Indonesia
NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembayung Senja

​Kilau cahaya keemasan matahari sore merambat perlahan menembus dinding kaca masif di lantai tiga Kusuma Advanced Research Center (KARC). Bayangan kerangka baja gedung-gedung pencakar langit ibu kota memanjang di atas lantai marmer putih, menciptakan garis-garis simetris yang tampak tenang dan teratur.

​Rian berdiri di hadapan meja konsol utama, jemarinya bergerak sesekali di atas papan ketik holografik untuk menyetujui pembaruan berkala dari sistem pemantauan jaringan listrik mikro nasional. Tidak ada ketergesaan dalam gerakannya. Setiap tarikan napas dan kedipan matanya seolah selaras dengan denyut ritmik alam semesta di luar sana.

​Pintu geser otomatis terbuka dengan desisan udara yang halus. Maya melangkah masuk membawa sebuah map jilid tebal berlapis kulit sintetis hitam. Wajahnya tampak segar, memancarkan kepuasan tersendiri setelah berminggu-minggu berkutat dengan proyek riset raksasa tersebut.

​"Rian, laporan akhir evaluasi penerapan jaringan termoelektrik di zona industri pinggiran kota sudah selesai diverifikasi oleh tim peninjau kementerian," kata Maya sambil meletakkan map tebal itu di atas meja konsol. Ia menarik kursi di sebelah Rian dan duduk dengan senyuman cerah. "Profesor Wiratman bahkan meneleponku siang tadi, mengatakan bahwa menteri riset dan teknologi ingin memasukkan proyek ini sebagai proyek strategis nasional dalam sidang kabinet pekan depan."

​Rian mengalihkan pandangannya dari layar holografik, menatap Maya dengan sorot mata yang tenang dan teduh. "Pengakuan dari institusi negara atau dokumen administratif hanyalah formalitas birokrasi, Maya. Yang terpenting adalah bagaimana teknologi ini dapat meringankan beban energi masyarakat secara nyata tanpa merusak keseimbangan ekosistem."

​Maya mendengus pelan, meskipun senyuman di bibirnya tidak pudar. "Kau ini... selalu saja memandang segala pencapaian besar sebagai sesuatu yang biasa saja. Padahal, di luar sana, nama Rian Kusuma dan tim riset kita menjadi berita utama di berbagai jurnal sains internasional."

​"Publisitas media tidak mengubah esensi kebenaran sains itu sendiri," balas Rian ringan, meneguk sisa teh hijau di cangkirnya. "Nama dan ketenaran adalah bentuk gangguan emosional yang tidak memiliki nilai fungsional bagi perkembangan kesadaran."

​Maya menggelengkan kepalanya pelan, terbiasa dengan pola pikir pemuda di sampingnya itu. "Baiklah, Tuan Filsuf. Kalau begitu, bagaimana kalau kita merayakan keberhasilan penyelesaian tahap pertama riset ini dengan makan malam sederhana di luar laboratorium? Kau sudah bekerja tanpa henti selama berminggu-minggu."

​Rian menatap Maya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Sebuah gagasan yang rasional. Istirahat fisik sesaat adalah bagian dari menjaga keseimbangan siklus biologis tubuh."

​Sementara itu, di sebuah sudut ruang tahanan isolasi kejaksaan agung yang dingin dan sunyi, suasana sangat kontras dengan kemegahan di KARC.

​Bramasta duduk meringkuk di atas dipan beton beralaskan tikar tipis. Tidak ada lagi setelan jas mewah atau dasi rapi yang melekat di tubuhnya; yang tersisa hanya baju tahanan oranye kusam dan tatapan mata kosong yang menatap dinding lembap di hadapannya.

​Di atas meja kecil di luar jeruji besi, berkas dakwaan akhir setebal ribuan halaman menumpuk dengan cap putusan sidang pendahuluan yang menjeratnya atas berbagai kasus korupsi, pencucian uang, dan sabotase industri. Kerajaan bisnis dan pengaruh hukum yang ia bangun dengan cara-cara kotor selama puluhan tahun runtuh tak tersisa. Ia tidak dikalahkan oleh kekerasan fisik, melainkan oleh kecerdasan mutlak dan integritas sistem digital yang dibangun oleh seorang remaja berusia tujuh belas tahun yang dulu ia remehkan.

​Seorang petugas penjara berjalan melangkah mendekati selnya, lalu mengetuk jeruji besi dengan tongkat kayunya keras-keras.

​"Bramasta! Bersiaplah. Berkas penyerahan ke pengadilan tindak pidana korupsi telah final. Besok pagi sidang perdanamu akan dimulai," seru petugas itu dingin tanpa rasa iba.

​Bramasta tidak merespons. Ia hanya memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan penyesalan yang terlambat menenggelamkan sisa-sisa harga dirinya ke dalam jurang kegelapan.

​Kembali ke Kusuma Advanced Research Center, waktu menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit sore.

​Rian dan Maya melangkah keluar dari gedung riset menuju pelataran parkir privat di mana sebuah mobil sedan hitam siap menanti. Langit sore ibu kota membentang luas dengan gradasi warna jingga, ungu tua, dan kelabu temaram.

​Rian berhenti sejenak sebelum memasuki pintu mobil. Ia mendongakkan kepalanya ke arah langit malam yang mulai bertabur bintang-bintang redup. Maya ikut berhenti, menatap pemuda itu dengan rasa penasaran yang teramat dalam.

​"Ada apa, Rian? Apa yang kau lihat di langit malam itu?" tanya Maya pelan.

​Rian tersenyum tipis. Manik matanya memancarkan pendaran cahaya keemasan yang sangat halus dan dalam, menembus lapisan atmosfer bumi hingga ke gugusan galaksi yang jauh di luar sana.

​"Langit malam ini sangat jernih, Maya," jawab Rian dengan suara tenang dan berwibawa. "Dan perjalanan kita di dunia fana ini baru saja meletakkan batu fondasi pertamanya."

​Maya tersenyum hangat, merasakan kedamaian yang luar biasa di dalam hatinya. Ia membuka pintu mobil dan masuk bersama Rian, meninggalkan pelataran gedung riset yang megah di bawah naungan temaram senja ibu kota. Di dalam diri Rian, inti energi Qi berputar dalam harmoni yang sempurna dengan semesta—menanti babak-babak agung berikutnya di dalam keabadian kosmik yang tak bertepi.

1
expant
lanjut
expant
bagus ceritanya
Serly Can
siap kk
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!