun. Mobil yang terlalu mahal untuk lewat di gang sempit seperti gang rumah mereka.
Dahi Arhan berkerut. Ia menyipitkan mata, mencoba melihat menembus derasnya gerimis.
Mobil itu berhenti. Tepat di depan pagar kayu rumah mereka yang cat putihnya sudah pudar dan sedikit miring.
Mesinnya masih menyala, dengungannya halus, hampir tidak terdengar di antara suara hujan. Lampu depannya masih hidup, sorotnya menembus tirai hujan sore.
Jantung Arhan mulai berdegup lebih cepat, tanpa alasan yang jelas. Ada firasat aneh yang menjalari punggungnya.
Lalu, kaca jendela belakang mobil itu turun. Hanya sedikit. Hanya sejengkal. Tidak dibuka penuh, hanya celah kecil yang cukup untuk mengintip.
Dari celah itulah Arhan melihatnya.
Sepasang mata. Sorot mata yang tajam, dingin, penuh wibawa, dan menusuk. Sorot mata yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya, bahkan jika ia mencoba. Sorot mata yang sama yang dulu sering menatapnya dengan kecewa dari balik meja kerja yang besar.
Darah Arhan berdesir dingin.
"Ayah?" gumamnya, suaranya tercekat, hampir tidak percaya. "Untuk apa Ayah kesini?"
Tangannya yang tadi memegangi pelipis kini terkepal di samping kusen jendela. Kayu jendela itu terasa dingin.
Belum sempat ia mencerna apa yang terjadi, belum sempat ia memutuskan apakah harus keluar atau tetap di dalam, ponselnya yang tergeletak di meja dapur di sebelah laptopnya bergetar keras. Bunyi notifikasi pesan masuk memecah keheningan rumah.
Arhan tersentak, langkahnya cepat kembali ke meja. Tangannya sedikit gemetar saat membuka kunci layar yang terkena sedikit air dari tangannya yang basah oleh embun jendela.
Sebuah pesan singkat. Tanpa basa-basi. Tanpa emotikon. Hanya kalimat pendek, dingin, persis seperti pemilik matanya.
Tulisan itu berbunyi:
"Ayah ada di depan rumah, ada sesuatu hal yang ingin Ayah bicarakan."
Arhan menatap layar itu lama. Jemarinya memutih menggenggam ponsel. Lalu ia kembali menatap ke luar jendela, ke mobil hitam mewah yang masih setia berhenti di depan pagar kayu mereka yang lapuk, di tengah hujan sore yang tak kunjung reda.