Indonesia
NovelToon NovelToon
LANGIT Dan BUMI

LANGIT Dan BUMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.

Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.

Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Seorang investor asing asal Singapura yang berdiri di dekat mereka tiba-tiba bertepuk tangan kecil.

"Luar biasa! Analisis yang sangat tajam. Saya tidak menyangka suami dari Madam Langit memiliki pandangan makroekonomi yang begitu praktis. Siapa nama Anda tadi? Bumi?"

Bumi mengangguk hormat, mengubah ekspresi dinginnya menjadi profesionalitas yang matang. "Bumi Mahardika. Senang bertukar pikiran dengan Anda."

Hendra berdiri membeku. Wajahnya memerah menahan malu.

Niat hati ingin mempermalukan sang keponakan dan suaminya, justru dialah yang terlihat seperti orang bodoh yang tidak memahami dinamika pasar terbaru di depan para kolega pentingnya.

Melihat Hendra yang tersudut, seorang wanita sosialita yang merupakan sekutu Hendra mencoba mengalihkan pembicaraan dengan nada sinis.

"Yah, teori bisnis bisa dipelajari lewat buku. Tapi kelas sosial dan tata krama, itu bawaan lahir. Kudengar latar belakang keluarga Anda sangat sederhana, ya, Pak Bumi?"

Pertanyaan itu jelas adalah serangan langsung terhadap harga diri Bumi dan martabat Langit sebagai istrinya.

Bumi tidak membiarkan jeda sedetik pun. Ia berbalik menatap wanita itu.

Tatapannya begitu tajam hingga wanita itu mundur selangkah karena ketakutan. Sebelum wanita itu bisa melanjutkan kalimat beracunnya, Bumi kembali meraih tangan Langit.

Kali ini, Bumi mengangkat tangan mereka yang saling bertautan ke udara dengan sengaja, menunjukkan pada semua orang di jamuan makan malam itu bahwa mereka adalah satu kesatuan yang tidak bisa diganggu gugat. Genggaman hangat itu begitu tegas di depan umum.

"Latar belakang saya adalah orang biasa, dan saya bangga akan hal itu," kata Bumi dengan suara baritonnya yang penuh wibawa, bergema di antara para undangan.

"Karena dari sana saya belajar menghargai kerja keras, bukan sekadar warisan. Dan bagi siapa saja di ruangan ini yang berniat merendahkan masa lalu saya, silakan. Tapi_"

Bumi menjeda kalimatnya. Matanya menyapu seluruh ruangan, memberikan peringatan tak tertulis pada siapa pun.

"Siapa pun yang berniat merendahkan, mengganggu, atau meragukan istri saya, Langit Prita Dewanta, maka kalian tidak hanya berurusan dengan Dewanta Group. Kalian akan berurusan langsung dengan saya, Bumi Mahardika, dan seluruh jaringan bisnis yang ada di belakang saya. Saya tidak akan membiarkan seujung kuku pun kehormatan istri saya diusik." Bumi tersenyum dengan tatapan elangnya.

Kata-kata Bumi begitu mutlak. Ada kekuatan protektif yang begitu masif terpancar dari dirinya.

Langit merasakan dadanya bergemuruh. Kecemasan yang membungkusnya sejak sore tadi luruh seketika, digantikan oleh rasa lega dan hangat yang luar biasa.

Pria di sebelahnya ini, yang selalu ia khawatirkan akan merasa minder, justru menjelma menjadi perisai paling kokoh yang melindunginya dari serigala-serigala bisnis itu.

Hendra hanya bisa mendengus kesal dan berbalik pergi meninggalkan lingkaran pembicaraan, menyadari bahwa rencananya malam ini telah gagal total.

Acara perjamuan akhirnya usai. Setelah berpamitan dengan beberapa relasi yang kini menaruh rasa hormat luar biasa pada Bumi, keduanya melangkah menuju parkiran VIP.

Mobil sedan mewah hitam milik Langit melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang.

Hujan gerimis tipis mulai membasahi kaca mobil, memantulkan lampu-lampu jalanan yang temaram. Di dalam mobil, suasana sangat kontras dengan ketegangan di ballroom tadi.

Langit duduk di kursi penumpang samping kemudi, menatap Bumi yang kini sudah melonggarkan dasinya dan membuka dua kancing teratas kemejanya.

Aura CEO dingin dan pria berwibawa yang mematikan di ballroom tadi menguap, kembali menjadi Bumi yang santai dan apa adanya.

Langit tidak bisa menahan senyumnya lagi. Senyuman senang terukir jelas di wajah cantiknya. Rasa hangat menyelimuti hatinya, benar-benar keluar dari belenggu kecemasan.

"Bumi," panggil Langit sambil tertawa kecil.

"Ya?" Bumi meliriknya sekilas tanpa melepaskan fokus dari jalanan.

"Kamu tadi itu, benar-benar keterlaluan tahu tidak?" kata Langit, memutar tubuhnya menghadap Bumi dengan antusias.

"Keterlaluan kenapa? Aku kan membela istriku. Apa ada yang salah dengan analisis pasarku? Aku membaca jurnal logistik itu kemarin malam saat kamu sudah tidur," jawab Bumi dengan nada polos yang dibuat-buat.

Langit tertawa renyah, suara tawa yang jarang sekali terdengar dari seorang CEO dingin Dewanta Group.

"Bukan analisisnya! Itu sih jenius. Tapi ekspresi Paman Hendra tadi! Ya Tuhan, Bumi_ wajahnya berubah dari merah, lalu biru, lalu pucat seperti mesin mobil yang turun berok! Aku bersumpah dia hampir jantungan saat kamu menyebutkan istilah 'algoritma prediktif'."

Bumi terkekeh, suara tawanya rendah dan renyah. "Yah, dia memancing montir yang salah. Dia pikir montir hanya tahu mengganti ban. Dia lupa kalau mesin modern sekarang itu isinya komputer dan kode digital. Pamanmu itu hidup di tahun 90-an tampaknya." Balas Bumi dengan senyuman puasnya.

"Dan sosialita tadi!" Langit meniru gaya bicara wanita sinis di pesta tadi dengan nada yang berlebihan.

"Oh, tapi kelas sosial itu bawaan lahir, lalu kamu menatapnya seolah ingin menelannya hidup-hidup. Kamu tahu tidak, dia sampai menjatuhkan tusuk gigi karena tangannya gemetar?" Langit terkekeh, senang sekali rasanya melihat drama makan malam tadi.

Bumi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar. "Dia terlalu banyak memakai parfum, Langit. Otaknya mungkin agak pusing karena baunya sendiri. Aku hanya membantunya untuk lebih fokus dengan tatapanku."

"Fokus untuk pingsan, maksudmu?" goda Langit.

"Mungkin" jawab Bumi

"Sepertinya suami seorang langit mulai macam-macam" sahut langit dengan wajah lucunya.

"Dia wanita aneh yang membuat ku ingin muntah, langit" sahut Bumi.

Mereka berdua tertawa bersama.

"Lalu bagaimana dengan pebisnis yang lain, sepertinya ada beberapa wanita yang tak kalah berkuasa sedang mengawasi mu" lanjut Langit ingin tau isi pikiran Bumi tentang hal yang di tanyakan.

"Hem, mereka terlalu membuat ku silau, sampai aku hampir tak bisa melihat nya"

Keduanya kembali tertawa.

Kini giliran Bumi yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan,

"Dan para predator itu, mereka bahkan tidak bisa melihat cincing kawin mu, langit"

Langit tersenyum, lali menatap cincin pernikahan yang sudah setia melingkar di jari manisnya, sejak ijab qobul telah ucapkan.

"Mereka hanya tikus yang mengendus dimana ada makanan kesukaannya, dan sepertinya sudah ada seekor kucing liar dan ganas yang siap memangsa mereka"

Senyuman tipis tercetak jelas di bibir Bumi saat mendengar ucapan Langit.

Perbincangan konyol dan saling melempar candaan itu terus mengalir sepanjang jalan.

Mereka membahas setiap detail jalannya perjamuan makan malam bisnis itu dengan senyum senang yang tidak pudar.

Malam itu, perjalanan pulang terasa begitu lama—namun untuk pertama kalinya bagi Langit, ia berharap perjalanan ini tidak pernah usai.

Jalanan Jakarta yang biasanya menjemukan kini terasa seperti panggung komedi privat bagi mereka berdua.

Genggaman hangat Bumi di pesta tadi masih menyisakan bekas yang tak kasatmata di jemari Langit, menegaskan bahwa status 'kontrak' di antara mereka mungkin memiliki arti yang jauh lebih dalam dari sekadar coretan tinta di atas kertas.

Langit menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, menatap profil samping wajah Bumi yang diterangi lampu jalanan yang berlarian.

Kecemasannya telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh kehangatan yang dibawa oleh sang Bumi untuknya, si Langit.

Jangan lupa komentarnya ya.

1
Nurhartiningsih
fix bumi ketua mafia yg sedang menyamar
Nurhartiningsih
jadi penasaran siapakah bumi?
Akhila Davina
semangat kak💪❤️
Akhila Davina
mudah" tidak ada lagi hambatan
Nurhartiningsih
jangan2 bumi adl CEO yg sedang menyamar
Nurhartiningsih
seperti biasa...pengkhianatnya adl orang dekat
Nurhartiningsih
apakah ini juga ada kaitannya dg keluarga Nugraha????
Akhila Davina
good job Rian❤️
Akhila Davina
semangat 💪❤️
Siti Aisah
oh"sebenernya masih kurang karena penasaran menunggu besok.. tapi apalah daya jadi" terimakasih thor 🤣
Siti Aisah
bang bumi dan rian the best lah.. walaupun bergadang sampai pagi demi langit yg bisa tidur nyenyak😜
Siti Aisah
syukur lah bumi sudah memberikan ide untuk menyelesaikan masalah langit.. walaupun dgn ide yg nyeleneh😁
Kaa
sungguh tak sabar ingin tahu besok gimana Hendra ngadapin itu semua
Kaa
seru Thor aku suka gaya bicara bumi👍
Siti Aisah
thor kukira cuman satu bab 🤭penasaran akan kah langit dan bumi bisa mengatasi masalah yg terjadi??tpi yg penting mah langit bisa tidur sambil di peyuk bumi🤗
Kaa
bumi sungguh menghanyutkan
Akhila Davina
ditunggu
Susy Ariyani
semangat dalam berkarya
Susy Ariyani
semangat dalam berkarya
Akhila Davina
semangat 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!